
"Oh Tuhan, apa jangan-jangan Jenifer juga ikutan shock melihat kegiatan mereka, mana aku lupa lagi status mereka apa."
"Bodoh... bodoh...bodoh kamu Megan." memukul kepalanya sendiri sambil berjalan mondar mandir tidak jelas.
"Kau itu membuat kepalaku pusing saja, bisa tidak tenang sebentar saja." Frans sang bodyguard terlihat pusing sendiri melihat kebingungan Megan seperti itu.
"Ssttt diamlah, tidak tahu apa kalau aku sedang bingung."
"Ck, aku tidak bertanya, dan tidak mau tahu."
"Duduklah, itu ada tempat duduk kosong." Frans menunjuk lewat isyarat matanya, masih ad tempat duduk kosong yang terbuat dari pohon bambu itu.
"Semoga saja kegiatan mereka segera berakhir." Megan bergumam, mengatupkan tangannya di dada.
"Ehhh kau lihatlah Jenifer, sepertinya dia mengumpat itu." Megan kembali membuat kehebohan. Kala terlihat dari kejauhan nampaknya Arka sedang berusaha dihentikan oleh Jenifer. Namun tidak lantas membuat Arka menuruti kemauan Jenifer.
"Sudahlah jangan banyak ingin tahu, jika tidak ingin hidupmu pendek umur." ucap Frans ketus.
"Aku kan hanya menebak asal saja, kenapa jawabanmu begitu ketus padaku." kesal Megan mendudukkan tubuhnya di kursi tunggal yang terbuat dari pohon bambu itu.
***
"Sayang bangunlah, ini makanannya sudah datang," sekali, dua kali Arka membangunkan dengan mencium kening istrinya, namun sama sekali tidak terusik. Hingga membuat Arka tidak tega jika harus memaksa sesuai kehendaknya. Terpaksa Arka meneruskan kembali pekerjaannya, disini memang susah sinyal, jika tidak berjalan sekitar satu setengah kilo meter menuju desa sebelah, barulah sinyal lumayan tersambung.
Rencananya diarea ini akan dibuat pertambangan emas, intan dan juga batu permata, karena memang sdm yang memadai, dan tidak jauh dari pertambangan akan dibangun sebuah mes penginapan untuk para pegawai tinggal, walaupun warga desa setempat sempat mendemo mereka, dan menolak adanya pertambangan.
Ini adalah hari kedua, sepertinya pekerjaannya masih belum rampung, hingga waktu yang tidak ditentukan. Padahal targetnya selesai meninjau hanya tiga hari saja paling lama, tapi ini apa, bahkan sehari dua hari saja sepertinya tidak cukup.
Arka harus berusaha keras, agar dirinya ikut pulang bersama dengan Icha istrinya dan kawan-kawannya. Bukan kawan-kawannya, tetapi Megan dan bodyguard kirimannya.
Sore semakin menghampiri, semburat merah dari ufuk barat semakin kentara, sayup-sayup dan kicau burung dari arah hutan yang baru dibabat sedikit itu semakin terdengar. Namun nampaknya ada yang aneh.
Icha mengerjapkan matanya perlahan, tubuhnya terasa amat lelah akibat pergumulan panas waktu siang tadi. "Jam berapa ini?" gumam Icha pada dirinya sendiri.
Arka yang mendengarkan suara samar-samar istrinya meletakkan kembali MacBook ditangannya, lalu mendongak menatap wajah kusut istrinya.
"Sayang kau sudah bangun?" tanya Arka.
"Ehmmm jam berapa ini?"
"Ini sudah sore, ayo bangunlah, bersihkan dirimu, lalu berganti pakaian, dan kau bisa makan."
__ADS_1
"Ehhhmm dimana letak kamar mandinya?" sambil bangkit dari tidurnya, memunguti kembali pakaiannya tadi berserak kemana-mana.
"Ada tidak jauh, ayo aku antar."
"Ini sudah jam lima lebih iya, baiklah ayo." bangkit dan mengikuti kemana arah suaminya melangkah.
"Nah disini, maaf ya sayang, karena disini belum ada bangunan, maka masih seadanya fasilitas yang bisa digunakan."
"Tidak apa-apa, tapi kau harus menungguku disini, tidak boleh kemana-mana."
"Baiklah."
Sesuai perintah Icha, Arka duduk didepan bilik kamar mandi yang terbuat dari spandek pula. Sambil fokusnya ke arah ponsel pintarnya.
"Kenapa mandinya cepat sekali?" tanya Arka yang tidak sampai sepuluh menit istrinya sudah keluar lagi.
"Memang mau berapa lama?"
"Ayo..." menarik lengan Arka untuk berjalan menjauh dari bilik kamar mandi.
"Sayang, bukankah ini masih tergolong ditengah hutan?" tanya Icha takut-takut.
"Dimana Megan dan Frans tadi?" tanya Icha lagi sambil menyisir rambut lurusnya.
"Sudah berada dikamar sebelah, aku sudah mengutus seseorang untuk mengantarnya beristirahat."
"Apakah mereka akan tidur bersama?" tanya Icha konyol.
"Mana bisa begitu, Megan akan tidur dengan Jenifer."
"Lalu Frans?"
"Bisa tidur dikamar sebelahnya lagi bersama para pekerja."
"Nanti aku akan keluar sebentar, untuk meeting bersama para pekerja baru disini, kamu tidak apa-apa kan aku tinggalkan?"
"Mana bisa begitu, aku tidak mau, aku takut sendirian." tolak Icha mentah-mentah. Kini meletakkan sisirnya asal dan menoleh kearah suaminya.
"Kalau kau nanti keluar untuk meeting, bolehkan kalau aku ajak Megan kemari?" tanya Icha penuh permohonan.
Arka belum berniat menjawabnya, namun dirinya kembali menimbang-nimbang jika istrinya ini sangat penakut.
__ADS_1
Ia jadi teringat kala orang yang setiap malam datang menemani tidurnya Icha, kala itu tidak bisa datang karena ada keperluan mendadak saat berada di apartemen yang bersebelahan dengan Icha.
Itu membuatnya tidak bisa tidur, lantaran tengah malam Icha mendobrak pintunya berulang kali, hingga pintu terbuka, berganti Icha yang terlelap didalam kamarnya dan dirinya haru tidur di sofa. Itu mengindikasikan jika istrinya ini begitu penakut.
"Sayanggg, hallo..., kok malah melamun sih." kesal Icha melambaikan tangannya di depan wajah Arka tepat.
"Baiklah tidak apa-apa, selama aku tidak ada."
Akhirnya Arka menyetujui permintaan Icha. Malam semakin larut, suasana hening kian mencekam, tak ada suara apa pun, kecuali suara binatang yang saling bersahut-sahutan.
"Megan, kamu dengar tidak itu suara apa?" tanya Icha, telinganya samar-samar mendengarkan suara aneh.
"Sssttt diamlah, kau jangan membuatku mati ketakutan." kesal Megan.
"Sampai kapan kita berada disini, bahkan minim penerangan, minim cahaya, dan minim fasilitas." keluh Megan pada Icha.
"Bersabarlah, sebentar lagi kalau kerjaan kak Arka sudah kelar."
"Iya tapi aku bisa mati kutu jika lama-lama berada disini, aku tak bisa menghubungi siapa pun."
"Ehmm iya, sama juga."
"Ck, sama apanya, kau akan betah-betah saja, karena bareng dengan suami kamu." Megan merebahkan dirinya, beberapa kali menguap, rasa kantuknya sepertinya mulai datang.
"Jika kau sudah mengantuk tidurlah," perintah Icha menepuk tempat disebelahnya.
"Memangnya kamu belum mengantuk?" tanya Megan yang matanya mulai terasa berat.
"Mataku masih cerah, belum ada tanda-tanda mengantuk."
Icha mulai memainkan ponselnya, berharap menemui sinyal, namun nihil, dirinya hanya buka tutup aplikasi tanpa kuota internet.
Suasana kian semakin sunyi kala Megan sudah terlelap di alam mimpinya, "Bocah ini..., cepat sekali tidurnya."
"Seperti kena sirep saja." batin Icha memandang wajah lelap Megan.
Sementara dirinya masih belum ada tanda-tanda mengantuk,"Ehh tunggu-tunggu, tadi katanya kak Arka akan meeting dengan Jenifer, bodohnya aku, kenapa tidak ikut saja." Icha beberapa kali menggigit bibir bawahnya.
"Seharusnya aku ikut saja, tidak akan mati kebosanan seperti ini kan." gumam Icha lagi.
Icha berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri. Tidak begitu lama dirinya ikut terlelap di sebelah Megan.
__ADS_1