Kisah Mentari

Kisah Mentari
Sebuah nama


__ADS_3

❤❤❤


Di pagi hari, sepasang suami-istri tengah menikmati sarapan mereka.


Saat ponselnya berbunyi, Bunda langsung menuju meja tv dimana ponselnya tergeletak.


"Iya, Bang?" jawabnya setelah menekan tombol hijau panggilan dari putra sulungnya.


"Bun. Chaca nangis terus dari subuh, dada nya sakit katanya."


"Oh, iya. Bunda ke sana sekarang."


Panggilan pun berakhir.


"Ayah, kita ke Rumah Sakit sekarang, Chaca nangis terus dari subuh." ucapnya menghampiri sang suami.


"Ck, ayah mau minta nambah." Timpalnya.


"Di mobil kan bisa! Ayo kasian dia pasti masih bingung."


"Serius di mobil?" Ayah berjalan bersisian dengan sang istri menuju kamar.


"Eh... apa? sarapan kan?" Bunda menghentikan langkah kakinya lalu melirik ke arah suaminya yang tengah senyum penuh arti.


"Nambah yang malem bun! yakin mau di mobil?"


Lelaki paruh baya itu menyeringai.


"Eh... aku kira sarapan makan." Bunda melanjutkan langkahnya sambil menahan senyum masuk ke dalam kamar.


Ayah Gunawan menutup pintu lalu menguncinya.


"Iya, makan yang lain, aku pengen di makan kamu lagi Bun." Godanya.


Bunda mendelik sebal ke arah suaminya, dia sedang memilah baju yang akan dia gunakan.


"Bukan dari tadi, kita buru-buru, kasian Chaca. Kayaknya dia masih kaget. aku takut dia baby blues kayak aku dulu waktu lahiran Abang. Serba salah bingung malah ikut nangis... "


"Dan, aku nggak peka. karena kita sama-sama masih belajar. Kalo inget masa-masa dulu, aku suka malu. Banyak egois dan nyakitin kamu, Bunda sabar banget dan sekarang, Chaca malah ngerasain apa yang aku lakuin dulu sama kamu. Apa itu karma?" Ayah memeluk tubuh Bunda yang hanya setinggi ketiaknya.


"Masa lalu nggak usah kita lihat, walaupun kita sudah mengikhlaskan nya pun, masa lalu akan tetap mengikuti seperti bayangan. Aku nggak bisa bilang apa-apa. Cuma satu yang harus Ayah tau, aku udah maafin Ayah, dan Ayah juga harus maafin kesalahan aku yang kabur ninggalin kalian dulu." Ucapnya membalikan badan menghadap suaminya.


Cup...


Ayah mengecup bibir istrinya itu, "Yuk, sebentar aja!"


ajaknya lagi.


"Dih, bukan dari subuh?" sungut nya.


"Aghh... " Ayah mende*ah saat dengan sengaja tangan sang istri meremat kesal miliknya.


"Mau dari Subuh, cuma kamu nyenyak banget. Aku nggak tega banguninnya." Suara nya sudah parau tertahan.


"Tapi, Chaca nungguin di Rumah Sakit." Alasannya.


"Sebentar, Bun. Dosa loh nolak suami." Ancamnya.


Bunda mendelik sebal, mengerucutkan bibirnya.


"Selalu, dosa ancamannya." Sungut nya kesal.


Ayah Gunawan, hanya tertawa melihat istrinya cemberut, tapi tetap menghampiri nya.

__ADS_1


Sepasang Suami-istri itu pun melakukan kembali adegan menyatukan kekurangan dan kelebihan milik masing-masing.


*


*


Bunda berlarian di kamar antara meja rias dan lemari bajunya, dia masih memakai handuk sambil memanaskan hairdryer yang dia temukan di kamar putrinya.


"Gini nih, mainnya sebentar tapi mandinya lama. Belum ngeringin rambut." Gerutunya saat sang suami keluar dari kamar mandi.


"Apa sih? kamu juga ampe merem gitu tadi. Enak kan?" Godanya


"Dih... pake nanya DNA Bintang, liat dong tingkah sendiri!" Sungut nya sambil mengeringkan rambutnya.


"Lah, aku gini di depan kamu doang Bun. Dia mah urat malunya udah putus." Belanya, sambil menyambar pakaian yang sudah istrinya siapkan di atas kasur.


"Liat tuh, panggilan Abang udah tiga kali nggak kejawab." Bunda selesai mengeringkan rambutnya, lalu dengan cepat memakai pakaiannya tepat di hadapan suaminya nyang tengah memakai jam tangan dan kacamatanya.


"Yuk... " bunda pun selesai dengan dress tunik se betis berwarna kuning bata.


"Kamu masih secantik dulu." Ayah Gunawan menarik pinggang istrinya itu agar merapat pada tubuhnya.


"Alah, gombalnya nanti. Anaknya udah nungguin, kelakuan kayak anak abegeh aja." Bunda melepaskan tangan nya.


Mereka pun beriringan keluar dari rumah, dan Ayah mengendarai mobil membelah kemacetan jalan di pagi hari itu.


*


*


"Mana Bunda.... " Mentari masih terisak-isak.


"Udah Abang telepon kan tadi. Palingan bentar lagi."


Langit menghampiri adiknya yang sedang menangis di tempat tidur.


"Ya, Abang nggak tau. Nanti juga kalo udah selesai pasti di anter lagi ke sini." Katanya


"Bundaa... " Rengeknya.


Bintang yang baru bangun masih menggaruk wajahnya dan merenggang kan tubuhnya yang pegal tidur di sofa semalaman.


"Dari subuh, lu ngerengek mulu. Mau nyusu juga lu ama Bunda." Bintang berucap sambil berlalu masuk kamar mandi.


Tangisan Mentari semakin keras saat mendengar ocehan kakaknya.


"Dek... " Langit menyela tangisannya.


Mentari pun menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya.


"Liat, mata kamu bengkak gitu." Langit ikut mengusap wajah sang adik.


Suster pun masuk membawa kotak bayi yang terdapat putri nya yang menggeliat menangis karena haus.


"Baby nya nangis bu, udah nggak kuat pengen minum susu." Suster itu memberikan bayi itu pada gendongannya.


"Malem belum ada Sus, dia masih nggak sabaran ngerengek." Ujarnya.


"Coba saya pijat sebentar, saya sudah membawa lap hangat." Lalu mulai memijat kedua benda itu, "Keras banget, udah banyak ini asi nya. Cuma lubangnya aja belum kebuka." Ucapnya.


Di balik tirai.


"Lubang apa yang belum kebuka?" Bintang yang baru keluar dari kamar mandi bertanya.

__ADS_1


"Lu, kalo denger yang begituan otak lu cepet banget tanggap nya." Omel langit.


Bintang hanya tertawa sambil mendudukkan tubuhnya, "pegel semua badan gue, ke bawah ah cari kopi." Dia kemudian berdiri.


"Gue titip, Bin."


Bintang pun mengangguk dan berlalu keluar.


*


*


Bunda dan Ayah tiba saat Mentari sedang menyusui bayinya.


"Bunda... lama, semalem aku bingung dia nangis terus."


"Terus kamu ikut nangis? mata sampe bengkak gitu. Bawa enjoy sayang, kalo kamu panik dia bisa ngerasain dan malah ikut gelisah." Bunda mengelus punggung cucunya.


"Udah keluar banyak? udah nggak sekeras kemarin ya?" bunda menekan-nekan dada sang putri.


"Barusan di pijat lagi." udah banyak lubangnya, tadi juga sempat ke sedak air susu.


Seperti tau tengah di bicarakan mata bening itu membuka lebar. Memandang ke arah Mentari.


"Hai... anak ibu?" Sapa nya.


"Belum bisa liat sayang, nanti kalo dia nangis ngeluarin air mata tandanya dia udah bisa liat." Terang Bunda.


"Tapi, dia ngeliatin kayak yang udah liat." Mentari tak melepaskan pandangan nya pada mata bulat jernih itu.


Bunda hanya tersenyum, "Udah ada namanya?" Bunda kembali bertanya.


"Helen Davanya putri bagus nggak Bun?" tanya nya.


"Bagus, artinya?" Tanyanya


"Helen artinya cahaya matahari, karena dia lahir di siang hari dan juga karena dia bagai cahaya di hidup aku Mentari." Terangnya.


"Bagus, cantik. Kalo Davanya?"


"Ayahnya kan, gimana juga dia Ayahnya." Mentari menunduk memandang wajah putrinya yang perlahan matanya tertutup tapi mulutnya masih kuat menyesap sumber makanannya itu.


"Iya, semoga kamu bisa bijak ya. ,Oh iya Bunda beli cake tadi di jalan." Dia berjalan menuju meja membuka bawaannya.


*


*


Dafa terbangun dari tidurnya.


"Semaleman gue tidur di sini. Mimpi di marahin bini lagi." Gumamnya.


"Duh... keras gini. Sampe kapan Sun aku nahan tongkat sakti ini. Kesiksa banget." ucapnya meringis meremat miliknya.


"Duh... makin pengen." Dia pun beranjak masuk ke kamar mandi mencoba bermain dengan tante Bio.


Hampir setengah jam dia baru keluar dari kamar mandi dengan wajah lelah mata sayu dan keringat bercucuran. "Capek kalo solo, tangan ampe pegel. Hasil nggak seenak sama kamu Sun.... pulannnnnggg." Teriaknya di kata terakhir.


Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Saat bunyi ketukan di pagar membuyarkan lamunannya, dia pun berjalan menuju pintu. Dia terpaku setelah tau siapa orang yang datang di pagi hari itu.


Bersambung ❤❤❤

__ADS_1


Makasih yang sudah mampir 🙏🙏, semoga suka😘😘, like komen jangan lupa ya🥰🥰🥰


Sehat dan bahagia selalu buat kita semua❤


__ADS_2