Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Tukang Pijat dadakan


__ADS_3

"Ehmm anu itu kak, tidak ada, ahh yaudah aku akan kesana duluan ya kak." pamitnya pada Devan.


"Tunggu dulu, kau mau kemana?"


"Iya tentu saja aku akan kesana mencari Megan," Icha.


"Kakak perlu bantuanmu."


"Bantuanku?" Icha membeo menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kakak perlu bantuanmu." ulang Devan.


"Apa itu?" tanya Icha.


"Kali ini kakak minta tolong, pijatlah kaki sekretaris Jenifer, asisten Arka teman kakak."


"Aku tak mau." ucap Icha reflek, entahlah apa mungkin dirinya terbakar api cemburu atau dendam kesumat yang hinggap padanya.


"Ayolah, tolong kakak sekali ini, kakak janji kau minta apa saja akan kakak turuti nanti." bujuk Devan dengan suara yang merendah.


"Kenapa kakak tidak memanggil tukang pijit orang lain saja?" ketus Icha bersedekap dada.


"Kakak sudah memanggil tukang pijat orang luar, tapi kaki Jenifer malah tambah bengkak,"


"Kakak sendiri juga tidak tahu apa penyebabnya, padahal tukang pijat itu juga langganan kakek." jelasnya pada Icha.


"Apa kamu tak kasihan melihatnya sebagai sesama manusia,"


"Kalau aku menolong Jenifer, apa imbalannya untukku?" tanya Icha santai melihat kuku-kukunya yang indah.


"Kakak janji kau mau apa saja akan kakak kabulkan."


"Ck, kenapa kakak sampai melakukan ini?"


"Tentu saja, mereka adalah tamu kita, jadi kita harus menyambutnya dengan baik, dan memperlakukan mereka dengan baik."


"Ayolah, kakak tak pernah mengajarimu seperti ini."


Icha terdiam sebentar, mencerna setiap ucapan kakaknya tadi," Baiklah, aku mau..., dan aku belum memikirkan imbalanku kali ini."


"Anak pintar." mengusap kepala Icha dan mengacak rambutnya yang rapi.


"Kakak, tak usahlah memegang aku seperti ini, rambutku jadi tidak rapi lagi kan." menarik tangan kakaknya kesal dan mengerucutkan bibirnya lucu.


"Kau memang adik kesayangan kakak." pujinya.


"Kalau ada maunya saja memuji, kalau tidak ya mana mungkin." gumamnya pelan.


Kakak adik itu berjalan beriringan menuju aula tempat para pengusaha muda berkumpul.


Ternyata disana terjadi kerumunan, "Siapa yang mereka kerumuni kak?" tanya Icha menoleh pada Devan, kala mereka melihat dari kejauhan.

__ADS_1


"Kau lihat saja nanti." jawab Devan.


Sampailah langkah kaki mereka pada kerumunan itu, di sana Arka sedang memeluk Jenifer yang sedang kesakitan, merintih sambil menangis.


"Jenifer... kau?" Icha.


"Ada apa denganmu?" Icha membelah kerumunan diantara orang-orang itu.


"Kakiku terasa sakit sekali, tolong aku?" rintihnya.


"Ada apa dengan kaki kamu, perasaan tadi pagi kamu terlihat baik-baik saja." Icha berdiri tepat di depan mereka.


Ia mengabaikan keberadaan Arka yang sedang memeluk Jenifer dari belakang, dan memberikan ketenangan padanya.


"Iya aku pikir akan baik-baik saja, tadi pagi sudah terasa sakit, tapi aku abaikan, tapi ternyata malah semakin membengkak," rintihnya pelan.


"Dev.. mana orang yang mau kau panggil?"


"Apa kau tak jadi memanggil orang ahli tukang pijit yang kau maksud tadi?" Arka berteriak pada Devan, pasalnya ia tidak tahu jika yang dipanggil Devan adalah Icha.


"Kau jangan banyak tanya, dia sedang kesakitan," Arka menyela pembicaraan dua orang itu.


Seketika Icha baru menyadari jika orang yang dipakai sandaran Jenifer itu adalah Arka.


"Maksudnya?" Icha tak mau kalah.


"Sudahlah minggirlah, jika Dev tak mampu memanggil tukang pijat biar kubawa Jenifer ke dokter ahli saja."


"Iya, apa yang bisa aku bantu?" seketika Alex mempersiapkan diri.


"Bantu aku membawa Jenifer keluar dari sini," perintahnya dengan suara yang berapi-api.


"Tidak jangan, aku tadi yang dipanggil kakak untuk memijat dia." Icha menghentikan niat Arka.


"Kalau begitu pijitlah sekarang jangan banyak bicara." seketika Icha merasa tertampar, mempertanyakan ketulusan Arka yang ingin kembali lagi padanya.


Namun untuk saat ini ia masih menekan egonya, "Jenifer coba kencangkan dulu kaki kamu."


"Kakak atau siapa pun, tolong ambilkan minyak goreng." Icha.


"Kau mau apa mengambil minyak goreng." tanya Arka sudah setengah murka.


Tetapi Icha diam saja tak membalas perkataan pedas Arka yang setengah melukai hatinya.


Seseorang asisten rumah tangga telah kembali membawakan minyak goreng dan juga jeruk nipis, sesuai permintaan Icha tadi, dan mulai meluruskan kaki Jenifer lalu memijitnya pelan pada bagian yang bengkak akibat terkilir kemaren.


"Aduuhhj sakit sekali."


"Kau tahan dulu iya," Icha menenangkan sambil melakukan tugasnya.


"Sudah, untuk sementara waktu jangan banyak beraktivitas banyak dulu iya."

__ADS_1


Icha bangkit berdiri dan mencuci tangan di wastafel, lalu menaruh peralatan yang tadi ia pakai untuk memijat Jenifer.


"Bagaimana apa sudah baikan?" tanya Arka pada Jenifer yang terlihat sangat perhatian bak sepasang kekasih yang lagi kasmaran itu.


"Ehh denger-denger pacarnya tuan Arka sedang terkilir, dan dipijat oleh nona Icha." bisik-bisik asisten rumah tangga yang bekerja di villa itu, hingga sampai terdengar ke tekinga Icha.


"Pacar, apa mereka mengira jika Jenifer adalah pacarnya kak Arka?" setelah selesai mencuci tangannya mengambil tisu dan mengelapnya.


"Hei semuanya.." Icha berjalan menghampiri mereka yang sedang berkerumunan, "Apa yang kalian bicarakan, apa aku boleh tahu?"


"Ehh non Icha," salah satu dari mereka kaget jika pembicaraannya di dengar oleh Icha.


"Kenapa muka kalian tegang sekali."


"Aduhh aku jadi ingin tertawa, jangan tegang begitulah, santai saja." Icha tertawa tipis.


"Ehmm maafkan kami nona, kami tidak membicarakan apa-apa kok." salah satu dari mereka membela diri, takut jika hal buruk terjadi pada mereka.


"Tak usah takut begitulah, aku tak apa,"


"Aku tadi tidak sengaja telah mencuri dengar pembicaraan kalian."


"Eh salah bukan mencuri dengar sih, tapi tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian ketika aku sedang mencuci tanganku tadi." jelasnya santai.


"Kalau boleh tahu, kalian tahu dari mana iya jika Jenifer dan juga tuan Arka itu telah berpacaran?" tanya Icha ikut duduk santai dengan mereka.


"Ehmm itu maafkan kami nona?"


"Itu nona, masalah itu nona Jenifer sendiri yang bilang pada kami." ucap salah satunya lagi. Mereka saat ini ada tiga gadis yang sedang membicarakan Arka dan juga Jenifer.


"Ohh Jenifer bilang apa saja pada kalian?" tanya Icha melihat wajah mereka satu persatu.


"Tidak ada nona, hanya bilang itu saja pada kami."


"Kapan itu?"


"Sudan dari kemaren pagi nona." mereka semua menunduk dengan wajah ketakutan.


"Tak usah ketakutan seperti itu, aku tak apa-apa kok, hanya bertanya saja."


"Iya sudah lanjutkan saja kerjaan kalian, aku akan ke depan lagi." pamit Icha.


Icha meninggalkan mereka, dan berjalan keluar menuju dimana orang-orang berkumpul saat ini. Arka masih setia mendampingi Jenifer. Seolah seperti kekasih yang sedang bucin.


"Omong kosong saja ingin kembali padaku." Icha berlalu dari mereka.


"Icha kemarilah," panggil Devan yang melihat adiknya sedang berjalan melintasi mereka.


"Ehmm iya kakak."


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2