Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Dua Hati


__ADS_3

Megan terdiam ditempatnya, ia masih belum mengerti dengan ucapan Icha baru saja.


"Hei kenapa kau bengong saja?" tanya Icha melambaikan tangannya di hadapan Megan.


Megan begitu menyadari dirinya yang sedang melamun, dengan reflek ia menggelengkan kepalanya. Berusaha menarik sudut bibirnya agar pikiran pikiran buruk segera enyah dari dalam ingatannya tadi.


Ke empat member PinkV itu begitu sibuk mempersiapkan jadwal tour keliling dunia mereka. Setelah dari London mereka akan berlanjut terbang ke Prancis karena mendapatkan undangan dari Ibu Negara Prancis. Konser mereka juga akan berkolaborasi dengan pemain Biola handal yang ada di negara tersebut. Yang dikombinasikan dengan tarian Dance serta nyanyian yang Easy Listening menurut para netizen.


Kehadiran PinkV begitu di nanti nantikan oleh para penggemar Prancis. Begitu konser selesai mereka akan melanjutkan perjalanan tour di negara itu.


Tetapi tidak untuk Icha, karena dirinya di dapuk sebagai brand ambassador perhiasan ternama, dan akan ada pengambilan gambar untuk produk keluaran mereka.


Begitu acara selesai Icha akan terbang dengan pesawat jemputan dari perusahaan yang menggandeng namanya untuk bekerjasama. Kali ini dirinya begitu sibuk membenahi barang-barangnya.


"Pengambilan gambarmu kali ini dimana?" tanya Megan yang tangannya masih sibuk memasukkan barang-barang Icha ke dalam koper.


"Di New York, tapi untuk tempat pastinya aku juga belum tau." jawab Icha yang tak kalah sibuk dari Megan.


"Apa kamu tidak apa-apa kali ini tanpa aku?" tanya Megan lagi, pasalnya kali ini Megan akan pulang kampung, mendengar kabar jika ibunya sakit, dan merindukan dirinya juga.


"Aku tak apa, dulu sebelum kamu bekerja denganku, aku kan kemana-mana juga sendirian."


"Lagi pula aku ini juga bukan anak kecil lagi yang perlu kamu kawatirkan."

__ADS_1


"Mungkin karena aku terbiasa berada di sampingmu, jadi wajar saja jika aku mengkhawatirkanmu."


Icha terdiam lalu menarik kedua sudut bibirnya mendengar penuturan Megan baru saja, ia merasa seperti anak kecil yang diperhatikan oleh kakaknya.


"Baiklah tunggu sebentar, aku akan turun dulu. Ada barangku yang tertinggal di bawah." kata Icha tanpa menunggu jawaban dari Megan dirinya berlari keluar menuju handle pintu.


Megan yang melihat polah tingkah Icha menggelengkan kepalanya. Dalam hati ia berkata semoga anak itu baik-baik saja di manapun ia berada, semoga dijauhkan dari hal-hal apapun yang membuatnya bahaya. Dia begitu menyayangi sahabatnya seperti saudara kandungnya sendiri. Padahal Megan sendiri juga anak tunggal.


Icha berlari dengan terburu-buru turun ke lantai bawah dengan menggunakan lift. Sesampainya di lobby tidak sengaja ia mendengarkan percakapan dua orang yang sepertinya ia mengenali suara itu. Icha terdiam sebentar di tempatnya. Bukan maksudnya ia menguping, tetapi karena ia mengenali suara itu membuat langkahnya terhenti Di tempatnya.


"Apa kau juga sudah memiliki kekasih saat ini?"


"Aku rasa karena aku sangat sibuk, makanya tak ada lelaki satupun yang mau mendekatiku." jawab Yuju, saat ini sedang bercakap-cakap di kursi bawah yang ada di lobby di dekat jendela, pemandangan di kaca itu langsung mengekspos ke arah taman luar.


Saat ini Icha masih berpikiran positif, mungkin pertemuan mereka tidak disengaja sehingga ia mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang ada dalam dirinya.


Pemandangan yang begitu menyakitkan bagi seorang istri melihat laki-lakinya sedang duduk berhadapan dengan perempuan lain, yang terlihat mesra. Tangan Arka memegang tangan Yuju dengan penuh kelembutan. Icha baru kali ini melihat sisi lain dalam diri Arka yang memperlakukan perempuan lain dengan lembut, selain dirinya, selama ini dia tidak mengetahui apa saja yang ada di dalam diri Arka.


Tanpa sengaja ia mengbil ponselnya yang tadi sempat ia masukkan ke dalam kantong bajunya, dan diam-diam Icha memotret keberadaan mereka.


Didalam ruangan kamar, entah kenapa saat ini perasaan Megan tidak enak. Ia jadi mencemaskan keberadaan Icha.


"Syukurlah kamu sudah kembali." kata Megan yang melepaskan segala aktivitasnya dan berjalan menghampiri Icha yang baru saja membuka handle pintu.

__ADS_1


"Kenapa memangnya?" tanya Icha datar, mukanya menjadi mendung tidak seperti tadi. Ia seperti menahan tangis namun malu.


"Aku rasa aku harus pergi saat ini juga, karena Jack baru saja menelpon." kata Icha.


Jack adalah pegawai sekaligus penghubung dari orang perusahaan perhiasan, untuk segala info yang diberitahukan kepada Icha untuk segala jadwal pemotretan produk baru.


"Apa itu tidak terlalu buru-buru?" tanya Megan.


Icha menggelengkan kepalanya, dengan berat hati Megan mengantar Icha sampai ke bandara, karena pesawat jemputan ternyata sudah stay.


perjalanan kali ini tidak seperti biasanya yang dilalui oleh Icha. Pikiran-pikirannya begitu dipenuhi dengan masalah rumah tangga yang ia jalani saat ini.


Icha pergi sendiri tanpa ditemani oleh Megan. Padahal tadi Megan berniat membatalkan untuk pulang kampung. Karena tidak tega melihat Icha pergi sendiri dengan beberapa pengawalnya, tapi dengan kekehnya Icha akan baik-baik saja, walaupun tanpa Megan dirinya bisa menjaga diri dengan baik.


Pemotretan di new York akan dilakukan seharian penuh, dan malamnya ia akan mengusul ketiga member PinkV pergi ke Prancis untuk undangan konser mereka.


Beberapa kali dalam perjalanan, Icha melihat notifikasi yang ada di dalam ponsel pintar nya. Namun sama sekali tak ia temukan, mungkinkah suaminya itu memiliki hubungan dengan sahabatnya. Dalam hatinya ia berkata.


Jika benar demikian, ia rela mundur menjadi istrinya Arka. Karena biar bagaimanapun persahabatan lebih penting baginya, ia menyayangi ketiga member PinkV itu melebihi apapun, seperti yang pernah ia katakan dulu sewaktu mereka sama-sama menjadi trainee.


Tangannya terulur, mengambil sesuatu yang ada di dalam tas tentengnya yang harganya bahkan setara dengan mobil Rubicon, iya menuliskan sesuatu menggunakan pena di atas kertas putih.


Jika aku bertahan dan kau sudah tak menganggapku lagi, maka aku rela mundur. Bagiku sahabat adalah segala-galanya untukku, mereka yang berjuang bersamaku atas besarnya karirku yang saat ini kujalani. Ini adalah impianku sejak kecil dan aku tidak mau menghancurkannya hanya karena hubungan yang dari awal memang tidak berniat.

__ADS_1


Aku sadar di saat kau tak membutuhkanku lagi, maka mungkin bukan akulah wanita pelabuhan terakhirmu dan di saat memang benar adanya hubungan itu, maka kita sudahi saja hubungan ini sampai di sini, dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain, aku memaafkanmu.


Setetes kristal bening mengalir dari mata indahnya, karena kesibukannya sampai ia tidak menyadari jika perjalanan sudah sampai.


__ADS_2