Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Salah Paham part2


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Icha baru menyadari jika ternyata suaminya sudah duduk di sofa tunggal yang tak jauh darinya. Lalu dirinya segera berpamitan pada temannya.


"Sudah menelponnya?" Arka memulai percakapannya kembali setelah dirasa Icha menaruh ponsel pintarnya diatas nakas.


"Ehmmm." Icha tidak begitu menghiraukan keberadaan Arka yang sedang menatapnya, dirinya malah berjalan santai menuju kamar mandi.


"Kenapa dia cepat sekali kembali, oh Tuhan..., padahal aku masih sangat kesal padannya." Icha menutup seluruh mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Ingin rasanya aku tonjok."


"Huhh..."


Arka yang dicueki Icha membuka ponselnya dan membalas email masuk, serta mengecek beberapa laporan yang ada di perusahaan pusatnya.


Sepuluh menit, lima belas menit, hingga satu jam namun tak nongol juga batang hidungnya. "Cha.... bukaklah Cha, kenapa kamu lama sekali mandinya." tak ada sahutan dari dalam sana. Lalu Arka berinisiatif membuka pintunya, ternyata tidak dikunci.


Arka berjalan masuk dan mengecek keberadaan istrinya, ternyata yang dicarinya sedang terlelap dalam tidurnya.


"Anak ini selalu saja ceroboh." gumam Arka, tangannya mengulur, mengambil handuk kering dan segera mengangkat tubuh istrinya. Lalu membawanya diatas ranjang.


Sekuat tenaga Arka menahan hasrat kelelakiannya agar tidak pecah saat itu juga. "Pantas saja kakak kamu itu selalu menaruh pengawal dan asisten untukmu, kamu ini memang susah diberi tahu dan sangat ceroboh." gumam Arka, lalu menaikkan selimutnya sebatas dada, dan mematikan Ac ruangan kamarnya.


Entah saking lelahnya atau saking pulasnya, Icha tertidur hingga pagi hari menjelang, dan yang pertama kali membuka matanya adalah dirinya, "Huahhh." menguap pelan.


Merasa ada yang aneh, Icha mengerjap lalu melihat obyek didepannya, ternyata dirinya tidur dalam dekapan Arka yang sedang bertelanjang dada. "Kak Arka, ahhhhh." teriaknya pagi ini.


"Ada apa sih kamu pagi-pagi sudah berteriak saja." Arka sampai mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya.


"Kakak apa semalam kakak dan aku?" Icha menengok seluruh tubuhnya yang ternyata telanjang, bahkan handuknya entah kemana.


Icha terbangun dan duduk ditepi ranjang, sepertinya dia sangat kesal dengan paginya kali ini,"Menurutmu?"


"Jadi beneran kakak semalam kita sudah melakukannya?"


"Ehmmm." jawab Arka hanya sebuah deheman yang ternyata salah diartikan oleh Icha.


"Kakak jahat, hiks hiksa, aku tidak mau aku tidak mau."


"Hey diamlah, kenapa kamu malah menangis, bukankah ini kewajibanmu?"


"Apa?"


"Kewajibanmu sebagai seorang istri melayani suaminya."


"Tidak kak, tapi aku belum siap, tapi kenapa kakak sudah melakukannya padaku tanpa ijinku."


"Huhu...hu..hu.." Icha tergugu memangis, menyeka sudut matanya yang basah karena air mata.


"Lalu kapan kamu siapnya?" tanya Arka yang kini menyesuaikan tubuhnya duduk ditepi ranjang.


"Kalau sudah habis masa kontrakku."


"Lima tahun lagi?"


"Iya..., karena nanti kakak akan membayar penalti jika melanggarnya, dan kita akan terkena kasus hukum, dan aku juga belum siap punya anak." lirihnya tidak berani menatap wajah suaminya.


"Bahkan aku bisa membayar ganti rugi itu semua."

__ADS_1


"Tidak kakak, jangan..., ini urusanku sebelum menikah, jadi biar aku selesaikan sendiri saja, pokoknya kakak tidak boleh ikutan titik."


"Hemm baiklah, tidak janji."


"Kakak." teriaknya lagi.


"Apa lagi?"


Arka sekuat tenaga meredam hasratnya yang kian memuncak, bahkan ketika dirinya melihat selimut Icha yang sedang melorot, namun sang empunya tidak menyadari hal itu. Ditambah susana pagi hari udara Villa yang sangat sejuk, membuat tonggak pusakanya berdiri tegak.


"Kakak,"


"Apa lagi, katakan?"


"Lihat aku, aku ingin bicara?"


"Iya baiklah bicaralah, aku juga mendengarnya."


"Tapi kenapa kakak cuekin aku?"


"Seharusnya yang marah itu aku bukan kakak."


Seketika Arka menoleh, mencerna ucapan Icha baru saja,"Marah, marah kenapa?"


"Iya, apa yang kakak lakukan kemaren di kamar Jenifer?"


Arka memutar memorinya, kembali mengingat kala dirinya memasuki kamar Jenifer sore itu. "Kemaren sore?"


Icha mengangguk lagi,"Tidak ada, aku hanya menolongnya."


"Apa beneran menolong, tidak ada yang lain?" tanya Icha menatap suaminya curiga.


"Tapi aku mendengarkan kakak sedang melakukan hal aneh dengan Jenifer."


"Sayang..., dengarkan aku, bahkan perempuan cantik manapun tak akan mampu membangunkan dia."


"Dia siapa?"


"Kamu ingin tahu?"


"Tentu saja."


"Baiklah, jangan menyesal kalau aku kasih tahu."


"Tidak akan."


"Dia siapa? cepat kakak kasih tahu aku." Icha mencecar Arka.


Arka yang mendapatkan tatapan intimidasi dari istrinya begitu memberanikan diri, mengambil salah satu tangan Icha dan mengarahkan pada senjatanya yang sudah sejak tadi sebelum bangun berdiri tegak.


Icha yang merasakan ada benda yang mengeras ditangannya, seketika rona pipinya berubah menjadi warna merah seperti tomat, "Sekarang kamu tahu kan."


Icha menarik tangannya dari sana, "Apaan sih kakak."


"Aku serius tahu."


"Memangnya aku tidak serius." menatap intens istrinya.

__ADS_1


"Jadi beneran kakak disana tidak melakukan apa pun?"


"Tapi kenapa aku mendengar Jenifer mendesah terus?" tanya Icha polos.


"Dia habis terjatuh lagi, dan kali ini kakinya terkena goresan batu. Jadi aku hanya membantu mengobati luka di kakinya saja."


"Kalau kamu tak percaya ayo kita ke kamar Jen sekarang."


"Tidak..., tidak kak aku percaya kok."


"Baiklah, tapi sekarang bagaimana dengan dia?" tanya Arka lagi.


"Bagaimana apanya?"


"Dia sudah bangun, apa kamu tidak berniat untuk menidurkannya?"


"Tidak aku belum siap." ucap Icha spontan saja yang melihat arti tatapan Arka.


"Ck, kamu tega sekali, itu tutuplah jika tidak aku akan melahapmu sekarang juga." Arka melirik selimut Icha yang sudah melorot sejak tadi.


"Oh astaga." Icha segera menutup dadanya, dan memeluk dirinya sendiri, melihat Arka yang pergi meninggalkannya menuju kamar mandi.


"Sepertinya dia melihatnya sejak tadi."


"Ahhhh kamu bodoh Icha." teriaknya.


Sementara Arka berusaha meredam hasratnya dengan mandi air dingin di Villa itu. "Dia memang tidak bisa pengertian," gumam Arka dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.


"Handuk..."


"Kenapa juga di spreinya tidak ada bercak merah, ahhh aku pasti sudah ikutan gila karena terkontaminasi dari novel yang dibaca Megan." Icha membersihkan tempat tidurnya dan tidak menemukan bercak darah keperawanan.


"Pengantin baru, setiap pagi teriak-teriak melulu, tidak kenal tempat pula." ketus Devan melirik adik iparnya sekilas.


"Diamlah jika tidak tahu." jawab Arka yang sepertinya sangat sensi.


Saat ini mereka sedang duduk bersama di gazebo belakang bersama Aksara adiknya Devan. Sedangkan rekan kerjanya belum menyusul.


"Apa jatahmu semalaman masih kurang?" tanya Devan random.


"Tak perlu tahu dan tak udah menanyakan hal yang tidak perlu kamu tahu."


"Ck, sesi amat, mau PMS apa?"


"Kalian sudah lama menunggunya?" tanya Raka yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Menurutmu?" Arka.


"Maaf jika aku terlambat," ucap Raka dan disusul yang lainnya.


Mereka membahas banyak hal, mulai dari proyek tambang emas dan juga batu bara. Berbagai rekontruksi telah mereka persiapkan dengan baik, pemilihan alat berat hingga pemilihan kontraktor nanti.


"Baiklah, jangan lupa adikmu kan nanti yang jadi pemandu acara," ucap Raka yang sepertinya naksir dengan Icha.


"Hemmm."


Membuat kedua tangan Arka mengepal erat, hingga buku-buku jari tangannya memutih.

__ADS_1


"Baiklah sampai bertemu nanti malam." ucap Raka lagi dan meninggalkan mereka.


__ADS_2