
Malam hari mereka sudah kembali ke hotelnya, untuk makan malam ini mereka akan makan malam di restauran di hotel ini. Icha dan kawan-kawannya sudah bersiap akan keluar menuju restauran untuk makan malam.
Hari ini tentu saja berbeda dengan yang kemaren, semua karena jika kemaren Icha sendirian, bedanya kali ini dirinya sudah resmi menjadi kekasih Arka.
Megan yang duduk di sofa menoleh ke arah Icha. "Apa yang kalian bicarakan tadi."
Megan sudah tidak tahan untuk tidak bertanya pada sahabatnya ini. Megan menegakkan punggungnya dari tempat duduknya.
"Seperti pembicaraan pada umumnya."
"Baiklah jika kamu tak mau mengakuinya, kami akan mencari tau sendiri nona." Kesal Megan pura-pura cemberut.
Icha hanya melirik sekilas pada Megan, lalu berpura-pura membaca buku. Tak berselang lama Icha mendapatkan telepon dari sang kakak.
"Kali ini kami selamat nona." Megan mencebik.
"Iya kak hallo."
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Devan pada adik perempuan semata wayangnya ini.
"Tidak ada, kami sedang persiapan akan makan di luar, kenapa memangnya kak?"
"Bernarkah."
"Iya kak, memangnya mau apa lagi, kalau sekarang aku sedang baca buku."
"Baiklah jaga dirimu baik-baik."
"Jangan berani macam-macam, kakak tutup dulu panggilannya."
"Oh Tuhan, benarkah jika kakak sudah mengetahui semuanya, tetapi tidak mungkin, karena kakak tidak tau apa yang aku lakukan." Batin Icha bingung.
"Hey diajak bicara kenapa melamun?" Tangan Megan melambai di depan wajah Icha, karena Icha masih belum nyambung dengan pembicaraan Megan.
"Dimana Hyun?" Icha berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan kebiasaan mengalihkan pembicaraan jika di ajak berbicara seseorang."
"Kakak kamu itu setampan apa?"
"Aku penasaran, kenapa aku tak pernah tau."
"Ck..kamu ini, hanya itu yang mau kamu tanyakan?" Icha berdecak kesal.
"Itu karena memang kakakku sedang sibuk, sudahlah ayo kita berangkat sekarang." Mereka pergi bersama, karena sudah ditunggu teman-temannya untuk turun ke bawah.
Sesampainya di tempat, restauran itu disajikan dalam bentuk prasmanan untuk makan malam. Sehingga mereka mengambil sendiri menu yang ia pilih.
Baru saja Icha dan Yuju akan mendudukkan tubuhnya di kursi, dirinya sudah di kejutkan dengan Arka yang berbicara dengan seseorang di sana. Namun Icha hanya pura-pura tak melihatnya, karena situasinya sedang ada teman-temannya.
__ADS_1
"Hey kalian tau tidak, jika di sana ada tuan Arka yang sangat tampan itu." Kata Hyun yang baru saja mengambil makanan dan akan mendudukkan dirinya di depan mereka.
"Mana, aku tidak melihatnya." Hana berseri heboh, matanya melihat ke sana kemari.
"Coba lihat, itu dia." Hyun menunjuk Arka yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Oh Tuhan, sungguh sebuah mahakarya Tuhan yang sangat sempurna tanpa cacat." Hana ketika matanya melihat Arka berpakaian santai tapi rapi, kesan wibawanya semakin bertambah.
Yuju, Megan, dan Icha mengikuti arah pandang yang di tunjuk Hyun tadi. Mereka juga sangat takjub dengan pandangan yang menyejukkan matanya itu.
"Sepertinya tuan Arka sedang berbicara dengan orang penting." Hana.
"Iya kamu benar, jika dilihat sekilas saja, pembicaraan mereka sangat formal." Yuju menimpali.
"Aku ingin tahu, kira-kira siapa perempuan beruntung yang akan menjadi istrinya nanti." Hana berbicara random.
Icha yang mendengarkan tadi seketika tersedak makanan di mulutnya, pasalnya orang yang dekat dengan dosen Arka itu sekarang adalah dirinya.
"Hei berhati-hatilah kalau makan, ini minum."Hyun menyodorkan minuman ke arah Icha.
"Kalian ini mau makan ya makan saja, tak usah membicarakan orang lain." Icha menyahut setelah meneguk minumannya.
"Ehmm iya, tapi aku mengidolakan tuan Arka sepertinya." Hana berucap santai sambil melirik ke arah Icha, ingin tahu reaksi Icha seperti apa. Tetapi Icha tetap dalam mode tenang, sepertinya tidak terpengaruh oleh omongan Hana baru saja.
Arka berjalan menghampiri mereka, dengan tatapan yang sangat tajam, wajahnya jarang tersenyum, memiliki kesan yang dingin, tetapi sialnya malah banyak di idolakan kaum hawa.
"Baik tuan, silahkan duduk bergabung dengan kami." Hana sangat antusias dengan kedatangan Arka.
Arka melihat jam di tangannya, lalu berpamitan jika dirinya masih ada hal lain yang perlu di selesaikan.
"Ehmm iya lain kali saja aku akan bergabung dengan kalian,"
"Aku masih ada urusan lain, aku pamit dulu, selamat malam semuanya."
"Cih bagus sekali aktingnya, benar-benar membuatku kesal."
Bukankah ini keinginan Icha, pura-pura tak saling menunjukkan rasa cinta mereka, apa yang salah dengan Arka, dirinya juga sudah melakukan hal sesuai yang diminta oleh Icha. Lalu kenapa sekarang malah Icha rasanya kesal setengah mati melihat Arka santai tanpa menyapanya seperti ini.
"Baik tuan Arka, selamat malam." Hana menjawab sangat ramah, dan yang lainnya hanya mengangguk dan menjawab dengan senyum di wajahnya.
"Oh Tuhan, sungguh baru kali ini aku melihat makhluk paling sempurna," Hyun menghentikan aktivitas makannya sejenak.
Icha jangan di tanya lagi, saat ini pikirannya sedang kacau, ingin menerkam seseorang, tetapi entah kenapa dirinya jadi tak nafsu makan dan hanya di aduk-aduk saja makanan di depannya.
Tetapi hal itu tak di ketahui oleh teman-temannya. Mereka malah sibuk bercerita.
"Ck..awas saja nanti." Batin Icha.
Mereka telah menyelesaikan makan malamnya dengan baik, dan bersiap akan kembali lagi ke kamar hotelnya, tetapi berbeda dengan Icha. Dirinya berpamitan akan membeli sesuatu dan tak perlu di temani.
__ADS_1
Itu karena Icha baru saja membaca pesan singkat Arka untuk menemuinya di dalam kamar hotel yang letaknya tak jauh dari kamarnya.
Icha berjalan santai, lalu mengetuk pintu perlahan. Seseorang di dalamnya membuka pintu dan langsung saja menarik tangannya, hal itu membuatnya kaget setengah mati.
"Kakak apa-apaan sih." Dalam mode ngambek pada Arka.
Bibir cemberut itu malah membuat Arka semakin gemas ingin menciumnya saja. Arka yang sudah sangat merindukan Icha tak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluknya.
"Kenapa hemm?"
Menarik tangan Icha, mendudukkan tubuh Icha di pangkuannya, dan memeluknya erat.
"Kak aku tak bisa bernafas." Icha memegang tangan Arka berusaha mengendurkan pelukannya.
Mata mereka bertatapan, untuk beberapa detik saling mengunci, Arka reflek mencium bibir kekasihnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Awalnya ciuman itu sebuah ciuman biasa, namun lama-lama Arka terhanyut dan menyesap bibir manis milik Icha. Menyesap dan mengeksplore yang ada di dalamnya. Icha yang belum paham diam saja. Arka lebih mendominasi ciumannya. Tangan Icha di arahkan oleh Arka untuk mengalungkan ke arah pundaknya.
"Balas sayang."Bisik Arka dengan suara yang serak.
Sepertinya Arka akan merindukan bibir ini jika jauh. Hingga nafas mereka tersengal. Icha kehabisan nafas dan mengakhiri lebih dulu.
"Bodoh."
"Apa?" Tanya Icha.
"Ambil nafas jika berciuman."
"Apa perlu aku memberikan les private ciuman."
"Itu enak di kamu dan tak enak di aku." Icha membantah.
"Mana ada seperti itu, enak berdua yang ada." Arka
Icha melirik malas padanya, bisa-bisanya Arka memiliki modus baru seperti ini.
"Alasan saja kakak ini,"
"Cium saja sana burung peliharaan kakak." Ucap Icha random.
"Tidak, nanti kekasihku akan mencium sisanya jika aku menciumnya." Arka malah meladeni kegilaan Icha.
"Katakan, kenapa tadi kamu cemberut saja, hemmm?"
Icha diam tak langsung menjawab pertanyaan Arka.
dan
Bersambung
__ADS_1