
"Kau itu selalu saja memesan menu tak kira-kira."
"Ujung-ujungnya hanya mencicipinya saja kan." kesal Megan kala mereka berjalan keluar dari tempat makan itu.
Sedangkan Icha hanya menyengir saja, mendengar Megan mengomel.
"Iyah namanya juga pengen kan."
"Iya pengen, tapi tak kau pesan semua lah."
"Memangnya usus aku ini karung apa."
"Iya udah iya, aku minta maaf, jangan marah-marah lagi dong." rayu Icha memeluk Megan.
Seketika Megan luluh dengan kata-kata Icha baru saja. Mereka kembali ke aula dengan Icha yang mengendarai motor trailnya. Melewati jalan pegunungan yang berkelok, dengan suasana khas pedesaan.
"Kenapa kau membawaku kemari."
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
"Apa...?"
"Nanti kau akan tahu." Icha hanya menjawab Megan singkat.
"Wahhh ada telaga yang sangat indah." Megan begitu takjub kala dirinya melihat sebuah telaga yang airnya jernih, telaga itu telah dibudidayakan warga setempat dan di jadikan tempat wisata, sehingga banyak pengunjung dari berbagai daerah yang datang kesana. Di dekat telaga juga terdapat banyak penjual mulai makanan khas kota itu hingga pakaian dan juga sandal kulit.
"Disana banyak penginapa juga iya ternyata." Megan menunjuk tempat penginapan.
"Ehmmm iya kau benar."
"Bagaimana? apa kau ingin menginap disana?" tanya Icha kala mereka sudah menghentikan motornya, dan berjalan melewati beberapa pengunjung.
"Tidak, kau kan akan menikah, aku akan di sangsi banyak orang nanti, karena telah membawa calon pengantin kabur."
"Hah iya juga, jika mengingat hal itu membuatku kesal saja."
"Baiklah, lupakan untuk sementara, ayo kita bersenang-senang dulu disini hingga sore nanti." ajak Megan pada Icha.
"Hemmm baiklah, ayo jalan-jalan kesana." Icha menunjuk jalan mengelilingi telaga, yang diberi nama telaga Sarangan oleh warga setempat, karena memang tempatnya dikota mereka.
"Aku ingin mencicipi kuliner khas sini, tapi aku sudah kenyang." Megan menunjukkan muka sedihnya.
"Tak usah lebai begitu, besuk-besuk aku bisa membawamu kemari lagi."
"Iya, tapi besuk-besuk kau sudah memiliki suami, maka aku akan merasa canggung."
"Tak apa, jika jalan berdua begini dia tak boleh ikut aku." ucap Icha dengan percaya diri.
"Dasar gila, mau kau kemanakan suami kamu?"
"Aku suruh tunggu di rumah saja, atau kalau tidak iya di villa."
"Kalau aku jadi kamu sih aku ajak saja, hitung-hitung biar ada yang bayarin kita." ide cemerlang Megan muncul.
"Ck, kau ini, katanya tadi tak usah di ajak." Icha berdecak kesal melirik Megan.
__ADS_1
🌷🌷🌷
.
.
Waktu menunjukkan sore hari, Megan dan Icha masih belum kembali, sedangkan kabut pegunungan sudah mulai turun, menyebabkan hawa dingin serta kesulitan melihat jalan.
"Dimana bocah nakal itu, apa dia belum kembali?" tanya Devan memicingkan matanya pada tukang kebun yang sedang merawat tanaman itu.
"Ehmmm itu tuan, belum."
Devan berbalik dan merogoh ponselnya, menghubungi seseorang.
"Cari dimana keberadaan Icha dan temannya itu, jangan kembali jika belum ketemu."
Devan berjalan mondar mandir bagaikan setrikaan, "Duduklah, jangan membuat kepalaku pusing." kesal Raka.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika adikku saja belum kembali." bentaknya diluar kendali.
"Ehmm iya aku tahu jika dirimu sedang bingung, tarik nafaslah dalam-dalam, dan tenangkan pikiranmu." usul Sean sahabatnya.
"Permisi tuan, saya mau mengantarkan ini,"
Devan menerima sebuah syal berwarna merah maroon, itu adalah milik Icha. "Dimana kau menemukan ini?"
"Tadi orang suruhan anda, menemukan ini di dekat Telaga tuan." ucap penjaga rumah itu.
"Hei kau mau kemana?"
Jika calon pengantinnya saja belum ketemu, otomatis semua akan mundur dari perkiraan yang telah ditentukan.
🌷🌷🌷
"Ini sudah sore, apa kita tak sebaiknya kembali saja?" Megan menoleh pada Icha kala dirinya duduk bersebelahan.
"Sebentar dulu, aku akan menenangkan pikiran dan hatiku dulu."Icha dengan santainya.
"Tapi apa nanti tak berbahaya, soalnya kabut di sana sudah mulai turun." Megan menunjukkan kabut dari kejauhan sudah mulai turun, padahal ini baru jam tiga.
"Tak apa, kau tak usah takut begitu, jalanan masih ramai, walaupun malam."
"Bukan masalah rame atau bukan, tapi apa kamu bisa melihatnya dengan jelas ketika berkendara nanti?" tanya Megan memastikan.
"Iya sebentar dulu satu jam lagi."
"Mereka juga masih pada main disini." Icha menunjuk ke arah kerumunan orang.
"Mereka berbeda dengan kita, mereka mungkin saja menyewa penginapan disini." bantah Megan.
"Tapi tetap saja, kalau mereka masih bermain disini kan."
"Kau itu di kasih tau kenapa suka keras kepala?" tanya Megan kesal.
"Padahal aku hanya khawatir saja, semua orang akan mengkhawatirkanmu, karena nanti malam kan hari pernikahanmu." Megan.
__ADS_1
"Oh iya, sebentar lagi aku akan menjadi istri orang."
"Masak iya, mau menikah tapi malah lupa." cibir Megan.
"Iya soalnya mendadak, aku belum menikah dan menjadi seorang istri."
"Hemmm tapi kenapa kau terima perjodohan itu?" tanya Megan menoleh pada Icha.
"Ahh sudahlah malas aku jika membahas soal pernikahan."
"Ayo kita naik kuda itu." Icha berdiri dari duduknya dan menarik tangan Megan. Bahkan Megan sendiri lupa jika dirinya tadi mengajak Icha kembali, malah kini ikut bermain-main lagi.
"Kau tahu tidak, kalau aku suka berkuda dan memanah." pamer Icha, menghampiri tukang kuda.
"Ehmmm iya aku percaya." Megan menjawab malas. Tetapi dirinya mengikuti Icha juga.
"Dasar tukang pamer." gumam Megan sangat pelan.
"Kau bicara apa tadi?" tanya Icha memelototi Megan.
"Tidak..., siapa yang bicara." elaknya.
Akhirnya mereka kembali bermain di Telaga itu hingga sore. Malam hari mereka baru akan kembali, "Hah lelah juga, padahal kan tidak memainkan kudanya." kala Icha sudah berjalan ke arah dimana motornya terparkir.
"Ehmm iya kau benar, badanku rasanya tulang-tulangnya mau rontok semua." Megan menekan tengkuknya yang terasa pegal.
"Nanti akan aku carikan tukang pijat capek jika badanmu pegal."
"Memangnya kita kapan sampai rumah?" tanya Megan menaiki motor bagian belakang Icha.
"Kalau tak bisa nanti ya besuk tak apalah iya."
"Terserah kau saja deh, aku ingin cepat sampai villa, dan beristirahat."
"Tidak bisa, kau harus mandi dulu, bisa-bisa pingsan aku mencium bau asam kamu." Icha.
"Iya kalau aku tak malas." jawab Megan lemah.
"Tidak boleh malas, kalau malas aku akan menyeretmu keluar." ketus Icha.
"Wahhh Cha jalannya kenapa gelap sekali, aku pikir akan ada lampu-lampu penerangan dijalan raya."
"Kau benar, semoga saja kita tidak tersesat."
"Oh Tuhan aku masih ingin hidup, kenapa kamu menakutkanku kalau berkendara begini." Megan menekan baju Icha, tangannya sudah berkeringat dingin.
"Kau tenanglah, jangan membuatku panik begini."
"Kamu sih, tadi diajak pulang masih sore saja tidak mau." gerutu Megan.
"Sudah diamlah."
Megan merapalkan segala doa yang ia bisa, hingga jalan mereka kembali melewati hutan kanan kiri, dan jurang.
"Jangan kencang-kencang, aku masih ingin hidup."
__ADS_1
dan
Bersambunb