Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Dia yang Akan Menikah


__ADS_3

Malam ini Icha tidak bisa tidur, walaupun sudah berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi yang ada hanya dirinya berpindah-pindah posisi, berguling kesana kemari.


"Oh Tuhan, aku rasa ini sudah lewat tengah malam, tapi kenapa baru jam sebelas, huh dan aku tak bisa memejamkan mataku." Icha bergumam dengan kesal.


"Sepertinya aku perlu menenangkan diri."


Mendengar kabar jika Arka akan segera menikah membuat pikirannya dipenuhi wajah Arka.


"Kamu bodoh Icha, mudah sekali terpengaruh ucapan orang." Icha menggelengkan kepalanya, berbicara pada dirinya sendiri.


Lama ia berguling kesana kemari, akhirnya bangkit dari tidurnya dan turun, berjalan perlahan menuju balkon kamarnya.


Sambil membawa snack tadi yang ia beli di cafe hotel itu. "Ini sudah hampir tengah malam, kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Alex tiba-tiba mengagetkan dirinya yang baru saja akan menyenderkan punggungnya ketika duduk.


"Kamu, aku pikir ada hantu di ruanganku ini." ucap Icha asal.


"Kau mengataiku hantu?" Alex berdiri menghadap ke arahnya, dan menatapnya tajam.


"Ehmm bukan itu yang aku katakan, maksudku aku berfikir seperti itu." Icha berkilah, berpura-pura melihat ke arah yang lain.


"Itu sama saja."


"Jelas saja beda, sama apanya." Icha melihat ke arahnya dan memandangnya tak kalah tajam.


"Perempuan memang selalu benar, dan laki-laki selalu salah."


"Itu kamu yang bilang, bukan perempuan tahu." Icha meneruskan makan keripik kentang yang ada di tangannya, dan menanggapi Alex dengan cuek.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya balik Icha melirik Alex judes.


"Aku sedang mencari udara segar."


"Ck, udara segar itu di pagi hari,bukan malam hari." Icha berdecak malas mendengarnya saja.


"Anda tak tahu nona, jika di hadapanku ini ada apa, tentu saja sedang mengerjakan sesuatu." Alex memperlihatkan leptop dan setumpuk kertas dihadapannya. Pertanda ia sedang mengerjakan sesuatu.


"Ehhm iya aku tahu, apa kamu sedang menulis surat cinta untuk kekasihmu!" ledek Icha lagi.


"Aku tak memiliki kekasih, bagaimana kalau kamu saja yang ku jadikan kekasih di waktu nanti pernikahan Arka." goda Alex asal.


"Ehhh, eh enak saja, cari saja sana teman-teman kamu sendiri, atau bawahan kamu, pasti cantik-cantik kan."


"Dasar bos tak tahu diri." Icha ngedumel di akhir kalimatnya, yang ia tahu Alex adalah bosnya dan Arka adalah asistennya. Akibat kebohongan yang lalu jadi berlanjut sampai detik ini.

__ADS_1


Sedangkan Alex yang mendengarkan kalimat Icha barusan tak mengerti, dirinya diam sejenak mencerna setiap ucapan Icha.


"Bos tak tahu diri?" ulang Alex setelah dirinya ngeh dengan ucapan Icha barusan.


"Iya, tentu saja, apa lagi memangnya, orang lewat pinggir jalan saja mau dijadikan pacar."


Tringgg ....


Suara dering ponsel Alex menyala, "Jangan sampai iya kamu seperti asisten kamu itu, jadi pengkhianat sungguhan, tak tahu malu sekali, aku jadi ingin menonjoknya saja." Icha masih saja nyerocos tiada henti, hingga dirinya tak tahu jika Alex sudah mengangkat telponnya.


Tapi karena lupa jika saat ini ia sedang berhadapan dengan siapa, setelah mengangkatnya mendengarkan Icha selesai bicara, hingga suara Icha yang terdengar melengking itu bisa di dengar oleh orang yang berada di seberang telepon.


"Sudah bicaranya," suara Alex terdengar lembut dan penuh perhatian jika di dengarkan kali ini.


"Kenapa diam, jika sudah lanjutkan saja makanmu." Alex menimpali lagi. Tapi Icha hanya cuek saja.


"Lex, siapa yang saat ini sedang bersamamu?"


"Ehmm Icha ." Alex berbicara jujur, memang benar kan yang sedang bersamanya saat ini Icha bukan orang lain.


"Memangnya kamu saat ini dimana?"


"Dikamar mau dimana lagi?"


"Di kamar, dengan seorang perempuan?" ulang Arka, mengulangi lagi pertanyaanya.


"Apa kamu sedang berbuat mesum?"


"Saya sedang mengerjakan tugas yang kau berikan tadi sore, dan ini belum selesai."


"Lalu kenapa sekarang kamu bisa bersamanya?"


"Aku rasa ini bukan urusan anda kamu, bukankah kau tidak ada hubungan lagi dengan nona Icha." skakmat Alex sangat tepat sasaran.


Di seberang sana Arka terdiam, benar juga apa yang dikatakan oleh Alex, lalu kenapa ia merasa sakit hati dan tak dapat menahan rasa cemburunya.


"Hallo Arka, apa kau masih ada di sana?"


"Ada apa kau menelponku malam-malam begini." walaupun ada selisih waktu, tapi Arka tak mengenal tempat dan juga waktu ketika sedang ada kepentingan dengan Alex.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu, jika pernikahanku akan dipercepat dua hari lagi, "


"Wahh bagus dong, jika pernikahan kalian akan dipercepat, sudahlah nikmati saja."

__ADS_1


"Aku pasti akan kembali di saat acaramu diadakan."


"Pekerjaanku disini masih banyak, tapi akan aku usahakan selesai tepat waktu, atau kalau bisa lebih cepat dari hari yang sudah di tentukan."


"Supaya aku bisa menghadiri pernikahan kalian, dan memberikan ucapan selamat."


"Ehmm iya, tentu saja, jangan lupa bawa juga pasanganmu nanti di acara pernikahan." Arka mengucapkan dengan perasaan nyeri di dadanya. Rasanya ia ingin lari saja dari acara yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya.


Orang tua Vaya merupakan rekan bisnis ayahnya, sehingga mereka berinisiatif menjodohkan anak-anak mereka. Dalam hal ini Arka bahkan tak menyetujuinya, bisa dibilang paksaan dari kedua orang tuanya.


"Baiklah, aku tutup saja teleponnya, aku sedang menyelesaikan pekerjaanku." ucap Alex, dan mematikan ponselnya sepihak.


Icha yang sedari tadi mencuri dengar, ia merasa masih ada getaran dihatinya kala nama itu disebut, dan masih ada rasa lain dihatinya. Icha memegang dadanya yang terasa nyeri.


"Apa kamu masih sibuk?" tanya Icha.


Alex lupa jika saat ini sedang bersama Icha, walaupun beda balkon, tapi karena jaraknya yang sangat dekat memudahkan mereka untuk berkomunikasi.


"Ehhm iya tinggal sedikit lagi,"


"Kenapa?" tanya Alex mendongak dibalik pagar besi di balkon itu.


"Baiklah kalau kamu sedang sibuk, aku juga sudah mengantuk, aku rasa mataku sudah lengket dan ingin ku pejamkan." Icha berlalu, membuang sampah ditangannya dan menutup pintu balkon dengan rapat.


Sedangkan Alex hanya mengamati Icha, karena belum sempat dirinya membalas ucapan Icha, si empunya sudah berlalu memasuki kamarnya kembali hingga tak keliahatan lagi punggungnya.


"Ada apa dengan diriku?"


"Mereka yang ingin menikah, itu juga hak mereka, Icha kau harus tahu siapa dirimu." Icha menyemangati dirinya sendiri.


"Air mata sialan ini, kenapa kamu keluar, kau tak pantas menangisinya." Icha mengusap air matanya dengan kasar, kala cairan bening itu turun melewati pipi halusnya tanpa permisi.


Icha merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size itu, dan berguling menelungkupkan wajahnya, tak dapat di sembunyikan kesedihan dihatinya. Untuk beberapa saat pecah juga tangis pilu yang tak dapat ia tahan lagi.


"Aku sudah berusaha mendampinginya, tapi dia tak menghargaiku,"


"Setelah dia mencampakkan aku, sekarang dia akan menikah dengan orang lain."


"Mommy, daddy, kakak Icha barus bagaimana?"


Icha berceloteh kemana-mana kala dirinya sedang menumpahkan air mata kesedihannya.


dan

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2