
Bibirnya tersenyum tipis dan terasa menghangat hanya melihat gambarnya saja. Ingin rasanya pekerjaannya ini cepat selesai dan kembali ke unit apartemennya di Oxford.
Pagi hari Arka kembali menjalani rutinitasnya setiap pagi, bagun pagi joging di area taman apartemen itu, ia berlari kecil mengelilingi taman , kemudian mandi dan membersihkan diri, ia berharap pekerjaannya selesai lebih cepat dari waktu yang telah ia tentukan.
"Sudah siap" Alex yang sudah rapi dan menjemput dirinya.
"Hemmm, ayo jalan" sambil memasuki mobilnya.
Mereka berjalan beriringan memasuki lobby kantor menuju lift, seluruh karyawan yang mereka lewati berdiri menganggukkan kepalanya menyapa bosnya itu.
"Sungguh sangat tampan" bisik-bisik karyawan Arka.
"Siapa perempuan beruntung yang akan menjadi istrinya kelak" sahut perempuan satunya.
"Tentunya perempuan dengan kasta yang sama dengannya, kita tak ada tandingannya jika seandainya bersanding dengan lelaki setampan itu"
"Iya kau benar, jika di kehidupan yang akan datang aku ingin kelak mendapatkan pendamping seperti dirinya"
"Cek mimpi saja kamu, mimpi jangan ketinggian jatuh baru tahu rasa lho"
Begitulah bisik-bisik perempuan yang Arka lewati tadi, bagaimana tidak kagum pada bosnya itu, setiap kali selalu saja terlihat sempurna dimata para karyawan perusahaan.
Arka berjalan dengan tubuh gagahnya, dengan tampilan yang terlihat mengagumkan memasuki ruangannya.
***
Sedangkan ditempat lain, Icha bersiap akan pergi kantor bersama Megan, "kau antarkan aku lalu kau bisa bawa mobilku". perintah Icha pada Megan.
"Baiklah, kau sudah selesai bersiap" Megan
"Sudah, ayo" Icha
Mereka berjalan keluar dengan beriringan menuju basemen dimana mobilnya terparkir.
"Nanti kamu tak usah menjemputku, aku akan pulang bersama Mika" Icha
"Baiklah, aku akan langsung pulang saja nanti" Megan
__ADS_1
Dikantor Icha memulai pekerjaannya mengecek file-file, dan laporan keluar masuk keuangan.
Tak terasa waktu jam makan siang telah tiba. Tring....
sebuah notifikasi masuk di ponsel Icha.
"Kapan kau akan ke korea, apa kau tak kangen pada kami, kami sangat merindukanmu" Yuju telah mengirimi pesan singkat pada Icha.
Icha membuka ponsel yang terletak di meja, membuka isi pesan singkat itu kemudian tersenyum. "Sebentar lagi aku akan kembali, bersabarlah, nanti akan aku ajak jalan-jalan berkeliling" balas Icha.
"Kapan kau kembali, apa masih satu tahun lagi" Yuju
"Tak lama lagi, mungkin setelah tugas terakhirku selesai, dan wisuda" Icha.
"Itu sangat lama nona, ayo setelah kau kembali kita jalan-jalan lagi ke suatu tempat" ajak yuju
"Bersabarlah, tunggu aku kembali"
"Baiklah jangan terlalu lama kembali" Yuju.
"Apa semuanya sudah siap, tak ada waktu yang tertinggal" tanya Alex pada Arka yang siap mengantarkan dirinya ke bandara.
"Aku rasa sudah tak ada yang tertinggal"
"Ayo" Arka berjalan lebih dulu di depan Alex dengan membawa koper ditangannya. Perjalanan dari Tokyo ke London memakan waktu tiga belas jam satu menit. Lalu diteruskan perjalanan ke Oxford dengan mobil jemputan suruhan Arka. Tibalah dirinya kini di apartemennya yang sudah beberapa minggu ini ia tinggalkan.
Arka berdiri di depan pintu apartemennya dan menekan kata sandi, lalu membuka pintu itu sambil menarik nafas pelan lalu membuangnya perlahan. "Akhirnya kembali lagi ke tempat ini" gumamnya pelan.
Dirinya langsung menaruh kopernya dan membersihkan diri dikamar mandi lalu mengistirahatkan tubuhnya di ranjang king size miliknya itu dengan tidur terlentang.
Arka nyampai di unit apartemennya pada sore hari, dan dirinya tadi terbangun sewaktu perutnya terasa keroncongan meminta di isi. Arka membuka isi kulkasnya, disana tak ada apa-apa hanya ada air, dirinya lupa jika telah lama meninggalkan apartemennya terlalu lama sehingga menyebabkan bahan persediaan di dalam kulkas itu kosong semua, dan sewaktu perjalanan kemari dirinya tak memikirkan soal isi kulkas itu.
Dari pada dirinya ribet mencari bahan makanan atau makan diluar lebih baik ke tempat sebelah di tempatnya Icha. Tring.... suara bel apartemen Icha, "Ada tamu sepertinya, coba kau buka sana" perintah Icha pada Megan, karena saat ini Icha sedang sibuk memasak di dapur dengan spatula di tangannya.
"Siapa" tanya Megan konyol.
"Iya mana aku tahu nona, aku juga di sini kan" sahut Icha sambil menggoreng ikan.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu dulu aku akan membukanya" Megan sambil berjalan ke arah pintu.
"Lama sekali kamu membuka pintu..." ucapan Arka terhenti kala yang membuka pintu bukanlah Icha tetapi Megan.
"Ehmm maaf apa Icha nya ada" tanya Arka pada Megan.
Sedangkan Megan yang di ajak berbicara diam mematung melihat lelaki tampan di depannya itu, beberapa detik kemudian dirinya baru tersadar ketika Arka mengulang pertanyaannya.
"Apa nona Icha ada didalam" Arka mengulang kembali pertanyaannya dengan melambaikan tangannya di depan wajah Megan.
Siapa Meg, kenapa membuka pintu saja lama sekali, apa di sana ada hantu penunggu pintu. Icha berteriak dari dalam, penasaran tamu yang datang siapa.
"Silahkan ma....masuk tuan, Icha ada di dalam" Megan mempersilahkan Arka masuk, disana dirinya langsung mendapati Icha yang sedang memasak di dapur dengan serius.
Arka bukanya duduk tetapi langsung menyusul Icha di dapur. "Berikan aku makanan, aku sangat lapar" pintanya pada Icha yang tiba-tiba datang dari arah belakang Icha.
"Kakaaaak" Icha berlari memeluk Arka di depan Megan, sepertinya dirinya sangat kangen dengan Arka sehingga menyambutnya dengan antusias.
"Kakak kemana saja selama ini, kenapa tak pernah menghubungiku, apa kakak menemui pacar kakak yang artis itu" cecar Icha panjang lebar, tanpa memberikan kesempatan pada Arka untuk menjawab.
"Cek kau ini, baru ditinggal beberapa minggu saja sudah seperti tak ketemu bertahun-tahun" Arka
"Nanti bisa gosong ikanmu itu" Arka mengingatkan jika dirinya tadi sedang memasak, "Ahh iya aku lupa, ikanku yang berharga" sambil berlari melihat ikannya.
Megan yang melihat adegan dua orang itu sangat bingung ada hubungan apa lelaki tampan dan juga Icha ini. begitulah batin Megan.
Icha menyelesaikan masakannya dibantu Arka yang menata di meja makan, sambil berceloteh kemana-mana. Bukan Icha namanya jika dirinya tak mendapatkan jawaban yang memuaskan maka akan bertanya terus menerus.
"Kakak, kenapa perginya lama sekali" tanya Icha lagi sambil mendudukkan posisinya tepat di depan Arka. Sedangkan Megan duduk disampingnya.
"Ehmm iya kakak kan sudah bilang jika ada banyak pekerjaan diluar negeri" jawabnya santai.
"Pekerjaan apa sehingga memakan waktu berminggu-minggu seperti itu" tanya Icha lagi...
Megan hanya mendengarkan percakapan dua orang itu, sambil mengambil makanan ke piringnya. Menunggu kesempatan untuk bertanya pada dua orang didepannya itu
Bersambung
__ADS_1