Kisah Mentari

Kisah Mentari
Tanda-tanda


__ADS_3

...----oOo----...


Siang itu ...


Mentari melihat ada sesuatu yang beda dari Intan, dia seperti menghindar dari Kakaknya. Setelah membawakan minum dan cemilan menyambut Bintang dan Naya dia lebih banyak berdiam diri di kamarnya.


Dafa dan Naya tidak terlalu lama di sana, hanya tidak lebih dari dua jam, karena Naya beralaskan harus segera pulang ke Jakarta.


Di lihat dari raut wajah Bintang, terlihat aura ceria tidak seperti kemarin-kemarin, yang sangat menyebalkan. Bahkan lelaki yang biasanya cuek itu sungguh ramah dan berkata manis di depan Naya.


Dafa dan Mentari hanya saling memandang dengan mulut keduanya yang Mencibir.


Tak lama dari itu, Bintang dan Naya pun pamit dengan menunggangi sepeda motor milik Bintang.


"Mas ... " Mentari memanggil suaminya yang sudah masuk ke dalam rumah, sementara dirinya masih di teras.


"Apa?" Dafa kembali menghampiri istrinya.


"Sini," Ajaknya menduduki kursi teras.


Dafa yang sedang menuntun Helen mengikuti perintah istrinya agar duduk di kursi yang bersebelahan hanya terpisah meja bulat kecil.


Mentari mengintip kaca jendela rumahnya yang memperlihatkan posisi dapur.


"Ada yang aneh, dari teh Intan."


"Kenapa? sakit mungkin!" Dafa masih mengawasi Helen yang berjalan sempoyongan karena belum lancar berjalan.


"Aku, yakin. Tadi pagi kak Bintang pasti ada omongan yang nyinggung teh Intan."


"Pasti itu, ngomong apa ya?" tambahnya lagi.


"Mana, Mas tau. Tanyain sana, kalian kan sesama perempuan." Dafa menghampiri Helen yang menginjakkan kakinya di rerumputan.


Mentari terdiam, "Nggak ah, teh Intan agak pendiem. Aku nggak enak kalo nanya ke orang yang gitu, takut salah atau dia ngerasa itu bukan hal yang harus kita tau." ucapnya berbisik.


"Mas, mau ke rumah Ayah..."


"Lah, kan malem mau itu... " Dafa yang mengejar Helen kesana kemari mendengus mengingatkan janji istrinya itu.


"Ya, di sana aja. Emang nggak bisa?"


"Ah, suara kita ketahan. Nggak enak, kurang pol."


"Iket aja pake syal mulutnya." Mentari terkikik dengan ucapan nya.


Dafa menoleh ke arahnya lalu ikut menyunggingkan senyum, "Lagi anu loh itu bukan penculikan, serem amat pake di sumpel segala."


"Ayo , Mas. Pengen nasi goreng Bunda." rengeknya lagi.


Dafa pun menyerah dan mengabulkan permintaan sang istri. Mereka pergi setelah langit menggelap, itu juga setelah request nasi goreng pada Bunda.


*


*


Di perjalanan Mentari yang memangku Helen, sedikit gelisah. Dafa menyadari gearak-gerik aneh dari istrinya.


"Kenapa?"


"Pinggang aku kayak yang di cubit, sakit."


"Baby, udah gede banget itu. Terakhir periksa berapa dia beratnya?" Dafa mengelus pinggang istrinya sekilas.

__ADS_1


"Huum, udah 3,3 . Tapi timbangan aku naik 20 , lah kemana itu sisa nya?"


"Udah ah, mulai. Pernyataan jebakan itu. Ntar aku jawab jujur salah, boong apalagi." Dafa memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Helen yang tidur meringkuk di pelukan Mentari, terlihat nyenyak sekaligus kurang nyaman di lihat.


Posisinya yang memeluk Ibu nya tapi terhalang perut, membuatnya seperti membungkuk.


Dafa turun dan membuka pintu depan, mengambil Helen, dan meletakkannya di Car seat. Dia kembali ke arah istrinya, dari luar dia berusaha mengusap pinggang Mentari yang di keluhkan sudah beberapa hari sakit. Mentari memejam menikmati pijatan lembut dari suaminya.


"Udah, ah ngantuk. Nanti aja di kamar." Dia mengusap pipi Dafa sekilas.


"Di kamar aku nggak janji ya, takutnya keburu ... "


"Ish, pijit dulu. Baru itu ... " Mentari mencebik.


"Ya, harus itu dulu. Kamu keburu tidur aku dapet zonk." Dafa mengecup sekilas bibir Mentari yang sedang mengerucut. "Buat, dp. " Dia terkekeh lalu kembali menutup pintu itu, dan memutari bagian depan mobil masuk kembali ke balik kemudi.


Mentari tersenyum melihat dan merasakan apa yang Dafa lakukan terhadap nya. Tanpa sedikit pun dia menyangka suaminya akan berubah 180° dari sikap awal mereka bertemu, ngeyel, emosian, pemaksa, tidak mau mengalah, tidak bisa di atur. Tapi Tuhan yang maha membolak balikan hati manusia, dengan mudahnya merubah sifat suaminya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggungjawab.


"Kenapa? makin cakep ya?" Dafa yang menyadari dirinya terus di pandangi akhirnya bersuara.


"Makin cinta ... " Mentari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Dih, gombal ... " Dafa tertawa salting namun tetap menciumi puncak kepala Mentari. Dadanya serasa meletup-letup bahagia, perutnya terasa menggelitik.


Dia bersyukur dan tidak menyangka kesakitan dan kekacauan hidupnya membawanya pada sosok wanita di sebelah nya, bagaimana awalnya dulu niatannya hanya untuk membalas dendam pada Bintang, namun sekarang dirinya jatuh sedalam-dalamnya pada cinta Mentari.


Mereka pun tiba di rumah Bunda.


"Kenapa Intan nggak ikut?" Bunda bertanya saat melihat Dafa kerepotan dengan tas bawaannya yang terlampir di pundak dan memenuhi kedua tangannya.


"Nggak enak badan katanya, Bun." Dafa menjawab dengan sopan.


Bunda mengangguk, "udah di meja makan." jawabnya sambil menciumi Helen.


*


*


Mentari keluar kamar mandi setelah memakan nasi goreng dua piring lalu mengobrol sesaat dengan orang tuanya itu.


"Mas ... " Mentari tercekat saat membuka pintu kamar mandi, suaminya sudah menyandar di dekat pintu kamar mandi.


Mentari yang hanya mengenakan handuk yang terlilit di tarik pelan ke arah pinggiran ranjang, Helen di bawa tidur di kamar kakek neneknya.


Dafa duduk di pinggiran kasur, tangan nya melingkari pinggang Mentari yang berdiri di depannya persis.


"Ngapain di tutup handuk? nggak nutupin semua." bisiknya mulai membuka handuk yang melilit tubuh istrinya.


"Mas ... malu. " rengeknya saat Dafa menarik lepas handuk itu dan melempar nya asal. Lelaki itu mengamati tubuh istrinya.


"Kamu, luar biasa. Ini makin gede, aku suka banget, ini juga." Dafa meremat dada dan bagian bulatan di belakang tubuh istrinya yang semakin montok. "Agghhh ... nggak tahan aku." Dafa segera menarik tengkuk Mentari dan menyambar bibir itu.


Lalu tak lama, dia sudah meloloskan pakaian nya sendiri.


Dan sesuai janji istrinya di siang hari tadi, Dafa mencoba beberapa gaya yang biasa mereka lakukan namun semenjak hamil besar agak takut untuk mereka realisasikan.


Sudah meraka duga erangan dan desa*han itu tertahan dalam bibir meraka yang sama-sama saking berikut meredam suara lengkingan nikmat itu.


Dafa menghentak dalam dan kuat di akhir kegiatan mereka, Dengan skor Mentari kalah dari Dafa 2:1 .


Dafa terengah-engah menggulingkan tubuh nya di sebelah istrinya, Mentari terlihat masih memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka.

__ADS_1


"Janji aku udah, mana janji kamu buat mijitin aku?" Tagihnya.


"Bentar, Sayang. Astaga... nih nafas masih aku atur loh." Dafa beringsut bangun .


"Yang mana? "


"Pinggang ... nah itu, enak."


"Ehmmm ... Mas, aduh enak banget. asli aku pasti nyenyak tidur." Katanya menyeringai sambil merasakan pijatan Dafa.


Tak lama, dadanya terasa di usap-usap, lalu terasa hangat dan basah, saat dirinya membuka mata, suaminya sudah menekuni dadanya.


"Mas, " Pekiknya tertahan.


"Bentar, ini bangun lagi. Sun." Paraunya suara Dafa.


"Aku capek... "Mentari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya namun dengan cepat Dafa menarik lepas selimut itu.


" Kamu, diem aja.. Aku yang kerja, ini. udah keras banget nggak akan lama." Mohon nya.


Mentari memutar matanya jengah, "Selalu kalo nyuruh mijitin berakhir kayak gini." Dengusnya kesal saat suaminya itu menyeringai bersemangat kembali memasuki tubuhnya.


Mereka pun tertidur nyenyak di bawah selimut hangat yang menutupi tubuh mereka yang hanya di lapisi dalaman saja.


...🌸🌸🌸...


Pagi hari...


"Jadi pergi?"


"Jadi, Bun. Bentar doang. Aku kangen nongkrong di cafe Kak Rijal. Lagian ada pelanggan butik aku yang keukeuh pengen di rancang baju nya untuk tunangan katanya, aku ajak ketemuan aja di sana sekalian, sambil ngukur dan diskusi keinginan dia kayak apa." Katanya menjelaskan.


"Titip Helen ya, Bun." Dafa berpamitan sesaat menutup pintu dimana Mentari telah duduk anteng.


"Iya, tuh liat burung sama Ayah. Buruan keburu ngeh." Bunda mengibaskan tangannya seolah mengusir anak juga menantunya itu.


Mobil pun melenggang ke arah pusat kota Bandung.


"Aduh ... " Mentari mengusap perutnya.


"Kenapa lagi? dari subuh loh kamu bangun udah meringis di pinggir kasur. Kayak nya itu tanda-tanda deh, Sayang!"


"Gara-gara, Mas."


"Lah, kok aku? yang jam dua tadi pegang-pegang terus di ciumin belut listrik sampai bangun siapa?" Tawanya pecah saat teringat malam tadi Istrinya terbangun dan langsung menciumi bagian bawah tubuhnya.


"Anaknya yang mau, aku tiba-tiba pengen nyium itu."


Ucapnya membela diri.


Dafa terkekeh puas bisa menggoda Mentari.


"Mau ke dokter aja?" Dafa menawari.


Mentari menggeleng, "nanti aja pulang dari cafe." usulnya.


Mobil pun masuk ke pelataran parkir cafe Rijal.


Bersambung ❤❤❤


Terimakasih🙏🙏, jangan lupa komen, like, sama Favoritnya ya yang belum di klik.


Sehat dan bahagia buat semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2