Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Masih Liburan


__ADS_3

Kali ini mereka benar-benar seperti pasangan model yang di pajang pada sampul majalah. Jika saja mereka menjadi pasangan, pasti akan banyak yang memandang takjub. Saat ini saja Megan memang mengakui jika mereka sangat cocok.


Tetapi hal itu rasanya tidak mungkin jika Megan mendengar cerita Icha kalau Arka sudah memiliki pasangan. Jika saja Megan tau siapa pacar Arka, mungkin Megan akan membuat jebakan untuk mereka berdua agar putus hubungan. Terdengar konyol bukan. Tetapi itulah Megan yang sebelas dua belas dengan Icha, sehingga mereka sangat cocok berteman.


Beberapa kali mereka mengulang pose foto, sehingga Megan terlihat seperti fotografernya saja. Yang siap memfoto modelnya dengan berbagai pose dan gaya.


"Coba sini aku lihat, bagaimana hasilnya." Icha berjalan mendekat ke arah Megan.


"Bagaimana, ingin mengulang pose bergaya lagi, tawar Megan."


"Tidak ini sepertinya hasil yang kedua, kalau aku lihat-lihat semua bagus, ternyata kamu jago memotret juga."


Icha memuji hasil hasil gambar yang diambil Megan baru saja. Sedangkan dosen Arka seperti biasa dirinya menunggu dua orang wanita cantik yang terkadang terlihat dewasa, terkadang bertengkar dengan hal-hal sepele.


Mereka melanjutkan jalan-jalannya di sekitar area Trafalgar Square. Disana menyimpan banyak sejarah, pada zaman dulu.


Dilanjutkan perjalanan ke dua yaitu Buckingham Palace yang merupakan kediaman resmi dari Ratu Inggris yang berada di London. Istana ini menjadi sangat penting dalam berbagai acara pertemuan seperti penyambutan tamu kenegaraan, dan sebagai tempat kunjungan pariwisata. Bangunan ini aslinya didesain oleh Edward Blore dan diselesaikan pada tahun 1850, akan tetapi telah didesain ulang oleh Sir Aston Webb pada tahun 1913.


Di bagian depan bangunan ini yakni terdapat taman yang dihiasi bunga yang sangat indah. Disana juga banyak pengunjung dari berbagai negara. Halaman istana yang sangat luas deng rumput-rumput taman hijau menambah kesan segar jika dipandang mata.


Icha yang tidak begitu paham mengenai istana Inggris dan tempat tinggalnya menanyakan banyak hal pada Arka. Sedikit banyak tentu saja Arka menjelaskan. Mengingat dirinya lumayan lama tinggal disana, dan beberapa kali dirinya di undang oleh ratu Inggris saat mengadakan even acara-acara besar.


Bagaimana tidak, Arka merupakan jajaran nomor satu pengusaha terkaya di Inggris pada tahun ini. Beberapa kali dirinya menjadi sampul majalah Weibo, Forbes dan masih banyak lagi.


Dirinya juga sering wara wiri di televisi Nasional. Pernah juga dirinya diundang secara khusus oleh ratu, mengenai perkembangan proyek barunya saat dirinya mendirikan perusahaan teknologi di sana.


Sehingga tak heran jika Arka mengetahui banyak hal tentang seputar istana, adat saat bertamu di depan ratu, dan kehidupan keluarga kerajaan Inggris. Tunggu-tunggu, ini kenapa Icha jadi merasakan dejavu setelah mendengarkan cerita dari seputar keluarga kerajaan Inggris.


Mungkin hanya khayalannya saja, Icha dan Megan mendengarkan kuliah khusus buat mereka berdua seputar pembahasan Istana Buckingham Palace.


Sepertinya sangat menarik perhatian Icha dan Megan sehingga Icha tak menyela sama sekali, apa lagi Megan.


"Wahh keren sekali, ternyata ratu sudah menjabat saat masih muda,"


"Jika aku berada di posisi ratu saat ini, aku tak akan mau, banyak peraturan hidup disana, dan itu sangat membosankan."


"Ehhh tapi ada yang menarik juga sih ketika tour di berbagai negara." Kata Icha membayangkan tour negara saja.


"Kau ini hanya tour saja yang kau pikirkan, kamu harus memikirkan rakyatmu, tatanan negaramu, jangan-jangan jika kamu menjadi ratu akan terus menerus tour keliling dunia." Megan menyela.


Icha nyengir kuda tanpa beban. "Eh tapi kan sudah ada banyak staf kerajaan yang akan mengerjakan tugas negara."


Arka menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya ini bocah berpikir sesantai ini. Mereka beristirahat sejenak, mencari tempat makan siang di sekitar area sana.


Hingga berjalan lumayan sedikit energi, barulah mereka bertemu rumah makan, Icha sepertinya sudah sangat kelaparan. Sehingga tenaganya untuk berjalan sangat lambat. Megan memegangi tangannya dan menarik, agar jalanya tak seperti siput yang sangat lambat.


"Ini masih jauh tidak sihh, aku sudah sangat kelaparan." Keluhnya.


"Ck...kau ini, cita-cita ingin jalan-jalan keliling dunia, tetapi baru jalan sini situ saja sudah tak kuat, payah sekali." Megan mencibir.


"Apa mau aku gendong." Tawar dosen Arka menunjuk punggungnya.


"Hahh... tawaran yang sangat menggiurkan." Megan malah mengompori.


"Bolehlah, aku mau, tapi aku juga malu." Icha terus terang juga mengakui jika dirinya sangat malu.


"Sudahlah sana tak usah malu- malu seperti itu, ini seperti bukan dirimu tahu." Megan.


Karena adanya dukungan dari Megan, tentu saja Icha langsung naik ke punggung Arka, tadi Icha memang hanya makan sedikit saking senangnya akan berkeliling wisata kota London. Sehingga wajar saja jika saat ini tenaganya sudah habis.


Padahal perjalan ini tidak begitu jauh, Megan membawakan barang-barang Icha, jika begini seperti Megan yang menjadi asisten mereka.


"Tubuhmu ini sangat ringan sekali, apa kamu tak pernah makan." Tanya dosen Arka meledek.


Plakkkk....


Tamparan keras dipundak Arka, terasa sangat panas. Hingga pemilik bahu itu reflek berteriak.


"Hey kau ini memukul orang tak kira-kira, bagaimana jika saat aku kaget tadi tiba-tiba menjatuhkanmu."


"Itu salah kakak sendiri, kenapa meledekku." Rupanya Icha mencari pembelaan.


"Iya kan Megan."


Megan yang berjalan dibelakang mereka, tentu saja tak tahu menahu soal masalah mereka. Kenapa dengan Icha yang tiba-tiba malah berteriak padannya.


"Haaah kenapa memang."


Icha malah memelototinya, seolah iyakan saja jangan tanya alasannya kenapa, apalagi membantah.


"Ehmm iya." Megan menjawab dengan bingung.


"Apa." Tanya Arka berbalik.

__ADS_1


"Ehmmm aku tak tahu urusan kalian." Megan tersenyum canggung.


Tak berapa lama dari perdebatan mereka, akhirnya sampai juga. Arka menurunkan Icha di depan restauran itu. Mereka mencari tempat duduk yang nyaman, dan disinilah ditempat didekat dengan kaca, sehingga pemandangan akan terlihat jelas.


Pelayan datang dengan membawa buku menu, dan meletakkan kearah meja. Tentu saja Icha yang pertama memilih menu. Dirinya memilih menu steak tenderloin, kentang goreng, milk shake, dan fruity just.


Megan yang mendengarkan banyak sekali menu yang dipilih Icha itu mencibir.


"Ck...sepertinya kamu beneran sangat kelaparan, aku kira hanya pura-pura saja." Megan.


"Tak apa, kalian makanlah yang banyak, pilihlah menu yang kamu suka juga Megan, dan kamu Icha makan yang lebih banyak agar tubuhmu ini sedikit ada dagingnya."


"Hey ini tubuh langsing tau, idaman semua wanita, bagaimana sih kakak ini tidak bisa membedakan mana yang langsing dan bukan sih," kesalnya.


"Tak usah marah-marah terus, nanti kamu akan cepat tua seperti nenek-nenek loh." Megan memperingatkan Icha yang mengomel tak jelas.


"Ehhh biarkan saja, sekarang ini kan canggih, ada banyak berbagai make up."


Memang Megan tak sekaya dirinya, Megan hanya hidup sederhana, dengan singel mom, tidak kekurangan dan tidak kelebihan. Ibunya merupakan buruh pabrik. Harapan satu-satunya ibunya hanya Megan. Sehingga ibunya mengupayakan berbagai cara agar kebutuhan Megan tercukupi.


Termasuk memasukkan Megan di sekolah-sekolah elit, dengan harapan agar Megan dapat belajar dengan baik, dan suatu hari nanti bisa mempermudah putrinya untuk mencari pekerjaan. Hanya itu harapan sederhana ibunya.


Ayahnya telah meninggal sejak dirinya duduk disekolah menengah pertama.


***


.


.


Acara makan siang itu di isi oleh mereka dengan perdebatan dan kadang lelucon, tentu saja dosen Arka sebagai penengahnya.


Benar-benar, seperti momong bocah kembar yang sering beradu kepintaran.


Seharian ini mereka mengelilingi are istana Buckingham Palace. Tentu saja melihat dari luarnya, tetapi suasana disana udaranya dingin, tak mendung dan tak panas.


Hingga malam harinya Mereka mencari penginapan terdekat disana. Como Metropolitan London disinilah mereka menginap. Per malam kisaran tiga belas juta.


Arka akan menempati kamar sendirian, sedangkan Megan satau kamar dengan Arka. Kali ini Icha dan Megan mendapatkan kamar yang letaknya sangat strategis.


Mengarah langsung pada keindahan kota London. Icha yang sudah sangat lelah merebahkan tubuhnya. Didalam satu kamar itu terdapat dua ranjang king size, kamar mandi dengan fasilitas mewah seperti saat dirumah.


"Hahhh capeknya diriku." Tak berapa lama terdengar dengkuran halus. Pertanda Icha sudah terlelap.


"Padahal badannya belum mandi, dasar anak yang malas." Megan bergumam pelan.


Dirinya memasuki kamar mandi mewah itu, dan berendam disana hingga sejam lamanya. Mungkin sama-sama lelahnya juga dengan apa yang dirasakan Icha tadi.


Ini sudah jam waktunya makan malam. Arka bertanya-tanya. Kenapa bocah ini tak datang mengganggunya. Baiklah Arka akan mencoba mengiriminya pesan singkat kali ini.


Satu menit...lima menit....delapan menit...


Melihat layar ponselnya bolak balik berharap mendapatkan balasan. Tetapi tak kunjung mendapatkan balasan juga.


Dirinya menimbang-nimbang, apakah harus menelponnya atau menunggunya sejam lagi. Padahal dirinya sudah siap dari tadi, untuk berjaga-jaga dikala dirinya sedang berendam tiba-tiba ada gebrakan dari luar.


"Kemana perginya bocah ini." Arka malah membolak balikan ponselnya. Lalu menaruh kembali diatas meja.


Arka malah duduk di sofa didalam kamar hotel itu, merebahkan dirinya disana.


Sedangkan Icha terbangun sudah hampir tengah malam. Jika bukan karena perutnya lapar juga dirinya mungkin akan tertidur hingga esuk hari.


"Jam berapa ini," gumamnya.


Matanya menyipit menyesuaikan cahaya lampu. Sedangkan Megan sudah terlelap di ranjang sebelahnya.


"Rupanya aku ketiduran lama sekali, makanya perutku terasa lapar." Memegangi perutnya yang keroncongan. Tetapi dirinya ingat, jika tadi belum mandi.


Sehingga dirinya pergi ke kamar mandi, membersihkan diri terlebih dahulu, berendam dengan air hangat yang sudah di tetesi aroma terapi terlebih dahulu.


Otot-otot pada tubuhnya yang semula kaku menjadi lebih rileks. Kemudian dirinya berdandan menggunakan Mid Length Short dan kaos oblong yang kebesaran.


Kemudian pergi ke kamar yang berseberangan dan menekan bel terus menerus.


Arka membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya lampu kamar itu. Mungkin juga dirinya terganggu dengan suara bel yang mengganggu tidurnya secara terus menerus.


Ceklek....


Pintu kamar hotel terbuka, menampakkan wajah Icha yang lebih segar.


"Kak aku lapar." Adunya.


"Memangnya dari tadi kamu kemana saja, tak nampak batang hidungmu."

__ADS_1


"Yahh aku ketiduran, kakak sendiri kenapa juga tak membangunkan aku."


"Bocah nakal, ditanya malah balik bertanya."


"Ya... kan kakak bisa saja datang ke kamarku, letaknya juga diseberang aja."


"Aku kan sudah mengirim pesan singkat."


"Coba mana ponselmu."


Tangannya menengadah meminta ponsel Icha. Sedangkan Icha lupa membawa ponsel dan dimana dirinya terakhir kali menaruhnya.


"Hehehe aku tidak bawa ponsel."


"Ck. kau ini, lalu dimana teman kamu itu?" Tanya Arka yang tak melihat Megan Sama sekali.


"Dia tidur, aku tak mau mengganggunya, kita bungkuskan saja nanti."


"Sudah ayo."


Icha menarik tangan Arka untuk mengikutinya. Dirinya dan dosen Arka akan ke restauran hotel ini. Siapa tahu masih buka. Mengingat saat ini yang hampir saja tengah malam.


"Benar seperti dugaanku." Kata Icha


"Kenapa dengan dugaanmu?"


"Ya masih ramai walaupun ini sudah tengah malam."


"Ya jelas lah, ini kan restauran yang buka dua puluh empat jam." Arka


"Benarkah, kenapa kakak tau, memangnya kakak pernah kesini, lalu kapan?"


"Aduhhh kakak ini sakit tahu."


Tiba-tiba saja Arka menoyor kepalanya, yang bertanya seperti wartawan saja.


"Kamu ini ya, kebiasaan, bertanya seperti mau neror saja."


"Hehe ya kan aku penasaran saja, kapan memangnya kak?" Tanya Icha mengulang, sambil berjalan memasuki area restauran itu dan mencari tempat duduk yang nyaman.


"Sebentar, duduk dulu." Perintah Arka.


Arka melambaikan tangan memanggil pelayan untuk menghampirinya, dirinya memesan menu yang ada di restauran itu, lalu pelayan laki-laki yang shif malam itu pergi mengambil pesanan mereka.


"Aku beberapa kali kesini, jadi kamu tak usah heran begitu."


Icha nyengir saja, lalu tak berapa lama pelayan datang. Mereka makan dengan banyak bercerita.


Selesai makan mereka beristirahat di kamarnya masing-masing. Icha tadi sudah membungkuskan makanan untuk Megan dan meletakkan di meja, untuk berjaga-jaga jika Megan nanti terbangun dan lapar.


Icha mencari-cari dimana dirinya meletakkan ponsel. Disana dirinya mengingat jika dirinya pernah memiliki perhiasan yang sepasang dengan anting dan kalung, lalu kemana. Ahh mungkin juga lupa menaruhnya pikirnya.


Icha merebahkan dirinya sambil bermain ponsel. Dirinya berkirim pesan pada sahabatnya.


"Yuju aku kangen masakan buatanmu, jika aku kembali tolong buatkan aku nasi goreng iya."


"Kau tak usah bersedih karena nasi goreng nona, cepatlah kembali, maka nasi goreng akan siap menyambutmu." Kata Yuju disertai emoticon ketawa.


"Tunggu aku, aku akan menyelesaikan urusanku di sini secepatnya, lalu aku akan terbang menyusul kalian."


"Baiklah kami tunggu,"


"Dimana Hana dan Hyun." Tanyanya.


"Mereka sedang bermain bersama Muisa."


"Sampaikan salamku pada mereka, jika aku sangat kangen."


"Baiklah, nanti akan aku sampaikan." Yuju.


"Aku akhiri dulu, karena aku sangat mengantuk."


Pesan terakhirnya, namun dirinya sangat berat meninggalkan sahabatnya Megan. Beberapa kali dirinya melihat Megan yang sudah terlelap itu. Sepertinya dirinya membutuhkan orang seperti Megan yang bisa mengimbangi dirinya.


Megan sudah seperti saudara perempuannya. Kemana saja dirinya akan bersama Megan, Bahkan Megan juga beberapa kali menginap di apartemennya.


Begitu pula sebaliknya, terkadang dirinya yang menginap dirumah Megan. Apalagi dirinya mengenal ibunya Megan. Orang yang sangat sederhana dan apa adanya tanpa banyak bergaya.


dan


bersambung


Habis ini mendekati konflik

__ADS_1


__ADS_2