Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Shock


__ADS_3

Tidak terasa satu minggu sudah berlalu, semenjak Icha berbicara dengan Megan mengenai dirinya akan liburan di rumah kakaknya kali ini ia wujudkan.


Icha sudah bersiap dengan kopernya. Megan juga sudah menata kopernya, kali ini Megan akan pulang kampung karena mendapatkan ijin cuti dari Icha.


"Kabari aku jika kau sudah sampai." Icha.


Mereka bercipika cipiki sebelum berpisah dan berpelukan sebagai tanda persaudaraan.


"Kau juga jangan lupa mengabari aku." Megan.


"Tentu saja."


"Kalian ini mau berpisah satu minggu saja seperti akan berpisah lama." Hana yang melihat dua orang yang sedang drama itu sudah gatal mulutnya jika tak memberikan komentarnya.


"Biarlah, mereka kan sedang beradegan drama ala-ala film begitu." Hyun.


"Ck kalian ini syirik saja."


Megan memelototi Hana dan Hyun, sedangkan Yuju hanya meliriknya saja.


Megan dan Icha berpisah di bandara kota Seoul, mereka berpisah memasuki pesawatnya masing-masing, sedangkan ketiga temannya itu akan melakukan perjalanan ke New York untuk menjenguk temannya, tetapi Icha dan Megan tak bisa ikut bersama mereka.


"Huh sungguh sepi sekali tak ada mereka." Hyun pasang muka sedihnya.


"Berteriaklah supaya rame." Hana.


"Yang ada dikatain orang gila nanti." Hyun.


"Sudahlah ayo, habis ini kita yang bersiap." Yuju menengahi di setiap perdebatan mereka.


****


Libur kali ini Icha habiskan di berbagai negara dengan menaiki kapal pesiar, sesuai yang janjikan oleh Devan. Jika dirinya belajar dengan giat maka akan diajak liburan keliling dunia di berbagai negara.


Kapal pesiar yang Icha naikin ini adalah first class, setiap sudut ruangannya sangat mewah, terdapat ruangan aula untuk sebuah pertemuan yang sangat luas dan mewah.


Icha melewati beberapa ruangan yang sangat mewah, tak bisa lagi ia gambarkan dengan kata-kata. "Oh Tuhan, sungguh sangat indah di setiap sudut ruangan kapal pesiar ini."


"Kelak aku ingin memiliki suami yang memiliki kapan pesiar." Icha berbicara dengan dirinya sendiri sambil membayangkan yang tidak-tidak.


"Kau jangan bermimpi yang tidak-tidak, selesaikan saja sekolahmu dengan benar." Sahut Devan yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.


"Ihh kakak ini sungguh membuatku sebal, menjatuhkan mimpiku saja."

__ADS_1


"Lihat aja nanti, aku akan mencari suami yang memiliki kapal pesiar." Icha sambil tersenyum membayangkan apa yang dia inginkan.


"Bangunlah dari mimpimu, sebelum matahari terbit dan ternyata tak jadi kenyataan."


"Tau ahh, kakak ini tak asyik." Icha pergi dari sana dengan muka tak bersahabat, karena kakaknya sudah menghancurkan mimpinya.


Devan mengangkat bahunya tak tahu dan ikut pergi dari sana, sungguh kakak beradik ini jika tak ada saling mencari, tetapi jika ada akan saling mengejek.


Icha sedang bersantai di balkon dengan memandangi indahnya suasana tengah laut, angin sepoi-sepoi telah menerpa tubuhnya yang saat ini hanya menggunakan celana Short pants dan kaos oblongnya yang kebesaran.


Icha yang sedang merebahkan tubuhnya sambil menscroll layar ponselnya, betapa terkejutnya dirinya, jika di sana tertulis berita Arka dan Vaya telah menikah.


"Oh Tuhan." Seketika detak jantungnya bekerja dua kali lipat.


"Lupakan Icha, dia bukan siapa-siapa kamu lagi." Icha menyemangati dirinya sendiri.


Tetapi juga ada perasaan ingin tahu dan membaca berita itu. Akhirnya dirinya membukanya juga untuk meredam rasa penasarannya, tetapi tak urung juga dirinya saat ini butuh sandaran hati.


Tes....butiran bening itu mengalir tanpa permisi di pipi mulusnya Icha, tak dapat ditepis jika dirinya pernah bertahun-tahun hidup bersama Arka, dan itu bukan waktu singkat. Hanya karena salah paham menurutnya sehingga Arka membalas dengan tak pantas.


Tak dapat dipungkiri jika hatinya masih menyimpan nama itu, mungkin saja hanya waktu yang bisa menghapus jejaknya.


"Oh Tuhan, aku tak pantas mengeluh seperti ini." Icha mengusap kasar air matanya, dan segera menutup layar ponselnya dari berita artikel yang baru saja ia baca. .


"Jika aku tak ditakdirkan bersamanya, setidaknya aku tak merasa sakit hati, tetapi kenyataannya lain, hatiku terasa sesak."


Sudah satu jam lamanya Devan mencari keberadaan Icha, tadi yang ia tahu jika Icha berjalan ke arah aula, sehingga dirinya menyusul kesana.


"Kemana perginya dia." Gumam Devan pelan.


Sudah lelah mencari Icha kemana-mana tetapi masih tidak menemukannya, Dirinya duduk lebih dulu mengecek ponsel Icha dimana ia berada melalui sambungan gps yang tersambung di ponselnya.


"Dia ada di balkon." Dengan segera Devan berlari kesana. Ini hari sudah sore, dirinya berencana akan mengajak adiknya yang nakal itu pergi keliling.


"Icha.... Ichaaa bangun." Tangan Devan gemetar takut jika adiknya itu mengalami trauma masa dulu yang kambuh kembali.


"Bawa dokter kemari, sekarang" Perintahnya pada asistennya saat di dalam sambungan telepon itu.


"Icha, bangunlah kau jangan seperti ini " Wajah panik Devan sangat kentara antara panik dan takut kehilangan adik perempuannya ini.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, "Masuk."


"Tuan katanya."

__ADS_1


"Periksa dia sekarang."


Belum juga asistennya itu menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong olehnya, hingga membuat asistennya bingung, ini ada apa, apa yang terjadi, kenapa bisa begini. Banyak pertanyaan yang bersarang di dalam hati asisten Devan itu.


"Tak ada masalah serius tuan, nona hanya mengalami shock berat saja, diharapkan tuan bisa menjaga kondisi psikisnya dan juga mentalnya." Terang dokter itu panjang lebar.


"Apa penyebabnya dok?"


"Banyak hal tuan, mungkin saja habis melihat sesuatu ponselnya, atau hal lain yang bisa membuatnya shock."


Dokter itu menjelaskan panjang lebar pada Devan, ia bahkan harus menerangkan secara rinci dan sedetail mungkin.


"Baiklah terimakasih dok."


"Aku akan menjaga adikku dengan baik."


Selepas kepergian dokter tadi, Devan terduduk di kursi dipinggir tempat tidur Icha, dirinya terdiam sejenak. Hal apa yang bisa membuat adiknya shock seperti ini.


"Kau tau apa yang harus kau lakukan?"


"Baik tuan, saya akan mencaritahu penyebabnya."


"Sekarang keluarlah."


Bukan ini yang Icha harapkan, dirinya yang merasa dicintai oleh Arka, kemudian dicampakkan setelahnya. Ini tidak adil untuknya.


Arka merasa menjadi korban, Icha juga merasa dikhianati. Lalu kesalahpahaman akan terus menerus seperti ini. Tetapi sepertinya sudah terlambat mengenai hal ini, karena Arka sudah menikahi gadis lain. Hal itu Icha bisa terima, tetapi karena baru saja membaca beritanya yang membuatnya shock.


Devan bertanya pada orang suruhannya, tetapi ia tidak pernah melihat wajah Arka dengan jelas ketika Arka sedang bersama dengan Icha.


Hal inilah yang membuatnya sulit mengungkap hal ini, kenapa dulu dirinya tak melarang saja adiknya untuk dekat dengan laki-laki siapa pun itu yang memiliki perasaan padanya.


"Dimana aku?" Icha yang baru saja sadar dari pingsannya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Devan.


"Aku dimana kak?" Bukannya di jawab tapi malah bertanya balik.


"Kau sedang dikamar, kau tau jika aku menemukanmu sedang pingsan tadi?"


"Pi...pingsan?"


"Katakan, apa yang membuatmu shock?" Cecar Devan langsung pada intinya.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2