Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Robinson


__ADS_3

"Tapi bukan istri sahabatmu." bantah Arka berapi-api.


Respon Alex begitu mengejutkan, bukannya menciut tapi malah menarik kedua sudut bibirnya lalu menggelengkan kepalanya. Seolah tengah mengejek seorang Arka saat ini.


"Istri." Alex membeo lalu menjeda ucapannya.


"Apa kau menganggap dia itu istrimu? jika iya, lalu kenapa kau menelantarkannya."


"Apa kau lupa jika dia adalah seorang superstar yang memiliki banyak fans di seluruh dunia ini, bahkan jika dia kehilanganmu, akan ada seribu lelaki yang mengantri untuk menggantikan posisimu saat ini."


Mendengar ucapan Alex baru saja membuat Arka kicep tak bergeming. Ia kehilangan kata-kata untuk membantah bahwa ini adalah fakta yang diucapkan Alex baru saja.


Alex sepertinya sudah tahu jika Arka saat ini bermain serong. Dan terlebih lagi dengan sesama member dalam satu agensi.


"Lepaskan dia jika kau sudah tidak sanggup untuk membahagiakan nya." ucap Arka lagi. Lalu berlalu dari hadapan Arka. Meninggalkan Arka seorang diri.


***


Malam hari, pertemuan meet and great Icha di adakan di restoran ternama di kota itu. rupanya mereka sedang membicarakan kontrak kerja sama diantara keduanya. Kedepannya mereka akan menjadi rekan bisnis yang saling menguntungkan. Icha sebagai model global ambassador nya nyonya Shulwhasoo untuk sebuah produknya.


Begitu pembicaraan selesai dan tanda tangan kontrak telah tersemat pada kertas putih itu. Iringan tepuk tangan begitu meriah memenuhi seluruh ruangan yang mewah nan megah bak kerajaan.


Tak dapat dipungkiri, Icha begitu terlihat cantik malam ini dengan balutan dress yang ia kenakan ditubuhnya.


Banyak rekan-rekan tamu disana yang mengucapkan selamat padanya. "Selamat atas keberhasilanmu nona." bisik Megan pula ditelinga Icha. Membuat Icha tersenyum tipis.


Begitu acara makan malam selesai dan juga pembicaraan basa basi telah berakhir. Icha menyapa para tamu yang lainnya. Memang di sana dirinya sedang berada di keramaian tapi tidak bisa di pungkiri jika saat ini pikirannya sedang gundah gulana.


"Fokuslah dengan para tamu, kau tokoh utamanya disini." bisik Megan di samping Icha.


Kemudian Megan memberikan segelas minuman jus buah, Icha mengangguk sambil tangannya terulur menerima gelas dari Megan dan menyesapnya sedikit.


Begitu ia selesai minum dan menarik nafas. Ia arahkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan yang mewah nan megah itu. "Nampaknya seluruh tamu sedang bersenang-senang malam ini." ucap Icha.


Megan menganggukan kepalanya. "Kau benar. Dan kau juga harus tersenyum."

__ADS_1


"Ingat satu hal, badai pasti berlalu." ucap Megan terdengar lembut tapi tegas.


"Aaaauuhhhh, auwwww." rintih Icha mendesis.


"Apaan?" tanya Megan, mengikuti arah pandang Icha.


"Oh astaga, maafkan aku."


Ternyata gaun Icha keinjak sepatu heels Megan. Untung saja tidak ada yang melihat kejadian aneh ini. Bisa hilang sudah sikap anggun dan citra dirinya Icha jika ada yang melihatnya.


"Hai nona."


"Apakah makan malam ini menyenangkan?" tetiba salah satu tamu yang hadir di undangan itu menyapa Megan dan Icha.


Kedua perempuan itu kompak mengangkat kepalanya, melihat siapa yang datang menyapa. Icha dan Megan yang sama-sama tidak mengenali, mereka saling pandang. Seolah berbicara dalam hati untuk saling bertanya.


Lelaki gagah dengan postur tubuh atletisnya, memiliki potongan rambut cepak, berkulit putih dan rambutnya yang pirang membuat Icha dan Megan bisa menebak jika lelaki itu penduduk lokal.


Terlihat dari pakaian yang dikenakannya juga bukan orang sembarangan, Megan bisa menebak jika harga jam tangannya saja mencapai ribuan dollar.


"Ah iya saya Megan." tangan Megan menampik tangan Icha yang baru saja akan ia angkat untuk membalas uluran tangan lelaki tampan itu.


"Ciehhh giliran ketemu lelaki tampan saja matanya berubah hijau." dalam hati Icha mengumpat.


Alhasil Icha melipat kedua tangannya dan moodnya berubah seketika. "Ah mau kalian menemaniku duduk disana nona." tanya Robinson pada Icha dan Megan.


"Boleh." jawab Icha singkat.


Para tamu undangan disibukkan dengan kegiatan mengobrol dan makan-makan, tidak jarang pula di sana juga tersedia minuman Whisky dan semacamnya yang memabukkan.


Robinson menyodorkan Whisky yang baru saja ia tuang ke dalam gelas putih. "Maaf tuan saya tidak bisa minum-minuman seperti ini." kata Icha menolak dengan sopan.


"Ah iya dia seorang superstar jadi harus menjaga kesehatan nya, karena setelah ini tour konser masih berlangsung." kata Megan memberikan pembelaan nya.


"Ah iya maafkan aku yang tidak memahami anda nona." jawab Robinson. Lalu menarik kembali gelas yang tadi sempat ia sodorkan ke Icha.

__ADS_1


Untuk menghargai Icha dan Megan, Robinson akhirnya minum-minuman biasa yang di sediakan para pelayan. "Ah iya tadi saya belum berkenalan dengan anda nona." ucap Robinson begitu dirinya selesai menyesap minumannya.


"Ah iya, saya Icha,"


Mereka lalu terdiam dengan pikirannya masing-masing, Megan kawatir jika Arka tidak memperhatikan istrinya, maka akan datang banyak yang mendekati nya. Hal itu membuatnya panik dan memutar otaknya. Agar Arka bisa membuka mata siapa Icha sebenarnya.


Berbeda dengan Megan. Icha sedang mengira jika Megan mendapatkan incaran baru untuk ia jadikan pacarnya. Hingga membuatnya terlihat konyol.


Sedangkan Robinson, ia begitu mengagumi Icha, dalam benaknya Icha adalah perempuan yang sempurna, yang masuk dalam kategori tipe perempuan yang akan ia jadikan pasangan nanti.


"Setelah ini anda akan ada jadwal tour kemana nona?" tanya Robinson hati-hati.


"Sepertinya di Coachella." jawab Icha anggun.


"Dia memang terlihat anggun dan aestetik." batin Robinson berkata.


"Tidak salah jika anda memiliki jadwal yang padat nona, semua album anda begitu banyak diminati."


Icha dan Megan malah terdiam, "Ah maksud saya girl gruop kalian nona." Robinson meralat kata-katanya.


"Iyah saya bersyukur untuk itu."


"Saya adalah salah satu fandom kalian, " ucap Robinson lagi.


"Bukan hanya fandom, tetapi anda lah nona bias kami." batin Robinson berkata. Namun tidak ia ucapkan secara gamblang. Karena memang ini baru pertama kali Robinson dan Icha bertemu.


"Bolehkah saya mengundang anda makan malam tunggal nona?" tanya Robinson pada Icha.


"Ah tapi saya tidak bisa sendirian, tuan, karena kemanapun saya pergi selalu ada Megan yang menemani saya." ucap Icha.


"Saya rasa tidak masalah jika anda membawa nona Megan juga nona." jawab Robinson lagi.


Icha menoleh ke arah Megan, seolah meminta persetujuan. Megan. Terlihat Megan mengangguk dan menarik kedua sudut bibirnya.


Obrolan basa basi mereka berlangsung lama, pembicaraan dari bisnis hingga rekan kerja. Hingga tidak terasa obrolan mereka berlangsung selama berjam-jam.

__ADS_1


"Baiklah nona aku tunggu asistenku menentukan jadwalnya pertemuan kita nanti." ucap Robinson begitu mereka akan saling berpamitan.


__ADS_2