
"Yuju itu beli snack atau lagi pergi ke negara lain sih. Kenapa lama banget." keluh Hyun pada teman-temannya.
"Mungkin saja jalannya pindah."jawab Hana terkikik geli.
"Padahal naik turun juga pakai lift loh, bukan jalan kaki. Coba kalau jalan kaki, mungkin dia malah satu hari baru sampai bawah."kata Hyun.
"Memangnya dia itu sedang pergi ke mana sih? Kenapa aku tidak tahu." sahut Icha sambil membaca novel milik Megan.
Akhirnya Hyun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Pergi menuju cafe, mencari keberadaan Yuju. Biar aku susul ya, kata Hyun. Dirinya sudah bersiap mengenakan mantel, karena cuaca sedang dingin. "Kau mau turun ke lantai bawah?" Icha menghentikan aktivitas membaca novelnya, karena berniat mengikuti Hyun untuk menyusul Yuju.
"Ya Apa kau mau ikut?" tanya Hyun menoleh pada Icha.
"Aku ikut, tunggu Aku." kata Icha sembari dirinya bersiap mengenakan mantelnya.
Mereka berjalan keluar dari kamarnya, dengan Icha yang mengekor di belakang Hyun. Untuk mencari keberadaan di mana Yuju berada. Apakah tersesat, atau diculik orang. Pikir Hyun konyol.
"Awas saja anak itu, kalau sudah ketemu. Uh akan ku pitas-pitas." salah satu tangan Yuju mengepal ke udara.
"Kau jalan begitu cepat, bisa tidak pelan sedikit." keluh Icha yang berada di belakang Hyun.
"Makanya lebih cepatlah sedikit, kau tahu kalau aku ini sudah ingin makan snack."
" Kenapa tidak makan saja." kata Icha membantah omongan Hyun.
"Nanti saja, aku makan kan harus bareng sama kalian. Kalau aku makan sendirian, aku rasa aku akan lebih gemuk, jika makan dua kali dalam satu waktu."
__ADS_1
"Ck, alasan saja kau ini." Icha berdecak.
Terlihat dari kejauhan jika objek yang dilihat Icha. Ia seperti mengenal postur tubuh lelaki itu, yang duduk di hadapan Yuju. Mengenakan mantel berwarna hitam dan juga celana panjang, apalagi potongan rambutnya. Ya benar tidak salah lagi jika itu adalah suaminya. batin Icha yang sedikit kesal. Untuk kali ini entah mengapa nafasnya terlihat memburu, kakinya gemetaran, kedua tangannya mengepal. Namun ia berusaha menetralkan emosinya. Menarik nafas sebanyak-banyaknya dan membuangnya kasar.
Untuk beberapa saat, Icha berhenti dan terdiam di tempatnya. Sedangkan Yuju mengomel-ngomel sendirian. Merasa tidak dijawab oleh Icha, Hyun berbalik ke belakang. "Hei ayo. Kenapa kau diam di tempat saja." teriak Hyun pada Icha.
Icha sadar dari lamunannya mendengar teriakan dari Hyun. Kemudian langkahnya tergesa untuk menyusul Hyun. Mereka kembali meneruskan langkahnya, hanya tinggal beberapa meter saja.
"Hei kenapa kamu lama sekali hanya beli snack saja, kau tahu kalau aku sudah menunggu snack-mu." teriak Hyun tiba-tiba.
Seketika Yuju menoleh mencari sumber suara, begitu pula diikuti oleh Arka, mendongakkan kepalanya yang semula tadi melihat ke arah ponselnya. Arka begitu terkejut. Bukan karena teriakan Hyun, karena melihat siapa yang ada di belakang Hyun. Terlihat muka istrinya itu sangat tidak bersahabat, ingin menerkamnya hidup-hidup, namun Arka masih bisa bersikap tenang.
"Ternyata kau sedang asyik ngafe, kau tahu tidak kalau kami semua itu sedang menunggumu." kata Hyun meneruskan omelannya tadi.
"Kau tahu, kalau aku sudah membelikan pesananmu. Snack-snack yang kau sebutkan tadi." kata Yuju mengambil paper bag yang ada di atas meja, dan memperlihatkannya pada Hyun.
Sementara Icha yang ada di belakang Hyun, memandang suaminya bagaikan Elang siap memangsa musuhnya. Tetapi yang terjadi wajah Arka begitu menghiba, agar istrinya itu tidak marah lebih dulu. Mungkin dalam hati Icha. Kau berhutang penjelasan padaku. Kenapa bisa berduaan bareng perempuan, terlebih lagi perempuan itu sahabatnya. Hal itulah yang membuat Icha panas hati.
Kedua sahabatnya masih belum menyadari dengan keberadaan Icha, akhirnya Icha berpamitan kepada mereka berdua, untuk ke lantai atas lebih dulu. Barulah diikuti Hyun dan juga Yuju. Yuju hanya berpamitan kepada Arka sekedarnya.
Untuk saat ini tidak mungkin juga Arka meminta maaf kepada istrinya. Lantaran hubungan rahasia mereka yang tidak diketahui publik. Mungkin jika semua sahabatnya sudah tahu kalau dirinya sudah menikah, Arka akan mengejarnya.
Icha berjalan begitu gesit, hingga Yuju dan juga Hyun sampai susah untuk mengejarnya. Mulutnya bagaikan tercekat, hanya untuk mengucap sepatah kata pun. Icha terdiam seribu bahasa. Sulit mencerna setiap kejadian yang ia lihat.
"Lagi pula kamu itu Yuju, bisa tidak bilang dulu pada kita. Jika ingin nongki-nongki berduaan. Kau tahu? kalau Yuju itu sedang menunggumu." omel Icha, ini seperti bukan dirinya. Ketika terlihat sedang mengomel.
__ADS_1
"Ya maafkan Aku. Kenapa kamu jadi ikut marah-marah, aku kan jadinya sedih." ucap Yuju wajahnya memelas.
Namun tidak dihiraukan oleh Icha. Ucapan permintaan maaf dari yuju baru saja. Sepertinya Icha masih terlihat kesal. Mulutnya susah untuk berbicara dengan semua orang.
Begitu sampai di kamar hotelnya. Icha meneruskan kembali untuk membaca novelnya, banyak notifikasi pesan chat masuk dari suaminya. Tapi sama sekali tidak Icha hiraukan.
Megan berjalan mendekatinya dan berbisik ke arah Icha. "Icha kau ikut denganku sebentar, di kamar sebelah." ajak Megan.
"Kau tidak lihat jika aku sedang sibuk." ketus Icha, matanya masih fokus melihat bukunya. Sama sekali tidak menoleh ke arah Megan.
Megan mengerti dengan kemarahan Icha karena sahabatnya itu sedang dilanda cemburu buta, tujuan Megan mengajak di kamar sebelah agar Icha mau menemui suaminya. Sepertinya Megan harus membujuk dengan cara lain, baru kali ini sahabatnya itu terlihat sangat cemburu dan susah dibujuk.
"Sebentar saja. Apa kau tidak mau lagi berbicara padaku?" tanya Megan menghiba.
Megan begitu terkejut, karena tanpa menjawab dirinya. Icha langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju ke arah pintu keluar dan memasuki ruang sebelah.
Lebih terkejut lagi Icha. Karena ternyata di sana berdiri sosok yang sangat ia cemburui saat ini. Berdiri membelakanginya, dan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku. Melihat ke arah jendela luar. Icha yang melihatnya refleks akan berbalik untuk keluar. "Ssttt, Kau mau ke mana?" tapi Megan menahannya.
"Kau jangan menghalangiku." Icha menatap tajam Megan. Seolah saat ini megan lah rivalnya.
"Tolong tinggalah sebentar. Aku ingin bicara padamu." terdengar suara bariton itu menginterupsi mereka.
Megan melihat Icha dan memberikan dengan isyarat tubuhnya, menganggukkan kepalanya ke arah Icha. Tanda isyarat bahwa Icha mau menemui suaminya, akhirnya dengan berat hati Icha menuruti permintaan Megan, untuk tetap tinggal di kamar ini. Tinggallah mereka berdua.
"Semoga masalahmu dengan suamimu cepat selesai." bisik Megan di telinga Icha sangat pelan. Walaupun sangat pelan, tetapi Arka masih bisa mendengarnya. Megan menepuk pundak sahabatnya lalu beranjak keluar dari sana.
__ADS_1