Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Indentitas Icha


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu cepat, hari yang telah ditentukan Arka dan Devan bertemu sudah tiba. Mereka menaiki pesawat pribadi Arka dengan inisial AA.


Saat ini pesawat mereka sudah landing di bandara, "Apa kamu mau istirahat dulu atau langsung bertemu Devan."


"Aku rasa aku akan istirahat dulu."


"Hemm baiklah."


Mereka tiba di sana pada malam hari, Alex memilih hotel yang dekat dengan tempat tinggal sahabatnya Devan. Padahal Devan sudah menyediakan apartemennya untuk di tempati sahabatnya itu.


"Kenapa tak langsung ke apartemen Devan saja." Tanya Alex menoleh pada Arka.


"Besuk saja, ini sudah tengah malam, aku sangat lelah dan ingin beristirahat."


"Hemm baiklah terserah padamu saja."


Alex menuruti saja keinginan Arka bagaimana, Mereka check in pada waktu tengah malam lewat.


Sampai di sana langsung merebahkan dirinya, Arka sepertinya benar-benar lelah, terlihat baju dan sepatunya masih menempel di tubuhnya. Bahkan bukan hanya pikirannya yang lelah, tetapi fisiknya juga lelah.


Hingga pagi hari baru dirinya terbangun, ketika matahari sudah menampakkan sinarnya, Matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan cahaya yang memasuki kamar hotel itu yang telah menembus corden.


"Sepertinya aku tertidur lumayan lama." Gumam Arka pada dirinya sendiri.


Hanya beberapa menit saja dirinya saat ini sudah rapi, menggunakan celana jeans panjang dan kaos yang dimasukkan ke dalam celananya, menyisir rambutnya rapi dan menambahkan aksesoris jam tangannya yang limited edition itu.


Dirinya memang tak pernah gagal jika soal penampilan, bahkan wanita cantik sekelas arti terkenal saja mengakui kecantikannya.


"Apa rencanamu setelah proyek ini selesai." Tanya Alex yang saat ini mereka sedang berada di restauran hotel itu.


"Belum tahu, mengembangkan usaha produk kosmetik mungkin."


"Apa kau tak ada rencana menikah dalam waktu dekat," pancing Alex pada Arka. Karena beberapa kali ibunya itu sering membahas hal ini pada Alex, ketika Arka sedamg rapat di luar dan Alex stay di kantornya.


Sedikit banyak, ibunya ini telah mencuci otak Alex, agar Arka mau di nikahkan dengan gadis pilihannya.


"Aku rasa kamu harus membuka hatimu untuk orang lain."


Alex menyesap kopinya sedikit, melirik ke arah Arka, melihat bagaiamana ekspresinya ketika dirinya menyinggung hal ini.


"Soal itu kau tak usah mengkhawatirkan. Aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri."


"Ehmm iya kau benar, akan lebih baik jika kau menikah lebih cepat, akan ada seseorang yang bisa mengurus dirimu."


"Dan pastinya ada tempat untuk pulang."


"Kau tak usah mengajariku."


Tak berselang lama, pembicaraan mereka di putus oleh suara ponsel Arka yang terdengar nyaring, dan ternyata Devan sedang menelpon dirinya.


Mereka sudah membuat janji di hotel Arka menginap, lebih tepatnya di restauran tempatnya saat ini mereka sarapan pagi.


"Aku sudah berada di depan." Devan.

__ADS_1


"Ehmm iya, aku sudah menunggumu dari tadi." Arka.


Lalu panggilan itu berakhir, mereka meneruskan perbincangannya lagi.


"Apakah sudah sampai Devan?" Alex.


"Ehmmm iya, itu dia."


Orang yang mereka bicarakan nongol juga akhirnya, Devan datang sendirian menemui mereka.


"Apa kabar kalian?"


Berpelukan ala sahabat laki-laki, dan berjabat tangan penuh kerinduan.


"Ehmmm iya seperti yang kamu lihat." Arka.


"Kamu sendiri bagaimana," Alex.


"Aku sedang banyak masalah."


"Aku tak percaya jika hidupmu yang sempurna ini memiliki masalah." Arka.


"Hei kau hanya tak tahu, setiap orang pasti memiliki masalah hidupnya sendiri-sendiri."


"Hemm iya kau benar, masalah percintaan juga termasuk." Alex menjawab random.


Namun Arka memandangnya tajam dan mengeluarkan kata pedasnya.


"Kau menyindirku,"


"Kalian benar, masalah percintaan juga menjadi masalah dalam hidup." Tiba-tiba saja Devan membenarkan ucapan mereka. Padahal dia adalah orang yang paling anti dengan kata cinta, benarkah jika Devan sudah menyukai lawan jenis, lalu siapa orang itu, hal itu membuat Arka dan Alex bertanya kepo.


"Siapa perempuan yang kau sukai?" Tanya Arka.


Alex mengangguk dan menunggu jawaban Devan. Tetapi ternyata jawaban Devan membuat kedua orang itu terkejut dan sekaligus kesal.


"Bukan aku yang jatuh cinta, tetapi adikku."


"Memangnya Aksara sedang jatuh cinta dengan siapa?" Ucap Alex.


Aksara adalah adik keduanya, dia juga seorang pengusaha berbagai kosmetik yang berdiri di beberapa negara maju.


"Bukan Aksara."


Alex dan Arka menoleh saling berpandangan, sepertinya banyak pertanyaan dalam benak mereka masing-masing mengenai hal ini.


"Memangnya adikmu yang mana lagi." Arka.


"Adikku yang paling kecil sedang mengalami masalah percintaan."


"Wahh kalau begitu sama dengan orang yang berada di sebelahku." Alex melirik Arka.


"Kau berbicara begitu karena belum mengalaminya." Arka.

__ADS_1


"Ehmm iya aku tahu, jangan sampai aku jatuh cinta dan hal itu membuatku gila karenanya."


"Ku doakan kau sebaliknya." Arka.


"Masalahmu dengan pacarmu apa memangnya?" Tanya Devan menoleh penasaran.


Tak lama kemudian pelayan datang memberikan buku menu dan mencatat menu apa saja yang mereka pesan, karena masih pagi mereka memesan menu makanan yang ringan.


Pembicaraan mereka sempat terhenti saat ada pelayan datang, dan melanjutkannya kembali ketika pelayan tadi sudah pergi.


"Tak ada, hanya saja dia mengkhianatiku."


Alex dan Devan diam menyimak keterangan Arka, mereka sama sekali tak menyela pembicaraan Arka.


"Dia berkhianat di belakangku beberapa kali saat aku tak bersamanya. dan dilakukan di negara ini juga."


"Apa sudan kamu selidiki?" Devan.


"Tentu saja?"


"Apa kamu sudah memastikan siapa orangnya?"


Arka menggelengkan kepalanya, "Itulah bodohnya dia," Alex menyahut dengan geregetan.


"Dari fotonya saja sudah terlihat jelas jika ia tidak mencintaiku, dan bermain di belakangku."


"Tetapi setidaknya kamu mengetahui orangnya, agar kamu tak salah paham dengannya." Devan memberikan solusi terbaiknya.


"Itu sudah ku usulkan padanya, tetapi di kekeh jika kekasihnya itu bermain di belakangnya," Mendapatkan pandangan tajam dari Arka.


"Maksudku mantan kekasihnya."


"Aku rasa sebelum jatuh jatuh cinta itu selidiki dulu latar belakangnya, dengan siapa dia bergaul, siapa temannya dan keluarganya."


"Lalu bagaimana dengan keluarganya?" Tanya Devan memandang Arka.


Alex yang mendengarkan saja rasanya ingin tertawa kencang mendengarkan usul dari Devan. Bagiamana tidak kenal bertahun-tahun dengan gadis pujaan hatinya, tetapi tidak kenal bagaimana latar belakang keluarganya.


"Kau ingin menertawakan aku, tertawalah sepuasmu tak usah kau tahan-tahan seperti itu." Arka keluar tanduknya sepertinya.


"Kenapa memangnya?" Tanya Devan lagi yang tak tahu menahu soal hubungan percintaan Arka.


"Kau tanya saja sendiri pada orangnya." Alex.


"Salahnya di situ, aku tak mengenal siapa keluarganya, bahkan aku sudah melacaknya, tapi sepertinya semua akses kelurganya di tutup dengan rapat,"


"Kadang aku merasa dia seperti gadis biasa pada umumnya, sederhana dan baik hati pada semua orang, tapi." Ucapan Arka terjeda mengingat kembali wajah manis Icha.


"Kadang aku juga merasa jika dia bukanlah gadis biasa, hal ini terbukti aku tak bisa melacak keluarganya dan latar belakang yang berkaitan dengan keluarganya.


Devan mendengarkan saja penjelasan Arka bagaimana, dia jadi mengingat jika Icha yang identitasnya ia sembunyikan. Apa mungkin ini juga yang di alami adiknya, dia menyimpulkan sendiri.


Tapi tidak, jika nanti identitasnya di publish maka akan menjadi santapan pengusaha muda dan tua, mereka akan berlomba-lomba mendapatkan adiknya dengan dalih perjodohan. Pengusaha muda akan mendekatinya sedemikian rupa dan yang tua akan mendekati dan menjodohkan dengan anaknya. Oleh sebab itu Devan tetap bertahan dengan keputusannya.

__ADS_1


lalu


__ADS_2