Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Ucapan Pancingan


__ADS_3

Pagi hari telah menyambut dengan sinar hangatnya, Icha yang tidur larut malam masih belum membuka matanya, lantaran masih terlelap di alam mimpinya.


"Padahal Devan sudah pergi mencari secangkir kopi di kafe yang ada di hotel itu."


"Kau disini juga?" sapa Alex yang baru saja muncul di belakang Devan.


"Hemmmm,"


"Kau akan check out jam berapa?" tanya Devan pada Alex.


"Belum tahu, nanti siang ada janji temu dengan Mr. Avram." jawab Alex yang baru saja mendudukkan tubuhnya di depan Devan.


"Kalau kamu sendiri bagaimana?"


"Aku," Devan menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja kamu, masak si hantu yang aku sebut." ketus Alex.


"Au akan jalan-jalan bersama adikku."


Alex baru ingat, jika Devan sedang bersama adik perempuannya.


"Lalu dimana dia?"


"Apa masih tidur jam segini."


"Mungkin," jawab Devan acuh tak acuh, menggedikan baunya tak tahu.


"Aku rasa ini sudah tidak pagi lagi,"


Mereka terdiam beberapa saat ketika pelayan datang membawa pesanan mereka.


Devan mengambil secangkir kopi panas dan menyesapnya perlahan, pun sama dengan yang dilakukan oleh Alex.


"Ada kabar apa?" Devan bertanya dan memandang Alex, menaikkan sebelah alisnya.


"Arka akan menikah dua hari lagi,"


"Anak itu bagaimana nasibnya jika sudah menikah."


"Pasti akan sangat datar, seperti wajahnya yang sangat membosankan." Devan menertawai ucapan Alex barusan.


"Hah kau menertawakan Arka, kau tak tahu saja jika Arka adalah mantan kekasih adikmu itu, jika tahu entahlah apa yang akan terjadi ..., perang dunia ketiga mungkin." batin Alex bermonolog, sambil menaruh cangkir kopinya yang baru saja ia sesap.


"Aku tak tahu kalau soal itu,"


"Lihat saja nanti." Alex.


🌷🌷🌷


"Kakak, kau disini ternyata, aku tadi mencari kakak kemana-mana tahu." Icha berlari ke arah dimana mereka berada.


"Kau masih terlelap tadi."


"Maafkan aku kakak." Icha memeluk kakaknya dari belakang, bertingkah manja seperti anak kecil yang sedang merindukan kasih sayang ayahnya.


"Duduklah, kau ingin sarapan apa?" tanya Devan datar tanpa ekspresi.


"Aku ingin roti panggang isi daging saja kak."

__ADS_1


Devan melambaikan tangannya memanggil pelayan cafe itu dan memesan makanan serta minuman yang di inginkan adiknya.


"Ternya dia juga disini." Icha mendengus melihat wajah Alex yang belum juga pergi.


"Dia sebentar lagi akan pergi, kau tak usah kawatir." Devan melirik Alex.


"Hah iya, aku masih menunggu klien yang akan aku temui, jika sudah siap aku akan check out."


"Letakkan ponselmu, jika diajak berbicara pada orang yang lebih tua." Devan memandang Icha tajam.


"Baiklah kakak, ini aku letakkan."


"Nanti setelah berkuda aku ingin berkeliling dikota ini."


"Kalian akan berkuda?" tanya Alex antusias.


"Ehmm iya, bukan kami, tapi aku saja tahu." Icha menyahut ucapan Alex.


"Jam berapa kalian akan berangkat?" tanya Alex yang sepertinya berminat juga.


"Apa kau mau ikut?"


"Jika kau mau ikut, maka harus membayar sendiri, karena aku tak memiliki uang saat ini." Icha yang biasanya suka mentraktir mendadak perhitungan, itu semua karena tasnya masih dalam mode sita oleh kakaknya.


"Jangan kawatir soal itu, aku akan membayar sendiri."


"Ehh tunggu dulu, katanya kau akan bertemu klien, bagaimana bisa kamu akan mengikuti kami?" tanya Icha.


"Nanti setelah bertemu dengan Klien aku akan menyusul kalian."


"Hemm terserah saja."


Icha menghentikan ucapannya, kala pesanannya datang, dan langsung melahapnya.


Bahkan jika orang tak tahu lebih mirip seperti sepasang kekasih, "Aku rasa Arka akan menyesal seumur hidupnya jika mengetahui hal ini." batin Alex memandang Icha.


"Baiklah ini klienku sudah mengirim pesan jika dia dalam perjalanan,"


"Aku pamit dulu, jangan lupa tunggu aku menyusul kalian." Alex bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan mereka yang masih meneruskan sarapan paginya.


"Kak aku mau nanya,"


"Apa?" tanya Devan masih tak mengalihkan perhatiannya dari ponsel canggihnya.


"Sejak kapan kakak kenal dengan kak Alex?"


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja," Icha mengunyah roti panggang nya perlahan. Rasa ingin tahu dan penasaran lebih mendominasi dirinya.


"Karena dia memiliki anak buah, dan anak buahnya adalah dosen aku." ingin sekali Icha mengatakan hal demikian, namun tak berani juga ia mengucapkan demikian.


"Kakak mengenalnya sudah sejak dulu kuliah." jawab singkat Rey.


"Ohh aku kira dia hanya sebatas rekan bisnis saja."


"Ehmm iya, setelah ini kami akan membangun proyek bersama."


Seketika Icha terbatuk mendengarkan ucapan kakaknya barusan, "Minumlah, jangan terburu-buru." Devan menyodorkan air putih kemasan mikiknya yang tadi ia pesan, dan masih belum terbuka segelnya.

__ADS_1


"Kakak akan membangun proyek bersama?" tanya Icha sekali lagi, memastikan pendengarannya, apakah salah dengar atau tidak.


"Ehmm iya, beberapa bulan lagi mungkin, nunggu teman kakak satunya lagi setelah selesai bulan madu."


Icha merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, kala nama itu terdengar di telinganya.


"Apa makanmu sudah selesai?"


"Jika sudah ayo, kemasi barang yang ingin kau bawa."


"Baiklah kak aku sudah selesai." Icha bangkit dari duduknya. Bejalan mengekor dibelakang Devan.


🌷🌷🌷


Icha beberapa kali berputar dengan membawa kuda sambil memanah, letak arah panah itu selalu tepat sasaran, bahkan ia bermain kuda seperti tak terkendali, dirinya bahkan lebih mirip sedang melampiaskan patah hatinya, jika semalam ia tak sengaja mendengar Arka akan menikah dua hari lagi. Itu artinya dia harus merelakan hal yang buka. haknya dan tidak ditakdirkan menjadi miliknya.


"Aku merasa dia sangat hebat." Alex yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Devan.


Devan hanya berdiri di luar pembatas sambil bersedekap dada dan memakai topi kuda. "Sejak kapan kau disini?"


"Cukup lama untuk mengamati adikmu bermain kuda dan memanah."


"Sejak kapan kau melatihnya?"


"Dia memang menyukai hal-hal yang dapat memicu adrenalin."


Devan berbicara demikian, pandangannya masih lurus kearah Icha, yang berputar beberapa kali. Wajah dinginnya sangat kentara,"Apa karena dia juga sehingga membuatmu menolak banyak cewek?" tebak Alex asal.


"Kau benar, aku tak ingin siapa pun menyakitinya."


"Sekarang kau tahu, jika aku melindunginya dengan susah payah."


"Dia adalah cahaya di keluarga kami."


Devan seperti terdengar mencurahkan isi hatinya, "Kau memang hebat, dan sekarang kau berhasil mendidiknya dengan baik."


"Apa lelaki sepertiku bisa masuk kriteria menjadi iparmu?" tanya Alex random dengan sedikit candaan.


"Tidak akan," Seketika Devan menoleh kerahnya, memicingkan matanya tak suka.


"Baiklah baik, aku tak akan berani mendekatinya."


"Tapi bagaimana jika adikmu berpacaran dengan sahabatmu, lalu disakiti,"


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alex memancing Devan.


"Apa kau mengetahui sesuatu?" pandangan itu berubah menjadi sebuah pertanyaan mengerikan bagi Alex.


"Tidak, aku hanya berandai-andai saja?"


"Tak ada kata berandai-andai, dan kalaupun kenyataan demikian,"


"Aku akan membalasnya dengan balasan setimpal, dengan apa yang dia lakukan pada adikku."


"Jadi bagaimana?"


"Apa kau sudah siap dengan konsekuensi itu?" tanya Devan seperti sebuah ancaman.


"Kenapa kau bertanya padaku?"

__ADS_1


dan


Bersambung


__ADS_2