
"Maksud kamu Jenifer?"
"Ehmmm iya benar, Jenifer kan mantan pacar kakak kan."
"Dia tidak hubungan apa-apa denganku."
"Aku tak percaya,"
"Lalu harus dengan cara apa lagi aku membuktikannya ke kamu." tanya Arka, kini berhenti dari jalannya.
"Katakan,"
"Apa kau mendengar omongan orang dari luar sana?" tanya Arka lagi.
"Tapi aku melihatnya, jika kakak masih mencintainya juga,"
"Pandangan mata kakak tak bisa dibohongi."
"Aku hanya membantunya, dia terluka saat mengikutiku dinas kerja, apa lagi dia sedang jalan bersamaku."
"Tapi perhatian kakak ke dia sangat intim."
"Apa kau sedang cemburu nona?" tanya Arka, mendekat satu langkah ke arah Icha.
Icha yang ditatap Arka dengan posisi sangat dekat begini jadi merasa tidak enak sendiri. Langkahnya mundur sedikit. "Jawab..." bisiknya sangat pelan, namun hembusan nafasnya yang memiliki aroma mint itu menyapu wajahnya.
"Tidak, siapa yang cemburu."
"Aku hanya memastikannya saja."
"Benarkah? kalau begitu tatap mataku sekarang." Arka maju selangkah lagi, Begitu pun yang di lakukan Icha, mundur lagi ketika Arka semakin mendekatinya.
"Kakak jangan terlalu dekat seperti ini?"
"Kenapa? apa kamu takut!"
"Apaan," Tangan Icha memukul dada Arka, ia berontak jika posisi Arka sangat dekat dengannya.
Detik berikutnya tangan Arka bertumpu pada tembok di belakangnya, cup satu kecupan di bibir Icha.
"Kakak, aku malu, bagaimana jika ada yang melihat kita?"
"Biarkan saja, biar semua orang tahu jika kamu adalah calon istriku."
"Kakak jangan sembarangan bicara, aku tak mau pernikahan ini diketahui oleh siapa pun, termasuk teman dekatku."
"Lalu bagaimana jika aku kangen?" tanya Arka memicingkan matanya.
"Ehmmm.... itu...itu bisa diatur, aku takut nanti karirku akan hancur, dan endors yang menyewa jasa padaku akan kecewa.
"Dan aku bisa rugi jika mengganti penaltinya."
"Aku sangat kaya, aku bisa membayar mereka semua."
"Tapi pekerjaanku adalah pekerjaanku, dan pekerjaan kakak adalah pekerjaan kakak."
"Jangan kakak campur adukan, itu namanya tidak profesional."
"Tidak masalah tidak profesional, untuk urusan istriku apa pun akan aku lakukan."
Seketika wajah Icha memerah jika dirinya di sebut sebagai istri, serasa ada kupu-kupu yang hinggap di perutnya.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu memerah?"
Icha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu tubuhnya merosot ke bawah, dan mengambil langkah seribu untuk bisa kabur dari hadapan Arka.
Arka yang melihatnya menggelengkan kepalannya pelan. "Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti orang tak waras." Alex yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana asalnya.
"Tidak..."
"Tidak, tidak apanya, kau seperti odgj senyum-senyum sendiri tak ada teman."
"Kau jangan asal bicara jika gajimu bulan ini tak ingin dipotong."
"Ck, selalu saja itu ancaman andalanmu."
"Katakan, ada apa kau kemari?" tanya Arka menoleh pada Alex.
"Kau sedang di cari oleh Jenifer."
"Ada apa dia mencariku?" tanya Arka.
"Mana aku tahu, kau tanya saja sana sendiri." Alex.
"Bilang saja jika aku sedang sibuk, kau tau kan apa tugasmu."
Arka berjalan melewati Alex yang diam membeku di tempatnya, Alex yang akan menghentikan langkah terdengar suara teriakan dari arah belakang.
"Ada apa lagi kau dengan bosmu itu?" tanya Devan yang berjalan menuju ke arahnya.
"Aku tidak tahu, ketika aku menghampirinya dia seperti orang kesurupan, senyum- senyum sendirian."
"Mungkin ada hal lain yang membuatnya senang." Devan ikut menoleh ke arah Arka, hingga punggungnya tak terlihat lagi.
"Nanti malam akan di adakan rapat, sudah kau kasih tahu bosmu kan."
"Ehmmm iya, aku baru saja akan memberitahunya."
"Baiklah, aku tinggal keluar dulu." pamit Devan menepuk bahu Alex.
"Ada apa hari ini dengan orang-orang." Alex menggelengkan kepalanya pelan. Dirinya kembali berjalan ke arah aula dimana para pengusaha muda sedang berkumpul disana.
🌷🌷🌷
"Ada apa lagi denganmu?" tanya Megan kala dirinya sedang duduk di balkon, melihat air muka Icha sekilas yang terlihat sedang kesal.
"Kau tahu, aku akan menikah nanti malam."
"What..." seketika Megan terbatuk memakan keripik kentangnya.
"Kau ini bisa tidak hati-hati kalau sedang makan." omel Icha memberikan segelas air putih dan menyodorkan pada Megan.
"Hah...aku hanya terkejut saja, jika bercandamu itu tidak lucu."
"Terserah kau menganggapnya bercanda atau tidak."
"Satu yang harus kamu tahu, kau tak boleh membocorkannya pada siapa pun." Icha menatap Megan tajam.
"Jadi, kau beneran akan menikah nanti malam."
Icha mengangguk malas, wajahnya berubah memelas. "Seharusnya kau senang, kau kan di jodohkan oleh kakekmu, pasti dia sangat kaya dan tampan." Megan pikirannya menjadi melanglang buana kemana-mana.
"Tak semudah yang kau bayangkan, aku sendiri tak siap menikah."
__ADS_1
"Apa kamu sudah ketemu calon suami kamu?"
"Bagaimana rupa orangnya? apa dia sangat tampan dan berwibawa."
"Aduuuhhh.... Icha kau." Megan meringis memegangi keningnya kala Icha sedang menoyornya, pasalnya pikiran Megan mendadak menjadi tidak karuan, melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Icha.
"Itu biar isi kepalamu tidak eror, jadi perlu toyoran."
"Apa salahnya, aku kan hanya bertanya tahu."
"Bertanya, tapi sangat membuatku kesal dengan pertanyaanmu itu." Icha dudu di sampingnya menjadi badmood jika mengingat dirinya akan menikah.
"Kau kan tinggal jawab juga, gampang kan."
"Bagaimana, apa aku kenal orangnya?"
"Kau sangat mengenal orangnya." lirihnya.
"Benarkah, apa dia ada disini?"
"Siapa namanya?"
"Hei Megan, kau ini..., satu-satu kenapa kalau bertanya."
"Baiklah-baiklah, yang mana orangnya, siapa namanya?" tanya Megan sangat antusias.
"Nanti malam kau akan tahu sendiri." ucap Icha singkat.
"Ck, pelit sekali kau ini, sok-sok an tak mau memberitahuku." Megan memasukkan keripik kentang lagi kedalam mulutnya.
"Aku sedang malas menyebut namanya saat ini." Icha melihat kutek di kuku-kukunya.
"Setidaknya kau kasih bocoran padaku kenapa."
"Kita kan bestian."
"Kau tak usah memaksaku, udah ahh aku mau mandi dulu, pokoknya kau tak boleh membocorkan pada siapa pun, termasuk Yuju, Hyun dan Juga Hana."
"Kalau mereka sampai tahu, itu berarti aku mencurigaimu." ancamnya pada Megan. Lalu berdiri dari samping Megan dan berjalan masuk ruangan.
"Ck, sensi amat dia, apa calon suaminya itu jelek."
"Ehh tunggu... tunggu, katanya ada di sini orangnya, itu berarti apa salah satu pengusaha diantara mereka iya." tanya Megan berbicara pada dirinya sendiri.
"Ehhh tapi aku rasa mereka tidak ada yang jelek, mereka sangat tampan tampan semua dengan ciri khasnya masing-masing."
"Lalu... apa yang membuat Icha marah dan badmood." Megan menggelengkan kepalanya sendiri.
Sedangkan Icha yang saat ini sedang berendam di bath up, ia memejamkan matanya, dalam hitungan jam saja dirinya akan mendapatkan gelar seorang istri.
"Aku akan menjadi istri, ini gila, bahkan usiaku saja baru menginjak remaja."
Pikirannya menerawang jauh, mengingat ketika dirinya sedang bersama dengan Arka, "Tidak.... aku tidak mau." Icha terbangun dari matanya yang tadi terpejam, ketika dirinya membayangkan akan melakukan hubungan suami istri.
"Apa yang aku pikirkan." menggelengkan kepalanya sendiri.
"Icha apa kau baik-baik saja?" Megan menggedor pintu kamar mandi memanggil Icha, karena saat dirinya masuk mendengarkan teriakan dari dalam sana.
dan
Bersambung
__ADS_1