Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Terkejut


__ADS_3

"Ini sudah malam, apa kau mau duduk disini terus sampai malam?" tanya Arka yang entah dari mana asalnya.


"Kakak, kenapa ada disini?"


"Tentu saja mencari keberadaan istriku, kemana lagi."


"Masuklah dulu kak, aku masih ingin disini." Icha kembali memunggungi suaminya, dirinya duduk di teras balkon belakang.


"Kenapa kakak malah duduk," Icha menggeser tubuhnya, menjauh dari suaminya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Arka mengamati pergerakan Icha.


"Tentu saja memberikan kakak tempat." Icha berkilah.


"Apa sampai begitu tak senangnya kamu padaku, sampai duduk sana kau harus menjauh dariku?"


Arka merasa tak senang ketika melihat pergerakan Icha yang menjauh darinya.


"Ti...tidak, bukan begitu kak."


"Lalu?" Arka menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan apa-apa." tersenyum manis, memperlihatkan gigi putihnya pada Arka.


"Aku bahkan belum sempat memakaikan cincinnya, kau sudah berlari keluar." keluh Arka.


Icha menoleh memberanikan diri menatap wajah suaminya, padahal saat ini hatinya sudah berdebar tak karuan, keringat dingin keluar dari telapak tangannya yang basah.


"Katakan?" mengambil tangan Icha dan menggenggamnya.


"Apa?"


"Apa kau tak siap menikah denganku?"


"Ehmmm bukan."


"Jadi benar kau memang tak siap menikah denganku?" tanya Arka memandang wajah inten Icha.


"Bu...bukan, bukan seperti itu kak, hanya saja ini terlalu cepat bagiku."


"Setelah bertahun-tahun kita berpisah, lalu kita dipertemukan lagi dalam sebuah ikatan pernikahan."


"Bukankah ini lucu."


"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Arka.


"Untuk?"


"Sekali lagi aku minta maaf, sudah membuatmu patah hati,"suara Arka merendah, menundukkan pandangannya.


"Aku tidak apa-apa kak, kalaupun misalnya kita saat itu tidak berjodoh juga tak apa, aku hanya sedih saja, kenapa kak Arka ketus kepadaku."

__ADS_1


"Aku kangen kak Arka yang dulu."


"Yang bagaimana?"


"Kemana-mana selalu ditemani kak Arka, berbelanja, bermain, bahkan mengunjungi suatu tempat pun kak Arka bela-belain libur kerja hanya mau mengantarku."


Ungkapan hati Icha inilah yang membuat semangat Arka berkobar kembali, dan meningkatkan kepercayaan dirinya naik.


Arka menoleh, menatap wajah istrinya,"Jadi... bagaimana?"


"Apanya?"


"Apa kau mau memakai cincin yang aku kasih?"


Icha tak menjawab, dirinya hanya mengangguk setuju. Arka mengeluarkan cincin dari saku celananya, kemana saja ia bawa.


"Aku curiga ini?"


"Kenapa?"


"Apa kak Arka kemana-mana bawa ini cincin?"


"Tentu saja."


"Selama bertahun-tahun?"


Icha terdiam memandang wajah tampan suaminya, "Karena waktu itu kamu yang telah membuatku salah paham kan."


"Mungkin aku yang terlalu sakit hati, ketika melihatmu bersama dengan lelaki lain, selaim diriku."


"Sampai membuat kakak buta hati buta mata begitu."


Cincin telah terpasang sempurna dijari lentik Icha, kini giliran Arka yang menyodorkan tangannya untuk meminta Icha segera di isi cincin yang satunya lagi.


"Ini..., sekarang giliranmu."


"Sangat pas ditangan aku dan juga kakak, aku jadi penasaran, kakak mengukur cincin untukku memakai cincin siapa?"


"Aku hanya mengira-ngira saja."


"Bisa pas begini." Icha kembali memandang kearah jari lentiknya, kala dirinya selesai memakaikan cincin dijari manis suaminya.


****


Saat ini mereka sudah berpindah tempat, yang semula di teras balkon belakang rumah beralih ke kamar. Tentu saja melalui perdebatan panjang antara Arka dan juga Icha.


Arka berhasil mengelabuhi Icha, "Kakak aku malam ini mau tidur, tidak mau ngapa-ngapain."


Icha sudah berganti pakaian piyama, duduk bersandar di dasboard tempat tidur, lalu menarik selimut sebatas dada, tidak lupa pula memasang guling pembatas disampingnya.


"Ehmm terserah kau saja."

__ADS_1


"Ck, membuatku kesal saja, cuma begitu doang responnya." dalam hati Icha sangat kesal pada suaminya, kenapa responnya biasa saja, tidak merayu dirinya. Padahal ini kan malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri.


Icha merebahkan tubuhnya membelakangi Arka, dengan perasaan tak karuan, keringat dingin muncul di telapak kakinya, bahkan kini detak jantungnya tidak seperti manusia normal.


Arka yang masih sibuk dengan ponselnya hanya melirik istrinya sekilas tanpa ada niatan merayu atau apa pun semacamnya.


"Kenapa dia responnya begitu, bukankah dia sendiri tidak mau melakukan apa pun malam ini." batin Arka bingung, melirik istrinya lagi dan setelahnya kembali fokus pada ponselnya untuk membuka email masuk dan membalasnya, tak ada yang lain hanya seputar pekerjaan dan semacamnya.


"Ehmmm iya hallo."


"....."


"Iya besuk aku akan meluncur kesana, malam ini aku tidak bisa kembali, aku akan menghubungi Alex untuk membantumu Jen."


"...."


Kala Arka sedang berbincang pada sambungan telepon,"Siapa yang malam-malam begini menelpon, ck... mengganggu saja." dalam hati Icha sangat kesal.


Icha jadi menajamkan pendengarannya kala sebuah nama yang tak asing di telinganya, "Jadi si sekertaris yang sok kecantikan itu, hah menyebalkan, membuatku kesal saja." begitu terus hingga lama-kelamaan dirinya tertidur.


Setelah Arka melakukan panggilan telepon, dirinya segera menyelesaikan membalas email masuk di ponselnya satu persatu, lalu meletakkan kembali diatas nakas di samping tempat tidurnya, tidak lupa juga mematikan lampu, dan menyalakan lampu tidur yang hanya remang-remang saja.


Sebelum dirinya menyusul Icha ke pulau mimpi, dia telah mengamati wajah istrinya yang sudah terlelap dengan damai, ada perasaan bahagia yang membuncah di dalam dirinya, serasa ia telah mencapai pada puncak kebahagiannya, perempuan yang selama ini ada di dalam pikirannya, hatinya, bahkan selalu hadir di alam mimpinya, kini telah menjadi miliknya.


"Maafkan aku istriku." Arka membuang guling pembatas ditengah-tengah mereka, lalu mencium puncak kepalanya, dan memeluknya dari belakang.


Waktu tengah malam, Icha yang terlelap di alam mimpinya ia serasa sedang memeluk sebuah guling dengan erat, padahal suaminya yang menjadi sandaran dalam tidurnya.


Icha menelungkupkan wajahnya di dada Arka, tangannya melilit di pinggangnya, sepertinya kini tidurnya mulai terasa nyaman, dengan keadaan yang sekarang ini, membuat Icha tidurnya lebih nyenyak dari pada biasanya.


Hingga waktu pagi hari tiba, sepertinya kini sinar mentari sudah mulai meninggi, Arka yang sudah bangun sejak satu jam yang lalu tidak tega jika harus membangunkan istrinya, alhasil dirinya harus menunggu sampai istrinya bangun.


Namun ketika ada pergerakan dari tubuh Icha, Arka berpura-pura memejamkan matanya kembali, Icha yang sudah mengerjapkan matanya perlahan untuk menyesuaikan sinar cahaya yang masuk melalui celah kaca di kamarnya begitu terkejut kala menyadari jika dirinya sedang memeluk erat suaminya.


"Oh Tuhan, apa yang aku lakukan semalam, sepertinya aku tidur terlaku nyenyak sampai aku seperti ini,"


"Oh tidak-tidak, aku akan sangat malau jika kak Arka mengetahui aku sedang memeluknya, oh muka mau ditaruh dimana muka aku ini." Icha menggelengkan kepalanya pelan dan bangkit dari tidurnya, lalu mengamati wajah Arka lama.


"Apa sebegitu tampannya suami kamu ini, sampai kau melihatnya begitu."


"Hah.., kakak jadi..."


"Sejak kapan kakak sudah bangun?"


Icha yang kini posisinya duduk bersandar, mengamati wajah Arka, "Lumayan..."


"Cukup untuk mengetahui semua yang diucapkan oleh istriku tadi."


"Oh tidaaakkkkkkk." teriak Icha suaranya nyaring hingga terdengar sampai ruang keluarga, rumah tuan Kusuma ini memang tidak kedap suara, walaupun tertutup namun suara seseorang berteriak masih bisa nembus sampai ke ruang keluarga, bahkan ruang makan.


dan

__ADS_1


__ADS_2