
❤❤❤
Langit sedang mengelilingi supermarket milik sang Ayah, dia memperhatikan apa saja yang karyawan nya kerjakan, sambil sesekali dia ikut merapikan barang di rak-rak yang agak berantakan.
Pandangan nya memusat pada seorang gadis manis yang tengah bekerja mendisplay barang di rak-rak dengan sangat rapi.
Menggunakan kaos berkerah seragam supermarket nya menggunakan celemek berlogo perusahaan market yang sudah memiliki beberapa cabang di Jabodetabek dan berpusat di Bandung itu.
"Cantik ... " Gumamnya pelan.
"Pak, ada yang harus di tandatangani." Suara salah satu staf membuyarkan lamunan sekaligus mengagetkan nya.
"Kamu, bikin saya kaget." Gerutunya marah.
"Maaf, Pa. Saya dari tadi sudah di sebelah bapak dan memanggil bapak, sepertinya bapak sedang melamun." Ucapnya membela diri.
Langit tidak banyak berbicara lagi, hanya menggerakan tangannya, agar staf yang tadi meminta tanda tangannya mengikutinya ke ruangan.
***
Hari sudah sore saat Langit keluar dari supermarket tiga lantai milik Ayahnya itu, dia berjalan menuju parkiran. Saat dia melewati parkiran motor dia melihat gadis yang sudah lama dia perhatikan.
"Kenapa?" Tanyanya setelah berada tepat di sebelah Cindy yang tengah mengotak ngatik motor matic nya.
"Ehh ... Pak, ini si cantik nggak mau hidup, padahal saya udah capek pengen cepet rebahan di kostan." Jawabnya jujur kaki nya masih berusaha menyelah motor itu agar menyala.
"Cantik?" Langit mengerutkan dahi nya.
"Eh, si cantik itu nama motor saya." Cindy terkikik sendiri merasa konyol dengan pemberian nama pada motor kesayangannya.
Langit ikut mengamati motor matic berwarna putih dengan di tempeli sticker lucu khas perempuan.
"Saya, panggilkan montir ya! kayaknya ada yang rusak, saya tidak terlalu mengerti soal motor." Lalu merogoh ponsel yang berada di kantung celananya.
Saat akan menghubungi bengkel langganan nya tangannya langsung di genggam Cindy.
"Jangan , Pak. Ehhmm ... saya nggak megang uang." Bisiknya pelan.
"Hah ... kan baru tiga hari gajian! sudah habis?" Tanyanya, langit berpikir wanita di depannya mungkin boros.
"Ayah saya di kampung baru operasi usus buntu, jadi belum bisa kerja jadi saya kirimkan sebagian gaji saya buat Ibu saya, pegangan buat dua adik saya." Jawabnya jujur, lalu kembali mengunci motor nya dan memasukan ke dalam tas.
Langit terenyuh dengan apa yang di ucapkan gadis yang dia perhatikan sudah sejak lama itu.
"Oh," namun dengan wajah penuh kekaguman, hatinya berkali-kali berdecak memuji kemulian hati sahabat dari adik nya itu.
"Nggak usah mikirin biaya, dari saya saja." Ucapnya tak menginginkan bantahan.
"Kamu, pulang saya antar saja." Langit memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu menatap gadis di depannya.
"Nggak usah, saya tungguin sampe motornya bener aja, Pa. Besok ada kuliah pagi." Tolak nya.
"Nggak apa-apa, besok pagi saya jemput kamu."
Cindy membolakan matanya saat mendengar apa yang bos sekaligus kakak dari sahabatnya itu ucapkan.
"Ta _ tapi, Pak ... "
"Sudah, ayo masuk ke mobil saya." Ajaknya sambil menarik pergelangan tangan Cindy.
"Eh ... " Cindy menatap tangannya yang di tarik oleh Langit.
Lalu dia sedikit berlari menyeimbangkan langkah lebar Langit.
*
__ADS_1
*
Mobil Langit berhenti di pinggir jalan, tepat di depan gapura dengan patung garuda di atasnya, yang sayapnya sudah terhuyung ke depan, maklum sisa perlombaan 17 Agustus an, lomba menghias gapura.
"Ini gang nya?" tanya Langit memperhatikan betul letak dan posisi jalan.
"Iya, masuk sedikit ada bangunan dua lantai itu kostan saya." Cindy membereskan tasnya lalu menunduk berterimakasih pada atasannya itu.
"Boleh saya mampir? saya haus!" Alasan basa-basi yang Langit utarakan. Malah membuat Cindy kikuk sendiri.
"Nggak boleh ya? Ya udah selamat istirahat."
"Enggak, boleh kok boleh. Ayo!" Cindy secepat kilat mengajak nya karena rasa tidak enak menolak namun di lingkupi rasa canggung luar biasa.
Mereka pun keluar dari mobil dan Cindy berjalan di depan Langit yang setia mengekor di belakangnya.
Mereka sampai di bangunan dua lantai dengan pintu kamar-kamar yang berjejer. Dengan lahan parkir sekaligus tempat jemuran dan di pojokan terdapat pohon Mangga cukup besar namun pendek.
"Sebentar, Pak." Cindy berlari meninggalkan Langit yang terpaku, dia berlari ke bawah pohon mangga dan mendongakkan kepalanya.
"Nyari apa?" Langit menghampiri nya dan ikut menengadahkan kepalanya ke pohon mangga itu.
"Ya ... ada yang metik?" ucapnya lemah.
"Mangga nya udah aku ciri in, aku belum kebagi mulu." Wajahnya benar-benar kecewa.
"Tinggal beli? Di market kan banyak!" Langit mengusulkan.
"Kalo langsung metik beda rasanya, Pak." Ujarnya kembali berjalan, dan Langit mengekor di belakangnya.
Menaiki tangga, dan Cindy merogoh tas nya mencari kunci.
"Silahkan masuk, Pak. Maaf kecil berantakan lagi." Cindy membuka pintu lebar.
Langit menyapukan pandangan nya pada karena berukuran kecil itu, Cindy langsung ke arah dapur kecil yang hanya terdapat kompor kecil, tempat cuci piring dan rak piring kecil. (Semua serba kecil)
"Apa aja,"
"Kopi ya, tapi kopi sachet ya pak. Kalo pulang kerja saya suka bikin kopi buat penyegaran otak." Dia terkikik sendiri.
Langit hanya tersenyum, pandangannya masih menyapu setiap sudut kamar itu. Dia duduk di karpet sebelah kasur busa yang terletak di ujung kamar. Raut wajahnya seketika merah saat tangannya memegang pakaian dalam berbahan renda yang tergeletak di pojok kasur.
"Silahkan Pak, Astaga ... Maaf, Pak." Cindy merampas asal dalaman yang berada di dekat Langit, tanpa dia ketahui Langit sudah dengan tak sengaja memegangnya tadi.
"Kenapa?" Langit bertanya seolah tak tau.
"Oh, ini. Ehm ... cucian Pak." lalu dia berlari ke arah kamar mandi.
Langit merapatkan bibirnya menahan senyum.
Dia meminum kopi yang di buatkan Cindy untuk nya.
Cindy kembali dengan wajah yang menahan malu.
Lalu duduk tak jauh dari Langit dan ikut menyeruput kopi yang selalu jadi obat di kala lelah nya aktivitas.
Langit memandangi beberapa foto yang ada di sana, namun alis nya mengerut saat melihat beberapa foto Cindy sobek menyisakan sebelah foto dirinya saja.
"Kenapa fotonya pada sobek?" tanya Langit.
"Karena udah putus, saya nggak mau menyisakan sedikit pun kenangan. Kalo udah selesai ya udah selesai aja semua jangan ada sisa." Jawabnya tegas menerangkan.
Langit merasakan dadanya berdebar saat mengetahui gadis incarannya itu jomblo. Senyuman tipis terpancar di wajahnya.
TOK!! TOK!!
__ADS_1
Pintu yang memang terbuka lebar menyembulkan kepala seorang wanita bertubuh agak gemuk.
"Cin ... punya telor nggak? aku pinjem dong! males ke warung." wanita bertubuh gemuk itu berkata tanpa ada rasa canggung.
"Ada, tapi dua lagi. Buat makan malem sama sarapan besok." Jawab Cindy apa adanya.
"Besok pagi aku ganti, ish asli males ke warung mager. Aku udah pesen ke pacar aku suruh bawa telor kalo ke sini tapi dia bawa telor yang lain." Jawabnya tertawa.
"Astaga ... " Cindy memelototkan matanya pada teman nya yang akan meminjam telor dengan berkata yang aneh-aneh.
Dia langsung bergegas ke dapur dan mengambil sebutir telor, "Nih ... " Tangannya menjejalkan sebutir telor pada temannya itu.
"Eh ... mangga aku, siapa yang ngambil ya?" Cindy masih mengingat mangga nya.
"Aku, tadi metik mangga dua biji," akunya.
"Ih, itu bagian aku." Dia merengek tak ikhlas mangga yang sudah di pantai beberapa hati ini ada yang metik.
"Oh, itu di kamar aku belum aku makan kok. Masih mentah cuma udah gede. Daripada di ambil orang lain."
"Ayo, balikkin. Aku udah niat mau bikin sambel mangga." Cindy menengadahkan tangannya.
Dia mendorong tubuh besar temannya itu ke arah kamarnya yang tepat berada di sebelah nya.
Langit terkekeh melihat kelakuan Cindy yang menggemaskan di matanya.
"Lucu ... " Gumamnya pelan.
Cindy kembali ke kamarnya dengan wajah ceria menggenggam sebuah mangga yang cukup besar di tangannya.
"Seneng banget!" Langit yang sedang memegang cangkir bertanya pada Cindy yang duduk di sebelah nya.
"Huum, ishhh udah aku bayangin bikin sambel mangga." Wajahnya ceria sambil mengusap mangga di genggamannya.
"Kita makan yuk! saya laper." Ajak Langit.
"Ehm ... "
"Saya, traktir." Langit berdiri menganggukkan kepala nya agar Cindy menurut.
"Bentar, saya ganti baju dulu."
"Saya tunggu depan gank ya." Lalu dia keluar dan menuruni anak tangga.
Cindy menutup pintu dan memegangi jantung nya yang berdetak kencang.
(
(Cindy di bawah pohon, abis nyiriin mangga 🤭)
(Abang Langit, nyimak pembahasan dua telor🤣)
Bersambung ❤❤❤
Terimakasih yang sudah mampir🙏🙏, semoga suka😘😘, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi 🙏🙏, cuma buat rame2 aja🥰🥰
Mau tanya???
Kalo di cerita ini aku ceritain juga kakak-kakaknya Mentari boleh kah? karena judulnya Kisah Mentari, aku takut kalian maunya fokus di Mentari doang🤭
kalo fokus berarti bentar lagi tamat🤭🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa komen dan like nya😘😘😘
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤