
πππ
Dia minggu berlalu kehidupan Dafa makin terpuruk, di tinggal istrinya, kehilangan buah hatinya, Papa nya yang sakit terkena struk dengan limpahan tanggung jawab dia sebagai pewaris tunggal sangat papa mengharuskannya mengurus perusahaan properti milik sangat papa. Ternyata ancaman papa nya dulu yang menyatakan dirinya di hapus dari ahli waris nyatanya hanya gertakan saja. Ya, tidak mungkin bagaimanapun dia adalah darah daging satu-satunya.
Belum lagi sidang nya yang semakin dekat demi sebuah gelar yang menjadi janjinya pada almarhum ibunya, walaupun dia tidak merasakan kasih sayang yang ibu, namun dia sering melontarkan janji ketika berziarah ke makam ibunya, layaknya janji terhadap orang yang masih hidup.
Bagaimana kepalanya tak pecah memikirkan semua beban yang seolah saling berhimpitan di otaknya saling antri untuk minta di pikirkan terlebih dahulu.
Seperti pagi ini, Dafa yang baru muntah-muntah di pagi seperti biasa merebahkan tubuhnya di sandaran sofa rumahnya. Dia baru saja membukakan pintu rumah untuk Rijal sahabatnya dalam segala hal.
"Lu mabok ya? muntah-muntah gitu? nggak akan nyelesein masalah tau!" Rijal menggerutu, sambil berjalan ke arah meja makan.
Dafa menatapnya kesal, "Mulut lu, minta gue jejelin tisu, boro-boro mabok... goreng telor buat makan aja gue muntah." Dafa menutup mulutnya saat rasa mual kembali dia rasakan.
"Lu, minum susu hamil?" Rijal menatap satu dus susu hamil di atas meja.
"Hooh, sayang kan mahal itu, lagian enak juga." Dafa menghampiri dan mengambil gelas kemudian meraih dus susu hamil sisa Mentari.
Rijal tertawa terbahak-bahak melihat Dafa yang tengah menyendokkan susu bubuk itu ke dalam gelas yang Dafa bawa.
"Anjir... lu, ngakak aing. Ngapain lu bikin susu hamil?" Rijal masih tertawa melihat apa yang Dafa lakukan.
Dafa tak menggubris ejek kan Rijal, dia berjalan ke arah dispenser dan memijit tombol air panas. Lalu berjalan kembali ke arah sofa sambil mengaduk gelas yang telah di isi air panas itu.
"Enak nyaho, sayang juga kalo di buang!" ujarnya lagi.
"Sejak kapan seorang Dafa hemat?"
"Sejak gue kagak punya kerjaan dan di nafkahi bini, bikin derajat gue jatoh sejatohnya." timpalnya.
Rijal menghentikan tawanya saat mendengar ucapan Dafa yang terdengar sentimentil.
"Gimana? temen lu dah bisa nemuin Mentari? gue udah nggak kuat pengen jemput dia, pengen minta maaf dan meluk dia." Dafa berucap tangannya masih memegang gelas susu hamil itu yang tinggal satu legukkan saja isinya.
"Belum, sabar dong baru juga tiga hari kita pake jasa dia-
Belum selesai berbicara Rijal menghentikan ucapannya saat melihat sahabatnya itu berlari ke arah wastafel dan kembali memuntahkan isi perutnya yang baru saja terisi susu yang gelasnya saja masih Dafa genggam.
Rijal memperhatikan sahabatnya itu dengan heran.
Dafa kembali duduk di kursi meja makan itu, dia menangkup tangannya dan menenggelamkan wajahnya yang terlihat pucat.
" Lu kayak yang ngidam?"
"Iya, persis sama Mentari di awal-awal kehamilannya. Kayak karma dari anak gue, karena udah nyakitin mak nya." Dafa masih menundukkan wajahnya.
Terdengar lucu sekaligus menyayat hati. "Sebuah karma, dari orang yang kita sakiti." Dafa mendongakkan wajahnya menatap jam dinding.
"Sejak kapan lu gini?"
"Sejak semua masalah datang, dan gue mabok-mabokan besoknya gue kayak gini. Gue kira gegara mabok eh berlanjut ampe sekarang, makanya gue yakin ini karma dari apa yang gue lakuin ke Mentari sama anak gue yang nggak ada." Dafa bangkit dari duduknya, berjalan ke arah kamar nya.
"Lu mau ke kantor bokap lu, atau ke kampus?" teriak Rijal.
"Ke kampus dulu liat jadwal sidang gue, baru ke kantor." jawab Dafa sebelum masuk kamar mandi.
Rijal mengekori Dafa ke kamar nya. pandangan nya terpaku pada guling yang di Pakaikan sebuah gaun tidur minim bahan(lingerie).
"Anjir... advokat setengah edyan." Rijal tertawa saat melihat guling berpakaian se*y.
__ADS_1
Saat dia akan memegangnya, "Jangan lu pegang, anji** ntu baju terakhir yang bini gue pake. Masih ada bau khas dia." Dafa menepis tangan Rijal yang akan memegang guling itu.
"Lu udah gila, lu nggak anuan kan ama guling?" tanyanya menyelidik.
"Gue normal kali, gue cuma meluk aja ngisep aroma bini gue yang masih nempel di baju itu."
"Walaupun tiap malem gue tegang cuma gegara liat foto atau video kita, tapi main sama tante Bio udah nggak se enak dulu." Dafa membenarkan letak guling berbaju itu.
"Daf... nggak sebaiknya ku ke psikolog?"
"Gue nggak gila, cuma kangen berat." Dafa melenggang menuju lemari mengambil kemeja berwarna biru dongker dan sebuah celana chinos hitam.
"Tapi gue makin janggal liat kelakuan lu, minum susu hamil, muntah-muntah, sekarang meluk guling yang pake baju. Kenapa gue jadi merinding ya deket sama lu? Takut di enggak-enggak sama lu." Rijal terkikik sambil berlalu keluar.
"Brengsek lu..." sungut Dafa kesal.
Dafa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin melihat parfum mentari si sebelah parfumnya, Dafa mengambilnya dan menyemprotkan pada sebuah sapu tangan kecil yang berinisial kan namanya.
"Dua wanita dalam satu genggaman." ujarnya saat menggenggam sapu tangan peninggalan ibunya dengan wangi aroma parfum Mentari.
Lalu memasukannya ke saku celananya, dan dia keluar kamar setelah rapi siap untuk pergi.
"Lu, tamu kagak ada akhlak makan mulu... " Dafa menghampiri Rijal yang kembali mengoleskan selai coklat pada dua tangkup roti.
"Laper nyaho, ntar gue ganti sama kopi, kalo lu ke cafe gue." Ucapnya sambil nyengir.
Dafa hanya memutar bola matanya dan berlalu ke arah pintu di ikuti Rijal yang sibuk mengunyah.
"Lu nggak sarapan?" Tanyanya
"Masih mual, biasanya ntar agak siangan ilang mualnya dan gue baru bisa makan." Dafa membuka pagar dan mengeluarkan mobilnya.
*
*
Di lain tempat...
"Kamu, udah bangun?" Tanya mamih Nina pada Mentari yang menghampiri nya di dapur.
"Udah Mi, ada yang bisa aku bantu?"
"Nggak ada, udah beres sayang. Cuma nasi goreng doang, yuk... kita makan." Ajaknya.
Mentari mengekori bu Nina ke arah meja makan.
"Ayo, makan yang banyak."
"Iya, Mi... "
"Udah nggak suka mual lagi kan?"
Mentari mengangguk, "iya, Mi. Tiba-tiba ilang aja mual muntah nya, padahal sebelum kejadian pendarahan masih sering mual muntahnya!" jawabnya sambil menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Bagus kalo gitu, mungkin si baby nggak mau ngerepotin Ibu nya!" lalu tangannya mengelus perut Mentari.
"Mau lima bulan ya?"
"Udah Mi, empat hari lalu." Mentari ikut mengusap perutnya saat sebuah gerakan kecil dia rasakan. Lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kalo ada yang kamu idamkan, bilang sama Mami ya!" ucap wanita cantik itu.
"Iya, Mi. Makasih."
Mereka pun melanjutkan sarapannya.
"Oh, iya ada klien baru yang mau di wisuda, Mami tawarin design kamu, dan dia suka. Kalau sekarang kamu ikut Mami ke butik mau?" ajaknya.
Mentari yang sudah lama berdiam diri di rumah, langsung menyetujui dengan antusias.
"Mau, Mi... akhirnya aku boleh keluar." Mentari tersenyum senang sambil memeluk malaikat penolongnya itu.
"Mami, kan takut kamu masih sakit. Jadi Mami ingin kamu benar-benar pulih dulu, biar si baby nya juga makin kuat." Dia mengusap punggung Mentari yang masih berada di pelukannya.
"Makasih Mi, makasih atas semua pertolongan Mami buat kami. Aku nggak tau caranya balas semua kebaikan Mami." air mata sudah mulai menggenang siap menetes hanya dalam sekali kedipan mata.
"Balas Mami dengan cara kamu bahagia, tata hidup kamu dan jadilah wanita kuat dan hebat untuk si baby." Ujarnya.
Mentari mengangguk dan setetes air mata akhirnya jatuh juga.
"Udah, jangan sedih lagi. Yuk kita berangkat ke butik sekarang! ada sahabat Mami yang mau dateng lagi. Usah lama dia nggak dateng soalnya dia di Australia, jadi mumpung di sini. Mami mau kenalin sama kamu."
Mentari hanya mengangguk...
*
*
Mereka tiba di butik, Mentari menatap takjub pada butik yang dia kira akan biasa saja, namun di luar ekspetasi nya butik itu besar dan terlihat mewah dengan bangunan tiga lantai yang menjulang dengan Kaca-kaca besar menampilkan berbagai macam manekin, lantai satu terlihat manekin gaun malam, lantai dua kebaya, dan lantai teratas terjejer berbagai macam gaun pengantin.
"Mi, ini butik nya keren banget? Aku nggak yakin bisa jadiin karya aku di sini."
"Kata siapa? kamu udah mencakup segala kriteria designer yang ada di sini." Mami Nina menarik tangan Mentari untuk memasuki butik nya.
"Kayaknya temen mami udah dateng, ada mobil anaknya di depan." Ujarnya sambil membuka pintu butik nya.
"Hai... Evan? mana momy kamu?" sapa nya pada seorang laki-laki berwajah bule.
"Ada di dalem Mi!" Jawabnya dengan bahasa Indonesia yang lancar.
Mentari dan lelaki itu saling bertukar pandang.
"Lama banget sih... aku udah nunggu kamu hampir sejam!" Seorang wanita datang menghampiri.
"Sory, ini ngajakin anak aku dulu."
"Sayang, sini kenalin sahabat Mami!" Bu Nina merangkul pundak Mentari agar berhadapan langsung dengan sang sahabat.
Mentari menatapnya... dan lelehan air mata turun dengan derasnya membasahi pipi nya yang sudah terlihat tembam.
"Hai, kenapa... ? "
Bersambung β€β€β€
terimakasih yang sudah mampir ππ semoga sukaπ₯°π₯° like komen jangan lupaππ, maaf baru bisa up kemarin aku sama anak gantian sakit ππ₯Ί
ehh... nggak ada yang nanya dengπππ
pokoknya sehat dan bahagia terus buat kita semua
__ADS_1
β€β€β€