Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Bermain


__ADS_3

Megan mengunyah makanannya sambil sesekali melirik ke arah Icha dan dosen Arka, sungguh seperti pasangan kekasih jika seperti ini, saling memperhatikan satu sama lain.


Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama, hal itu tentu saja membuat teman-temannya menduga hal yang tidak-tidak.


Bahkan Alex ikut sandiwara konyol yang dibuat oleh bosnya ini. Sungguh di luar rencana jadinya jika seperti ini, entahlah apa tujuan Arka membuat sandiwara ini.


Alex mencari celah untuk menanyakan tentang hal ini pada Arka, dirinya berjalan dan berbisik di telinga Arka.


"Sandiwara apa yang sedang kamu buat?"


"Sudahlah ikuti saja."


"Baiklah, apa sandiwara ini juga akan mendapatkan kompensasi nantinya?"


"Jangan khawatir, kau akan mendapatkan bagianmu."


"Baiklah, jika begitu lanjutkan saja sandiwara yang kamu buat ini." Bisiknya lagi, lalu menjauh dari Arka, karena terlihat Icha sedang berjalan ke arah Arka.


"Kak aku ingin bertanya sesuatu."


"Apa?" Tanya Arka menaikkan alisnya sebelah.


"Kapan kakak akan bertunangan dengan pacar kakak itu, lalu menikah?"


Arka yang saat itu sedang minum, sampai tersedak minumannya sendiri.


"Apa yang kamu tanyakan?" Arka sama sekali tak tahu apa maksud dari pertanyaan Icha ini, dirinya saat ini bahkan belum memiliki pacar.


"Iya aku saat itu melihat kak Arka sedang berciuman di ruangan Arka."


"Kapan?"


"Iya saat aku akan berpamitan, tetapi tidak jadi."


Seketika itu memori Arka kembali ke masa itu, dirinya baru mengingat terakhir kali dimana bertemu Icha dan rencananya bahkan akan memperkenalkan saudara sepupunya itu, dan Icha sudah keburu pergi.


"Oh kamu salah lihat."


"Bagaimana bisa aku salah lihat, aku melihatnya dengan jelas." Icha tak mau kalah.


"Kenapa kakak tertawa, memangnya apa ada yang lucu." Kesal Icha menampilkan muka cemberut. Lalu meninggalkan Arka, dirinya berjalan ke arah teman-temannya.


"Apakah kalian sudah selesai makannya."


"Ehmmm iya, kenapa?" Tanya Yuju.


"Jika sudah ayo kita balik saja."


"Nanti dulu, masak iya habis makan langsung saja cabut, rasanya akan sangat tidak sopan." Hana.


"Hemmm baiklah terserah kalian saja mau ngapain." Icha pasrah pada ketiga sahabatnya.


"Kamu berhutang penjelasan pada kami." Hyun memelototi Icha.


"Apa?"


"Nanti saja, sudahlah sekarang kita lanjutkan lagi mengobrol dengan tuan Arka dan tuan Alex?" Yuju.

__ADS_1


Lalu mengajak teman-temannya kembali ke meja awal, dan melanjutkan mengobrol lagi.


"Baiklah jika kalian ingin beristirahat kembali, kalian boleh balik sekarang."


"Semoga kalian menyukai tempat tinggal sementara kalian, yang kami pilihkan apa adanya." Ucap Arka merendah.


"Tidak tuan Arka, suatu kehormatan untuk kami, tempat tinggalnya sangat nyaman untuk kami." Yuju.


"Iya tuan Arka dan tuan Alex, kami sangat menyukainya." Hana.


"Baiklah jika begitu, apa boleh kami kembali lagi ke hotel sekarang, jika tidak ada lagi yang kami bahas." Tanya Yuju kembali.


Sedangkan Icha hanya diam saja, sepertinya sudah malas berbicara dan berbasa basi dengan mereka, sehingga hanya menyimak saja obrolan mereka.


Megan apa lagi, dia menyimak sedari tadi, karena urusannya hanya membantu Icha, jadi lebih banyak diam dan menyimak.


Setelah mereka berbasa basi sebentar, lalu berpamitan pada Arka dan Alex, mereka akan di antar oleh sopir yang dikirim dari perusahaan untuk mengawal mereka, selama mereka tinggal di sini.


Di dalam mobil, mereka begitu heboh dan antusias membicarakan dosen Arka dan Alex, tetapi tidak bagi Icha, karena dulu memang sering bertemu. Icha tidak begitu tertarik membahasnya, sehingga dirinya hanya diam dan pura-pura memejamkan matanya.


"Wahh tidak menyangka jika tuan Arka sangat tampan."


"Sepertinya dia akan menjadi idolaku." Kata Hana asal.


"Hemm iya kamu benar, ehh sebentar-sebentar, aku jadi bingung, sebenarnya di antara mereka itu yang bosnya siapa sih?" Tanya Hyun memang tak tahu menahu soal ini.


"Menurutku tuan Arka lebih cocok menjadi bosnya." Sahut Hyun spontan.


"Kamu benar, memang tuan Arka kan bosnya." Jawab Yuju santai, di antara mereka, hanya Yuju yang mengetahui, karena dirinya mengetahui hal ini dari Ceo agensi mereka.


Icha yang tadi menutup matanya, saat mendengar nama Arka di sebut, jadi membuka matanya tiba-tiba.


"Terserah kamu saja deh, mana yang menurutmu benar." Yuju.


"Oh iya Icha, kamu berhutang penjelasan pada kami." Hyun.


"Ehmmm iya, ayo ceritakan, kenapa kamu bisa akrab sekali dengan mereka, apa hubungan kamu dengan mereka?" Tanya Hyun pada Icha bertubi-tubi, bahkan tak memberikan Icha kesempatan untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Nanti aja aku akan menceritakan pada kalian, sekarang aku lagi malas membuka suara." Tangannya bersedekap, dirinya kembali memejamkan matanya, sekelebat muncul wajah dosen Arka, sungguh sangat menyebalkan batin Icha.


"Sepertinya dia sedang tidak dalam mood yang baik." Megan membuka suaranya.


"Ck..seperti habis putus cinta saja." Ucap Hyun random.


"Ehh ngomong-ngomong, apa pernah Icha memiliki pacar selama dirinya tinggal di London?" Tanya Hyun sangat ingin tahu.


"Kalau yang selama aku tahu sih enggak, tetapi juga tak tahu deh jika dirinya memiliki pacar diam-diam." Megan.


"Hei kenapa kalian membicarakan aku, sementara aku masih di depan kalian." Icha menyahut, masih dengan memejamkan kedua matanya.


"Kenapa memangnya, jika kita bertanya padamu juga kamu belum tentu mau menjawabnya kan." Hyun mencibir.


"Baiklah terserah kalian saja, aku akan pura-pura tak mendengar apa pun."Icha.


"Kalau menurut aku sih iya, mungkin Icha dan tuan Arka memiliki hubungan yang sangat dekat, jika tidak mana mungkin sikapnya seperti itu." Yuju menimpali pembicaraan mereka.


"Iya juga sih, mana pake peluk-peluk segala lagi." Hana.

__ADS_1


"Benar juga, eh ngomong-ngomong gimana sih rasanya di peluk sama lelaki tampan seperti tuan Arka begitu." Tanya Hyun asal.


"Ya kamu coba saja cari pacar yang tampan, lalu kamu peluk." Hana.


"Mana ada seperti itu, masak mencari pacar hanya mau di peluk saja." Hana.


"Iya sih, itu namanya sembarangan saja."


Setelah mereka sampai di hotel yang mereka tinggali beberapa hari ke depan nanti. Mereka berjalan memasuki ruangan yang saling terhubung satu sama yang lain itu. Kali ini Megan satu tempat tidur bersama Icha.


Icha baru saja akan merebahkan tubuhnya, lalu mendengarkan notifikasi di ponselnya, dirinya membuka dan melihat siapa yang mengirimkan pesan malam-malam begini batinnya.


"Jangan tidur terlalu malam, jangan bermain ponsel.". Kalimat singkat yang ada di dalam pesan itu. Icha sekilas menarik sudut bibirnya tersenyum.


"Memangnya ini siapa iya?" Seketika ide jahilnya muncul. Padahal dirinya sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan itu.


"Sudahlah tak usah berpura-pura lagi." Balasnya.


Detik berikutnya, terdengar suara panggilan di ponsel Icha, dirinya mengangkat dan hanya iya iya saja yang dia bicarakan. Entah pesan apa yang di sampaikan dosen Arka itu. Hingga membuat Icha menurut seperti kelinci kecil.


Hyun yang satu kamar dengan meraka tentu saja menajamkan telinganya, mungkin habis ini Icha akan di cecar seribu pertanyaan dari Hyun dan Megan.


Saat Icha menutup sambungan telepon itu, pintu yang terhubung ke ruangan itu terbuka, di sana muncul Yuju dan Hana.


"Hei apa kalian sudah mengantuk?" Yuju.


"Iya sedikit sih." Megan.


"Kalau begitu ayo kita main bagaimana?"


"Main apa?" Tanya Hyun.


"Bagaimana kalau main tebak kata, dengan menggunakan botol ini kita putar."Hana.


Akhirnya mereka tidak jadi tidur lebih awal, tetapi malah bermain Truth or Dare.


"Jika tak mau menjawab maka hukuman apa yang pas," tanya Hyun.


"Aku tahu, suruh saja minum kopi pahit." Megan, seketika itu teman-temannya tertawa kencang.


"Kami benar sekali, aku setuju." Yuju.


"Baiklah tetapi semuanya harus ikut, tanpa terkecuali." Hana.


"Termasuk kamu juga Icha, ayo tak boleh bermalas-malasan." Hana.


"Baiklah terserah kamu saja, ayo."


"Sebentar aku akan menyiapkan kopi pahitnya dulu." Megan meracik kopi pahit sebagai hukuman untuk mereka yang menyerah untuk menjawab pertanyaan.


Setelah meracik kopi pahitnya, Megan kembali memposisikan diri, saat ini mereka bermain di balkon kamarnya yang lumayan luas itu.


"Baiklah apa sudah siap semuannya?" Tanya Hyun yang sudah memegang kendali botol kosong itu.


"Ehmm iya ayo mulai sekarang, sepertinya sudah siap semua." Yuju.


Botol kosong itu di putar, di tunggu sampai berhenti, arah penunjuknya sampai pada siapa.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2