
Sudah minggu sudah sejak Arka mengunjungi agensi WG dimana yang menaungi Icha.
Nanti malam akan ada event besar, dan Arka akan hadir di sana, dirinya akan mengajak Yara untuk menghadiri event besar ini.
"Apa kamu sudah siap untuk nanti malam." Tanya Megan yang saat ini sedang merapikan barang-barangnya Icha.
"Ehmmm iya,"
"Baiklah sekarang istirahatlah, persiapkan dirimu untuk nanti malam."
"Baiklah ma, kamu ini sudah seperti orang tua saja." Icha meledek Megan yang memberinya perintah seperti anak kecil.
"Iya aku hanya mengkhawatirkan kamu saja, kau menurutlah."
Icha mencebik melirik Megan sekilas, sepertinya tak ada yang mengetahui jika nanti malam Arka juga hadir di sana.
Saat ini mereka sedang berdua saja berada di kamar untuk melakukan persiapan, sedangkan teman-temannya yang lainnya tadi akan pergi sebentar ke supermarket bawah.
"Menurutmu apa acara nanti malam akan meriah?" Tanya Icha tiba-tiba masih fokus dengan ponselnya dan taj mengalihkan pandangannya dari sana.
"Ehmm iya, karena kalian memiliki banyak sekali fans, tentu saja acara akan berjalan meriah." Megan.
"Karena ini event penting agensi, menurutmu siapa saja yang akan hadir di sana kali ini?"
"Iya mana aku tahu, aku tak semuanya mengenal mereka."
"Sudahlah kamu jangan memikirkan yang tidak-tidak. Tidurlah sana jangan main ponsel saja."
Ponsel yang berada digenggaman Icha itu berhasil Megan rebut, dan ia simpan.
Tiba waktunya sore hari, para artis yang akan tampil nanti malam sudah berada di ruangan make up artis untuk dirias secantik mungkin.
Arka sudah tiba lebih cepat dengan Yara, Yara menggandeng mesra tangan Arka dan berjalan beriringan di samping Arka.
Megan yang berdiri di dekat pintu masuk mengetahui hal itu dan memperhatikan dengan seksama.
"Dosen Arka, siapa wanita yang bersamanya tadi, apakah perempuan sewaan untuk menemaninya pesta nanti malam."
"Aku rasa tidak, pandangannya kepada dosen Arka juga sangat berbeda." Megan bergumam lirih dan menaruh curiga dengan hal ini.
"Oh Tuhan, semoga Icha tak melihat hal ini."
"Melihat apa?" Hana yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya mengangetkan dirinya.
"Hei kau ini membuatku jantungan saja." Megan memegangi dadanya.
"Habisnya kamu berbicara sendiri, siapa suruh." Hana.
"Ahh sudahlah aku mau masuk dulu." Megan berlalu dari hadapan Hana untuk menghindari banyak pertanyaan.
"Aneh, apa yang dia bicarakan tadi, Icha bertemu...bertemu siapa memangnya?" Hana menggelengkan kepalanya dan meneruskan kembali niat awalnya.
Acara malam ini dirayakan dengan sangat meriah, banyak artis-artis yang hadir di sana, dari kalangan model, penyanyi bahkan artis drama.
Tamu undangan juga banyak yang dihadirkan dari berbagai kalangan elit, dan duduk di kursi Vip.
"Kenapa aku merasa tak nyaman." Icha berbisik pada Megan.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Megan balik.
"Aku merasa ada seseorang yang terus memperhatikan aku, tapi aku tak tahu siapa."
"Sudahlah jangan terlalu kamu pikirkan, namanya saja artis tentu saja kamu banyak memiliki fans."
"Baiklah aku pamit ke kamar mandi."
"Apa perlu aku antar."
"Tidak, ini sangat ramai aku tak apa pergi ke belakang sendiri."
Icha berjalan ke belakang, tapi dia merasa ada seseorang yang membuntutinya, ketika dirinya menoleh ke belakang juga tak ada orang di sana.
Lalu kembali lagi meneruskan perjalanannya, dirinya berjalan satu langkah dan ada tangan yang akan membungkamnya. Tetapi berhasil ia singkirkan tangan itu dan diplintir kebelakang.
Icha sangat terkejut, "Kamu..?"
"Apa kamu berniat mencelakai aku."
Lalu Icha membuang kain hitam dan mendorong wanita itu kebelakang hingga terpental jatuh.
"Apa niat kamu sebenarnya."
"Jika berniat ingin mencelakai aku, kamu salah orang."
Wanita itu tertawa terbahak-bahak dan bangkit lagi.
"Dasar perempuan murahan."
"Kamu jangan sembarang berbicara jika tak ingin mulut manismu itu kenapa-kenapa." Icha sudah sangat geram. Ternyata wanita yang bergelar sepupu Arka itu bukanlah wanita baik-baik. Nyatanya hari ini akan mencelakai dirinya.
"Cieh aku pikir aku takut dengan ancamanmu nona."
"Ohh aku tahu, apa jangan-jangan selama ini kamulah orangnya yang berusaha membuat hubunganku dan dosen Arka retak."
"Hahaha rupanya kamu sangat cerdas nona, kamu bisa menebak lebih cepat dari perkiraanku." Yara berteriak dengan keras terdengar sangat sombong kata yang keluar dari mulutnya.
"Apa motifmu melakukan ini semua, beginilah watak sepupu dosen Arka yang sangat di agungkan. Memiliki hati yang keji." Icha mencibir melirik sekilas pada Yara.
"Tentu saja aku tak akan rela kak Arka di dekati oleh wanita manapun, dia milikku."
"Termasuk kamu, kamu adalah salah satu penghalangku, dan akan aku singkirkan sebelum kamu bisa memilikinya nona." Lalu Yara lebih dulu pergi dari sana meninggalkan Icha sendirian.
Icha terdiam setelah kepergian Yara, ternyata benar yang di bicarakan Megan minggu lalu. Jika dirinya putus karena salah paham. Percuma saja jika ia menjelaskan pada dosen Arka.
Tetapi jika dirinya ditindas seperti ini sudah pasti tak akan terima, seketika itu ide liciknya muncul.
"Hei apa kamu sudah selesai ke belakang, kenapa lama sekali." Megan yang tiba-tiba muncul menyusulnya.
Karena merasa lama sekali Icha tak kembali. Sehingga ia berinisiatif kebelakang.
"Belum, sudahlah tunggu aku di depan."
"Ehmm iya cepatlah."
"Sepertinya telah terjadi sesuatu padanya." Ungkap Megan lirih.
__ADS_1
"Katakan apa yang terjadi?" Megan langsung mencecarnya begitu Icha keluar dari ruangan sana.
"Apa?"
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu."
"Ehmmm ya baiklah akan aku ceritakan padamu nanti saja ketika di asrama."
"Baiklah aku tunggu."
"Sekarang ayo kita kembali lagi, aku rasa sebentar lagi akan naik panggung "
Megan mengejar langkah Icha yang tergesa, mengikutinya dari belakang.
Ternyata benar, kini tiba gilirannya girl gruop yang tampil ke depan.
Arka yang duduk paling depan tentu saja melihat gerak gerik Icha dengan jelas. Kursi bagian penonton dimatikan lampunya. Fokus lampu hanya pada artis yang berada di atas panggung, Yara yang melihatnya terasa terbakar api cemburu.
"Kak apa menariknya mereka." Yara melihat tak suka.
Arka hanya diam saja tak menanggapi api yang di ucapkan oleh Yara. "Awas saja nanti aku akan menyingkirkan wanita itu." Tangan Yara mengepal dan giginya gemelutuk.
Hal itu tidak diketahui oleh Arka yang pandangannya fokus ke depan. Arka memegang dadanya, detak jantung masih sama seperti dulu, berdetak lebih cepat jika bertemu Icha.
Begini saja sudah membuatnya bahagia, setelah Icha turun dari panggung mereka berjalan ke belakang, untuk berganti pakaian, sekilas dirinya menatap Arka ketika tidak sengaja menoleh di kursi Vip.
Lalu menoleh sekali lagi memastikan pandangannya, tidak sengaja pandangan mereka saling bertemu dan terkunci beberapa saat. Lalu Icha yang memutuskan lebih dulu pandangannya dan berjalan ke belakang.
Icha tidak mempedulikan hal itu lagi, ia akan fokus dengan karirnya. Tetapi tetap saja karena pertemuan tadi mengganggu pikirannya, hal itu membuatnya tak fokus ketika dirinya sedang diajak bicara Megan.
"Icha kamu ini memikirkan apa sih?" Tanya Megan yang mengajaknya berbicara tapi tak mendapatkan respon sama sekali."
"Hemm apa kamu bicara apa?"
"Dari tadi kamu bengong saja, apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, kamu tanya apa tadi aku tak dengar."
"Jelas saja tak dengar, orang dirimu asyik melamun."
"Terserah kau saja, aku sangat lapar ambilkan aku makanan, tolong."
"Yahh kamu ini, habis ini besuk kamu harus olahraga, dari kemaren kerjaanmu hanya makan saja."
"Ehh ini enak sekali." Icha tak menghiraukan ucapan Megan, dan melahap makanannya.
"Ini sepertinya kiriman dari seseorang." Hyun yang mengamati makanan itu.
"Iya, ini kan makanan kesukaan Icha, apa iya fans Icha yang mengirimnya." Hana menyahut.
"Bisa jadi seperti itu." Yuju sambil melahap makanan yang baru saja ia ambil ditangannya.
"Makanlah sepuas kalian sebelum riasan kalian dibenarkan." Megan.
"Tentu saja." Yuju menjawab santai.
"Selera fans Icha memang tinggi." Hana.
__ADS_1
Makanan yang dikirimkan pada mereka adalah...
Bersambung