Kisah Mentari

Kisah Mentari
Dugaan yang benar


__ADS_3

...---❤❤❤---...


Pasangan itu masih bergelung di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Sun... "


"Ya?"


"Waktu di tinggal aku dua minggu kemarin ada tamu nggak?" Dafa bertanya sambil tangannya mengusap lembut punggung Mentari yang sedang memeluk tubuhnya.


"Nggak ada, emang kamu nunggu tamu?"


Dafa tertawa, "maksudnya tamu merah kamu! kalo nggak ada kayaknya Shera otw jadi mba." Dafa menunduk menatap wajah istrinya.


Mentari berpikir namun matanya langsung membola, "Nggak mas," Mentari langsung mengambil ponselnya dan melihat kalender.


"Ampunnn, udah lewat tiga minggu."Mentari menoleh dengan wajah kagetnya.


" Tapi kok aku nggak ngalamin kayak waktu Helen atau Shera ya? biasa aja cuma emang ngantuk terus." tambahnya.


Dafa menyeringai puas, seperti nya dugaannya tepat. Akhir-akhir ini dia melihat istrinya yang sering tidur dan seperti malas melakukan aktivitas membuat kecurigaan nya semakin menjadi.


"Coba test dulu deh, ada nggak?"


"Ada, besok pagi aja. Sekarang aku ngantuk," katanya tapi tangannya memegangi jamur kuncup suaminya yang telah memuntahkan getahnya dua kali.


"Ngantuk ya nggak udah bangunin yang tidur, ntar dia bangun kamu tinggal tidur." Dafa menarik tangan istrinya dan terdengar tawa kecil istrinya.


"Mas, kalo ini jadi lagi!"


"Nggak apa-apa, aku seneng."


"Bandel banget sih kecebong kamu, berhasil bobol perboden KB aku terus." Mentari mengomel.


Dafa tertawa, lalu mengecup kening istrinya, "berarti dia pejuang sejati. Tangguh kan bibit Mas mu ini," ucapnya dengan tawa jumawa.


Mentari mendelik namun tubuhnya malah semakin rapat memeluk suaminya.


"Aku takut, takut kayak hamil Shera. Duh badan nggak enak banget," katanya mengeluh.


Dafa hanya mencium puncak kepala istrinya lalu berkata, "aku mau kok berbagi penderitaan hamil sama kamu, kalo emang Tuhan ngijinin kayak waktu kamu hamil Helen dan pergi ninggalin aku, aku ngalamin mual muntahnya kamu, ngalamin pusing, dan yang paling sakit ngalamin mulesnya kontraksi."


Mentari tak menjawab, Dafa menundukan pandangan nya lalu tersenyum, saat istrinya sudah masuk ke alam mimpi terlelap dengan suara nafasnya yang teratur.


*


*


Pagi harinya


Mentari tengah menatap dua testpack yang ada di depannya, dua garis merah tergambar jelas di kedua alat itu. Tidak ada garis samar semua jelas dan tebal.


"Tiap tahun hamil, ampun... " Tapi tak ayal dia tersenyum sambil mengusap perutnya.


Mentari keluar kamar melihat suaminya masih tidur, namun anak-anak sudah bangun, dan dia pun membawa anak-anak keluar kamar.


"Bi, sarapan beli lontong kari di depan komplek aja ya. Tolong beliin,beli empat bungkus aja. Anak-anak takut pada mau, biar mereka sebungkus berdua." Mentari menyodorkan selembar uang seratus ribuan.

__ADS_1


Tak lama si pengasuh baru itu keluar rumah di temani Helen yang merengek ingin ikut. Sementara Shera belum begitu ngumpul nyawanya masih bersandar di pundak Ibu nya yang menggendongnya.


Mentari tengah menggendong Shera sambil tangannya memegangi selang air menyirami taman depan rumah nya.


Tiba-tiba sebuah tangan menelusuri pinggang nya dan berakhir di perutnya. Mentari menoleh melihat suaminya tengah tersenyum.


"firasat ku bener kan? Shera mau jadi mba." katanya berbisik dengan dagu yang di tempatkan di pundak istrinya. Setelah sesaat tadi ketika dia bangun dan masuk ke kamar mandi, melihat hasil testpack yang memang Mentari sengaja simpan di depan wastafel.


"Mas, ini yang terakhir ya!"


Dafa mengangguk, "Iya, mau perempuan atau laki-laki aku janji ini yang terakhir!" Ujarnya yakin.


"Aduh, aku malu bilang ke Bunda."


"Kenapa?"


"Tiap tahun hamil, ampun kita merusak kampanye negara, dua anak cukup!" Mentari terkikik geli.


Dafa pun ikut tertawa, kemudian tangannya terulur pada Shera yang menatapnya penuh kekaguman.


"Sini, Shera sama Ayah, kasian Ibu ada dedek bayinya," Ucap Dafa saat mengambil alih Shera.


"Kita ke rumah Ayah, penyambutan Kak Bintang yang pulang honeymoon. Lah kita yang belum honeymoon malah bakalan babymoon aja."


"Iya, agak siangan lah. Kita ke dokter dulu." Ucapnya bersamaan Helen masuk dengan sebuah keresek berisikan kerupuk untuk lontong kari.


"Bi, Siap-siap ya. Abis sarapan kita pergi." titahnya saat masuk mengekori bungkusan lontong kari ayam itu.


*


*


Mobil mereka pun melaju menuju rumah Ayah.


Sesampainya terlihat rumah sudah terlihat ramai, mereka langsung di sambut oleh asap di taman belakang.


Suara teriakan Helen membuat perhatian orang-orang di sana teralihkan.


Mentari langsung menciumi Ayah dan Bunda nya bergantian lalu duduk di kursi sambil mengambil sosis bakar dan memakannya dengan lahap.


"Laper?" Langit yang tengah menggendong baby Al, menghampiri nya.


"Ya begitulah bumil... " Dafa menjawab dengan menenteng bungkusan es kelapa dan cemilan lainnya.


Semua orang memandang ke arah Mentari yang hanya menyengir dengan wajah merona.


"Iya sayang?" Ayah antusias bertanya.


Mentari mengangguk.


Semua orang tertawa senang, hanya pasangan pengantin baru yang terlihat diam.


"Ck, napa sih cha. Lu tiap kakak lu nikah lu malah bunting? bikin pengantin baru makin berpacu dengan waktu ngadon nya. Kek lomba, lu selalu nyalip," sungut Bintang.


"Untung aja lu kakaknya ada 2, coba lu bayangin kalo kakak lu ada 11, yakin gue mah anak lu juga sebelas!" tambah nya.


Mentari mendelik sebal, lalu pandangan nya melihat istri Bintang yang hanya diam tertunduk.

__ADS_1


"Ye... ini kan udah enam minggu, kakak nikah baru seminggu, lah duluan aku berarti!" Dia membela diri


Bunda menepuk punggung Mentari agar menghentikan perdebatan.


"Udah diem, kalian suka bikin pusing,"


"Gimana ada ngidam apa?" Bunda bertanya pada putrinya itu.


"Nggak ada Bun, cuma males terus enak tidur."


Jawabnya.


Bunda mengangguk, lalu memandang Ayah yang tengah menatap putri mereka dengan haru.


"liat Ayah! mukanya haru." Bunda berbisik pada Mentari yang mengambil sosis jumbo untuk yang ketiga kalinya.


Mentari menatap Ayah nya yang tengah tersenyum ke arahnya. Dia pun mendekat dan duduk di sebelah Ayah nya.


"Ayah kenapa?"


"Ayah udah lega, kalian semua udah bahagia," katanya.


"Ayah... " Mentari menangis memeluk Ayah nya.


"Yah... kayak yang mau meninggal aja!" Bintang berkata sambil membakar udang dan cumi.


Sebuah sandal melayang tepat di punggung nya.


"Budak semprul, Ayah nggak akan meninggal dengan cepatnya, masih banyak unek-unek yang belum Ayah kluarin buat kamu."


"Astaga, bikin catatan buat anak ganteng dong yahh.. biar bisa di cetak bukukan." Lagi-lagi Bintang meledek.


Ayah hanya menggeleng kesal namun rasanya tak ada gunanya meladeni anak nya yang satu itu.


Keluarga itu makan dengan hikmat dan penuh canda tawa, sesekali pembicaraan berat.


"Bun, Yah... aku mau numpang tinggal di sini boleh?" Mentari bertanya.


"Ini rumah kalian, bebas mau tinggal di sini sampai kapanpun," kata Ayah.


"Asik... " Mentari terlihat senang mengacungkan kepalan tangannya.


"Rencananya kita mau bangun rumah, Yah. Rumah sebelah kita beli terus mau di satuin biar lebih luas dan ada tempat bermain buat tiga anak." Dafa kini yang berbicara menjelaskan.


"Keren kamu, nggak salah Ayah pilih kamu jadi menantu!" Beliau menepuk punggung menantunya bangga.


Bintang mencebik, " dulu aja ampe serangan jantung, terus ngusir anaknya, terus... lah panjang, intinya mah nggak nerima tuh waktu itu." Bintang bersungut-sungut.


Semua orang malah tertawa.


❤❤❤


Sedikit lagi ini end kok aku nggak mau ya🤭🤣🤣


tapi harus di akhiri udah kepanjangan, dan aku nggak bisa fokus ngerjain dua judul nama karakter nya suka belibet ketuker sana sini🤭🤣🤣, maafkan🙏🙏🤭🤭. Like komennya jangan lupa ya di detik-detik terakhir kisah mereka🤭🤭.


Salam cium dari Bandung 💋💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2