
"Mungkin kedua orang tuaku sedang merasakan kecewa."
"Kau bisa mencari seseorang yang kau cintai, lalu menikahinya, dan memberikan mereka cucu." ucap Alex menyahut, yang baru saja mendudukkan tubuhnya itu.
"Kau ini berbicara seperti jalan halus tak berbatu saja."
"Coba saja dirimu sendiri yang melakukan itu semua." ketus Arka memicingkan matanya ke arah Alex.
"Aku hanya memberikan solusi terbaikku saja."
"Solusi terbaik apanya, kau lebih seperti ingin menertawaiku."
"Hah terserah kau sajalah,"
"Masalahnya juga belum ada perempuan yang mau sama aku, jika mereka mau sama aku, tentu saja aku akan menikah lebih cepat." Alex berbicara random.
"Kau bisa memilih salah satu pelayan dirumah utama, atau pelayan cafe sana kan juga banyak."
"Tidak lah, tidak se level juga."
"Memangnya seleramu yang seperti apa?" tanya Arka.
"Aku menyukai gadis manja, jika kemana-mana ia akan mengajakku, ngambek jika sedang menginginkan sesuatu,"
"Dan pastinya," Alex menjeda ucapannya sambil pikirannya melanglang buana kemana-mana.
"Dia sangat pengertian."
"Mimpi saja kau ini." Arka tak begitu menanggapi ucapan Alex.
Padahal bayangan Alex gadis idamannya yang seperti Icha. Setelahnya ia melirik ke arah Devan.
"Aku tak akan menerima ipar sepertimu." Devan sepertinya sudah mengetahui isi kepalanya Alex.
"Kenapa memangnya?"
"Apa karena diriku tak sekaya kamu?" tanya Alex lagi, menautkan alisnya.
"Itu juga salah satunya, adikku terbiasa hidup mewah, aku tak akan bisa terima jika iparku tak bisa memberikan kemewahan padanya."
"Cieh ..., sombong sekali kau ini." decih Alex.
"Realistis saja, kalau biaya hidup itu mahal."
"Jadi kau meremehkanku?"
"Aku hanya memberimu pelajaran berharga, supaya kau bisa maju sendiri."
"Apa yang kalian bicarakan ini." Arka.
"Sudahlah, jangan hiraukan Alex, dia itu memiliki banyak simpanan di luar sana."
"Hei kau ini malah berbicara sembarangan."
"Lalu ini foto siapa yang sedang check in?" Arka menunjukkan sebuah gambar dirinya sedang check ini di hotel.
Seketika Alex bungkam tak bersuara,"Sudahlah, terserah kalian saja."
Mereka berbincang banyak hal, mengenai teman hidup dan juga karir, hingga waktu menjelang malam.
"Kapan kita adakan pertemuan lagi?" usul Arka.
"Kau tentukan saja jadwalnya." jawab Devan.
__ADS_1
"Aku..." tunjuk Alex pada dirinya sendiri.
"Baiklah, akan aku tentukan nanti jadwalnya, tapi kalian jangan banyak protes."
🌷🌷🌷
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, setelah pertemuan antar sahabat itu kini mereka sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.
Sama seperti Icha yang sibuk di dunia K-Pop, ia telah melakukan tour keliling di berbagai negara untuk konser. Sehingga membuatnya melupakan hal percintaan dan patah hatinya.
Sejak kejadian itu, ini sudah memasuki babak tahun berikutnya, ketika dirinya akan memasuki masa cuti kerjanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Iya hallo kakek, ada apa?"
"Bisakah kau bantu kakek untuk menjadi penerjemah sementara kakek di rapat nanti?"
"Penerjemah, memangnya kapan akan dilaksanakan rapatnya kek?" tanya Icha menegakkan punggungnya kala ia sedang bersantai.
"Ehmm minggu depan, kamu persiapkan dirimu iya, nanti materinya aku kirim lewat email." kata kakeknya yang datang dari Chinese untuk sebuah rapat nanti.
Dan kini tibalah Icha yang sudah packing -packing semua keperluan yang perlu ia bawa nanti. "Kamu akan liburan kemana?" tanya Megan melirik pada Icha.
"Hahhhh sebel banget, gatot deh mau liburan ke Tokyo."
"Memangnya kenapa?"
"Tiba-tiba saja aku diminta kakek untuk pergi menjadi penerjemahnya."
"Penerjemah." Megan membeo.
"Iyah begitulah."
"Kau tak tahu iya jika aku menguasai banyak bahasa." terdengar seperti sebuah candaan kata yang diucapkan oleh Icha, namun memang benar adanya jika dirinya menguasai beberapa bahasa.
"Emmm ya mana tahu aku,"
"Oh iya aku ada ide." Icha tiba-tiba saja muncul ide cemerlangnya.
"Apa memangnya?" Megan mendengarkan dengan seksama. Mendengarkan kata apa yang akan keluar dari mulut Icha.
"Bagaimana kalau kamu ikut denganku saja."
"Mana bisa aku menjadi penerjemah seperti dirimu, kau jangan mengada-ngada deh."
"Ihhh... kamu ini bagaimana sih, bukan..., bukan itu maksud aku."
"Lalu?" tanya Megan bersedekap dada melirik Icha malas.
"Nanti sekalian kita jalan-jalan begitu, kan aku rapatnya dari pagi sampai siang tuh, lah sorenya kita jalan-jalan."
"Bagaimana ideku?"
Megan terdiam sejenak, mencerna kata-kata Icha, "Benarkah kau rapatnya hanya sampai siang?"
"Iya..., nanti kita bisa keliling tuh di tempat-tempat baru."
"Jadi satu perlu dua perlu."
"Iya..., yang kedua perlu-perlu begitu."
__ADS_1
"Dasar kau ini memang konyol." Megan mencebikan bibirnya.
"Lah kan lumayan, ya sudah sekarang kemasi pakaianmu dengan benar, dan besuk sore kau ikut terbang bersamaku."
"Aku nanti akan bilang pada kakekku."
Megan tak menjawab perintah Icha, namun dirinya bangkit dari duduknya dan memeriksa barang-barangnya yang memang sebelumnya sudah ia kemasi itu.
"Ini sudah malam, sekarang kamu tidurlah dengan nyenyak, besuk pagi kita akan melakukan perjalanan jauh."
"Ck, kau ini kenapa seperti ibu-ibu yang bawelin anaknya."
"Aku kan memang ibu kamu." canda Icha random.
🌷🌷🌷
.
.
Sore hari mereka sudah bersiap terbang menuju sebuah Villa yang kemaren alamatnya sudah di kirim oleh kakeknya Icha, Villa ini terletak di sebuah pegunungan.
"Berapa jam kita akan sampai?" tanya Megan yang memasangkan sabuk pengamannya ketika pesawat akan lepas landas itu.
"Empat belas jam mungkin," Icha sendiri juga tak pernah menghitung waktu berapa lama ia dalam perjalanan ketika sedang bepergian.
"Hah.., aku rasa baru kali ini kau mengajakku kerja plus liburan."
"Benarkah?" tanya Icha.
"Iya," Megan mengamati indahnya sebuah pemandangan dari ketinggian.
Sedangkan Icha sudah mulai memejamkan matanya. Tidak begitu merespon Megan yang terus saja bertanya banyak hal padanya.
"Ck, ternyata sudah berlayar ke alam mimpinya." gumam Megan pelan, ketika mendapati Icha yang sudah memejamkan matanya itu.
Tak berapa lama Megan pun ikut terlelap di alam mimpinya, menyusul Icha yang dari tadi sudah berkelana dalam mata terpejamnya.
Hingga tiba saatnya pesawat landing, barulah mereka membuka matanya kembali, mengumpulkan kesadarannya. Disana sudah ada mobil jemputan, yang nantinya akan mengantarkan mereka untuk sampai di villa pribadi milik keluarga Icha.
"Hah, pemandangannya sangat sejuk, udaranya juga tidak sedingin waktu di London ketika musim dingin tiba." saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ehmmm iya kau benar,"
"Oh iya nanti kamu tetap berada dalam satu kamar denganku."
"Kenapa begitu."
"Iya, karena nanti akan ada banyak tamu kata kakekku."
"Ck, kau ini..., bilang saja jika kamu penakut." Megan berdecak.
"Itu kamu tahu." jawab Icha santai sambil membuka ponselnya untuk merekam keadaan dirinya saat ini.
Sampailah mereka tiba di lokasi, Icha menyalami kakeknya dam diantarkan di kamarnya oleh pelayan. Setelah sebelumnya di tunjukkan di mana tempatnya beristirahat.
Namun langkahnya terhenti kala dirinya melihat seseorang.
"Dia, kenapa ada disini?" gumamnya pelan.
"Hei ayo, kenapa kamu berhenti." teriak Megan yang mengekor pelayan itu.
"Ehh iya tunggu aku."
__ADS_1
dan
Bersambung