Kisah Mentari

Kisah Mentari
cowok mesum


__ADS_3

🌹🌹🌹


"Ayo..." pinta Dafa dengan suara parau nya. Sudah tidak kuat menahan sesuatu.


Mentari masih dengan wajah bingung melihat Dafa mengeluarkan sesuatu yang telah mengeras sempurna.


"Gilaaa... apa ini? aku harus apa?"Mentari menggumam dalam hati, namun matanya melotot sempurna melihat benda yang baru dia lihat untuk pertama kali.


"lama..!" Dafa menarik tangan mentari untuk memegangi miliknya.


"Mas... stop. Aku nggak mau, dan aku nggak bisa.


Mentari yang terkejut juga takut , dia segera merapikan kain berenda yang tersingkap juga membenahi bajunya. Segera berbalik untuk membuka pintu mobil, namun dengan cepat Dafa menariknya.


"Sorry.. aku kelewatan sama kamu, maaf ya?" mohonnya dengan panik.


"Aku nggak bisa , ini hal yang benar-benar intim dan aku nggak berani lakuin itu!" Mata Mentari sudah berkaca-kaca.


Sungguh dia shock dengan semua perlakuan Dafa. Kekasihnya itu semakin liar dan dia takut untuk melangkah lebih jauh dengan pria ini.


"Tapi aku butuh ngelepasin ketegangan ini, sakit nahan ini. Tiap Deket sama kamu dia ngerespon terus." Ucapnya dengan wajah memelas.


"Ya , untuk itu maaf aku nggak bisa bantu. Aku takut!" Mentari kembali akan membuka pintu mobil.


"Sun.. maaf, aku serius. maafin aku yang nggak bisa nahan naf*su kalo Deket kamu." Ucapan Dafa terdengar sangat tulus dengan nada penuh penyesalan.


"Mas, aku bukan perempuan seperti yang kamu inginkan, lagian kita belum terlalu lama dekat." terang Mentari.


"Kalo kamu mau cari orang untuk ngelakuin hal-hal gila maaf aku nggak bisa, dan kamu salah orang!" Mentari keluar dari mobil hitam milik Dafa.


Dafa tertegun dengan Mentari yang menghentakkan pintu mobilnya dengan kuat.


"Sial...kenapa susah sekali sih!" Dia menggerutu kesal.


*


*


Mentari masih menetralkan degup jantungnya, Hal gila hampir terjadi jika dia gagal mencegahnya. Tak bisa terbayangkan apa reaksi keluarga nya, jika benar dia melakukan kesalahan gila itu.


Dia berlari menuju lobby rumah sakit namun dering ponselnya terdengar nyaring.


"Ya ampun , nasi Padang kak Bintang." Mentari kembali berbalik setelah membaca pesan dari Bintang, namun tubuhnya menabrak seseorang.


"Maaf... maafin saya, saya buru-buru!" ucapnya menunduk sambil meminta maaf pada orang yang dia tabrak tadi.


"Dek..." Suara tak asing itu memanggilnya.


Mentari mendongakkan kepalanya, dan matanya langsung berbinar.


"Ayah... Chaca kangen!" Mentari langsung memeluk orang yang tadi dia tabrak, yang ternyata sang ayah.


"CK..kamu, ditinggal semalem aja. Kayak yang di tinggal berminggu-minggu." Ayah memberikan kecupan pada puncak kepala mentari yang masih memeluk erat tubuhnya.


Mentari bukan hanya rindu pada ayahnya, dia juga merasakan kelegaan, dan beruntung masih bisa menjaga apa yang seharusnya dia jaga. Dia tidak mau mengecewakan ayahnya dan kedua kakaknya.


"Mungkin aku harus menghindar dari Dafa, aku tidak mau sampai kebablasan sama dia!" Gumamnya dalam hati.


"Hei.. dek , kamu belum jawab pertanyaan ayah. Kamu mau kemana?" Ayah merenggangkan pelukannya pada anak gadis satu-satunya itu.


"Laper... mau beli nasi Padang, di suruh kak Bintang juga." Rengeknya.


"Ya udah , ayah anter. Kita sekalian makan di sana aja, Ayah juga belum makan!"


Ayah dan anak itu berjalan ke arah restoran Padang tepat di seberang rumah sakit.


"Nanti kak Bintang marah, kalo aku lama!" adunya pada sang Ayah tangannya masih menggelayut manja pada lengan Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.


"Ayah ketok nanti kepalanya." Ucap ayah di jawab dengan suara tawa dari Mentari.


Mereka melewati mobil Dafa, tepat saat lelaki itu keluar dari mobilnya berpindah ke jok depan.


Pandangan mereka bertemu, Dafa menyunggingkan senyum namun Mentari memalingkan wajahnya.


Sungguh sekarang dia takut pada kekasihnya itu. Lelaki yang mulai menampakkan sifat mesumnya, sikap otoriter yang menghendaki semua kemauannya terwujud.


Mereka berjalan melewati Dafa yang baru saja bisa meredam sesuatu yang tegang dalam pusat tubuhnya.


*

__ADS_1


Mentari memasuki rumah makan Padang bersama Ayah, memilih menu makanannya dan duduk di pojok dekat kaca jendela yang menampilkan jalanan dengan jelas.


Lalu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Mentari.


"Maafin aku, please 🙏🙏. Besok aku tunggu kamu di parkiran kampus, kita harus bicara!" pesan yang Dafa kirimkan pada Mentari.


Mentari tidak berniat untuk membalasnya.


Mentari pun makan dengan lahap di sertai obrolan-obrolan ringan dengan pria cinta pertamanya itu.


Mentari tertawa di sela-sela makannya, saat matanya menatap seorang pria masuk ke rumah makan Padang itu, duduk tepat di meja depannya yang berada di belakang punggung sang ayah.


Pria itu tersenyum, lagi-lagi Mentari membuang wajahnya. Seolah dia serius dengan makanannya.


Notif pesan kembali masuk, dan tepat seperti dugaan Mentari. Itu pesan dari Dafa yang kini sedang menyeringai ke arahnya.


"Ya.. besok aku tunggu di parkiran!"


"Balas atau aku samperin ke meja kamu!" kembali Dafa mengirimkan pesan, saat pesan yang dia kirimkan hanya di baca tanpa ada tanda Mentari akan membalasnya.


Mentari yang takut Dafa nekat, hanya sedikit mengacungkan tangan nya yang kotor, memperlihatkan bahwa dia kesulitan untuk mengetik.


Dafa tertawa kecil melihat tingkah laku gadis polos menggemaskan di depannya.


Makannya pun datang dia langsung menyantapnya, tangan Kirinya masih di sangga menggunakan Arm sling.


Mereka masih mencuri-curi pandang, Mentari masih terlihat sedikit kesal, sedangkan Dafa terus memancarkan senyuman nya.


"Yuk... udah, kita kembali ke rumah sakit!" Ayah bangkit dan berjalan ke arah kasir sekaligus memesankan makanan untuk anak ke duanya. Sementara Mentari ijin untuk ke toilet sebentar.


Ketika Mentari membuka pintu toilet, Dafa sudah menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Ya... kita ketemu besok, banyak yang harus kita bahas!" Ucap pria tampan itu.


"Nggak janji.." Mentari melewati tubuh tinggi itu dengan cueknya. Rasa kesal masih menjalar di kepalanya.


"Pokoknya aku tunggu kamu, dari pagi aku udah stay di sana!" suaranya sedikit berteriak.


Mentari tak menghiraukannya walaupun dia mendengar dengan jelas ucapan kekasihnya itu.


"Sudah..?" tanya ayah yang melihat putri kesayangannya tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Udah ... Ayah mau es krim." ucapnya menunjuk mini market sebelah Rumah sakit.


"Tapi ayah duluan ya , mau ngurus administrasi Abang kamu dulu!" Ucapnya sambil memberikan uang itu.


"Asyikk... iya ayah, nanti mentari langsung ke kamar rawat Abang!" ucap Mentari lalu berlari kecil ke arah minimarket itu.


*


Mentari mengambil cemilan dan minuman juga tak lupa es krim yang menjadi tujuan utamanya.


ketika sedang bingung memilih es krim antara coklat dan strawberry , sebuah suara terdengar di sebelah nya "Yang coklat aja manis nggak kayak strawberry asem, nanti mukanya tambah asem!" ucapnya menyindir.


"Ish... ngikutin terus, kamu nggak ada kerjaan ya mas?" Mentari menggerutu kesal.


"Sebelum dapet kepastian dari kamu, aku ikutin kamu terus!" godanya.


Mentari berlalu meninggalkan Dafa, dan pria tegap itu tetap mengekornya.


Sampai dia keluar dari minimarket tidak ada sepatah katapun yang mentari ucapkan. Hingga kekesalan Dafa memuncak, ia langsung masuk kedalam mobil hitamnya dan menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi.


Mentari merasa bersalah dan sedikit takut melihat Dafa menjalankan mobil seperti itu. Tapi dia ingin menunjukkan bahwa dia punya batasan yang harus Dafa ketahui. Sehingga kekasihnya itu tau batas.


*


Sementara di mobil


"Sial... sok jual mahal, dasar cewek..." Dafa terus mengumpat kesal meluapkan amarahnya, dirinya merasa tidak di anggap oleh gadis polos yang dia sebut pacar itu.


"Awas aja... tunggu tanggal mainnya, kamu yang akan ngejar-ngejar aku Sun!" dia menggerutu dengan sorot mata tajamnya.


...----...


Mentari memasuki ruang rawat Langit, sambil memakan es krim strawberry nya.


"Ck... lama banget, gue udah laper pake banget!" Bintang mengomel.


"Aku makan di sana!" Mentari tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipinya sambil memberikan bungkusan berisikan nasi Padang.

__ADS_1


"Dih... dia jajan lagi!" Bintang melihat isi kantong keresek berlogo indoapril itu.


"Kenapa masalah?" Mentari menggoda sang kakak.


"Wehhh... nyolot nih bocah." Bintang hampir mendaratkan kepalan tangannya pada kepala Mentari saat pintu terbuka dan suara bariton yang mereka kenal terdengar lantang.


"Kak... mau ngapain kamu!" ucapnya yang tak lain suara ayah mereka.


Bintang menyeringai kikuk melihat kedatangan sang Ayah.


"Aku mau di jitak yah.." adunya dengan manja.


"Cih... dia ngadu!"Bintang kembali duduk di sofa dan membuka bungkusan nasi Padang nya.


Mentari ikut duduk di sofa, sedangkan Ayah menghampiri Langit.


"Gimana bang? udah mendingan?" tanya ayah pada anak pertama nya itu, anak yang selalu menuruti segala perintahnya.


"Udah yah, besok katanya udah boleh pulang!" Jawab Langit.


"Gimana yah market yang di sana? sudah jelas masalah nya?" tanyanya kemudian.


"Sudah, ada korupsi dari salah satu manager!" terangnya. Langit pun mengangguk paham.


"Ayah nggak akan lama ya, capek!" pamitnya


"Dek, ikut pulang sama ayah?" tanyanya


"Iya dong yah!" Mentari bangkit dan menyambar keresek yang berisi cemilan miliknya.


"Dek nggak akan ngasih kakak gitu? di angkut semua?" bintang yang sedang mengunyah makannya mengulurkan tangannya meminta salah satu isi cemilan milik adiknya itu.


Mentari merogoh kantong keresek itu mengambil salah satu ciki yang dia beli.


"Nih.."


"Dih , gue ngasih cepek cuma dapet ciki gocengan ?" ucapnya kesal.


"Dih dia itungan, lagian ini pake uang ayah!" Mentari terkekeh puas.


"Balikkin duit gue!" pintanya kesal.


"Ogah, buat beli cilok besok di kampus!"


"Beli cilok Ampe cepek lu mau tuh pipi jadi kayak cilok!" Ledeknya sambil tertawa.


"Ayah... aku di ledekkin Mulu!" Lagi-lagi si bungsu meminta pembelaan.


"Udah... jangan ribut masalah uang!" Ayah menengahi.


Mentari menjulurkan lidahnya merasa ada yang membela.


"Ayah, itu uang buat bensin motor Minggu ini." Bintang memelas.


Ayah merogoh kembali dompetnya , mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu.


"Ayah .. kebanyakan!" Teriak Mentari.


"Sirik aja lu bocil, rejeki orang Sholeh nih." Ucapnya bangga menerima uang dari sang ayah.


"Biarin nanti ayah potong dari uang bulanan dia!" Ayah merangkul pundak Mentari ke arah pintu.


Mendengar kata-kata ayahnya , mentari tertawa puas, sedangkan Bintang menepuk jidatnya.


"Asemm... sama aja bohong, Ayah!" Protesnya.


Langit yang sedang terbaring pun ikut menertawakan Bintang.


"Asem emang, di keluarga ini cuma gue yang sering dapet perlakuan kurang adil, dan si bontot selalu terdepan!" Ucapnya kesal sembari menyuapkan kembali nasi Padang yang tertunda.


"Karena dia satu-satunya putri di rumah kita, kita harus benar-benar jaga dia. Kamu coba selidiki siapa lelaki itu!" ujarnya memberi perintah sang adik.


"Iya, gue udah ada niatan. Gue curiga si Cindy nyembunyiin sesuatu. ntar gue coba korek info dari dia."


Mereka pun terdiam dengan pikiran masing-masing, ketakutan dan rasa cemas akan nasib adik perempuan kesayangan mereka.


**bersambung ❤️❤️❤️


terimakasih yang sudah mau mampir untuk baca🙏🙏, terimakasih juga yang sudah meninggalkan jejaknya 🙏😍😘.

__ADS_1


Saraan dan komen aku tunggu ya🙏😘


Terimakasih sehat dan bahagia selalu buat kita semua ❤️❤️❤️**


__ADS_2