
ππ
Pintu terbuka, "Ngapain kamu, di sini?" sebuah suara menggelegar di gawang Pintu.
Pasangan itu lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, menampilkan sosok orang yang tengah menatap marah pada mereka.
"A ayah...
Mentari dan Dafa langsung berdiri, menghadap Ayah yang berdiri di ambang pintu.
"Masih berani kamu, mendatangi anak dan cucu saya?" geramnya.
"Ayah ... " Bunda mencoba mengelus punggung suaminya.
"Dia yang sudah menyakiti anak kita, Bun ... "
Lelaki paruh baya itu menoleh pada istrinya yang berada di sebelah kiri tubuhnya.
"Saya, bisa jelaskan semuanya."
Dafa berjalan menuju sangat mertua, masih dengan Helen di pelukannya.
"Nggak usah, saya hanya ingin kamu memikirkan semua yang sudah kamu lakuin sama anak dan cucu saya." Ayah langsung merebut Helen dari pelukan Dafa.
Lalu membawa cucu nya itu keluar dari ruangan itu.
Mentari histeris, mengejar Ayah nya. Sementara Dafa terlihat lemas, saat Helen lepas dari gendongan nya. Bayi cantik itu yang baru beberapa menit dia peluk, harus kembali terlepas.
Dafa mengejar anak dan istrinya, demi apapun dia tidak ingin lagi merasakan kehilangan. Lebih baik adu jotos dari pada mengalami situasi serba salah seperti ini.
Dia melihat istrinya itu, sedang meraung-raung menahan Ayah nya, membujuk pria paruh baya itu agar mau memberi kesempatan untuknya.
Sebelum keluar dari pintu butik. Bintang yang baru datang langsung bertanya-tanya. "Ada apa? " namun saat dia melihat siapa orang yang berjalan ke arah keluarga nya dia langsung merangsek ke arah Dafa.
Bugghhh
Satu pukulan berhasil mendarat sempurna, Mentari histeris melihat suaminya kembali mendapatkan siksaan dari kakaknya.
"Kak ... jangan kak! aku mohon." Mentari menahan tubuh kakaknya itu.
Langit tiba dengan sangat tepat, "apa ini?" dia bingung dengan situasi ini.
Keluarga Gunawan memang berencana berkumpul di butik Mentari, hari ini adalah ulang tahun Bunda. Dan mereka merencanakan makan siang di salah satu restoran khas pedesaan yang letaknya dekat butik Mentari. Makanya mereka semua janjian berkumpul di butik Mentari di waktu jam makan siang.
"Bin ... udah, tahan emosi." Langit menarik Bintang.
Ayah yang masih memeluk Helen. Langsung berbalik ke arah anak-anaknya.
"Ayo, biarin lelaki itu merenungkan semua kesalahannya." Ayah pun beranjak keluar dari butik.
Mentari masih berjongkok di dekat Dafa yang terduduk akibat pukulan keras Bintang yang tiba-tiba.
"Maaf ... " Mentari mengusap sudut hidung Dafa yang memar dan mengeluarkan darah.
"Ikut pulang, kasian Helen." Ucapnya menahan tangan sang istri.
"Aku, nanti susul kalian. Aku janji jemput kalian kita akan kembali bersatu."Janjinya.
Bintang menarik lengan adiknya itu. " Pulang ... "
Mentari terseok-seok menyeimbangkan langkah kaki kakaknya, yang tengah menarik lengannya.
__ADS_1
Langit langsung, menyuruh Karyawan Mentari untuk menutup butik itu lebih awal. Karena mengingat keadaan adiknya yang tidak baik-baik saja.
"Lu nggak sabar, udah gue bilang dateng dulu ke rumah. Baru lu bisa temuin adik gue." Langit membantu Dafa bangun.
"Gue, nggak kuat Bang. Kangen banget," ucapnya.
"Lu dateng ke rumah, tapi nunggu keadaan dingin dulu. Harap maklum ya, Ayah ada riwayat Jantung. Jadi kita harus bener-bener jaga emosinya." Langit menepuk pundak Dafa sebelum berlalu mengejar keluarganya.
Sri datang membawa segelas air putih di tangan nya, sedangkan Iki membawa kotak obat untuk mengobati luka di hidung Dafa.
"Di minum dulu, Mas." Sri menyodorkan gelas yang dia bawa.
Dafa menerima nya, "Makasih."
"Sini, Mas. Aku obatin luka nya." Iki mendekati Dafa.
Dafa beringsut mundur, serius dia takut dengan lalui kemayu seperti Iki ini. "Saya, bisa sendiri." Lalu meraih kotak obat itu.
"Boleh saya ijin istirahat di ruangan istri saya?" Dafa berbicara pada Sri.
"Boleh, pak. Silahkan tapi bapak bakal sendiri, soalnya semua orang mau pulang, butik ini tutup lebih awal. Paling ada pak aep satpam di depan, nanti kalo pulang beliau yang kunci butik ini." Sri menjelaskan.
"Baik, ruangannya yang tadi kan? yang saya coba baju?" tanyanya.
"Bukan, pak. Itu ruangan kerja ibu, kalo ruangan ibu ada tulisan depan pintu nya kamar Helen." Terangnya.
"Sebelah nya ruangan yang tadi bapak fitting jas." tambah nya lagi.
Dafa mengangguk mengerti, lalu berjalan ke arah ruangan yang di maksud. Dengan menenteng obat dan gelas sisa minumnya.
*
*
"Sayang, sabar ya. Sebentar lagi kita bakal sama-sama." Lirihnya, hatinya serasa di tusuk sesuatu yang tajam dan dadanya semakin sesak.
Pintu pun terbuka, aroma khas bayi langsung menyeruak di indra penciuman nya.
Dafa tersenyum, melihat sebuah box bayi di ujung ruangan dekat jendela. Lalu ada kursi goyang juga. Sepertinya untuk Mentari mengASIhi putrinya.
Dafa duduk di sana, ada beberapa baju yang tersusun rapi di dekat box bayi itu dan bandana lucu-lucu khas bayi perempuan.
"Ayah, terlambat menemukan kalian." Lalu pandangannya tertuju pada sebuah Foto di dinding di atas sofa bed yang cukup besar, ada bantal dan juga selimut di sofa itu. Sepertinya istrinya itu sering tidur di sofa itu.
Dia mengingat di mana pernah melihat foto itu.
Lalu mengulir ponselnya dan membuka salah satu aplikasi medsos. Dia terus men scroll nya sampai dia menemukan foto yang sama, foto yang kakak iparnya upload beberapa bulan lalu. "Ternyata itu kamu sayang, Ayah sama sekali nggak tau." Lalu dia terkekeh saat melihat tanggal upload itu, di mana itu adalah hari dia di wisuda dan jatuh pingsan karena sakit perut hebat. "kayaknya, Ibu kamu berbagi sakit sama Ayah." Dia terus tersenyum memandang foto anaknya itu.
Dafa merebahkan tubuhnya di sofa dan tak lama dia terlelap.
***
"Ayah, aku mohon. Kasih kesempatan buat Mas Dafa." Mentari terus memohon dan membujuk ayahnya. "Bun, bantuin aku." Dia menoleh kepada Bunda nya yang tengah menimang Helen.
"Cukup, Nanti ada saatnya. Tapi nggak sekarang." Ayah berdiri memegang dadanya yang terasa sesak.
"Ayah ... " Bintang dan langit langsung menghampiri dan membantu nya masuk ke dalam kamar. Bunda mengikuti di belakang dengan panik.
Mentari duduk lemah dengan Helen yang terus merengek di pangkuannya. Seolah tau keadaan orang tuanya.
__ADS_1
Lalu Langit keluar dari kamar Ayah, "sabar, Ayah pasti ngerti cuma belum saatnya aja." Lalu dia menaiki tangga menuju kamar nya.
*
*
Ponselnya yang berada di saku blazer nya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor tak di kenal, "Di luar hujan, tapi aku nggak kuat ingin ketemu kamu. Kamu nggak apa-apa? Helen nggak rewel?" isi pesannya.
Mentari tersenyum namun dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tau itu pesan pasti dari Dafa, mungkin dia mendapatkan nomor nya dari karyawan nya.
"Iya, hujan besar. Langit ikut menangis sesuai dengan hati aku yang sedang menangis." Pesan di kirim Mentari.
"Jangan nangis, sabar. Semua pasti bisa kita lewati." Pesan masuk kembali dia Terima.
"Aku di depan rumah kamu!"
"Mau ketemu Ayah bisa? kita berjuang kembali dari awal."
"Jangan, jangan sekarang. Ayah agak kurang sehat, lagian kak Bintang ada. Aku takut kamu jadi sasaran amarah dia lagi." larangnya.
Tak ada balasan lagi.
Mentari mengintip dari jendela depan. Melihat mobil pajero hitam itu parkir di depan pagar rumahnya.
"Udah makan?" Mentari mengetikan kembali sebuah pesan.
"Nggak lapar, aku hanya pengen meluk kalian." Jawab Dafa.
Mentari masuk ke dalam rumah, mengambil sebuah kotak makan bermerek tumpukwear. Dia isi dengan nasi dan lauk pauknya. Lalu menitipkan Helen pada suster nya.
Dia mengambil payung yang ada di garasi rumahnya, berjalan dari arah pinggir. Kebetulan rumah itu tidak di pasang penjaga seperti rumah sebelum nya. Karena rumah itu tidak terlalu besar, namun sesuai keinginan Bunda.
Membuka pagar dengan sangat perlahan. Dafa yang melihat Istrinya keluar rumah langsung panik dan keluar dari mobil tanpa pelindung dari hujan.
"Ngapain keluar?" tanyanya sedikit berteriak karena suara hujan yang keras meredam suara mereka.
"Makan dulu, nanti Mas sakit." Mentari memberikan kotak makan bermerek tutupwear itu.
"Udah, masuk. Kasian Helen." Dafa sedikit mendorong tubuh istrinya kembali ke arah pagar.
"Makan ya, jangan kelamaan di sini, pulang istirahat." Kata Mentari sambil mengusap pipi Dafa yang basah terguyur hujan. Masih dapat di lihat hidungnya memar dan sedikit bengkak.
"Iya, cepet masuk." Dafa kembali mendorong Mentari agar kembali masuk ke dalam rumah.
Dafa pun masuk kembali ke dalam mobil, tersenyum melihat makan yang Mentari berikan untuknya, lalu dia makan dengan lahap.
Hujan mulai reda, dia pun selesai makan.
Saat akan pergi, Terlihat Bintang membuka pagar dan berjalan ke arah Mobil nya.
Bersambung β€β€β€
Terimakasih yang sudah mampirππ, semoga sukaππ, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ππ, cuma buat rame2 ajaπ₯°π₯°
Jangan lupa komen dan like nyaπππ
Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaβ€
Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ππ, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lainπ₯°π₯°
__ADS_1