Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Pertanyaan yang Membagongkan


__ADS_3

"Icha sekarang kamu sudah memiliki suami, jadi menurutlah dengan suami kamu nak."


"Ohh soal itu kakek jangan khawatir kek."


"Iya sudah kita pamit bersiap dulu iya."


"Baiklah nak, kalian berhati-hatilah ketika dijalan nanti."


"Tentu saja kek."


Mereka berpamitan undur diri terlebih dahulu, "Kakak kenapa kita terburu-buru kembali?" tanya Icha dengan nada kesal.


"Masih banyak hal yang harus kakak kerjakan, memangnya apa lagi?"


"Tapi aku masih ingin disini dulu." Icha bersedekap dada.


"Tidak bisa, kamu sekarang sudah menjadi istriku, jadi harus ikut kemana pun aku pergi."


"Tapi aku tak mau ikut, kalau kakak mau pergi iya pergi saja."


Arka tak berniat menimpali ucapan istrinya, dirinya yang memang sudah merapikan peralatannya untuk kembali sejak pagi tadi kini hanya tinggal bersiap saja untuk berangkat kembali ke Villa.


Arka mendongak menatap wajah istrinya dengan tatapan dingin tak seperti biasanya, "Mau aku paksa atau masih mau ingin tetap disini?"


Icha mengerti jika sudah nada dingin yang keluar dari mulut Arka tandanya ia tak mau dibantah, tapi ia sangat gengsi, sehingga sebuah ide muncul begitu saja.


"Kalau kakak mau kembali iya kembali saja sendirian, pernikahan kita ini kan pernikahan rahasia, aku tak mau orang-orang nanti mengetahui hubungan kita ini."


"Soal aku, kakak jangan mengkhawatirkannya, nanti juga aku akan menyusul kakak."


Mendengar hal itu membuat Arka memikirkan ulang untuk memaksa kehendak istrinya,"Baiklah kalau begitu, kau baik-baiklah disini, jangan membuat masalah, jaga kehormatan keluarga kita, dan terutama hubungan kita." Arka maju satu langkah, satu ciuman mendarat, menyerang Icha tiba-tiba, tentu saja Icha gelagapan mendapatkan serangan tiba-tiba seperti ini.


"Buka mulutmu istriku."


Icha membuka mulutnya, jantungnya seakan berdetak lebih cepat dari biasanya dan seperti akan melompat dari tempatnya. Ketika Icha membuka mulutnya lidahnya menerobos masuk tanpa permisi, menjelajah setiap sudut ruang mulut seksinya, bahkan kini tangannya sudah menekan tengkuk Icha dan tangan satunya lagi mengarahkan tangan Icha, mengalungkan pada lehernya.


Tentu saja ini adalah ciuman intim pertama saat mereka sudah menikah, dan Arka kembali merasakan letupan-letupan cinta di dalam hatinya, setelah sekian lama merasa haus dengan semuanya yang pernah ia lakukan bersama Icha.


"Sudah kak, nanti kakak terlambat." Icha menyudahinya setelah dirinya sudah kehabisan oksigen dalam kegiatan ciuman panasnya ini.


"Ehmmm..., aku akan menunggumu sampai kau siap." bisiknya ditelinga Icha.


Mereka saling menempelkan keningnya, setelahnya Arka memeluk tubuh ramping istrinya.


"Apanya yang sudah siap?"


"Menurutmu? apa yang dilakukan orang sesudah menikah?"


Ahhh ini gila, rasanya Icha ingin menghilang saja saat ini, kenapa mendadak dirinya menjadi perempuan yang sangat bodoh, tentu saja dia tahu apa yang dilakukan orang setelah menikah.


"Tapi aku masih ada kontrak kerja kak, mungkin sekitar empat atau lima tahun lagi baru selesai kontrak kerjaku." Icha melepaskan pelukannya dari Arka, kini beralih menatap wajah tampan suaminya.


"Jadi..., kau mau membiarkanku tanpa belaianmu selama itu?"


"Ahh suamiku, ini mah bisa dibicarakan lagi nanti, sekarang kakak berangkat saja dulu, sebentar lagi helikopternya juga akan sampai kan."

__ADS_1


"Tidak jawab dulu aku, aku sedang bertanya pada istriku."


"Haduh matilah aku, sepertinya dia akan marah." batin Icha bermonolog, sepertinya dia harus mencari cara agar suaminya ini tidak marah lagi.


"Ah suamiku sayang, tapi kita masih bisa bertemu kan, dan soal kontrak kerja itu kan sudah terlanjur tanda tangan, jadi iya sudah akan aku selesaikan terlebih dulu."


Icha reflek memeluk suaminya, dan menghilangkan rasa gengsi serta malunya, karena harus merayu untuk memulihkan dari aura marahnya.


"Hemm kau memanggilku apa tadi?"


"Hemm apa?" Icha mendongak menatap wajah Arka.


"Coba ulangi lagi?"


"Ulangi yang mana?"


"Tadi kau memanggilku apa, aku ingin mendengarnya lagi."


"Suamiku, apa lagi."


"Suamiku apa, tadi sepertinya ada lanjutannya."


"Aku lupa."


"Baiklah jika kau tak mau menurut, aku akan memutuskan semua kontrakmu,"


"Ehh jangan-jangan suamiku sayang,"


"Nah begitu kan lebih manis, coba ulangi lagi?"


"Mulai sekarang panggil aku sayang, apa kau mengerti." mencium puncak kepala Icha bertubi-tubi.


"Sa...sayang." seakan tercekat di tenggorokannya, entahlah mungkin belum terbiasa atau tidak ikhlas memanggil suaminya sayang.


"Coba ulangi sekali lagi, agar pagiku ini bertambah semangat."


"Sayang..."


"Baiklah, sekarang aku pergi dulu iya, jangan nakal, jangan membuat ulah." sekali lagi mencium puncak kepala istrinya berulang kali, terakhir sebuah kecupan hangat.


Tokkk...tok..


"Apa...?" ketika Arka membuka pintu kamar mereka.


"Keluarlah, helikopter sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu." kesal Devan pada sahabatnya ini.


"Ehmmm tunggu aku sepuluh menit lagi,"


"Cepatlah, jangan mengulur waktu lagi." Devan berdecak, melihat jam ditangannya.


"Kak Devan bilang apa kak?"


"Tidak ada, berikan aku satu ciuman lagi."


"Tadi kan sudah,"

__ADS_1


"Iya tadi itu namanya kecupan."


"Tapi..." baru juga Icha akan melayangkan protesnya kembali, sudah mendapatkan serangan untuk yang kedua kalinya, hingga membuat bibir Icha membiru.


"Kakak kau..." kesal Icha.


"Sudah aku berangkat dulu, bye istriku."


"Ck, pagi yang penuh drama," Icha bersungut-sungut.


Dia tidak mengantarkan Arka sampai halaman belakang rumah dimana helikopter terparkir di sana.


Dirinya berjalan ke arah cermin, menatap pantulan wajahnya sendiri, "Bibirku, kenapa jadi berubah warna seperti ini,"


"Pasti karena si monster cium aku tadi." ucapnya kembali kesal.


Tok...tok...


suara ketukan pintu kembali terdengar,"Ada apa lagi sih kak."


"Hei ini aku, ada apa dengan dirimu? apa jatahmu semalam kurang sehingga keluar tandukmu?" ucap Megan bar-bar.


Megan menerobos masuk di dalam kamarnya kala dia melihat suaminya Icha sudah bepergian. "Kurang apanya, kau jangan sembarangan berspekulasi."


"Iya aku merasa begitu, karena biasanya pengantin baru itu akan meara lelah dan jalannya sedikit sulit, berdasarkan novel-novel yang sering aku baca."


"Sepertinya otak kamu itu sudah terkontaminasi tulisan dari novel deh, apa perlu diberikan edukasi dulu supaya tak terpengaruh novel."


"Ehh tunggu-tunggu, berdasarkan novel yang sering aku baca, perempuan kalau setelah melakukan malam pertama jalannya akan sedikit aneh."


"Coba kamu jalan kesini." perintah Megan pada Icha.


"Tidak mau, karena aku ini kenyataan bukan tokoh novel yang ada di dalam cerita halumu itu tahu."


"Wahhh wahhh tapi yang aku lihat tidak ada perubahan pada jalanmu."


Icha yang tidak sengaja berkata demikian sambil berjalan tak luput dari pengamatan Megan yang saat ini duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Itu tandanya, apa kamu?" Megan menutup mulutnya sendiri mengira-ngira jika malam pertama mereka gagal.


"Tapi tadi pagi aku seperti mendengarkan teriakanmu,"


"Apa jangan-jangan kalian belum melakukannya?" cecar Megan kembali.


"Sudahlah jangan sok tahu, katakan ada apa kamu kemari?"


"Bibirmu itu? wahh wahh pasti kalian habis gigit-gigitan."


Megan kembali menertawai Icha sampai terbahak-bahak,"Kau menertawaiku?"


"Cie yang habis mendapatkan jatah ciuman,"


Icha mengambil cermin, dan mengamati bibir seksinya. "Jadi bagaimana rasanya ciuman?"


"Tak tahu ahh, sana cari pacar saja sana sendiri dan lakukan sendiri." Icha berdiri masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Megan yang masih duduk sendirian di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2