Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Salah Paham


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah satu


tahun lamanya mereka menjalin hubungan jarak jauh, sesekali mereka bertemu, selama ini orang suruhan Alex sudah mengikuti kemana pun Icha pergi. Tetapi saat pengambilan gambar mereka terlihat tidak jelas. Sehingga hal itu menyebabkan salah paham pada Arka. Arka mengira jika Icha bermain di belakangnya, tanpa memastikan dulu siapa orang itu.


Sekembalinya Icha pulang ke kampung halamannya, niat hati Icha akan memberikan suprise untuk Arka. Ia meluangkan waktunya untuk pergi ke London hanya untuk bisa bertemu dengan Arka.


Icha berjalan dengan riang, tangannya menekan beberapa kata sandi. "Ternyata masih sama." Icha.


Pintu terbuka perlahan, matanya mengedarkan seluruh pandangannya, ini sudah malam, jika jam segini biasannya Arka sudah berada di rumah.


"Dimana kak Arka," Berjalan perlahan meletakkan beberapa makanan yang tadi sempat ia beli sebagai oleh-oleh.


Samar-samar dirinya mendengarkan suara aneh di kamar Arka. "Suara apa itu?" Tanyanya pelan pada dirinya sendiri.


Lalu menghampiri asal sumber suara itu, mendengarkan dengan seksama, dan membuka pintunya perlahan. Betapa terkejutnya Icha melihat dua orang yang tidak memakai apa pun sedang bercumbu mesra di sana.


"Kak Arka." Seketika itu suara lirihnya di barengi air mata yang luruh di pipi halusnya. Dirinya tak bisa berkata-kata lagi.


Dirinya baru saja merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, namun kenapa baru sebentar saja semua sudah berbalik.


"Inikah kebiasaan kak Arka, yang tidak ku ketahui." Arka tak menghiraukan keberadaannya, meneruskan mencumbu perempuan itu. Hal itu membuat hancur hatinya dan tak bisa berkata-kata lagi.


Icha mundur perlahan, lalu berbalik keluar dari sana. Menangis di tengah jalan.


"Aku tak menyangka jika kak Arka bisa berbuat sekeji itu." lirihnya pelan.


Kepalanya saat ini terasa pusing, pikirannya menjadi kosong, tak bisa berfikir dengan jernih lagi. Tangannya memegang tembok yang berada di dekatnya.


"Aku harus kuat, tak boleh lemah seperti ini." Tekadnya tetap meneruskan perjalanannya. Malam itu juga dirinya kembali memesan tiket pesawat kelas bisnis, ia langsung kembali lagi ke Tokyo, singgah di rumah nenek dan kakek buyutnya.


Dirinya tiba di Tokyo malam hari, sebelum menaiki pesawatnya telah menghubungi nenek buyutnya dulu. Sehingga ketika dirinya tiba di sana sudah ada mobil jemputan.


"Silahkan nona." Sopir suruhan neneknya itu ketika membukakan pintu mobilnya.


Nenek buyutnya ini sepertinya tidak tidur, menunggu kedatangannya, yang datang tiba-tiba.


Ketika sampai di rumah Icha membuka pintu perlahan, dan menghampiri dimana nenek buyutnya itu berada.


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Tidak ada nek."


"Baiklah sana istirahatlah, sepertinya kamu sangat lelah."


Icha hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. Lalu berjalan meninggalkan nenek buyutnya yang masih berdiri di tempatnya.


"Nyonya ini tasnya nona Icha." Ucap pelayan.


"Ehmm iya taruh saja di sana."


Nenek buyutnya itu masih memperhatikan kepergian Icha hingga jalan Icha tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Ada apa dengannya, sepertinya sedang mengalami masalah besar." Lirih nenek buyutnya.


Sesampainya di kamar, Icha melepas mantel yang di kenakan nya, dan juga sepatu, dirinya juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya. Saat ini hanya butuh sendiri tak mau di ganggu oleh siapa pun.


Menangis dalam diamnya, sambil mengingat hal-hal indah yang pernah ia lalui bersama Arka.


"Sungguh aku membencimu."


"Aku membenci semua yang berhubungan denganmu."


Icha membuka ponselnya dan memblokir nomor Arka, membuang seluruh barang pemberian Arka malam ini juga ke dalam tong sampah kamarnya.


Tetapi dirinya masih menyimpan kartu gesek Arka yang pernah ia minta langsung padanya saat hari dimana Arka mengungkapkan perasaannya.


"Mulai saat ini, aku tak mau mengenalmu lagi, bahkan mendengar namamu saja aku rasanya tidak sudi." Lirihnya, mengusap air matanya dengan tisu, hingga dirinya kelelahan dan tertidur tanpa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Pagi hari menyambut dengan hangat, seperti sinarnya mentari yang menghangatkan pagi yang masih terasa sejuk ini. Nenek buyut Icha membiarkan Icha untuk menenangkan dirinya dulu.


Sedangkan orang yang berada di dalam kamar itu masih terlelap dalam mimpinya, namun perlahan matanya terbuka, menyesuaikan dan cahaya yang memasuki kamarnya yang menembus korden.


"Ternyata aku tertidur semalam."


Jika mengingat hal kemaren membuat hatinya nyeri, dan kekuatannya melemah, tetapi ia harus mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.


Bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Nenek buyut Icha yang pagi itu sudah menyiapkan sarapan melihat dirinya turun dari tangga dengan wajah yang lebih berseri dari kemaren.


"Kamu sudah bangun."


"Nenek buyut masak banyak hari ini, ayo makanlah."


"Baiklah, aku akan makan banyak sepertinya hari ini." Tertawa kecil.


"Iya ini semua untuk menyambut kedatangan cucuku tersayang."


Mereka sudah berkumpul di meja makan. Sesekali nenek buyutnya itu mencuri pandang ke arah Icha. Neneknya menunggu situasi yang pas untuk bertanya.


"Icha, apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa nek?"


"Tidak ada, nenek hanya bertanya saja."


Terdiam kembali, tak ada pembicaraan di antara merek.


"Nek aku ingin pergi ke taman bunga, apa nenek bisa pergi bersamaku."


"Tentu saja kenapa tidak."


"Baiklah nek, kalau begitu aku bersiap sebentar."

__ADS_1


Icha dan nenek buyutnya pergi ke taman bunga pemberian tuan Felix, di sana hatinya terasa damai melihat kebun bunga yang warna warni, bau harumnya semerbak di indera penciumannya.


"Wahhh bunga-bunga ini sangat menakjubkan."


"Aku rasanya sangat betah jika berada di sini lama-lama."


"Iya kamu benar, jika begitu kamu bisa membangun villa di sekitar taman bunga ini."


"Sepertinya ide bagus nek."


"Oh iya aku punya ide, aku akan membuat sesuatu yang terbuat dari bunga-bunga cantik ini."


"Apa yang ingin kamu buat dari bunga-bunga cantik ini?" Nenek buyutnya tak kalah antusias dengan ide cucunya.


"Aku akan membangun usaha mengolah bunga-bunga cantik ini menjadi minyak wangi dan sebagai campuran kosmetik."


"Sepertinya ide yang sangat menarik."


"Ehmm iya, aku akan mengambil beberapa untuk bahan percobaanku nanti."


"Baiklah, apa perlu aku bantu."


"Tidak nek, biar aku sendiri saja yang melakukannya."


"Terserah padamu saja, aku akan menunggu duduk di gazebo sana."


"Ehmm iya, nenek buyut istirahatlah."


Icha melanjutkan jalannya, pergi ke tengah-tengah bunga yang bermekaran warna warni itu, memetik beberapa bagian, lalu memasukkan ke dalam tas keranjang yang ia minta dari pengelola kebun bunganya itu.


Mengambil dari aneka bunga yang tertanam di sana, setelah di rasa sudah cukup. Ia kembali lagi menyusul nenek buyutnya.


"Kenapa kamu cepat sekali kembalinya, apa sudah selesai?"


"Ehmm iya, segini saja aku rasa sudah cukup."


"Baiklah, sekarang kamu mau kemana lagi?"


"Ayo kita kembali saja nek, aku akan memulai percobaan pertamaku membuat parfum dari campuran bunga ini."


Mereka kembali lagi ke rumah, Icha tak menunggu waktu lama, dirinya tak boleh larut dalam patah hatinya terus menerus.


Icha berfikir Arka akan menertawakannya, jika dirinya patah hati dan hancur. Tetapi sepertinya dugaan Arka salah akan hal itu. Bisa di lihat sekarang. Baru sehari saja dirinya sudah bangkit lagi keterpurukan hatinya.


"Aku akan membuat beberapa racikan, satu untuk parfum, satu untuk masker wajah dan satu lagi untuk campuran lipt tint."


"Baiklah terserah padamu saja."


Nenek buyutnya membebaskan dirinya, sehingga bisa mengeksplor lebih banyak apa yang ada di dalam pikirannya.


Sementara di tempat lain. Arka sengaja melakukan hal itu pada Icha.

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2