
pagi pagi sekali, Arka berniat ingin turun ke lantai bawah, hanya untuk sekedar meminum kopi dan bersantai di pagi hari.
Arka berjalan menuju ke arah lift, tanpa sengaja manik matanya bertatapan langsung dengan perempuan yang tidak sengaja bertemu dengannya saat ini. Untuk beberapa saat tatapan mereka saling terkunci.
Arka dulunya sewaktu sekolah adalah mantan fuckboy, hampir banyak wanita ia pacari, namun tidak benar benar ia anggap serius, Arka hanya memanfaatkan wajahnya yang rupawan, dengan tinggi badan yang ideal bak model profesional. Membuatnya digilai banyak perempuan perempuan di sekolahnya dulu.
Walaupun kini dirinya sudah bertaubat, tapi ia sangat tahu arti tatapan dari mata lawannya, "Tuan Arka." sapa Yuju sekenanya.
Arka hanya menganggukkan kepalanya saja, dan berlalu masuk ke dalam lift, tanpa di duga Yuju juga masuk ke dalam lift. Hawa dingin terasa menguar diantara keduanya, membuat kedua orang itu merasakan hal lain.
Bagi Arka ia mengabaikan situasi yang ia hadapi saat ini, tetapi tidak dengan Yuju, Yuju yang berdiri dibelakang Arka terlihat salah tingkah, hingga kedua tangannya saling bertautan untuk menghilangkan rasa grogi.
Mau mengajak Arka berbicara lagi pun juga enggan, mulutnya seolah terkunci rapat, suaranya seperti terasa tercekat di tenggorokannya.
Arka berpura pura sibuk dengan ponselnya dan sesekali mencuri-curi pandang ke arah bayangan yang ada di depannya. Jelas sekali pantulan tubuh Yuju yang dapat ia lihat didepan nya saat ini.
"Ini masih pagi nona, kenapa anda pergi sendirian?" tanya Arka setelah sesaat sebelum pintu lift terbuka.
"Ahhh an.. anda berbicara dengan saya tuan?" tanya Yuju membeo sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, memangnya ada siapa lagi disini?" jawab Arka.
Hal itu membuat Yuju antara tersipu malu dan juga bingung jawaban apa yang dia berikan. Yuju kembali meremas kedua telapak tangannya untuk menghalau rasa gugupnya.
Tringgg... pintu lift terbuka, Arka keluar dari pintu lift dan di ikuti Yuju dari belakang. Tuju berjalan sedikit berlari berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Arka.
"Saya akan pergi ke kafe yang ada di ujung sana tuan." jawab Yuju, jari telunjuknya mengarah kafe yang ia sebutkan tadi.
Arka hanya mengangguk saja sebagai jawabannya. Lalu kembali meneruskan langkah kakinya menuju tempat yang menjadi tujuan mereka masing masing.
***
.
.
"Megan aku ingin es boba." keluh Icha pagi pagi, padahal cuaca masih dingin, sisa sisa salju yang perlahan mulai mencair dan berganti dengan hangatnya sinar mentari pagi.
Icha baru saja mandi dan mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah. Lalu memoles wajah putih pucatnya dengan make up natural.
"Ini masih pagi, haruskah minum sekarang?" tanya Megan. Meletakkan ponsel pintarnya ke atas meja nakas.
"Aku bilang sekarang, itu artinya aku ingin minum sekarang, bukan tahun depan." ketus Icha.
__ADS_1
Megan mendegus kesal atas permintaan sahabatnya kali ini, tetapi sebagai asisten yang baik, tanpa banyak bicara Megan turun dari tempat duduknya dan berjalan mengambil mantel untuk turun ke bawah.
"Mau kemana?" tanya Icha yang memperhatikan Megan sekilas.
"Mau membeli permintaan mu nona."
"Sekarang?"
Megan mendelik sebal, kenapa Icha jadi cerewet dan sangat menyebalkan menurut nya. "Ya kau bilang ingin minum es boba sekarang bukan tahun depan, siapa memangnya tadi yang bilang demikian?" ucap Megan sambil menarik nafas menahan rasa kesalnya.
"Ah iya aku lupa, ehmm maksud aku kenapa kamu memakai mantel segala?" Icha.
"Tentu saja, karena diluar masih dingin, jadi aku rasa membutuhkan mantel."
"Baiklah, pergilah sana, aku akan menunggumu disini saja." ucap Icha sambil melambaikan tangannya seperti gerakan sedang mengusir.
"Kenapa dia semakin hari semakin banyak maunya saja." keluh Megan, bergumam pelan. Begitu dirinya berjalan keluar dari kamar.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ke lantai dasar, menuju kafe yang menjadi tujuan nya saat ini.
"Apakah Tuan sudah memiliki kekasih?"
"Belum." jawab Arka singkat.
Megan menoleh ke arah sumber suara, begitu ia sangat terkejut, Megan reflek berhenti dan memperhatikan mereka. Kakinya mundur satu langkah ke belakang, agar keberadaan nya tak di ketahui oleh mereka.
Kebetulan terdapat pot bunga yang sangat besar di sampingnya, sehingga keberadaannya tidak begitu terlihat jelas oleh pandangan keduanya. Tanpa sengaja Megan merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel dan memotret mereka berdua.
Takut juga jika keberadaan dirinya diketahui oleh Yuju dan juga Arka, Megan segera berbalik dan kembali ke tujuan awal.
Megan kembali ke lantai dimana tempat mereka berada. Dengan dua cup es boba berukuran jumbo. Masing-masing memiliki rasa yang berbeda.
"Ini pesananmu."
Meletakkan begitu saja di atas meja, tetapi respon Icha hanya meliriknya sekilas. Tanpa menyentuh minuman es yang tadinya inginkan.
"Kenapa kau diam saja nona, bukankah tadi kau menginginkan nya?" tanya Megan pada Icha.
"Nanti saja aku minum, aku sekarang masih ingin melanjutkan ini." jawab Icha acuh.
Hal itu membuat Megan mengambilnya lagi dan menaruh di lemari pendingin, "Terserah lah, bos memang sesuka hatinya."
"Kau berbicara apa?" tanya Icha yang mendengar Megan sedang bergumam.
__ADS_1
"Tidak ada."
"Tapi tadi aku seperti mendengar kau sedang berbicara."
"Aku tidak berbicara padamu, aku hanya bergumam saja." bantah Megan, sambil mendudukkan tubuhnya di kursi sofa tunggal seberang Icha.
"Apa kau sedang menggambar lagi?" tanya Megan yang sedang mengamati Icha.
"Ehmmm."
"Di dunia entertainment tak selamanya bakalan tenar terus menerus, jadi ada pasang surutnya."
"Kau benar, jadi apa langkah kamu selanjutnya?"
Icha menunjukkan sebuah desain pakaian model terbaru yang ia tunjukkan pada Megan, hampir seratus persen ia selesai dengan sketsa dan mewarnai nya.
sebuah pakaian musim dingin dengan tali di bagian pinggang dan kancing kanan kiri, membuat desainnya terlihat biasa namun elegan.
"Sejak kapan kau pandai menggambar?"
"Sejak kecil, apa kau baru tahu?"
Megan mengangguk kan kepalanya. Saat ini memang dirinya sedang berbincang dengan Icha, namun pikirannya masih berputar putar pada dua orang yang sedang berbincang tadi.
"Aku sepertinya sedang melihat senyum palsumu."
"Senyum palsu?" tanya Megan membeo.
"Ya, kau sedang ada masalah apa?" tanya Icha pada Megan. Tapi tangan lincahnya kembali dengan desain baru selanjutnya.
"Tidak ada, aku hanya heran saja dengan pikiranmu yang sebentar sebentar berubah."
"Aku rasa saat ini grup member kalian sedang naik daun, dan memiliki banyak fans di seluruh dunia."
"Jadi sangat sulit untuk kalian mundur dari dunia entertainment dini." kata Megan mengalihkan perhatiannya.
"Hemm kau benar, tapi tak selamanya dunia entertainment bisa ku andalkan,"
"Kau tahu, banyak orang yang menunggu hasil kerja kerasku hanya untuk sesuap makanan."
Megan terdiam ditempatnya, ia masih belum mengerti dengan ucapan Icha baru saja.
Hallo raeder, jangan lupa like dan komen ya abang Arka dan juga nona Icha.
__ADS_1
Mohon maaf baru bisa update