Kisah Mentari

Kisah Mentari
argumen di atas kasur


__ADS_3

❤❤❤


drttt... drttt... drttt...


Suara getaran ponsel pada kayu meja nakas terdengar. Tangan Mentari meraba-raba di mana dia ingat menyimpan ponselnya semalam.


"Iya... Jawabnya lemas


" Lu nggak ngampus? " tanya Cindy di seberang sana.


"Nggak, ijin sakit. Badan aku sakit semua!" keluh nya.


"Hahahaha... berapa ronde lu ***-*** semalem? " Cindy bertanya dengan tawa kencangnya.


"Kepo.. " Mentari mematikan ponselnya dengan kesal dan menyelipkan di bawah bantal.


Lalu dia pun tertidur kembali karena rasa kantuk dan lelah yang mendominasi.


*


*


Hari sudah sangat siang, Matahari pun sudah berada di atas.


Sepasang suami-istri itu masih bergelung di bawah selimut. Tapi bukan posisi yang romantis seperti di novel-novel romance.


Posisi Mentari memang menyamping menghadap sang suami. Namun bukan menghadap wajahnya tapi kakinya. Subuh tadi setelah pergulatan ke empat mereka, Dafa langsung tergeletak seperti korban tenggelam, nafasnya ngap-ngapan seperti ikan kehabisan air. Keringatnya seperti dia seorang atlit lari bercucuran membasahi tubuhnya.


Dia tertidur dengan senyum bahagia, bahkan Mentari yang membersihkan cairan lengket yang tersisa di tongkat kasti kebanggaan suaminya itu.


Dia telaten membersihkan tongkat kasti itu, lalu dia membersihkan sendiri miliknya sebelum dia juga tertidur.


Pasangan itu langsung terbang ke mimpi, setelah empat kali mereka terbang ke nirwana setelah mencapai puncak kenikmatan. Kini mereka terbang ke alam mimpi dengan rasa lelah luar biasa.


*


*


Sinar Matahari masuk ke celah-celah jendela sedikit mengganggu waktu istirahat pasangan itu.


Mereka sama-sama menggeliat.


"Mas...


" Sun...


Keduanya saling memanggil secara bersamaan.


"Badan aku remuk, ini perih...sakit!" Mentari merengek.


"Sama... Mas juga ngerasa ngilu semua!" keluh nya.


"Kamu pake minta berkali-kali." Mentari menggerutu.


"Ck... aku kan tangguh, lagian kamu juga hayu-hayu aja. Nggak nolak kan?" ucapnya lugas.


Mentari memejamkan matanya menahan rasa malu mendengar ucapan sangat suami. Memang semalam dia juga bersemangat setelah merasakan rasa pipis yang berbeda dan baru dia rasakan. Dia merasakan seakan Dafa membawa nya terbang namun sedetik kemudian suaminya seakan menjatuhkannya seketika dengan ucapan-ucapan mesum yang membuatnya malu.


--flashback--


"Sun... ughhh, arghh.. kamu enak banget!" ucapnya memgerang sambil terus bergerak maju mundur memasuki gua sang istri.


Mentari melenguh dan kakinya mengejat menahan rasa meledak yang luar biasa nikmat, dia menggigit bibir nya menahan suaranya agar tak keluar. Jujur dia merasa masih malu.


Saat dia mendapatkan pelepasan lebih dulu dari sang suami, dan ketika sedang menikmatinya. Suara Dafa membuyarkan angannya yang sedang menikmati tubuhnya yang terasa melayang.


"Enak ya? ampe gitu banget mukanya!" Ujar lelaki itu tanpa tau malu sambil masih tetap menggerakan tubuh bagian bawahnya.


Kebayang kan lagi enak-enaknya melayang kamu di tarik kembali, karena mendengar ucapan yang membuat malu di pendengaran.

__ADS_1


--flashback off--


"Kenapa diem?" Dafa kembali bertanya.


"Malu ya? masih malu udah empat kali?" Dafa kembali dengan kata-kata yang membuat wajah merona.


"Mas... aku belum biasa sama kata-kata yang menjurus ke situ!" dia merengek memukul betis dafa yang ada di sebelah nya.


Dafa hanya terkekeh geli mendengar kemarahan sang istri yang malah membuatnya gemas.


"Mas...


" Iya? "


"Aku laper, tapi nggak kuat bangun!" rengeknya


"Sama... "


"Pesan delivery aja ke resto bawah!" usulnya.


"Terus, nanti yang ngambil ke pintu siapa?" tanyanya sedikit mendongak ke arah suaminya yang letak kepalanya masih sejajar dengan kakinya.


"Aku, siapa tau ada mukjizat aku kuat bangun!" jawabnya sekenanya.


Mentari terkekeh mendengar jawaban Dafa yang terdengar sangat kepayahan.


"Aku yang lebih sakit," gerutunya.


"Aku, Sun... kemarin aku habis lari di treadmill hampir satu jam, siang ampe sore latihan boxer, terus yang paling lama ya ***-*** sama kamu semaleman! Serasa semua sumsum tulangku kesedot semua sama kamu." ucapnya ambigu.


Mentari menatapnya kesal karena suaminya itu takmau kalah. Dia berhenti beradu argumen dengan Dafa karena merasa percuma.


"Kenapa ya hasil dari enak jadi pada sakit gini! eh.. " dia menutup mulutnya saat merasa dia keceplosan meluncurkan kata-kata "enak".


Dafa bangkit dengan susah payah, memutar posisinya hingga sekarang ada di sebelah sang istri.


" Akhirnya... kamu ngakuin juga, enak!" Dafa memeluknya gemas sambil terkekeh lucu.


"Nggak usah malu, Sun. Aku suami kamu, sekarang aku tau luar dalam kamu. kalau ada yang ingin kamu utarakan bilang ya! aku nggak peka,dan bukan peramal juga yang bisa baca isi hati." katanya sambil mengecup pucak kepala sang istri.


Mentari mendongakkan kepalanya mata mereka saling bertatapan dan kemudian saling bertukar senyum.


"Makasih, Mas... sekarang aku cuma punya kamu?"


Mentari mengecup pipi dafa yang tengah memandang nya.


"Ini juga dong, biar nggak berat sebelah!" pintanya menunjuk pipi sebelah nya.


Mentari menurut mengecup pipi sebelah nya.


"Ini juga dong!" Dafa mengerucutkan bibirnya.


Mentari menghela nafasnya. Namun dia tetap menuruti permintaan sang suami.


Niat hanya akan mengecupnya kilat. Dafa menahan tengkuk Mentari agar tidak bisa melepaskan bibirnya yang mendapat serangan keganasan bibir dafa, decapan, *******, dan belitan lidah itu di lakukan Dafa tanpa perlawanan berarti dari sang istri.


semakin dalam dan menuntut, matanya pun reflek terpejam menikmati, hingga pukulan di dada menyadarkan nya.


"Aku nggak bisa nafas, kamu pengen aku mati, Mas?" Mentari terengah-engah.


"Maaf... ke enakan!" Ucapnya terkekeh.


*


*


Mentari mendelik kesal. Dia merubah posisinya menjadi terlentang.


Dafa juga ikuti terlentang, "Aku suka aneh sama kupu-kupu malam, kenapa mereka di bayar ya? kan sama-sama enak!" Ujarnya dengan kalimat pertanyaan yang luar biasa gila di pikiran Mentari.

__ADS_1


"Ya karena mereka melakukan tanpa ada rasa cinta!" Mentari menjawab dengan rasa kesal.


"Bisa aja kan, karena se* adalah kebutuhan, jadi bisa aja di lakuin tanpa rasa cinta." ujarnya kembali.


"Itu buat laki-laki ya, kalau buat perempuan rasanya aneh kalo berhubungan bukan dengan lelaki yang kita cinta, aku nggak kebayang bisa berhubungan dengan laki-laki yang nggak aku cinta!" Mentari membeo.


Dafa terlontar kaget dan langsung menatap ke arah sang istri.


"Kamu mau ngelakuin ama siapa emang?" Dafa mengepal kan tangannya dan memukulkan ke kening sang istri.


"Nggak usah mikirin yang aneh-aneh. Kamu milik aku, selamanya kamu punya aku." Ucapnya menekankan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


Mentari mengaduh walaupun pukulan suaminya itu tidak sakit sama sekali.


"Lagian, seenaknya ngomong gitu. Aku sebagai seorang perempuan, nggak mau lah di anggap lelaki kalo kita semua sama!" Ujarnya membalas pukulan sang suami.


"Aku cuma berargumen!" Dafa masih keukeuh dengan pemikiran nya.


"Dan argumen kamu, memandang rendah wanita." Mentari kesal dan hendak bangun untuk mandi.


"Aww... ishh, sakit!" Jerit nya seraya menahan langkah kakinya.


"Apa yang sakit, Sun?" Dafa menghampiri.


"Ini aku," rintih nya memegang bagian inti tubuhnya.


Dafa menunduk dan mengelus bagian yang sakit itu.


"Eh... kok bangun?" dia mendongak wajahnya menatap Mentari yang mengerutkan keningnya.


"Apa yang bangun?" tanyanya masih polos juga tak mengerti modus sang suami.


"Ini bangun, kayaknya ini emang obatnya deh, Sun! biar cepet terbiasa jadi nggak sakit lagi." Ujarnya meyakinkan.


"Astaga... Lagi-lagi modus, aku masih kesakitan harusnya kamu papah aku menuju kamar mandi! kayak di novel-novel." Dia menepuk keningnya kesal.


"Apa-apa kayak novel, kamu berkiblat banget sama kehaluan ya, tapi di suruh adegan kayak di novel-novel nggak mau, malah sok steril segala pake di lap. Pake kumur-kumur takut ada kuman!" Gerutunya teringat sang istri yang sok steril di awal.


"Dan ternyata steril di awal doang, selanjutnya lupa saking enaknya!" dia terbahak setelah berhasil meledek sang istri.


"Masssss.... Stop, atau aku nggak mau ngasih lagi jatah!" sentaknya mengancam.


Dafa tergelak mendengar teriakan sang istri yang menahan malu.


"Emang ada jatah lagi?" dafa mengangkat kedua alisnya naik turun.


"eh...


Mentari menutup mulutnya lagi-lagi dia keceplosan.


" Asik... aku papah kamu ke arah kamar mandi ya, tapi kita coba gaya di bathtub?" Dafa langsung merapat tubuh Mentari yang berjalan mengernyit menahan sakit dan pegal di area inti nya.


"Masss.... nggak dulu, nanti lagi abis makan. aku lemes banget!" Rengeknya.


Dafa tak menjawab, dia juga sadar tubuh sang istri masih beradaptasi. Dan kalau boleh jujur pinggangnya juga ngilu sekali. Rasanya kalo untuk bergoyang bakal tambah ngilu bisa-bisa patah. batinnya.


"Ok, aku pesenin makanan ya, kamu mandi!" ujarnya saat mereka hampir mencapai pintu kamar mandi.


Mentari masuk ke kamar mandi, berendam air hangat yang dia kita akan memulihkan keadaan tubuhnya yang pegal luar biasa.


Sementara dafa mengambil ponselnya memesan makanan untuk mereka sarapan sekaligus makan siang, karena ini hampir jam sebelas.


Dia berjalan ke arah dapur membuka kulkas dan menuangkan susu dingin ke dalam dua gelas untuknya dan untuk sang istri.


Kemudian dia bawa ke dalam kamar. Dia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya menunggu datangnya makanan yang dia pesan.


Bersambung ❤❤❤


makasih yang masih setia mau mampir dan lanjut baca🙏🙏😘😘, semoga suka, maaf kalo di luar ekspetasi kalian ya soal mp yg nggak bisa bikin kelonjotan kek author lain🤭🤭 ya feel ku emang menjurus ke somplak nya😝, jangan serius-serius ya kita happy2 aja😘. jangan lupa like komen nya🙏🙏.

__ADS_1


sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤❤


__ADS_2