
"Tidak usah sok-sokan kamu yang paling punya istri." kata Devan datar, ia berdecih melengoskan wajahnya ke arah yang lain.
Mereka mulai membicarakan banyak hal, mulai dari bisnis, pertemuan rekan kerjanya ketika membangun proyek baru dan juga pertemuan organisasi antar pemuda.
"Baiklah baiklah, mau apa kau kemari menemuiku." tanya Arka pada Devan.
"Ck, kepedean sekali Kamu, memangnya siapa juga yang mau menemuimu. Aku hanya mau bertemu dengan adikku saja." ucap Devan memicingkan matanya ke arah Arka.
"Dia masih konser di jam-jam segini, kau tunggu saja nanti, ketika mereka kembali akan ku panggilkan dia, untuk kemari." kata Arka, pandangan matanya beralih ke jam tangan branded yang ada di tangan kirinya.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kau bertanya, jika sudah tahu." kata Arka sedikit kesal.
Tidak terasa, pembicaraan mereka sudah tiga jam lamanya. Itu artinya konser girlband PinkV sudah saatnya untuk kembali turun dari atas panggung, dan mereka kembali ke hotelnya yang tidak jauh dari tempat mereka konser tadi dengan dikawal oleh beberapa bodyguard dan juga beberapa asisten yang menemani keempat member pink V itu, tidak lupa juga Megan dan Frans orang-orangnya Icha.
Mereka kembali ke kamar hotelnya masing-masing untuk membersihkan diri dan juga berganti pakaian, setelah tadi mereka sempat makan malam bersama dengan penari latar baik laki-laki maupun perempuan, di kelas VIP tentunya.
"Apa kau mau langsung tidur?" tanya Megan pada Icha
" Sepertinya." jawab Icha santai.
"Jangan dulu, karena tadi kakakmu menelponku, kalau kau disuruh turun ke lantai dasar. Untuk menemui kakakmu." kata Megan yang malah membuat Icha kaget dengan ucapan Megan.
Saat itu sudah naik keranjangnya, lalu menarik selimutnya sampai setengah dari badannya. Siap untuk berbaring karena rasa lelah menyerang di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Hah Ada apa Kakak ke sini? apakah aku ada buat salah lagi? ah aku rasa aku sudah memiliki suami, jadi kakak tidak berhak sama sekali untuk mengaturku." gumam Icha, ia mengomel sendiri.
"Sudahlah kau jangan mengomel seperti itu, mungkin kakakmu sedang rindu padamu." jawab Megan datar.
"Bukannya aku mengomel, aku rasa tubuhku perlu istirahat untuk saat ini, dan tidak mau diganggu. Tapi karena kakak yang datang, Ah rasanya ngantuk aku jadi hilang, rasa lelahku pun rasanya menjauh dari tubuhku." jawab Icha. turun dari dari ranjangnya, lalu mengambil hoodie yang ada di dalam lemari dipakaikan ke dalam tubuh rampingnya,
dan mengambil sendal bulu untuk menghangatkan seluruh tubuhnya.
Berrbeda dengan Megan. Megan kali ini hanya mengenakan pakaian piyama, akibat rasa lelah mungkin rasa dingin tidak sampai merasuk ke dalam tubuhnya, Megan berjalan membuntut di belakang Icha. Sambil sesekali memberikan nasehat positif kepada Icha. Agar sahabatnya sekaligus bosnya itu tidak brutal.
"Aku rasa kau tak perlu mengkhawatirkanku lagi, lagian juga aku sekarang sudah memiliki suami. Tingkah brutalku yang bagaimana lagi yang meresahkan?" tanya Icha pada Megan bar bar.
"Ya aku tahu, kalau kau sekarang sudah bersuami. Makanya jaga tingkah lakumu untuk menjaga nama baik agensi-mu dan juga suamimu." jawab Megan datar seperti biasanya.
Pembicaraan mereka terhenti ketika sudah sampai di lantai dasar, lift yang membawa mereka berhenti. Icha dan Megan keluar dengan langkah yang sangat cepat. Icha sudah sangat penasaran sekali bagaimana nanti reaksi kakaknya ketika Devan itu bertemu dengan dirinya, apakah akan menjewer telinganya karena ia sangat bandel jika dikasih tahu tentang sesuatu, ataukah kakaknya itu akan memeluknya dengan rasa rindu sebagai kakak yang kangen dengan adiknya.
"Hai kakak aku sangat rindu sekali, ternyata kamu di sini, sejak kapan kakak ke sini? Kenapa Kakak tidak memberitahuku dulu kalau kakak akan ke sini. Kenapa aku tidak tahu, sejak kapan kakak berada di London?" tanya Icha bertubi-tubi apalagi ditambah suaranya yang sangat cempreng jika berbicara membuat telinga mereka yang ada di dekat Icha rasanya berdengung.
Reaksi Icha ketika melihat kakaknya Devan dari kejauhan, ia reflek berlari kencang lalu memeluk kakaknya dengan erat, hingga membuat Devan susah sekali untuk bernafas.
"Icha lepaskan kakak."
" Tidak mau, aku tidak mau melepaskan Kakak. Kakak tahu kalau Kakak itu kakak yang jahat, karena tidak pernah menemui adiknya. Apa Kakak tidak pernah menganggapku ada? apa Kakak selama ini menelantarkanku begitu saja?" tanya Icha bar bar.
"Sayang lepaskan, itu kakakmu tidak bisa bernafas kau peluk erat begitu."
__ADS_1
Suara bariton itu mengagetkan Icha hingga untuk beberapa saat Icha terdiam, lalu dengan refleknya Icha menoleh ke arah sumber suara. Icha begitu terkejut ternyata di sana ada suaminya dan siapa perempuan ini pakaiannya seksi sekali batin Icha bermonolog.
"Ah iya maafkan aku kakak, tadi aku tidak sengaja memeluk Kakak dengan erat." kata Icha menarik kedua sudut bibirnya dengan perlahan melepas pelukannya pada Devan. Pandangannya masih fokus kepada suaminya yang duduk berdekatan dengan perempuan seksi di samping Arka.
"Duduklah dulu." perintah Devan pada Icha.
"Baik Kakak."
"Kau juga duduklah." perintah Devan pada Megan, lalu dengan hati-hati Megan duduk. Menarik kursi di sebelah Icha, sedangkan Icha sendiri berdekatan dengan Devan. Itu artinya Icha berada di tengah-tengah antara Devan dan suaminya. Jangan sampai dirinya membuat malu semua orang, lebih baik ia diam saja dari pada salah berkata atau bertindak pikir Megan.
"Silakan kalian pesan minuman atau makanan apa yang ingin kalian makan dan minum?" perintah Devan.
"Baiklah Tuan terima kasih atas tawaran anda, karena tadi saya sudah makan. Jadi saya akan memesan minuman saja." kata Megan sopan.
Berbeda dengan Icha. Icha membuka buku menu dan membolak-balikkannya, sudah menjadi kebiasaannya jika Icha memesan banyak makanan.
"Kau dari dulu memang tidak berubah, masih suka makan-makan. Apalagi jumlah makanan yang kau makan tidak sedikit."
"Apa itu tidak menjadi beban buatmu, karena kau adalah seorang penari." tanya Devan pada adiknya.
Icha membantah omongan kakaknya, sedangkan Megan sedari tadi curi-curi pandang ke arah perempuan yang ada di samping suami Icha. Dari parasnya saja Megan sudah tidak menyukainya, karena mungkin terlalu seksi atau mukanya terlalu judes. Kesan pertama saja membuat Megan sangat ilfil, Megan berpikir jika perempuan yang ada di samping Arka ini bukan perempuan baik-baik.
"Cieh, drama yang sangat bagus." batin Vania kesal melihat drama adik kakak di hadapannya.
Vania memandang Icha dengan tatapan sinis, sangat ketara sekali jika Vania menyombongkan dirinya di hadapan adiknya Devan, yaitu Icha. Mungkin semua orang tidak menyadari wajah sinis Vania, kecuali Megan yang sedari tadi curi-curi pandang ke arah Vania.
__ADS_1