Kisah Mentari

Kisah Mentari
pertemuan ke 2


__ADS_3

...---oOo---...


"Aduh, nggak kuat sakittt." Mentari semakin meremat perutnya.


Intan masih mencoba melakukan panggilan ke orang bernama Bintang.


"Hallo , maaf sebelumnya. Saya susternya Helen, ini mau minta tolong. Bu Mentari perutnya sakit, nggak ada orang, Pak Dafa telpon nya nggak aktif." Katanya menjelaskan panjang lebar.


"Iya, saya kesana. Kebenaran lagi deket." Bintang menjawabnya.


Panggilan pun selesai.


"Teh, gimana?" tanyanya.


Mentari tak menjawab wajahnya sudah pucat dengan titik-titik keringat di wajahnya.


Tak berselang lama, Mentari menutup mulutnya dia berjalan ke arah kamar mandi, baru sampai pintu dia sudah memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan.


Setelah membentengi Helen dengan guling, Intan langsung menghampiri Tari yang tubuhnya merosot di pinggir pintu kamar mandi.


Di sodorkan nya segelas air dari atas nakas, "minum dulu teh."


Mentari merasa lemas, bahkan tangannya bergetar memegang gelas minum itu.


Terdengar suara mobil di depan rumah, dan suara pagar yang di dorong.


...~~~...


Intan langsung berlari ke arah pintu ruang tamu.


Seorang lelaki berjalan setengah berlari ke arahnya, "Mana, chaca?" tanyanya.


Gadis itu mengernyit saat mendengar nama Chaca.


"Maaf, A. Salah rumah kayaknya, di sini nggak ada yang namanya Chaca." Tangannya menahan dada bidang di depannya.


"Kamu, pengasuh baru, yang tadi nelpon saya kan?" Bentaknya.


Intan baru tersadar, dan mengangguk. "Iya, tapi di sini nggak ada yang namanya Chaca." Masih dengan keukeuh nya.


"Kakk ...." Mentari setengah menjerit dari kamar.


"Minggir, lu. Lama ... dasar cewek be*go." Geramnya, tangannya menyingkirkan tubuh Intan yang mungil.


Intan berlari mengikuti Lelaki yang sepertinya pernah dia lihat, tapi entah di mana.


"Cha ... "


Bintang berlari ke arah adiknya yang terkulai lemas.


Tanpa banyak bertanya dia langsung raup tubuh lemas adiknya.


"Ikut, bawa Helen." Saat Dia melewati Intan yang tengah terpaku menatap interaksi kakak adik itu.


Dengan sigap dia langsung menggendong Helen, dan berlari mengikuti Bintang yang membawa majikannya. "Masuk, buruan. Lelet amat." Ketus nya.


Mobil pun berlalu dengan kencang mendekati satu rumah sakit swasta besar di Bandung.


Bintang menatap cemas ke arah adiknya itu.


"Dek ...


" Chaa ...


" Bontot ...


"Mentari sayang ...


Tapi tak ada jawaban dari adiknya buang semakin merosot dari posisi awal dia dudukan.


" Hei, Adik Kakak yang cantik, ya ampun. Jangan bikin kakak takut, dek." Bintang terus mencoba membangunkan adiknya.


Intan masih terpaku di belakang, sambil menenangkan Helen yang takut mendengar suara papinya berteriak.

__ADS_1


Bintang sangat menyayangi adiknya, melebihi dirinya sendiri. Namun tertutup dengan tingkah slengean nya. Bahkan orang yang selalu membela Mentari dari amukan dan kekangan Ayahnya adalah dia.


"Kenapa bisa kayak gini?" Tanyanya pada Intan.


Intan yang mengira Bintang berbicara sendiri diam tidak menjawab.


"Heh, " Bintang menoleh ke belakang dengan sorot mata marah.


"Nanya saya, A?" tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Iya lah, masa gue nanya Helen! aneh-aneh aja. Adek gue juga nggak sadar." Ucapnya ketus.


Dih ngegas nih orang, sumbunya pendek pasti. Gumamnya dalam hati.


"Tadi, abis makan ngeluh sakit perut!"


"Makan apa?"


"Makan ayam rica-rica, bikinan saya."


"Pasti nggak enak, atau kamu kasih racun!" tubuhnya dengan serius.


Intan menganga tak percaya atas ucapan kakak majikannya itu.


Heh, Jangan asal kalo ngomong. Masa iya ada racun, Timpalnya namun masih dalam hatinya. "Saya, udah makan dua kali nggak ada apa-apa!" Jawabnya pelan


"Apa? dua kali. Lu mau ngabisin nasi di rumah adik gue?"


Intan semakin kesal dengan ucapan lelaki di depannya, saat akan kembali membalasnya Mobil sudah berhenti di depan IGD.


Bintang turun tergesa-gesa dan meneriaki seorang perawat, lalu membuka pintu di mana Mentari terkulai lemas. Dan menggendong nya keluar lalu menidurkan di atas Brangkar yang di dorong seorang perawat pria.


Mereka berdua mengikuti brangkar yang membawa tubuh Mentari.


"Telepon, lakinya." Titah Bintang.


"Udah, nggak aktif."


Bintang mendengus kesal dan seketika merogoh saku celananya. Lalu terlihat dia mengkotak-ngatik ponselnya.


"Bun, Chaca di rumah sakit!"


"... "


"Nggak, aku yang nge jemput ke rumahnya, dia tadi nelpon. Lakinya nggak ada, nggak aktif pula."


"... "


"Ya, kayaknya Bunda harus ke sini deh! Mau aku jemput Bun?" Tawarnya.


"... "


"Oh, Iya. Bun!"


Panggilan pun berakhir.


...------...


Suasana di lorong rumah sakit itu hening, kedua orang itu sibuk dengan kegiatannya. Bintang duduk di jajaran kursi besi panjang itu. Dan Intan berdiri menimang-nimang Helen yang hampir tertidur.


"A, Helen nggak bawa selimut. Popok nya juga udah penuh." Katanya takut-takut sedikit menoleh pada Bintang yang menunduk menatap layar ponselnya.


Bintang menatap wajah Intan, akhirnya dia melihat dengan jelas wajah perempuan menyebalkan yang tadi menghalangi nya masuk rumah sang adik.


"Tunggu, gue kayak yang pernah liat lu di mana ya?" Dia mengerutkan keningnya berpikir.


Intan pun membalas tatapan itu, "iya, saya juga lupa." Dia ikut menimpali.


"Ck, kalo gue lupa wajar. Soalnya banyak cewek yang emang ngejar-ngejar gue, Tapi kalo lu yang lupa cowok handsome kek gue, Mustahil." Ucapnya dengan PeDe nya.


Astaga orang apa ini, PeDe pisan. Hatinya mencibir jijik pada lelaki di depannya.


Bintang membuka kemeja flanel yang dia kenakan, melapisi kaos putih yang membalut dengan sempurna nya.

__ADS_1


"Nih, pake ini buat nyelimutin Helen." Dia menyodorkan kemejanya ke arah Intan.


Lalu dia mendekati Helen yang hampir tertidur, "duh, anak Papi ngantuk? doa in ibu ya!" Dia mengusap Helen yang mengerjapkan matanya lucu.


Intan yang kesusahan menyelimuti Helen, tangannya langsung di cekal Bintang, "dasar, gini aja nggak bisa." Bintang memasangkan kemejanya membelit tubuh Helen agar hangat.


Dari kejauhan Ayah dan Bunda berlarian ke arah Bintang.


"Gimana?" Bunda terlihat panik.


"Dokter nya belum keluar, Bun."


"Dafa?" Ayah bertanya saat pandangan nya tidak menemukan menantunya itu.


"Nggak ada, makanya tadi Chaca nelpon aku, Yah." Bintang menimpali.


"Mana ponselnya nggak aktif lagi!" tambahnya lagi.


Semua orang pun duduk dengan kecemasan yang menyelimuti. Namun saat Helen menangis, semua tersadar bahwa keadaan Helen tidak baik berlama-lama di rumah sakit.


"Mbak, boleh pulang bawa Helen, kasian. Biar saya yang nungguin Mentari." Bunda mengusap kepala cucunya dengan lembut, "doain Ibu ya sayang, doain adik juga!" tak sadar air mata menetes di pipi wanita yang sudah tak muda lagi namun pancaran kecantikannya masih terlihat jelas.


"Bin, anterin Helen pulang." Titah Ayah.


Bintang bangun dari duduknya, memasukan ponselnya pada akan celana. Lalu pamit pada kedua orang tuanya, "tapi aku nggak tau ke sini lagi atau nggak ya Bun!" katanya sebelum berlalu.


Bunda hanya mengangguk.


Kedua orang itu pun berjalan keluar dari rumah sakit.


...****...


Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Mentari di periksa.


"Maaf, keluarga dari Ibu Mentari?"


"Iya, Kami orang tuanya, Dok." Ayah dan Bunda langsung mendekat.


"Maaf, suaminya?"


"Masih di jalan dok," Jawab Bunda asal.


"Ada masalah dengan kandungan nya. Tapi saya harus tanya langsung pada suaminya." Terang dokter itu dengan ramah.


"Boleh di kunjungi, saat suaminya datang segera ke ruangan saya." Pintanya sambil mengangguk pamit.


Bunda dan Ayah saling tatap, Bunda sudah tak kuasa menahan tangis. Feeling nya sudah tidak enak dengan keadaan anaknya.


Ayah merangkul pundaknya dan mengusap pelan menenangkan kecemasan istrinya itu, padahal dia sama cemasnya.


...~~~~...


Di lain tempat


"Den ... "


Dafa mengerjap saat sebuah tepukan membangunkan nya dari mimpi buruk, tubuhnya berkeringat dan dia mengigau sejak tadi. Dan mamang pun yang sudah duduk hampir sejam di sana berusaha membangunkan nya.


"Jam berapa ini?" Dafa memandang sekeliling mencari jam.


"Jam, 9 ." Jawab si mamang.


"Aduh, saya janji dengan istri. Istri saya lagi kurang baik mang! Saya titip Papa, besok saya ke sini lagi. Kalau ada apa-apa langsung telpon ya Mang!" Jelasnya lalu terburu-buru pamit pada sang Papa yang masih nyenyak tidur.


Masuk ke mobil mencari di mana tadi ponselnya di simpan, "Astaga, mati." ucapnya lalu langsung mencolokan ke pengisi daya.


Mobil pun melesat keluar dari salah satu rumah sakit daerah Bogor.


Bersambung ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Terimakasih yang sudah mampir๐Ÿ™๐Ÿ™, semoga suka๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, Ini cuma cerita seru-seruan ya.. tidak ada niatan buat merendahkan atau menjelekkan suatu profesi ๐Ÿ™๐Ÿ™, cuma buat rame2 aja๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Sehat dan bahagia selalu buat kita semuaโค

__ADS_1


Terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mampir ๐Ÿ™๐Ÿ™, jika suka tinggal kan jejak ya, dan boleh share ke temen-temen nya yg lain๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


semoga karya Ittii yang baik hati dan tidak sombong banyak yang tersesat baca Aminnnn ๐Ÿคฒ๐Ÿคฒ.


__ADS_2