
"Paman..." panggilnya ketika langkahnya mendekat ke arah Rey.
"Aku pikir kamu tak menghadiri rapat ini." Rey bersedekap dada memandang ke arah keponakannya ini.
"Tentu saja aku hadir, proyek baru saja dimulai, bagaimana mungkin aku tak menghadiri."
"Hemmm duduklah, apa kamu akan terus berdiri di tempatnmu." perintahnya pada Arka.
Arka kemudian berjalan mendekat dan mendudukkan tubuhnya di tempat yang kosong.
"Bagaimana kabar saudara sepupuku yang baru lahir?" tanya Arka.
"Ck, kau menanyakan, padahal kamu sendiri belum menengoknya."
"Ehmmm iya maafkan aku, mungkin sepulang dari sini aku akan pulang ikut paman."
Rey menaikkan salah satu alisnya, memandang kearah keponakannya.
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?"
"Paman rasa kami sudah cukup umur untuk menikah."
"Apa kamu sudah ada calon, setelah batalnya pernikahan kamu yang lalu?"
"Aku rasa paman tak usah membahas hal itu disini,"
"Karena aku malas membahasnya."
"Ehmmm baiklah, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Rey lagi.
"Aku rasa aku akan membuka cabang baru di Moscow."
"Kau memang cucu kebanggaan mom, tak salah jika dad dan mom membanggakanmu." puji Rey menepuk bahu Arka.
"Paman terlalu berlebihan."
Sementara Alex yang duduk di pinggir di antara mereka hanya menyimak dua orang yang saling berbincang, berbagi banyak hal itu. Alex sibuk membalas email masuk di ponselnya.
"Siapa...?" ketika ada seseorang melintasi mereka, bukan melintasi, tapi langkah kakinya semakin mendekat.
"Silahkan tuan, teh hangatnya diminum,"
"Saya rasa di udara sejuk seperti ini sangat cocok minum yang hangat-hangat."
Icha berjalan mendekat kearah mereka dengan sebuah nampan ditangannya, dan terdapat tiga buah gelas berisi teh hangat untuk di sajikan pada tamu-tamu penting itu.
"Jika ada yang anda inginkan bisa langsung menghubungi kami tuan."
"Ehmmm baiklah." jawab Rey.
"Saya permisi.."
Pandangan Arka tak berkedip melihat wajah cantik alami yang dimiliki oleh Icha."Dia hanya seorang pelayan, jadi kau jangan memandangnya seperti baru saja melihat bidadari yang turun dari kayangan." Rey mengingatkan Arka.
"Dia memang pelayan yang bagaikan bidadari,"
"Aku akan mendekatinya jika dia mau padaku."
Seketika itu wajah Arka menjadi merah padam, menahan amarah, tidak suka dengan ucapan Alex baru saja. Tetapi Alex rasanya ingin tertawa guling-guling melihat ekspresi wajah Arka saat ini.
"Aku hanya bercanda, kau bisa mendekatinya sendiri, tak usah memandangku seperti lawan."
"Sudahlah, teruskan saja pembicaraan paman tadi sudah sampai mana,"
"Jangan hiraukan Alex." ketusnya.
__ADS_1
"Dia memang lagi sensi paman, jadi kadang sedikit seperti ular berbisa, mungkin karena efek tak jadi menikah." Alex berbicara santai. Sesekali melihat ekspresi air muka Arka yang ketangkap basah menahan amarah.
"Sudahlah, paman memanggil kalian hanya ingin berdiskusi."
"Berdiskusi tentang apa?"
"Bukankah paman ahlinya dalam hal ini?" Alex menyahut pembicaraan paman Rey.
"Ehmm iya, namun tetap harus ada strategi bukan." Rey.
"Aku rasa benar apa yang dikatakan Alex." Arka.
"Bukan begitu, ini menyangkut kerjasama kita, dan melibatkan banyak orang, jadi team yang solid harus dibangun."
"Masalah itu bisa kita bicarakan nanti dengan Devan." Arka.
"Baiklah,"
Mereka membicarakan banyak hal mengenai bisnis keluarga dan juga rencana masa depan, namun dalam hal jodoh Arka enggan untuk membahasnya.
"Baiklah paman, aku akan kembali ke kamar dulu, jika ada hal lain bisa kita bicarakan nanti."
"Ehmmm." Rey hanya menjawab dengan gumaman saja. Sementara Alex pamit lebih dulu ketika merasa ada hal pribadi antar keluarga yang akan mereka bahas.
Ketika Arka sedang berjalan melintas, tak sengaja dirinya melihat Icha berbincang akrab dengan Devan. Ia sangat tahu jika dalam foto itu ciri-ciri lelakinya seperti Devan.
"Jadi dia yang membuatmu sudah meninggalkanku." gumam Arka kala dirinya berhenti, tangan kanannya mengepal, hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya seketika berubah menakutkan seperti ingin memakan mangsanya. Sepertinya Arka telah terbakar api cemburu, tapi enggan mengakuinya.
"Kakak setelah pekerjaan ini selesai, aku ingin berkeliling lagi menaiki kapal pesiar." celoteh Icha manja sambil memeluk kakaknya dari belakang, yang saat ini Devan sedang duduk di sebuah sofa tunggal.
"Selesaikan dulu belajar bahasamu dengan baik."
"Jika selesai lebih cepat, maka kakak akan mengabulkan keinginanmu."
"Wahhh benarkah kakak, kau memang terbaik." reflek Icha menciumi seluruh wajah kakaknya. Hal itu tak luput dari pandangan Arka sedikitpun.
Arka meneruskan jalannya, dan berhenti tak jauh dari kamarnya, menunggu seseorang.
"Anda memanggil saya tuan."
Tangan itu tiba-tiba ditarik masuk kedalam ruangan, bukan ruangan tetapi kamar yang menjadi tempat peristirahatan Arka.
"Aduuhh, anda sangat tidak sopan sekali tuan," Icha mengaduh karena tangan halusnya ditarik kasar oleh Arka, dan memasuki sebuah kamar.
Lalu pintunya dikunci dan dimasukkan ke dalam saku celannya,"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Icha merintih menangis, dan berontak ingin merebut kunci ditangan Arka yang sudah berhasil Arka simpan itu.
"Katakan, katakan dengan jelas."
"Sekarang sudah ada kita berdua di sini."
"Apa yang harus aku katakan, aku rasa aku tak ada urusan lagi denganmu." Icha tak kalah tajam memandang wajah Arka yang mengintimidasi dirinya.
Arka dengan brutal mencium bibir manis Icha, menggigitnya hingga biru, karena Icha tak mau membuka mulutnya, tangannya sudah menyobek pakaian Icha bagian atas.
"Ahhhhh, tolong...tolong." teriak Icha tak mau kalah.
Kala Icha berhasil menggigit bibir Arka balik, bahkan sampai berdarah bagian bawah bibir Arka. "Apa karena lelaki itu kau meninggalkanku."
"Katakaaan...." teriak Arka, matanya memerah dikuasai amarah.
Icha menangis sesegukan, dan hampir pingsan, karena seumur hidupnya tak pernah sekalipun ia dibentak oleh lelaki. Bahkan sewaktu ia kecil hanya mendapatkan masalah dengan teman-teman sebayanya.
"Kenapa diam saja, bicaralah."
__ADS_1
Ketika Arka melirik wajah Icha yang menahan tangisnya, suaranya tidak brutal seperti tadi, namun butiran bening itu tak dapat ia bendung hingga suara sesegukan itu keluar juga.
Icha menggeleng pelan, seketika ia melihat hal aneh dalam ruangan ini dan detik berikutnya tak sadarkan diri.
"Jika kamu bicara baik-baik, maka aku akan bisa menerimanya."
"Kenapa kamu malah diam saja." memelankan suaranya, dengan posisi saat ini membelakangi Icha. Namun ketika dirinya menoleh ia begitu terkejut.
"Icha..., Ichaaa bangunlah, kau jangan bercanda."
Icha pingsan di sofa tempat tadi ia duduk, "Tangannya sangat dingin." bahkan aku tak pernah melihatnya seperti ini.
Arka wajahnya penuh penyesalan, memeluk tubuh lemah tak berdaya itu, dan menciumi seluruh wajahnya. "Katakan, katakan apa yang harus aku lakukan."
"Aku hampir menjadi gila karenamu, kau meninggalkanku makanya aku menjebakmu, dengan menyewa wanita lain untuk menaiki ranjangku."
"Supaya aku bisa membenci dengan apa yang kau lakukan padaku."
"Lalu sekarang aku harus bagaimana?"
"Ehmmm." Icha melenguh. Ternyata kesadarannya sudah kembali.
"Jadi kamu menjebakku?"
"Kau sudah sadar?" bukanya dijawab malah Arka reflek memeluk Icha, mungkin saja antara rasa rindu dan juga kawatir bercampur menjadi satu.
"Aku tak sengaja mendengarkan ucapan kakak."
"Apa yang kakak pikirkan?"
"Kenapa menjebakku?"
"Aku tak mengerti?" ucapan Icha datar.
"Karena aku melihatmu dengan lelaki lain, jalan dan berpelukan mesra." jawab Arka melepaskan pelukan Icha.
Icha terdiam, mengingat-ingat kapan dirinya berpelukan seperti yang diucapkan oleh Arka.
"Kapan kakak melihatnya, dan dari mana kakak bisa tahu?"
"Jawab saja dengan jujur, siapa lelaki itu?"
"Aku tahu, kapan hari kau sedang jalan dan berpelukan mesra dengan lelaki itu ketika dirimu pulang ke Moscow."
"Jadi kakak cemburu dengan kakakku." Icha.
"Maksud kamu apa, aku tak mengerti."
"Lelaki yang kakak maksud itu adalah kakak laki-lakiku."
"Aku memiliki dua kakak laki-laki."
"Siapa kakak laki-lakimu."
"Kak Dev sama kak Aksara."
"Benarkah." seketika Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa kamu tak bilang dari dulu?"
"Sudahlah jangan membicarakan hal ini lagi, aku sudah tak ada urusan lagi dengan kakak." Icha bangkit dari duduknya. Berjalan menuju pintu keluar.
"Kakak sekarang sudah menikah, jangan ganggu hidupku lagi."
"Kita sekarang memiliki langkah yang berbeda." kala Icha menghentikan langkahnya didepan daun pintu itu.
__ADS_1
Arka yang mendengarnya merasakan nyeri di dadanya. dan
Bersambung