
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Pertemuannya tadi?"
"Tak ada hal yang menarik."
"Kakak bilang katanya nanti malam ada pertemuan lagi." ucap Icha sambil menyisir rambutnya.
"Bisa tidak kamu berhenti menjadi penerjemahnya." Arka melepaskan pakaiannya yang tadi dikenakannya, dan akan berganti dengan kaos santai.
"Kenapa?"
"Iya berhenti saja, tidak usah menanyakan kenapa alasannya."
"Setidaknya aku tahu dulu apa alasan kakak menyuruhku berhenti." Icha meletakkan sisirnya, menoleh pada suaminya.
"Karena sekarang kamu sudah menjadi istriku."
"Sebelumnya tidak ada perjanjian seperti itu, aku meneruskan karirku dan kakak meneruskan karir kakak." ucap Icha santai.
"Icha..."
Arka memanggil nama istrinya dengan menekan kata pada namanya. "Apa kamu bisa ngertiin aku."
"Bagian mana yang aku tidak mengerti kakak."
Arka tak membalas perdebatan kali ini, dirinya malas dan memilih segera menggunakan kaos santainya dan celana pendek lalu pergi keluar kamar dengan perasaan kesal.
"Ada apa dengannya?"
"Perasaan tadi baik-baik saja." Icha bergumam pelan.
***
"Sudah kasih tahu istri kamu jika nanti akan ada pertemuan?" tanya Devan menoleh pada sahabatnya.
"Bisa tidak Icha berhenti menjadi penerjemahnya?"
"Kenapa?" Devan meletakkan MacBook diatas meja, dan beralih menatap Arka.
"Apa kamu sedang ada masalah dengannya?"
"Ohh atau kamu sedang cemburu dengannya?"
"Katakan iya jika memang itu benar."
"Ehmmm seperti yang kamu ucapkan." jawab Arka malas.
"Yang mana?" ulang Devan menautkan sebelah alisnya.
"Aku tadi bertanya banyak, jadi bagian mana yang membuatmu keberatan?"
"Sekarang dia sudah menjadi istriku, jadi aku merasa tidak rela jika dia harus menjadi pusat perhatian disana."
"Ck, baru begitu saja sudah sangat cemen mentalmu,"
"Aku rasa mengujimu memisahkanmu dengannya selama ini akan membuat mentalmu menjadi lebih kuat, dan tahan terhadap godaan."
"Apa kamu bilang?"
__ADS_1
"Tidak, tidak ada." elak Devan lagi.
Pasalnya selama ini dirinya sudah tahu jika adiknya itu sedang memiliki hubungan dengan sahabatnya, bahkan ketika masih di apartemen saat kuliah dulu. Sering ada laporan kepadanya jika Icha diketahui sedang dekat dengan dosennya sendiri.
"Kamu kan memiliki segalanya, seharusnya tidak perlu takut kehilangan adiku."
"Aku sangat mencintainya, makanya aku tak rela jika dia menjadi pusat perhatian dan ditaksir lelaki lain,"
"Hanya itu yang kamu resahkan?"
"Lalu apa kabar dirimu yang masih dekat dengan mantan pacarmu itu."
"Aku rasa adikku juga memiliki hati, kau tahu apa akibatnya?" tatapan Devan kini berubah mengintimidasi, seperti sedang menghadapi lawan musuhnya.
"Dia hanya sekertaris yang kebetulan di ajak oleh Alex."
"Hanya kebetulan?"
"Dan performa kerjanya juga sudah terbukti masih masuk perhitungan."
"Itu menurutmu, tapi kamu tidak tahu maksud terselubung yang ada di dalam pikirannya." Devan rasanya ingin melempar gelas kaca ke wajah Arka saat ini juga, jika tidak ingat siapa yang dia hadapi saat ini adalah sahabatnya sendiri dan menikah dengan adiknya pula.
"Jika ingin orang lain sesuai keinginanmu, maka bercerminlah."
"Apa perlu ku pasang cermin yang lebih besar di hadapanmu?"
"Apa yang kamu bicarakan itu?"
"Aku sama sekali tidak mengerti?" ucap Arka yang memang tidak mengerti sama sekali apa yang baru saja di ucapkan oleh Devan.
"Pindahkan Jenifer ke kantor cabangmu."
"Apa maksud kamu?" Arka terkejut dengan permintaan Devan baru saja
"Baiklah kalau kamu tidak sanggup maka jangan sekali-sekali banyak melarang adikku,"
Devan yang memang sejak awal sudah mengetahui gerak gerik Jenifer yang berusaha mendekati Arka lagi, ia berusaha menunjukkan bakat dan kemampuannya di bidang yang Arka tekuni juga, sehingga dirinya terlihat lebih mirip seperti penguntit. Namun nyatanya dirinya bisa berhasil mengikuti jejak Arka yang merupakan mantan pacarnya.
Dan semua hal yang mencurigakan sudah lebih dulu tercium bau nya sampai ke telinga Devan.
"Bukan seperti itu, tapi apa alasannya?"
"Sudah ku jelaskan, jadi aku tak akan mengucapkan kalimat yang berulang."
"Jadi maksud kamu Jenifer ingin mendekatiku lagi."
"Apa kamu bodoh atau hanya pura-pura tidak tahu, jika di suatu pagi saat kalian joging bersama, Jenifer hanya berpura-pura jatuh,"
"Namun naasnya dia jatuh beneran, karena dia tahu situasi."
"Jika disana ada Icha." Terang Devan panjang lebar.
Seketika membuat memori Arka memutar ingatannya dengan cepat saat dirinya joging pagi bersama Jenifer.
"Jadi pada waktu itu..." Arka menjeda ucapannya yang langsung dimengerti oleh Devan.
"Ehmmm iya, dia tahu jika cintamu sudah berlabuh pada Icha."
"Tapi kenapa kamu tahu apa yang ada dalam hatiku?" tanya Arka yang seketika membuatnya curiga jika semua yang dia lakukan telah di awasi oleh Devan.
"Apa?"
__ADS_1
"Dia adikku, aku hanya berusaha melindunginya saja," Devan menautkan sebelah alisnya menatap intens Arka.
"Jadi benar jika kemanapun Icha pergi kamu telah menyewa detektif untuknya?"
"Menurutmu?"
"Kamu keterlaluan,"
"Apanya?"
"Sudah menguntit adikmu sejauh ini."
"Atau jangan-jangan kamu juga tahu jika orang yang telah berpacaran dengannya adalah..."
"Aku tak akan melepaskan orang yang telah menyakiti adikku, bahkan sampai ke ujung dunia pun."
"Dan janjiku aku akan membuatnya bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat." potong Devan pada Arka.
"Kamu mengerikan."
"Dan kamu lengah." Devan memicingkan matanya, seolah dirinya sedang menertawakan Arka sahabatnya.
"Aku tak akan membiarkan adikku terluka sekecil apa pun, kau tahu itu."
"Mulai sekarang juga jauhi Jenifer jika kau masih ingin tetap bertahan dengan adikku."
"Dan satu lagi, kamu tidak perlu takut mengenai dia akan berpaling hati darimu, karena aku sangat tahu adikku bagaimana."
"Ingat baik-baik itu." kemudian Devan berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Arka sendirian yang masih mencerna kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya tadi.
***
Arka kembali lagi ke kamarnya setelah kepergian Devan baru saja, dirinya memutuskan untuk menemui istrinya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka dari luar menampakkan wajah Arka. Icha yang saat itu sedang duduk santai dan berbalas chat dengan teman-teman member group girl band nya itu mendongak menatap wajah suaminya.
Lalu beralih menatap kusyu layar ponselnya. "Sayang..."
"Sedang apa?"
"Tidak ada, aku hanya sedang duduk." jawab Icha cuek.
"Ehmmm, sayang... apa kamu marah sama aku?" tanya Arka duduk ditepi ranjang, di samping Icha.
"Aku...marah?" Icha menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, apa kamu marah sama aku?" meraih tubuh istrinya dari samping dan menghujani puncak kepalanya dengan ciuman yang bertubi-tubi, seolah dirinya takut kehilangan istri tercintanya.
"Apa tidak kebalik, tadi kan kakak yang marah sama aku."
"Sayang please jangan panggil aku kakak, aku akan merasa aneh jika dipanggil seperti itu."
"Aneh kenapa, biasanya juga manggilnya seperti itu kan."
"Tidak kemaren kamu sudah merubahnya, atau aku akan memakanmu sekarang."
Arka berbicara dengan tatapan memuja, sebagian tubuhnya sudah bereaksi, bahkan inti tubuhnya sudah merasakan sesak dibawah sana. Icha yang mengerti kode sinyal yang diberikan suaminya langsung bereaksi dengan cepat.
"Tidak kak, ehmmm sa..sayang maksud aku, aku belum siap."
__ADS_1