
"Benar benar dia membuatku tidak bisa jalan lagi." gumam Icha pelan. Ia beralasan pada Megan jika dirinya sedang pergi menenangkan diri.
Megan sudah mengerti kemana perginya Icha, sehingga urusan ini ia yang akan menangani jika ditanya oleh Hana dan juga Yuju.
"Padahal nanti malam masih ada jadwal manggung lagi, oh Tuhan bagaimana nasibku nanti." gumamnya lagi, kedua tangannya menutup wajahnya, menarik nafas pelan lalu membuangnya dengan kasar.
"Ahhhh auuuu apa yang mau kamu lakukan lagi, sayang aku sudah lelah, kau sudah benar benar membuatku tidak bisa jalan." teriak Icha terkejut, ketika dirinya duduk di pinggiran ranjang, dan merasa tubuhnya melayang, ternyata diangkat oleh suaminya.
Icha yang terkejut memukul dada Arka brutal, rupanya dirinya dimasukkan ke dalam bathup dan di isi oleh air panas. "Sayang apa apaan ini, aku sudah mandi, apa kau tak bisa melihatnya, lihatlah pakaianku jadi basah lagi." teriak Icha bar bar.
Namun Arka tak bergeming, masih melanjutkan niatnya untuk membuat istrinya berendam. Lalu tanpa meminta persetujuan dari Icha, Arka memasuki bathup dan duduk dengan posisi di belakang istrinya.
"Sudah diamlah, bukankah kamu nanti malam masih ada jadwal konser?"
"Iya kau benar benar membuatku lelah lebih dulu,"
"Makanya diamlah, turuti saja apa kataku." ucap Arka datar, lebih terdengar seperti sebuah perintah.
"Baiklah, oh iya tas tasnya tadi sudah aku chekout semua," jawab Icha.
"Hemmm, dan itu semua tidak gratis sayang." ucap Arka, menciumi tengkuk Icha.
"Heii kakak, bukankah kamu sendiri tadi yang menawarinya padaku? lalu kenapa sekarang aku harus membayarnya?" tanya Icha bar bar.
"Aku tidak punya uang jika harus membayar sekarang."
"Jika tahu begitu aku tidak akan tertarik dengan tawaranmu." ucap Icha begitu kesal. Rasanya ingin mengomel sepanjang hari.
"Memang, aku yang membayarnya."
"Lalu kenapa kakak bilang tadi tidak gratis?" tanya Icha, menoleh pada suaminya. Namun ia merasakan hal lain, tubuhnya kembali di gerayangi suaminya.
"Aaauuuuw." Icha mendesah frustasi.
"Membayarnya dengan cara." jawab Arka, terlihat menyeringai penuh maksud.
Icha mengerti dengan ekspresi suaminya jika sudah begini, membuatnya tersenyum imut bagaikan kelinci kecil yang penurut.
__ADS_1
"Hahh baiklah sayang, aku tahu." jawab Icha. Lalu tangannya menepis tangan suaminya.
"Sayang aku sudah lelah, nanti aku akan pingsan diatas panggung jika kamu terus terusan mengerjaiku." keluh Icha. Memelaskan wajahnya.
"Bukankah kamu tahu aku akan menghukummu, karena."
"Aku memanggil kakak." jawab Icha cepat, menyahut suara suaminya.
"Tapi jangan sekarang lah sayang, aku rasa kamu harus bekerja untuk membelikanku barang barang branded lagi."
"Hemmm kau memerintahku? apa kamu lupa jika aku bosnya."
"Oh Tuhan, salah bicara lagi ini mulut, sudah pasti dia akan semakin nempel jika sudah begini." batin Icha, wajahnya melengos kesal dalam hati.
"Apa kau mengumpatiku?" tanya Arka. Mengambil sabun, lalu menyabun tubuhnya sendiri.
"Hah tidak, siapa juga yang mengumpat, aku hanya melihat pemandangan diluar sana yang sangat indah, aku rasa kita perlu membuat kolam renang di balkon seperti yang ada di depan itu." kata Icha, jari telunjuknya mengarah ke balkon.
"Hemmm baiklah, apa oun untuk istriku." bisik Arka.
Kali ini tidak ada lagi adegan bercinta di dalam kamar mandi. Icha sudah memelaskan wajahnya, ditambah lagi perutnya yang sudah keroncongan. Sepertinya seharian ini dirinya akan di kurung oleh suaminya. Dan kembali lagi nanti jika waktunya konser telah tiba. Atau saat gladi sebelum konser.
Tringgg
Terdapat sebuah notifikasi di ponselnya, lalu dengan segera ia membukanya. "Salah satu teman nona menyukai anda tuan." balasan chat dari Frans pengawal Icha.
Ternyata Frans berhasil meretas ponsel milik Hana. Ponsel Yuju dan juga Hyun juga Frans retas. Namun tak ada yang menarik di sana. Dan ternyata Frans menemukan sesuatu yang menarik di ponsel Hana.
Terdapat banyak koleksi foto foto Arka yang diambil diam diam yang diambil oleh Hana dari berbagai sisi.
"Siapa?" balasan singkat Arka.
"Hana."
Seketika Arka terdiam, pikirannya menerawang jauh, mengingat siapa seseorang menyukainya yang di sebut oleh Frans baru saja.
Arka berusaha mengingat nama nama dari ke tiga member PinkV teman Icha itu. Seketika memorinya berputar kembali ke masa masa dimana pertemuan sedang berlangsung.
__ADS_1
"Apa dia yang suka berubah ubah warna rambutnya?" tanya Arka membalas pesan Frans.
"Iya."
Pantas saja istrinya begitu terpukul, ia seperti menahan cemburu, namun gengsi untuk menampakkan hal ini di depan suaminya.
Sepertinya Arka harus lebih keras mendorong Alex untuk mendekati Hana. Agar istrinya tidak menahan cemburu dan berpikiran yang tidak tidak tentang dirinya dan juga Hana.
"Atur strategi untuk pertemuan Alex dan juga perempuan itu." perintah Arka dalam balasan pesan Chat.
"Baik tuan, sesuai perintah anda."
"Ingat di luar jadwal manggungnya." Arka.
Arka menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Akan sangat sulit menjalani rumah tangganya bersama Icha ke depannya.
Bagaimana tidak, Icha baru saja menanjak karirnya, banyak fans di berbagai negara, tour dunia baru saja berjalan. Namun di sisi lain, ia tidak bisa berjauhan dengan Icha. Tidak mungkin jika ia menyuruh Icha untuk berhenti saat ini. Walaupun ia pengusaha kaya, banyak uang, memiliki segalanya untuk membayar penalti ganti rugi. Namun karir Icha bukan perseorangan. Melainkan melibatkan banyak orang, apa lagi grup member mereka sudah dikenal banyak orang.
Lain halnya jika berhenti sebelum debut singel mereka, mungkin bisa digantikan oleh irang lain. Tetapi untuk saat ini akan mustahil. Pihak agensi dan produser musik juga tidak akan menyetujui permintaannya.
Mungkin untuk beberapa tahun ke depan hidup mereka akan terus seperti ini, pernikahan yang tersembunyi dari media. Ada baik dan tidak baiknya juga. Baiknya dia bisa hidup tenang. Namun tidaknya, mereka mengira jika Arka dan Icha masih sama sama singgel.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian sepertinya." gumam Arka. Saat ini sudah pindah posisi duduk di sebelah istrinya yang masih terlelap di alam mimpinya.
"Apa kamu bicara apa?" tanya Icha mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya.
"Tidak, apa aku disini mengganggu istirahatmu?" tanya Arka pada Icha.
"Tidak, aku sangat lapar, apa makanannya sudah datang?" tanya Icha berusaha bangkit dari tidurnya.
Namun tubuhnya lebih dulu di raup oleh Arka. "Sayang aku lapar." rengeknya.
Arka mengangkatnya dan membawanya di meja makan. "Aku rasa makannya yang menunggumu, bukan kamu yang menunggu makanannya." kata Arka.
Lalu beralih dirinya mengambil makanan yang sudah dingin itu, ia masukkan ke dalam microwave supaya hangat kembali.
"Tunggu sebentar." ucap Arka.
__ADS_1
Icha terdiam di tempatnya, melihat suaminya, apa yang akan di lakukannya.
"Manis sekali suamikua." kata Icha, kedua tangannya bertumpu di atas meja untuk menopang dagunya.