
"Apa kau sedang patah hati nona."
Icha cuek saja tidak merespon pertanyaan lelaki tampan yang duduk diseberang mejanya.
Lalu dirinya mendongak menatap sekilas, "Orang ini aku seperti pernah melihatnya, tetapi dimana aku lupa." dalam hati Icha.
"Jika kau patah hati, kau bisa melakukan hal-hal yang anda sukai nona."
"Ceihh sok tahu sekali kau ini."
"Ehmm tentu saja, karena aku juga lebih dulu mengalaminya seperti yang kau alami saat ini."
"Menyebalkan, sudahlah pergi sana jangan menggangguku."
Icha berdiri lalu keluar dari kedai es krim setelah membayarnya, tetapi sudah lebih dulu dibayar oleh lelaki tampan tadi.
Dirinya kembali lagi ke tempat tinggalnya, di sana semua teman-temannya pada sibuk sendiri-sendiri sehingga tidak ada yang tahu jika dirinya berjalan memasuki rumah.
"Kau dari mana saja sepagi ini?" Tanya Megan.
"Habis joging tuh, mana ketemu cunguk gila lagi." Icha berbicara asal.
"Cunguk gila, siapa itu?"
"Apa orang gila maksud kamu?"
"Sudahlah malas aku membahasnya saja."
Icha menyeruput orange jus buatan Megan yang belum sempat diminum, tetapi sudah kalah start dari Icha karena ditinggal mencuci buah dan sayur.
"Hei itu milikku."
"Kau ini pelit sekali, buat lagi lah, mumpung tanganmu masih kotor." Ucap Icha santai tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Tetapi aku sangat haus, dan ingin meminum jus."
"Sekarang gantikan aku buatkan jus lah, capek aku."
Megan duduk dengan muka di tekuk tidak bersahabat. Icha yang sudah menghabiskan jus milik Megan mengamati wajah Megan.
Lalu berdiri mengambil buah jeruk yang tertata rapi di keranjang buah. "Baiklah aku buatkan, ck.. kau ini begitu saja marah."
Icha memeras buah jeruk itu dengan cekatan, memasukkan bubuk berwarna putih tanpa melihat tulisan di toplesnya.
"Ini sudah jadi, sekarang senyumlah." Icha menyodorkan orange jus itu didepan Megan.
"Nah gitu dong baru teman yang pengertian namanya." Megan kembali cerah lagi senyum di wajahnya.
Mengambil gelas di depannya dan menyruputnya, "Pyuuuhhh kau ini ingin membuatkan aku jus apa ingin meracuniku."
Megan menyemburkan jus yang ia sesap tadi, dan lari ke arah wastafel untuk mencuci mulutnya yang terasa asin.
"Kenapa memangnya, bukannya terimakasih kek habis dibuatkan jus."
Masih bisa-bisanya berucap santai seperti ini Icha, teman tak ada akhlak sepertinya.
"Ck kau ini, cobalah kamu cicipi jus buatan kamu tadi."
Megan kembali lagi mengambil gelas berisi jus buatan Icha tadi. "Pyuuhh huwaaaaa." Berlari kearah wastafel seperti Megan tadi.
__ADS_1
"Efek patah hati kali ya kau ini,"
"Kenapa semua orang berkata seperti itu." Icha.
"Ya iya lah, mana kamu tak bisa fokus begini lagi, besuk deh aku antar kamu ke psikoterapi saja " Megan.
"Tidak, aku hanya ingin pulang."
"Idih terserah kau saja, bagaimana supaya dirimu cepat pulih seperti dulu lagi "
"Kenapa memangnya dengan Icha?" Hana yang tiba-tiba saja berjalan kearah mereka.
"Tak tahu tuh." Megan mengangkat bahunya cuek.
"Aku hanya ingin melakukan aktivitas yang memicu adrenalin saja."
"Sudahlah aku akan mandi dulu." Icha berlalu meninggalkan mereka.
"Sensi amat, kenapa memangnya?" Tanya Hana lagi.
"Iya mana aku tahu, butuh hiburan kali." Megan.
Ketiga teman-temannya tak ada yang tahu jika Icha sedang putus hubungan dengan Arka yang mereka idolakan itu.
"Ajukan saja cuti satu minggu." Yuju yang duduk di sebelah Megan.
"Ehmm iya betul, lagi mumpung kosong jadwal konsernya." Hana malah mengompori omongan Yuju.
"Baiklah temani aku menemui Ceo Wendi nanti." Yuju.
Dalam hal ini Hana yang pertama girang, pasalnya ia akan pergi jalan-jalan.
***
.
.
Arka sangat kesal mendengar Icha berbincang dengan lelaki yang mencoba ingin mendekati Icha.
"Tak ada yang boleh mendekatinya." Arka mengacak rambutnya frustasi. Yara yang berada di kamar sebelah mendengarkan suara barang-barang jatuh seketika berlari keluar dan mengetuk pintu kamar Arka.
Iya saat ini Arka sudah pindah di apartemen yang bersebelahan dengan hotel tempatnya menginap kemaren. Dirinya bahkan rela merogoh kocek yang tak sedikit nilainya hanya demi bisa tinggal dekat dengan Icha.
"Kakak....!!! kak...kenapa?" Yara mengetuk pintu kamar Arka dengan serampangan.
"Aku tak apa-apa. Kau pergilah, hanya barang jatuh." Kilahnya berasalan.
"Benda jatuh, tapi...!!! tadi seperti benda yang sengaja dijatuhkan." Gumam Yara pelan, bahkan ia mendengar dengan jelas.
"Selidiki siapa lelaki itu." Perintah Arka yang saat ini sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
"Aku mau dalam tiga hari sudah mendapatkan laporannya."
"Baik tuan." Suara seseorang dibalik ponselnya.
setelah melakukan panggilan tadi dirinya berjalan keluar ruangan, menghubungi bagian Ob untuk membersihkan kamarnya.
Arka ingin mencari udara segar, sehingga dirinya pergi ke taman. Jika malam hari lampu-lampu taman ini terlihat indah. Kerlap kerlip dan memanjakan mata.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?"
Suara seseorang membuatnya menengok kebelakang.
"Kau disini juga." Bukannya menjawab pertanyaan Aksara tetapi malah dirinya yang bertanya balik.
"Ehmm iya, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ehmm iya aku sedang mencari udara segar."
"Benarkah malam hari begini mencari udara segar?" Aksara tertawa mengejek padanya.
"Tentu saja memangnya ada yang salah." Arka.
"Jika aku mengamatimu, sepertinya kau sedang memiliki masalah."
"Apa tebakanku ini benar?" Aksara.
"Ehhm iya setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing."
"Iya aku tahu, apa kau sedang patah hati." Aksara.
"Terkadang seseorang itu harus mengalami patah hati terlebih dulu, agar bisa memahami cinta itu seperti apa."
"Apa kau pernah merasakan yang namanya patah hati?" Tanya Arka menoleh pada Aksara. Lalu dirinya duduk di kursi taman. Diikuti oleh Aksara.
"Dari awal aku tak ingin pacaran, hal itu akan menyita waktu dan pikiranku saja."
"Kau benar, seseorang bisa bicara seperti itu karena belum pernah merasakan jatuh cinta." Arka.
"Jika sudah merasakan jatuh cinta, maka akan lain ceritanya."
"Ehhm iya seperti dirimu ini, yang sedang patah hati." Aksara tertawa mencibir.
"Terserah kau saja, aku sumpahin kau akan bucin pada seorang wanita bar-bar."
"Hah tak akan terjadi."
Mereka malah saling mengejek satu sama lain. Terdengar seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan.
"Sudahlah, apa keperluanmu kemari?" Tanya Arka.
"Aku akan mengunjungi adikku,"
"Kenapa?"
"Memangnya dimana adikmu?"
"Jika jam segini sudah tidak diperbolehkan keluar, sehingga harus menunggu besuk."
"Adikku tinggal di seberang sana."
Tetapi Arka tak begitu memperhatikan penjelasan Aksara sehingga dirinya tidak paham apa yang dimaksud Aksara adiknya tinggal deli seberang sana.
"Lalu dirimu akan menginap dimana malam ini?"
"Kau tak usah mengkhawatirkan aku, aku bisa tinggal dimana saja." Aksara menjawab santai.
"Ya iya...!!! aku percaya seorang Aksara bisa saja tinggal dimana saja "
__ADS_1
lalu
Bersambung