Kisah Mentari

Kisah Mentari
Bunda... curhat dong


__ADS_3

❤❤❤


"Hallo ...


"Hallo, ya Mas?"


"Udah, sampai?"


"Baru nyampe hotel, yang udah kamu pesen."


"Aku, ke sana. Sekarang ... "


Percakapan Bintang dan Naya di telpon, Bintang ingin menyelesaikan semua dengan Naya. Namun tubuhnya tidak kuat untuk pergi ke Jakarta, jadinya dia meminta Naya untuk datang ke Bandung.


Dia harus segera menyelesaikan hubungan nya yang kacau karena, pengakuan Naya yang memporak-porandakan hati dan pikiran nya.


Flashback on .


"Bun ... curhat dong."


Bunda yang sedang memotong buah-buahan untuk salad buah, menoleh pada anak ke duanya.


"Apa? jangan yang aneh-aneh, ntar Ayah kamu ngamuk lagi." Dia sudah mengantisipasi kelakuan anaknya yang sering berbuat hal special.


"Ck, Bunda selalu nuduh aku yang nggak-nggak. Sekali-sekali nuduh aku iya-iya gitu!" gerutunya kesal.


"Apa iya nya kamu?" tanyanya lagi sambil tangannya meneruskan memotong buah mangga.


"Iya, yang hiya-hiya gitu!" Bintang menyeringai bagai kuda.


Bunda langsung mengacungkan pisau ke hadapan anaknya itu. "Awas, kalo kamu berani!" ancam nya.


Bintang tertawa melihat wajah marah Bunda nya, "emang, aku ngapain Bun?" kekehnya.


"Kamu, ini lelaki dewasa. Bunda nggak mau kamu jadi lelaki yang nggak bener. Nggak mau selang kamu bocor di mana aja. Kalo kamu udah nemuin yang menurut kamu pas, dan nyaman di hati. Bilang sama Bunda, bunda lamar langsung."


"Awas, main asal celup aja. Bunda nggak mau kamu ngerendahin apalagi mainin perempuan." Katanya lagi menasehati putra nya.


"Inget, Bunda perempuan adik kamu perempuan, sama yang terakhir kamu punya keponakan perempuan. Jangan sampai semua yang kamu lakukan karma nya berimbas pada kita." Tambahnya lagi.


Bintang melongo dengan semua perkataan yang Bunda nya ucapkan. "Kenapa Bunda ngomong gitu? aku belum pernah nyelup Bun. Aku Perjaka tulen , percaya nggak sama aku Bun?" Bintang menarik lengan Bunda nya agar menatapnya.


Rima hanya terkikik mendengar ucapan sang anak, "moso sih?" godanya.


"Asli, Bun. Aku belum tau nih kehebatan senjata aku di level berapa? easy, medium, apa hard!"


"Astaga, kamu pikir game ada easy, medium, hard segala!"


"Game ... Bunda kebanyakan main ludo." Ledek nya.


Bunda kembali terbahak-bahak, "seru tau, Ayah kamu sering kalah." Bangganya.


"Terus, kamu mau curhat apa sama Bunda?" tanyanya setelah menyelesaikan potongan buah terakhir.


"Mau nanya perempuan ya?"


Bintang menatap Bunda nya itu dengan tatapan takjub, "amazing ... Bunda tau apa yang belum aku omongin." Bintang bertepuk tangan.


Lalu matanya menoleh ke arah pintu dapur, dia takut Ayah nya akan datang dan mengacaukan sesi curhatnya bersama wanita yang telah melahirkan nya itu.

__ADS_1


"Ayah kamu masih tidur, abis minum obat. Adik kamu di atas sama Helen, Abang kamu sama di kamarnya." Seolah-olah tau apa yang di pikiran anaknya.


"Astaga, Bunda ku cenayang." Lagi-lagi Bintang bertepuk tangan.


Bunda malah menjadi kesal akibat anaknya yang terlalu lama mengulur waktu untuk bercerita.


Bunda berjalan ke arah lemari dan mengambil satu bungku mayones dan menuangkannya ke dalam mangkuk besar yang berisikan beberapa macam buah dan potongan jelly.


"Buruan, mau cerita nggak. Bunda mau istirahat, sore-sore gini hujan, enaknya tidur." Bunda membawa mangkuk besar buah yang sudah di siram mayones ke dalam kulkas.


"Gini, Bun. Aku udah ngejalanin hubungan dengan perempuan hampir sebulan. Tau nya dia janda beranak satu." Ucapnya masih dengan nada kecewa.


"Kenapa dengan janda?"


"Hah ... maksud Bunda?"


"Iya, kenapa kalo dia janda? kamu keberatan?"


"Awalnya iya, Bun. Tapi setelah di pikir, aku udah terlanjur cinta sama dia.Dia wanita baik, lembut, nggak neko-neko, sederhana, dan setelah aku tau di janda aku semakin kagum dia berjuang untuk anak dan ibunya yang stroke."


"Memang, di awal aku kesel dan marah banget sama dia."


"Itu, karena kamu kecewa." Bunda memotong perkataan anaknya.


"Kalo kata Bunda, ikutin kata hati kamu. Kamu yang ngerasain, selama hati kamu tenang nyaman ya udah lanjutkan. Tapi kalo hati kamu udah nggak sreg lepasin dia, karena kedepan nya pasti nggak akan bener."


Bintang mendengarkan semua perkataan Bunda, dia cerna semua dengan hati dan pikiran yang lebih terbuka. Tidak bisa di pungkiri rasa marah dan kecewa nya kecil di bandingkan dengan rasa cinta dan kagum pada Naya.


"Eh, janda nya pisah cerai atau meninggal, Bin?" Bunda yang sudah di ambang pintu kembali menoleh pada putra nya.


"Janda mati, Bun." Jawabnya, dia menganggap suami Naya meninggal, jika hidup tidak akan mungkin berbulan-bulan tidak kembali, pasti sudah hancur di laut. Pikirnya sambil bergidik


"Suruh dia kesini, Main. Bawa juga anaknya, biar kita lebih kenal." Bunda pun berlalu.


Bintang seperti mendapatkan angin segar, dia langsung menghubungi Naya agar segera ke Bandung. Dan ternyata perempuan itu memang sudah ada niatan untuk bertemu, jadi dengan mudahnya dia mengiyakan ajakan Bintang.


flashback off.


*


*


Malam hari Bintang keluar kamarnya, setelah sore tadi dia kembali menghajar Dafa, dan kena damprat Abangnya, Dia mendapatkan telepon bahwa Naya dan Putra nya Altaf sudah tiba di hotel.


Bintang langsung berangkat, menuju hotel di mana Naya menginap.


Setelah sampai dia langsung menuju kamar yang di tempati Naya, di depan pintu dia memegang dadanya yang berdebar kencang.


"Sial, kenapa jadi grogi gini?" Gumamnya.


Naya membuka sedikit pintu, karena ada Altaf yang sedang menghisap dadanya.


"Aku, masuk!" Bintang masih mematung.


Naya mengangguk, dia menutup dadanya dengan telapak tangannya.


Kemudian mereka duduk di sebuah sofa.


"Ini Altaf?" Bintang bertanya sambil memperhatikan bayi di depannya, terlihat lebih kecil dari pada Helen padahal dia lebih tua beberapa bulan dari keponakannya itu.

__ADS_1


"Iya, dia baru sembuh. Agak kurusan rewel lagi." Jawabnya.


"Sakit, apa?" Bintang kembali bertanya.


"Minum, asi aku yang basi. Adik aku nggak bener nyimpen di kulkasnya." Ucapnya sambil mengusap kepala anaknya yang sudah terlelap namun mulutnya masih bergerak di puncak dada milik ibunya.


Bintang yang melihat bulatan indah di depannya, malah salah tingkah dia gelisah, bahkan dengan susah payah menelan saliva nya yang tiba-tiba banyak. Jantungnya berdegup kencang bertalu-talu.


Bahkan sesuatu di bawah mulai menggeliat bangkit dari tidurnya. "Sial, kenapa kesini pas dia lagi ngasih asi sih!" Bintang merutuki kesialan nya.


"Sebentar, aku tidurin dulu Altaf." Naya bangkit dan berjalan menuju tempat tidur. Membaringkan anaknya menyelimuti, membuat benteng dari guling dan bantal. Lalu mengecupnya dengan sayang.


Tiba-tiba hati Bintang menghangat, tidak salah lagi. Dia ingin wanita di depannya jadi istrinya, apapun latar belakangnya dia jatuh cinta ke dasar hati Naya begitu dalam.


Naya kembali duduk di sebelah nya.


Dan saat Naya akan memulai pembicaraan, dan mengutarakan kata maaf.


Bintang langsung menyerangnya, mengecupi wajahnya, dan melu*mat bibir nya.


"Aku kangen, maafin aku yang egois. Enggak mikirin perasaan kamu." Ucap Bintang saat Pautan itu terlepas.


Naya yang masih terengah, dan kaget dengan serangan Bintang yang mendadak. Hanya bisa mengangguk dan tersenyum.


"Aku nggak mau kita putus, aku bener cinta sama kamu. Terlepas dari aku yang playboy percayalah aku ngerasain cinta yang kuat cuma sama kamu, Naya... " Jelasnya.


Naya kembali mengangguk, "Iya, aku juga sayang sama, Mas Bintang. Setiap orang punya masa lalu, dan aku pun begitu. Terima kasih udah nerima masa lalu aku, Mas." Jawabnya.


Bintang lagi-lagi mendekati nya dan kembali meraup bibir itu yang dia rindukan beberapa hari ini.


Suara decapan dan erangan menggema di kamar hotel itu, Bintang telah menekankan senjatanya nyang telah mengeras di bawah sana.


Naya sudah berada di bawah kungkungan nya, Bintang sudah menimpa tubuh Naya, dengan bibir yang masih saling menempel.


Bintang tergesa-gesa membuka hoodie nya dan menarik lepas celana chinos nya, menyisakan kain segitiga yang menutupi senjatanya yang sudah mengembung dan mengintip di sana.


Naya yang hanya menggunakan dress berkancing dengan mudahnya dia singkapkan, Bintang sudah tidak kuat "ini pasti akan terjadi" batinnya.


Saat Bintang mulai melepaskan kancing dress yang Naya kenakan sesuatu menyembul indah di depannya, gunung kembar milik Naya yang selalu menjadi bahan khayalan erotisnya, terpampang nyata dan begitu indah. Dia elus dan dia kecupi.


Naya mengerang kecil sambil mengigit bibirnya, Bintang memandangi nya dan kembali melu*mat bibir yang tengah Naya gigit.


Suara desa*han dan erangan kembali saling bersautan.


Tangannya sudah berkeliaran kemana-mana, meremat, mengelus apa saja yang dia temukan.


Bintang menatap nya "Nay ... " Bisiknya dengan suara serak dan mata sayu.


Naya hanya mengangguk, tau apa yang akan lelaki di atas nya itu ucapkan.


Bintang kembali melu*mat bibir Naya, dia semakin menekan dan menggesek sesuatu miliknya di belahan paha kekasihnya. Walau masih sama-sama terbungkus kain tapi mereka sudah begitu menikmati dan sama-sama mendamba.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰


Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir 🙏🙏, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain🥰🥰


__ADS_2