
"Tentu saja aku sedang mengawal nona Icha, memangnya ke mana lagi."
"Benarkah, kamu memposisikan dirimu di mana?" tanya Megan lagi.
"Aku berada di bawah panggung, bersama kru syuting. Tapi nona Icha tetap dalam pengawasanku. Kau jangan khawatir, jika aku tidak melakukan tugasku dengan baik."
"Bukan, bukan itu maksud aku, bukan soal mengkhawatirkanmu atau bukan."
Frans menaikkan sebelah alisnya, menatap intens Megan. Megan yang mengerti ditatap seperti itu lalu bersuara.
"Sudah kubilang, jika Hyun tadi malam mencarimu. Bukan mencarimu, lebih tepatnya tidak melihatmu."
" Hyun." Frans membeo.
"Ya hanya itu yang ingin kusampaikan padamu."
"Aku rasa tidak ada lagi."
Frans mengangguk, lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan tempat itu.
Selang beberapa menit setelah Megan puas mengambil gambar-gambar salju di sana. Kemudian dirinya kembali ke dalam kamar, melihat situasi di dalam sana, ternyata keempat member itu masih terlelap di alam mimpinya.
Mungkin akibat kelelahan, dari konser semalam, karena konser akan dilanjutkan untuk nanti malam. Kali ini Megan membersihkan dirinya, setelah membersihkan dirinya naik ke atas ranjang, dan menarik selimut pergi ke alam mimpinya hingga sore menjelang.
Sore hari, Icha mengerjapkan matanya. Lalu bergumam. "Jam berapa ini, sepertinya aku tidur terlalu lama." Icha melihat ponsel di sampingnya, ternyata ada pesan masuk dari suaminya. Dengan cekatan dirinya membuka matanya perlahan.
Icha turun dari ranjangnya, berjalan menuju kamar mandi. Lalu mengunci pintunya. Di sana dirinya melakukan panggilan video call bersama suaminya. Satu kali dua kali tiga kali barulah suaminya mengangkat panggilan video call.
"Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali." tanya Icha pada suaminya.
"Apa kamu bilang? coba ulangi sekali lagi." tanya Arka pada istrinya.
"Hah apa, maksud aku suamiku tadi habis dari mana saja? Kenapa lama sekali mengangkat teleponku, padahal aku sudah sangat merindukanmu." rayu Icha pada Arka.
"Benarkah jika istriku sedang merindukanku? atau hanya merayuku saja supaya aku tidak marah?" tanya Arka lagi. Seluruh kegiatannya ia hentikan. Fokusnya beralih menatap wajah cantik istrinya yang ia rindukan, padahal baru beberapa hari tidak bertemu dengan Icha.
"Ehmm iya, aku sedang merindukan suamiku, tetapi aku harus mencari celah waktu, agar tak ada yang tahu jika aku sudah bersuami,"
__ADS_1
" Kau tahu aku sekarang berada di mana?" tanya Icha pada Arka.
" Di mana memangnya?"
"Aku sedang berada di dalam kamar mandi, apa suamiku tidak ada rencana untuk menyusulku?"
" Padahal baru beberapa hari kemarin kita bertemu dan kau sudah merindukanku?"
"Biklah jika kamu tidak merindukanku, aku akan menutup panggilan ini." tanpa persetujuan dari suaminya, Icha mematikan panggilan video call-nya sepihak.
Padahal belum sempat juga Arka menjawab sepatah kata pun, tetapi panggilan video call itu keburu dimatikan oleh Icha. Hal itu membuat Arka kalangkabut. Beberapa kali ia melakukan panggilan video call-nya kembali, namun Icha malah mematikan sambungan ponselnya.
"Sepertinya dia marah padaku." gumam Arka.
" Padahal tadi aku hanya menggodanya, ah sialan."
Seketika barang-barang yang ada di atas mejanya sudah berada di lantai semua akibat kemarahan Arka. Vania yang berada di depan ruangannya, begitu terkejut karena mendengarkan seperti suara barang-barang yang dibanting ke lantai. Untuk beberapa saat Vania berpikir jika memang suara-suara itu terdengar dari dalam ruangannya Arka. Karena pintu ruangannya Arka memang tidak ditutup dengan rapat, sehingga terdengar jelas di telinga Vania.
Tanpa berpikir panjang, Vania langsung menerobos pintu yang sedikit terbuka itu. "Tan-tuan apakah anda baik-baik saja tuan?" Vania dengan lancang memegang bahu Arka.
" Tuan apakah anda baik-baik saja, apakah Anda ada masalah?"
Vania sama sekali tidak menghiraukan teriakan Arka dan tak gentar berada di depan Arka, lalu mengguncang lengannya, tanpa sadar Arka meneriakinya dan mengibaskan lengannya. Hingga Vania jatuh tersungkur ke lantai.
"Berani-beraninya kamu menyentuh lengan tanganku, keluar sana,"
"Atau akan ku panggilkan kau security." teriak Arka pada Vania. Matanya menajam memandang Vania bagaikan elang yang akan memangsa musuhnya.
Dengan langkah yang tertatih-tatih, Vania berlari keluar dari ruangan Arka. Meninggalkan ruangan yang begitu berantakan, sama seperti suasana pemilik ruangan itu.
Rey baru saja tiba, saat itu akan memasuki ruangan keponakannya. Namun melihat keadaan Vania yang berantakan seperti itu. Rey menduga jika pasti ada sesuatu hal yang terjadi di dalam sana, hingga menyebabkan keadaan Vania tidak baik-baik saja, seperti yang ia lihat saat ini.
"Kenapa dengan kaki kamu?" tanya Rey yang mengamati Vania dari atas sampai bawah.
" Itu tuan, tuan Arka sedang ingin mencoba melakukan perbuatan tak senonoh terhadap saya."
"Tolong tuan, tolong." adunya menghiba.
__ADS_1
Rey diam sejenak di tempatnya. Mendengarkan cerita Vania lebih lanjut lagi. Melihat Vania dengan keadaan yang tidak baik-baik seperti ini, ia jadi yakin jika omongan Vania adalah benar.
Bagaimana tidak, Vania bercerita dengan air mata yang keluar. Menangis tersedu-sedu dan ditambah dengan keadaannya yang berantakan, akan membuat semua orang siapa saja percaya padanya.
"Baiklah kembali ke tempatmu sana." jawab Rey datar.
Vania mengangguk lalu melesat meninggalkan tempat itu. Kedua tangan Rey sudah mengepal, siap menonjok keponakannya.
Dengan nafas yang memburu Rey langsung masuk ke dalam ruangan keponakannya itu. "Arka Apa yang terjadi?"
"Paman, sejak kapan paman datang?" tanya Arka pada Rey.
Ketika badannya berbalik dan menatap siapa di sana yang datang. "kau jangan pura-pura tidak tahu kau apakan wanita itu?"
"Wanita? wanita siapa memangnya?" tanya Arka pada Rey. Karena memang ia tidak tahu, apa yang pamannya maksud.
"Kau jangan pura-pura bodoh, atau pura-pura tidak tahu. Siapa yang mengajarimu menjadi lelaki brengsek selama ini?"
"Dan apalagi ini, seluruh ruangan menjadi berantakan seperti ini. Sudah macam seperti kapal pecah saja." omel Rey pada Arka.
Arka terdiam di tempatnya untuk beberapa saat, mencerna apa yang setiap pamanya ucapkan. " Tunggu, tunggu dulu apa yang Paman ucapkan, Aku tidak mengerti apa yang Paman bicarakan?" ucapkan menyelam pembicaraan Rey.
"Kau masih tidak mengerti, perempuan yang keluar dari sini tadi."
Seketika Arka mengingat untuk beberapa saat yang lalu. Tidak ada seorang wanita pun yang masuk ke dalam ruangannya, kecuali Vania. Ya mungkinkah Vania sudah berbicara yang tidak tidak kepada pamannya. Batin Arka bermonolog.
"Maksud Pama, Sekretaris aku? yang baru saja keluar dari sini?"
" Ya kau apakan dia?"
Arka bukannya menjawab pertanyaan pamannya, tetapi malah menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis. Dan bertepuk tangan.
"Hebat, memang hebat, aku sudah menduga jika perempuan itu memang bukan perempuan baik-baik saja."
"Apa maksud kamu? kau jangan macam-macam ya. Kamu sekarang lelaki yang sudah beristri."
"Paman apa Kau pikir aku sekeji itu?"
__ADS_1