Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Perdebatan


__ADS_3

Duduk diam saja dan mendengarkan orang lain berbicara adalah hal yang paling membosankan bagi Vania. Apalagi orang-orang itu tidak memiliki level yang sama dengannya.


Vania beberapa kali menguap entah itu pura-pura atau menguap beneran. Pandangan matanya sejak tadi melihat ke arah Icha yang menurutnya kekanak-kanakan. Beberapa kali dirinya melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Hal apalagi yang mau dibanggakan dari perempuan seperti ini." batin Vania.


Bahkan Megan pun menyadari akan sikap Vania. Mungkin jika tidak ada kata sopan santun, maka Megan akan berbicara pada Vania secara langsung dan menegur wanita yang sok kaya ini.


"Tuan sepertinya ini sudah larut malam," kata Vania berbicara lemah lembut pada Arka yang berada di sampingnya, seolah suaranya itu terdengar seperti mendayu-dayu dan dibuat-buat.


Arka sama sekali tidak merespon ucapan Megan baru saja. Hal itu malah membuat Megan semakin kesal. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal dan giginya terlihat gemelutuk, tetapi sayangnya tidak ada yang menyadari.


"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Devan. lalu sorot mata depan menatap ke arah pertanda ia sedang meminta tolong.


"Jia kau sudah mengantuk, Arka tolong antarkan dia ke kamarnya." perintah Devan pada Arka.


"Aku rasa Dia bukan anak kecil lagi yang kemana-mana harus diantar dan ditemani." jawab telak.


"Kau tinggal tanya saja pada bagian resepsionis, di mana kamarmu berada dan lantai berapa? aku rasa jika kau kesasar di jalan maka kau masih memiliki ponsel untuk menelpon seseorang." ucap Arka lagi.


Arka merasakan jika ini aneh. Sepertinya ada hal terselubung yang tidak ia ketahui, namun entahlah. Sebisa mungkin ia harus menghindari hal-hal yang memicu hubungannya dengan Icha kurang baik.


Apa lagi di sela-sela kesibukannya, ditambah lagi kesibukan Icha yang konser di berbagai negara. Hal hal seperti itu sangat rawan menimbulkan perbedaan pendapat di antara mereka, sehingga memicu pertengkaran.


Untuk saat ini Arka belum memiliki bukti apapun untuk membuka wajah asli dari asisten barunya ini, sepertinya Vania memiliki taktiknya sendiri. Itulah yang Arka rasakan.

__ADS_1


Icha memperhatikan antara kakaknya dan juga suaminya adu perdebatan karena asisten barunya, tetapi Icha belum mengetahui jika Vania adalah asisten baru dari suaminya. Mungkinkah Icha akan menonjok muka Arka jika tahu asisten barunya sangat seksi dan juga terlihat sangat menggoda di mata laki-laki.


Mendengarkan ucapan telak dari Arka baru saja. Membuat mulut Devan seperti terkancing. Ia tidak dapat lagi menyuruh-nyuruh Arka, alasannya karena memang masuk akal.


Sementara Vania masih saja terdiam di tempatnya, menunggu pembelaan dari Devan. Namun sialnya tak ada reaksi apapun dari Devan.


Devan menggangguk melihat ke arah Vania, lalu Vania berdiri dari tempat duduknya. Beranjak Pergi dari sana. berpamitan pada mereka meski rasa kesal merayap ke dalam hatinya. Wajah manisnya harus ia perlihatkan, dan tidak dia tunjukkan rasa kesalnya, tetapi itu khusus kepada laki-laki yang ada di hadapan mereka ini.


"Sialan, mereka tidak menghargaiku sama sekali. Awas saja tunggu pembalasanku. aku akan membuat mereka berdua bertekuk lutut di kakiku." begitu Vania pergi dari sana mengumpat sendiri.


sedangkan di meja itu tinggallah mereka berempat Arka Devan Icha dan juga Megan, "Siapa dia?" tanya Icha begitu iya tahu Vania sudah pergi dari sana.


"Asisten baru suamimu." jawab Devan.


Sepertinya Devan sengaja membuat panas hati Icha. Apakah adiknya itu akan menceraikan suaminya, atau malah mencakar wajahnya.


"Sayang please dengarkan penjelasanku dulu, jangan marah ya." kata Arka. Lalu mengambil kedua tangan istrinya. Mengangkat dan menciumnya beberapa kali, sebagai permintaan maafnya. Padahal ini sama sekali bukan salahnya.


"Aku tidak marah padamu sayang, hanya saja kau harus menjaga kepercayaanku, karena jika sekali saja kau mengkhianatiku. Maka tidak akan ada maaf bagimu." ucap Icha terdengar menakutkan di telinga Arka yang mendengarnya. Baginya ini adalah ancaman yang mengerikan seumur hidupnya, lebih baik dirinya menghadapi kolega bisnisnya yang sulit ditaklukan sekalipun. Atau dirinya menaklukkan lawan bisnisnya untuk memenangkan sebuah tender.


"Sayang jangan berbicara seperti itu, terdengar menakutkan di telingaku." ucap Arka. Pandangan matanya menghibah kepada Icha.


"Aku bukan mengancam mu, aku hanya memperingatimu saja. Jia kamu tidak melakukan hal yang melenceng. Maka kau tak perlu takut."


Ucap Icha baru saja. Lalu membalas genggangan tangan dari suaminya. Membuat Devan berdehem untuk beberapa kali. Mereka lupa jika di hadapannya ini masih ada orang, seperti dunia milik mereka berdua saja.

__ADS_1


"Jika kalian ingin bermesraan tidak di sini tempatnya, sangat tidak sopan, Apa kalian tidak melihat di hadapanmu masih banyak orang." ucap Devan telak.


Icha dan Arka menoleh ke arah Devan secara bersamaan. Sedangkan Megan pura-pura sibuk dengan ponsel pintar yang ada di hadapannya. Tanpa rasa malu dan bersalah ia tersenyum manis hingga membentuk puppy eyes di matanya. Tetapi tidak dengan Arka. Arka hanya melihat datar ke arah kakak iparnya.


Sepertinya Arka menyimpan rasa kesal yang sangat menumpuk pada Devan. Awas saja jika nanti dirinya berdua dengan Devan, ia akan menanyakan banyak hal mengenai hal ini. Begitulah saat ini yang ada di benak Arka.


Megan sesekali menyesap minumannya. Icha sudah melepas tautan tantangannya dari suaminya, sedangkan Devan sesekali memberikan ultimatum kepada adiknya dan juga adik iparnya, yang merupakan sahabatnya juga.


"Apa kau juga akan memberikan ancaman kepadaku juga?" tanya Arka, matanya memicing ke arah depan.


"Jangan sok tahu pikiran dan hati seseorang."


"Aku hanya tidak suka saja jika ada orang yang berpura-pura baik padaku." kata Arka sambil menyesap kopinya yang sejak tadi sudah dingin.


"Kau mau bilang kalau aku tidak baik padamu?" tanya Devan balik pada Arka.


"Aku tidak berkata seperti yang kau katakan." Arka.


"Kau memang tidak bisa ditebak." ucap Arka.


"Sudahlah, bisa tidak kalian ini tidak berdebat di hadapanku." Icha menengahi kakaknya dan juga suaminya.


Jam sudah lewat tengah malam, tetapi mereka masih betah saja untuk mengobrol. Di manapun berada Icha walaupun terkadang barbar tingkahnya, tetapi dia bisa menjadi penengah diantara keluarganya. Kedua kakaknya jika berdebat atau memiliki perbedaan pendapat, atau ayah dan ibunya saat di rumah. Begitu pula dengan teman-teman membernya.


Tanpa diduga. Hana turun ke lantai dasar. Ia begitu girang kala mendapati Icha juga ada di sana. Tadinya ia mengira kalau Hana akan turun sendirian, untuk meminum segelas kopi.

__ADS_1


Hana berlari bagaikan anak kecil menuju ke meja Icha dan juga Megan, lalu menyapa dengan berteriak sama seperti tadi yang dilakukan Icha. Membuat Devan yang melihatnya menggelengkan kepalanya. Apakah semua member pink V semuanya bar bar tingkah nya seperti adiknya pikir Devan.


__ADS_2