
...❤❤❤❤...
Setahun kemudian.
Mentari tengah hilir mudik di acara pernikahan Bintang. Kakak nya itu akhirnya melepas masa lajangnya.
"Bu... " panggil seorang pengasuh anak-anaknya.
"Ya?" Mentari berbalik melihat ke arah suara yang memanggilnya.
"Besok jadi kemakam?" tanya pengasuh baru itu.
Mentari mengangguk. "Iya, sekalian bawa anak-anak liburan. Udah lama nggak di ajak jalan-jalan." Mentari menunduk saat Shera yang sedang belajar jalan menengadahkan tangannya ingin di gendong Ibu nya.
"Buu... Mba pengen itu." Helen datang menghampiri dengan wajah meminta ijin menginginkan es krim di jajaran stan di yang melingkari kolam renang cafe milik kakak sepupunya itu.
"Iya, nanti. Masih pagi ini, liat tuh Papi belum mulai acaranya, Mba nanti baju nya kotor terus ganti ntar nggak sama lagi sama Ibu sama shera." bujuknya.
"Nanti Shera mau juga, ahh... Ibu sedih kalo nanti bajunya pada kotor terus harus ganti, nggak samaan lagi sama Ibu bajunya." Mentari menatap wajah Helen yang mencerna setiap perkataannya.
"Ya udah nanti kalo udah mau pulang, aku mau dua ya bu es krim nya." Helen tersenyum.
Mentari bersyukur anak-anak nya begitu pintar, sehat dan sangat ceria. Mereka adalah penyemangat dan penguat untuk dirinya.
"Aku, mau ke Papa langit ya, Bu!"
Mentari mengangguk, tersenyum melihat Helen dengan sabar menuntun Shera yang langkah kakinya masih tertatih.
"Ughh... kalian selalu manis... " Mentari meremat tangannya sendiri merasa gemas melihat tingkah lucu kedua anaknya.
Kepalanya agak sedikit berputar, lalu limbung dan terduduk di kursi yang tak jauh dari posisi berdirinya.
"Bu... "
"Saya pusing, dari kemarin nggak enak badan."
Keluhnya.
"Ibu kecapean, saya liat belakangan ini sibuk." Ujar pengasuh itu.
"Bi, saya minta air teh anget ya! tolong mintain. Sebelum acara di mulai!" Titahnya.
Pengasuh itu langsung berlalu.
Mentari semakin menjadi, tubuhnya serasa menggigil tiba-tiba, kepala nya semakin pusing.
"Bu!"
Mentari langsung menerima gelas berisi teh panas itu.
"Masuk angin kayaknya Bu!" ujarnya.
Mentari memijat pelipis nya sambil meminum teh panas itu.
"Aduh, bi... gimana ini, perut juga ikutan nggak enak." keluhnya.
Langit dan Cindy terlihat mendekat ke arah Mentari duduk.
"Yuk, acara mau di mulai." Langit menggandeng Helen dan Shera dalam gendongannya.
Cindy nyang memangku Al, ikut duduk di sebelah adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa?"
Mentari hanya menggeleng lalu sedikit menunduk, memuntahkan isi perutnya yang baru terisi teh hangat itu.
"Kenapa?" Ayah Gunawan yang melihat anak-anaknya berkerumun pun mendekat.
__ADS_1
"Chaca sakit kek nya, Yah." Saut Cindy.
Ayah langsung mendekat ke arah anak bungsunya.
"Perut aku nggak enak banget Yah... " Mentari meringis.
"Ke dokter mau?"
"Nggak ah, masa udah pada kebaya full make-up aku ke dokter." Tolak nya.
"Eh... dari pada kamu nahan sakit!" Ayah mengomel.
"Nanti aja kalo acara udah beres, aku langsung ke dokter." Mentari mencoba bangun dari duduknya saat semua orang di panggil oleh team WO, karena acara akan segera di mulai.
Mentari jalan paling terakhir, tangannya sibuk memijat tengkuk dan perut bergantian.
Sebuah tangan ikut memijat tengkuknya.
Mentari terlonjak kaget lalu menoleh.
Matanya melotot, "Mas... kamu... "
Dafa tersenyum ceria seperti biasa.
"Katanya nggak bisa dateng,"
"Iya, aku usahain. Padahal masih tersisa lima hari lagi. Tapi aku lembur buat beresin semua nya." jawabnya.
Mentari merangkul pinggang suaminya. "Aku, seneng... aku kangen juga. Dua minggu kamu di Australia, tlp cuma sesekali." Keluhnya, sambil menyandarkan kepala nya di dada suaminya.
"Apalagi aku, Sun... kangen banget." Dafa merangkul pundak istrinya.
"Sun... ?"
"Ya?" mereka saling pandang dengan senyum saling berbalas.
"Love you too, Mas.... " Mentari tersenyum manja pada suaminya.
Hampir kehilangan menjadi trauma sendiri untuk nya. Dia lebih dewasa, lebih patuh dan berusaha menjadi yang terbaik untuk rumah tangganya.
Flasback
"Mas.... nggak....Maaasss.... jangan tinggalin kami"
"Kamu jahat... aku sama anak-anak gimana?"
"Mas.... " Mentari histeris...
"Shhttt... cha, sabar ikhlas, kasian anak-anak. " Bintang memeluk tubuh lemas adiknya.
"Mas... "Mentari kembali lemas tak sadarkan diri.
Namun saat akan di pangku Bintang dia kembali tersadar.
Berjalan terseok-seok ke arah suaminya.
Menatap wajah pucat itu, menyentuh pipinya yang memang terasa dingin.
" Jangan... jangan buka alat-alat itu, aku mohon beri waktu untuk suami saya berjuang... " Mohon nya pada suster yang akan membuka selang oksigen di hidung suaminya.
"Tapi... Bu." Potong seorang dokter.
"Suami saya pasti bangun, tanggungjawab nya besar untuk anak-anak. Dia banyak janji sama saya, dan dia bukan orang yang mengingkari janji."
"Saya minta waktu... berbicara dengan suami saya."
Dokter itu menoleh pada Bintang yang berada di ujung brangkar. Dan mengangguk kecil, seolah memohon mengabulkan permintaan adiknya.
__ADS_1
Dokter sedikit memberi ruang untuk Mentari.
Wanita itu semakin mendekat mengikis jarak antara dirinya dan sang suami.
"Mas... bangun sayang, kamu nggak kasian sama anak-anak? kasih aku kesempatan berbakti sama kamu, Mas. Katanya mau bangun rumah yang kamar nya banyak. Kamu mau buat kamar kita kedap suara. Kamu bilang kita bakal honeymoon keliling pantai Indonesia." Mentari tergugu di sebelah suaminya tangannya bertaut dengan tangan Dafa yang semakin dingin.
"Bangun, Mas... "
"Bangun... bangun... kasihani anak-anak. Aku nggak mau ngurus anak-anak kamu, kalo kamu nggak ada. Helen bakal patah hati cinta pertamanya pergi."
"Shera bahkan penglihatannya belum sempurna tapi udah begitu kenal suara kamu, Mas.. mereka nunguin di luar. Terlalu banyak janji yang kamu ikrarkan sama aku, itu adalah hutang dan kamu harus merealisasikan nya."
Mentari menunduk ke arah telinga suaminya. "Aku juga punya hutang sama, Mas... jadi aku mohon bangun." bisiknya.
"Bangun... bangun... " Mentari meraung sambil memukuli dada suaminya.
Bintang merangsek menghentikannya, namun Adiknya itu masih meronta, hatinya belum ikhlas melepas suaminya yang tadi pagi mencium keningnya dan berkata mesum, yang tadi malam mencumbu nya penuh ga*rah.
Mentari masih meronta di pinggir suaminya, saat bersamaan Dafa membuka mulutnya seperti seorang yang baru bisa bernafas, dan mesin EKG yang tadi bersuara melengking, kini berdebat teratur.
Semua orang yang ada di sana takjub sesaat.
Kedua dokter dan suster langsung memeriksa keadaan Dafa.
Mentari tertawa dalam tangisnya. Saat Dokter berkata Suaminya dalam keadaan stabil setelah hampir dinyatakan meninggal beberapa detik.
Entah karena pukulan di dadanya yang memicu jantung nya kembali berdetak, atau karena kalimat yang di ucapkan istrinya. Yang jelas Tuhan memberikan mereka kesempatan kembali bersama.
Ke esokan harinya Dafa sadar, dan tak lebih dari seminggu suaminya yang melakukan operasi kepala akibat kecelakaan karena rem blong, dinyatakan boleh pulang.
Namun, Mereka pulang ke Vila Papa. Sekalian pemulihan Dafa, dan kunjungan ke makam Papa yang tidak bisa dia saksikan.
"Papa menghembuskan nafasnya sendirian..." Bisik Mentari sambil menabur bunga di atas makam Papa mertua nya.
Dafa yang sedang mengusap nisan Papa nya, tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Nggak, Papa udah di jemput Mama... saat pamit pulang, Mas sempat berbisik. Kalo Papa sudah tidak kuat dan sudah menyerah Mas ikhlas, dan Mas bilang nggak perlu Papa pikirkan. Karena Mas udah bahagia dengan kamu dan anak-anak. Terus Papa kayak bergumam kata sayang... Kata itu hanya di lontarkan buat Mama, setiap melewati foto Mama pasti Papa selalu bilang, hei sayang. Seumur hidup belum pernah Mas mu ini di panggil anakku sayang. Kata sayang begitu sakral dan hanya di ucapkan untuk istri tercinta nya saja." Terang Dafa pada Mentari.
"Papa sweet banget... "
Dafa menoleh , "Dan aku akan membuktikan, aku mewarisi ke romantis an Papa," Janjinya.
"Ada satu ucapan yang Mas bisikin sebelum Keluar dari ruangan Papa!" wajahnya melirik ke arah istrinya.
"Apa?"
"Mas akan selalu bahagia dengan istri dan banyak anak." Kekehnya.
Mentari membola kan matanya. "Kebiasaan, kawin sana sama kucing. Shera baru mau dua bulan."
"Satu lagi, Sun... " Rengeknya.
"Iya, tapi nggak sekarang. Mungkin tiga atau empat tahun lagi." Mentari tersipu malu.
Dafa mengangguk senang.
Mereka pun meninggalkan makam sepasang suami istri yang abadi, dan cinta mereka begitu kuat.
Papa nya telah bersatu dengan Mama nya.
Dafa sesekali memandang ke arah makam kedua orang tuanya. Ibunya yang meninggal karena berjuang melahirkan nya, Ayah nya yang mendidiknya dengan begitu keras bahkan terlalu keras menjadikannya pribadi tangguh.
Dafa merangkul Istrinya keluar dari area pemakaman itu dengan rentetan janji di dalam hatinya, untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang menyayanginya.
❤❤❤❤
otw end ini, cuma minta like sama komen kalian ya, asalnya mau di buat sad ending. Tapi komen kalian tiba-tiba banyak dari biasanya menolak untuk Dafa meninggal. Masa harus di bikin sedih biar banyak komen🤭. Tapi makasih banget yang setia mendampingi, yang belum ke rumah Bintang aku tunggu ini🤭 peluk cium dari Bandung 😘🤗
__ADS_1