
"Baiklah terimakasih, nanti aku akan menghubunginya" Arka berlalu dari hadapan Megan. Lalu dirinya pergi mencari ponselnya....
Icha masih mengobrol banyak hal dengan tuan Felix, hingga bercerita hobi dan kesenangan masing-masing.
"Selama ini kenapa nona Arum tak pernah menghubungi saya" tanya tuan Felix penasaran.
"Ohh maafkan saya om, jika saya telah melupakan hal itu" jelas Icha.
"Apa karena nona Arum orang yang sangat sibuk" canda lelaki paruh baya itu.
"Ohh tidak juga om, itu karena saya melupakannya" ucap Icha merendah.
"Baiklah aku akan mengundang nona Arum, tetapi bolehkah saya meminta kartu nama nona Arum, agar saya bisa menghubunginya" pintanya.
"Ohhh boleh om, sebentar" Icha membuka resleting tasnya dan mencari sesuatu di sana.
"Ini kartu nama saya om"
Tak berapa lama dering ponsel Icha berbunyi.
"Anda dimana nona, saya Akemi orang suruhan nenek dan kakek buyut anda nona" suara seseorang dibalik telepon itu.
Akemi menerangkan jika dirinya telah menunggu sejak tadi dan karena mencari kesana kemari tak kunjung menemukan Icha akhirnya dirinya memutuskan menghubungi cucu buyut majikannya itu.
"Baiklah om, kita bisa berjumpa lain kali lagi iya, sepertinya jemputan saya sudah datang" Icha.
"Baiklah noma Arum, sampai bertemu dilain waktu, nona Arum berhati-hatilah."
Icha mengucapkan salam perpisahan pada lelaki paruh baya itu kemudian berlalu dari sana, menuju mobil jemputannya tadi.
"Mari nona silahkan masuk" Akemi membukakan pintu mobilnya untuk Icha.
"Hemm terimakasih" Icha memposisikan tubuhnya di dalam mobil itu.
"Apa anda menungguku sangat lama tadi" tanyanya pada Akemi.
"Lumayan nona sekitar empat jam"
"Cek kau ini, kenapa diam saja dan tak menelponku dari tadi" Icha.
"Saya pikir nona masih berada dalam pesawat, jadi tak akan bisa nyambung jika saya menghubungi nona" pikir Akemi menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya.
"Hemm baiklah terserah kau saja."
Icha menikmati pemandangan di kota Tokyo, dirinya jadi teringat dengan ke tiga teman karibnya saat berada di asrama.
Hingga tak terasa mobil itu telah sampai di pelataran rumah nenek dan kakek buyutnya tinggal. Seluruh barang dan oleh-oleh yang Icha bawa dibantu oleh Akami sopir pribadi nenek serta kakeknya itu.
__ADS_1
"Pak tolong oleh-oleh yang ini dibagikan pada pegawai dirumah ini iya, dan jangan lupa kamu ambil bagianmu, ini aku kasih tambahan uang tips untukmu karena telah membantuku membagikan oleh-oleh pada mereka."
"Baik non terimakasih banyak."
Icha seperti biasanya dirinya akan sangat antusias jika berada di dalam rumah kakek serta nenek buyutnya ini.
"Anak nakal kenapa kamu tak pernah kemari lagi" tanya Kakek serta nenek buyutnya itu.
"Bukankah sudah kubilang jika aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan akan menyelesaikan studyku dengan cepat" Icha menjawab dengan serius.
"Benarkah, lalu bagaimana dengan studymu sekarang, kenapa kamu kemari" tanya nenek buyutnya itu memberondong banyak pertanyaan pada dirinya.
"Cek apa nenek lupa siapa yang menyuruhku datang kemari." Icha dengan pura-pura cemberut.
"Dasar cucu bandel susah diatur" kemudian mereka tertawa bersama.
"Bagiamana dengan kabar teman-temanmu itu, kapan mereka akan berkunjung kemari lagi." Neneknya lagi sambil mengambil beberapa makanan yang sudah dibuat khusus untuk menyambut dirinya itu.
"Setelah aku menyelesaikan belajarku di Oxford aku akan mengajak mereka kemari." jawab Icha dengan mulut penuh.
"Cek kau ini, itu lama sekali, keburu tua ini kakek sama nenek buyut mu" nenek Icha berdecak dengan pura-pura cemberut.
"Bersabarlah nek, jika aku mengajak mereka kemari sekarang lalu bagaimana dengan belajarku, apa kakek dan nenek tak kasihan padaku." pura-pura sedih.
"Baiklah terserah kau saja, jangan lupa menginap lebih lama jika kemari lagi mengajak teman-temanmu itu" katanya.
"Ya...hallo kak"
"Iya aku pergi ke rumah nenek dan kakek buyutku yang tinggal dikota Tokyo."
"Tidak...tidak lama, aku hanya cuti seminggu saja dari tempat magangku."
"Baiklah tolong simpankan dulu, minggu depan aku akan pulang."
Sebenarnya itu hanya alasan dirinya saja untuk menghubungi Icha. Dirinya sangat merindukan celoteh gadis itu. Hingga beralasan untuk memberikan perihal oleh-oleh darinya itu.
Bagaimana tidak, setiap suasana jika bersamanya akan terasa menyenangkan dengan adu debat karena hal-hal sepele atau karena adu pendapat. Sepertinya Arka sudah tak sabar menunggu satu minggu lagi. Andaikan tak banyak pekerjaan mungkin dirinya saat ini sudah menyusul Icha dimana dia berada.
Dengan terpaksa dirinya keluar mencari makan malam untuk dirinya sendiri. Padahal tadi sudah berencana akan merecoki gadis itu.
"Kau makan sendirian di sini" tanya lelaki tampan yang berperawakan tak jauh beda dengannya itu menyapa dan menghampirinya.
"Hei... kamu. Kapan kamu berada disini." tanya Arka menjabat tangan sahabatnya balik.
"Ehmmm iya aku sedang mau mengunjungi adiku, tetapi adiku sedang tidak ada dirumah."
"Cek kau ini, apa kau sebelumnya tak mengabari adikmu dulu jika akan datang kemari." tanya Arka pada sahabatnya yang bernama Aksara itu.
__ADS_1
"Iya kamu betul, aku hanya mau memberinya kejutan saja, tetapi malah aku yang terkejut karena dirinya tak ada di unit apartemennya."
"Lalu apa yang mau kamu lakukan jika tak bertemu adikmu?"
"Tentu saja aku akan kembali, dan akan kemari lagi jika adikku sudah kembali."
"Cek...perjalanan yang sia-sia kau ini." Arka tertawa mengejek pada Aksara.
"Kau mengejekku." Aksara menepuk bahu Arka.
"Jika sudah tahu tak usah bertanya." Arka menaikan sebelah alisnya sambil melirik Aksara.
"Suatu saat kau akan ditertawakan oleh pacarmu." Aksara membalas.
"Kau menyumpahiku."
"Sepertinya." lalu mereka malah tertawa bersama hingga menimbulkan suara gaduh.
Bagaimana tidak, padahal Arka saat ini tak memiliki pacar tetapi malah di sumpahi demikian. Akhirnya mereka banyak bertukar cerita dan makan bersama. Lalu mereka akan merencanakan membangun sebuah proyek di suatu negara.
"Jika kau setuju kita adakan pertemuan untuk berikutnya."kata Arka sambil mengunyah makanannya.
"Hemm tetapi dalam waktu dekat ini aku belum bisa, karen aku sudah membuat banyak jadwal kerjaku" Aksara.
"Baiklah, kau bisa menghubungiku jika begitu" Arka.
"Hemmm" Aksara hanya menjawab dengan gumaman saja.
Mereka berpisah, Arka kembali ke unit apartemennya sedangkan Aksara akan menginap di hotel saja. Karena tadi saat memencet bel apartemen yang membuka pintu adalah Megan. Aksara merupakan kakak ke dua Icha. Kakak yang selaku menolongnya dikala dirinya mendapatkan hukuman dari kakak pertamanya.
Setiap hari mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel saja. Baik dalam hal belajar ataupun yang lainnya. Itu karena kesibukan kakak-kakaknya sehingga mengharuskan demikian.
Jika Icha mengetahui akan dikunjungi kakaknya, tentu saja dirinya akan menunda pulang ke Tokyo. Dan pasti dirinya akan meminta sesuatu dari kakaknya ini.
dan...
.
.
.
Bersambung.
jangan lupa jika kalian suka like, komen, dan kasih hadianh iya.
Supaya aku rajin menghalu. hihihi
__ADS_1
Oke next besuk lagi