Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Arka Icha


__ADS_3

Icha berangsur-angsur sudah membaik, setiap pagi dirinya jalan-jalan menggunakan sepeda pancal beroda dua menyusuri setiap kota.


Arka sudah menjelaskan pada Icha tentang pertemuannya beberapa kali dengan Yuju. Hanya terkait kontrak kerja sama yang di pilih langsung dari beberapa dewan direksi.


Karena memang Yuju yang cocok menjadi model Global Ambassador nya pada pakaian dalam perusahaan itu yang baru saja mereka luncurkan.


Tentunya dengan perdebatan sengit dan penuh drama. Bahkan Icha sampai beberapa kali memukuli wajah serta tubuh kekar Arka semau dia.


Arka juga berada dikota Tokyo serta terkadang di Kyoto hanya bolak balik mengaudit sejauh mana bisnisnya berkembang. Icha menangkap sosok perempuan yang duduk sendirian taman kota.


***


*


*


*


"Jangan banyak prihatin nona, jika anak anda nanti ketika lahir tak mau ikutan prihatin." ucap Icha yang saat itu sedang bermain sepeda.


Adelia menerima uluran tisu yang diberikan oleh Icha dan mengusapnya perlahan. "Apakah nona sedang mengalami masalah?" tanya Icha pada Adelia.


"Ah iya, aku rasa aku tak berhak tahu apapun itu, apalagi kita ini tidak saling mengenal satu sama lain."


Icha lalu berdiri dari hadapan Adelia, berniat akan meneruskan perjalanannya kembali. Namun dicegah oleh Adelia.


"Tunggu nona."


Icha berhenti, terdiam ditempatnya, menunggu reaksi dari Adelia. "Ini punya anda?" kata Adelia mengembalikan sisa tisu nya pada Icha.


"Ah aku kira apa, sepertinya anda lebih membutuhkan itu nona." jawab Icha.


"Ahhh auhhh." rintih Adelia sembari memegang perut buncitnya.


Yah karena insiden ini membuat Icha terhenti, dan menemani Adelia barang sejenak. Untuk memastikan keadaan Adelia baik-baik saja. Icha berniat membantu menghubungi suami Adelia, namun Adelia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada yang peduli lagi denganku. Bahkan kedua orang tuaku juga tidak pernah menghubungi ku, suami."


"Iya nona, dimanakah suami anda, kenapa membiarkan anda jalan-jalan seorang diri seperti ini? apa tidak khawatir terjadi sesuatu dengan bayinya?" tanya Icha bertubi-tubi.


"Sedang bulan madu dengan istri keduanya nona."


Icha terdiam seketika, mencerna setiap ucapan Adelia baru saja. Bahkan wanita ini mengeluhkan kedua orangtuanya saja juga tidak mempedulikan dirinya.


" Aku rasa aku harus berterima dengan anda nona." ucap Adelia. Ia tidak mau jika dirinya dikasihani oleh siapa pun.


"Jangan memanggilku nona lagi, panggil saja aku Icha," ucap Icha baru saja. Icha berjalan mengambil sesuatu yang ada di keranjang sepedanya.


"Minumlah ini, sepertinya ini jauh dari pertokoan." kata Icha menyodorkan minuman air mineral pada Adelia.


"Terimakasih nona, anda banyak menolongku dalam waktu yang bersamaan." kata Adelia.


"Tapi anda belum menjawab pertanyaanku nona? dan jangan panggil aku nona, panggil saja aku Icha."


"Icha." Adelia membeo.


"Aku memiliki kebun bunga, jika ada waktu lagi aku akan mengajak mu bermain di kebun bungaku." ucap Icha dengan bersemangat.


"Ah iya, andai saja aku belum menikah, pasti aku bisa bermain kemana saja yang aku inginkan." jawab Adelia, mukanya sedikit ditekuk. Seperti ada penyesalan terdalam.


"Aku rasa tak ada yang perlu di sesali Del, mungkin seperti inilah jalan takdirmu, hanya saja kedepannya yang harus di perbaiki." ungkap Icha memberikan semangat pada Adelia.


Padahal Icha sendiri juga memiliki masalah yang sama, yaitu suaminya yang sedang jalan dibelakangnya bersama teman dekatnya tanpa sepengetahuan darinya.


"Anak kamu ini laki-laki atau perempuan?" tanya Icha. Matanya beralih ke perut buncit Adelia.


"Laki-laki sepertinya."


"Wahhh itu keren, kelak dia akan menjadi bodyguard mu di masa mendatang." jawab Icha antusias.


Mereka saling bertukar nomor ponsel. Dan bercerita banyak hal. Hingga menjelang sore. Bahkan Adelia juga menceritakan jika dirinya pernah bertemu lelaki yang menjadi dewa penolong nya disaat dirinya tersesat dimasa kecil.

__ADS_1


"By..., sampai jumpa lagi di lain waktu." kata Icha kembali mengemudikan sepeda kayuhnya roda dua.


Malam hari, mereka sudah berkumpul untuk makan bersama bersama nenek dan kakek Icha, Frans serta Arka. Ya Nenek dan Kakek Icha sudah menganggap Frans seperti keluarga nya sendiri sejak kejadian dimana Frans begitu tulus membantu cucu kesayangan nya yaitu Icha.


Hal itu membuat Arka tersisihkan mata kedua orang tua yang usianya sudah memasuki senja itu. "Frans kelak jika kau memiliki istri, temanilah kemana pun istrimu pergi, jangan membiarkan istrimu berkeliaran sendirian jika kau tak mau istrimu menjadi incaran banyak lelaki." ucap nenek Icha telak.


Arka merasa tersindir hingga membuatnya tersedak minumannya sendiri. Lalu Icha yang berada di samping Arka menepuk pelan bahu Arka.


"Nenek kita lagi makan, ceritanya nanti saja." ucap Icha yang sepertinya situasinya sudah mulai memanas.


Makan malam dilanjutkan dengan keheningan tanpa pembicaraan apa pun lagi. Arka selesai lebih dulu dan berpamitan kepada nenek dan kakek Icha lalu naik ke lantai dua. Icha segera menyudahi makannya dan menyusul Arka ke dalam kamar.


"Jangan dimasukkan ke hati kata-kata nenek barusan. Mungkin dia hanya memberikan wejangan saja pada Frans, kau tahu itu." ucap Icha yang tiba-tiba saja muncul di belakang Arka.


"Sayang kau masuk, kemarilah aku ingin memelukmu sebentar saja." kata Arka belum sempat Icha membalas ucapan Arka, tetapi Arka sudah menarik pergelangan tangan Icha hingga membuatnya terduduk di atas pangkuannya. ketika Arka sedang duduk di atas ranjang king size milik Icha.


"Aku tidak ingin memikirkan apapun lagi selain menikmati waktu kebersamaan bersamamu hemmm."


Mata Arka menatap lekat mata coklat Icha. Icha sama sekali tidak menjawab ucapan Arka baru saja, sepertinya ada yang ia sembunyikan.


"Katakan apa yang kau pikirkan." ucap Arka dengan suara datarnya tetapi penuh kasih sayang.


"Tidak.., tidak ada, aku hanya ingin tahu selama beberapa kali pengambilan gambar Yuju. Apakah kamu sama sekali tidak ada reaksi dengan tubuhmu? secara dia membuka seluruh tubuhnya seperti itu. Aku jadi penasaran tentang hal ini."


"Ck, jadi ini yang membuat pikiranmu gusar? hingga menuduhku selingkuh dengan sahabatmu itu?" ucap Arka. Tangan dan mulutnya tidak berhenti menggerayangi tubuh halus Icha hingga membuat empunya kegelian.


"Tentu saja semua perempuan akan berpikir yang tidak tidak, ketika melihat pacarnya atau bahkan suaminya berjalan dengan perempuan lain. Apalagi dengan pemotretan yang terbuka seperti itu." ucap bijak dengan bibir yang mencebik.


Arka bukannya menjawab tetapi malah mencium bibir Icha yang dimajukan, menurutnya itu membuatnya sangat gemas dan ingin sekali melahap, Icha yang awalnya menunggu jawaban Arka malah terbuai dengan ciuman manis yang diciptakan oleh Arka.


Bersambung


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2