Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Penantian


__ADS_3

"Penantianmu akan sia-sia jika menungguku." ucap Icha menoleh pada Arka.


"Tak apa, jika kesempatan kedua masih bisa aku dapatkan."


"Terserah kamu saja."


"Aku sudah tidak ingin menjalin hubungan lagi," lirihnya.


"Aku akan melamarmu didepan kakak kamu kalau begitu."


"Tidak, jangan.."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja kau akan mendapatkan tonjokan saja nanti." ucap Icha penuh keyakinan.


"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Arka lagi, memandang wajah Icha dalam. Mengisyaratkan masih ada cinta disana.


"Ehmmm iya," Icha tak bisa lagi menjawab pertanyaan Arka.


"Tak apa aku mendapatkan satu tonjokan saja, atau bahkan bisa lebih."


"Asal aku bisa bersama kamu."


"Jangan, nanti kamu kalau terluka bagaimana?"


Icha masih saja berusaha menghentikan usaha Arka untuk berbicara dengan kakaknya.


"Kau masih mengkhawatirkan aku?" Arka maju satu langkah mendekati Icha, bahkan kini nafas mereka terdengar satu sama lain.


Icha dibuat kaku olehnya, dirinya menjadi salah tingkah dan bingung harus berbuat apa, karena jarak mereka yang saat ini sangat dekat.


Cup...


Satu kecupan mendarat di bibir Icha, Icha masih terlihat membeku tak bergeming.


"Aku yakin, jika masih ada rasa yang sama dihatimu."


Tanpa berkata-kata lagi Icha berbalik dan berlari menuju kamarnya, Arka yang melihat tingkah lucu Icha tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.


🌷🌷🌷


.


.


"Kapan kau akan mengajakku jalan-jalan berkeliling." tanya Megan sambil membaca novel online kesukaannya.


Tetapi yang diajak berbicara malah diam melamunkan sesuatu, mungkin saja Icha masih kepikiran kata-kata Arka tadi.


Megan menoleh melihat kearah Icha, karena pertanyaannya tak mendapatkan respon sama sekali.


"Icha, kau sedang memikirkan apa?" tanya Megan menaruh ponselnya diatas meja di depannya.


"Icha...," panggilnya sekali lagi.


"Ehmmm... iya apa?" tanya Icha menjadi gelagapan.


"Ck, kau ini sedang melamunkan apa?"


"Kau dari tadi ku ajak bicara, tapi sama sekali tidak merespon aku."

__ADS_1


"Katakan, apa yang kau pikirkan?" cecar Megan memandang Icha tajam.


"Tidak ada, aku hanya memikirkan meeting besuk apakah berjalan lancar atau bukan." ucapnya tak berani memandang wajah Megan.


"Benarkah..?"


"Ehmmm..., iya kenapa memangnya?"


"Tapi kau tak pandai berbohong nona." Megan.


"Ah.. sudahlah lupakan, kau tadi berbicara apa memangnya?"


"Ck, kau ini pandai sekali berkilah." Megan berdecak kesal.


"Kapan kau akan mengajakku jalan berkeliling?" Megan mengulangi pertanyaan yang sama dengan tadi.


"Besuk-besuk jika tak ada rapat penting lagi."


"Tapi aku rasa kamu setiap hari ada rapat penting terus." Megan menjawab malas.


"Bersabarlah, aku juga sudah penat dan ingin jalan-jalan."


"Baiklah terserah kau saja." Megan kembali lagi mengambil ponselnya untuk melanjutkan membaca novel online kesukaannya.


"Aku akan tidur, kau jangan tidur terlalu malam, besuk pagi kita akan berkeliling kebun teh." Icha menarik selimutnya dan bersiap memejamkan matanya.


Sedangkan Megan hanya melirik dirinya sekilas, tak begitu menghiraukan ucapan Icha.


Pagi harinya, semalam Icha sudah berpesan pada Megan, agar jangan tidur terlalu malam, karena dia akan mengajaknya jalan-jalan keliling kebun teh dan menghirup udara segar di pagi hari.


"Ck, anak ini..., pasti tidur dini hari lagi." decaknya memandang ke arah Megan yang masih terlelap.


Icha memutuskan berbalik dan akan berjalan-jalan sendirian mengelilingi kebun teh di area villa.


Dirinya berlari-lari kecil, namun baru beberapa langkah sudah melihat pemandangan yang membuat hatinya terbakar cemburu.


Pasalnya Arka sedang bersama seorang wanita yang selama ini Icha tidak tahu.


"Ck, katanya ingin balikan, tapi apa itu."gumamnya pelan, yang hanya di dengar dirinya sendiri.


"Bahkan mereka terlihat mesra." menghentikan jalannya dan mengamati mereka.


Tadi ketika Arka akan jalan-jalan pagi berkeliling kebun teh diketahui oleh sekretarisnya yang sudah lama mengincar dirinya. Namun Arka hanya bersikap cuek dan biasa saja.


Karena memang awalnya hanya Alex dan juga Jenifer saja yang berangkat pergi meeting kali ini, namun diluar dugaan ternyata Arka menyusul mereka.


Ini kesempatan emas bagi Jenifer sekretaris pusat untuk mendekati Arka.


"Aduh..., kakiku."


"Kau kenapa?" tanya Arka yang awalnya biasa saja, namun melihat kaki Jenifer yang ternyata memang tak bisa di gerakkan akhirnya Arka melihatnya.


"Tidak tahu, ini sepertinya terkilir."


"Sudah kukasih tahu, agar dirimu tak usah mengikutiku, tapi kau tak mau mendengarkanku sama sekali." omel Arka.


Tanpa berpikir panjang Arka mengangkat tubuh ramping Jenifer, membawanya kembali ke villa tempat mereka beristirahat.


"Tidak, jangan kau gendong aku.."


"Sudahlah diamlah, sudah tahu terkilir masih saja banyak bicara." ucapan Arka telak.

__ADS_1


Seketika Jenifer bungkam dan mengamati tingkah Arka ketika mengangkat tubuhnya.


Hal itu tak luput dari pengamatan Icha yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Tidak, kau tak boleh termakan rayuannya lagi." lirihnya.


Icha menggelengkan kepalannya pelan, lalu melanjutkan joging kecil mengelilingi kebun teh.


Tak jauh dari ia berjalan, terdapat gazebo, Icha yang sudah mengeluarkan keringat di pelipisnya itu berhenti sejenak dan duduk disana sendirian.


Cukup lama Icha bersantai disana, hingga terdengar panggilan dari ponselnya.


"Ya kakak..?"


"....


"Baik aku akan kembali.."


Menutup ponselnya dan berbalik arah. "Ada apa kakak memanggilku?" tanya Icha.


"Kau tak lihat, ini jam berapa?"


"Kenapa memangnya?" tanya Icha yang memang lupa jika sebentar lagi jadwal meeting segera dimulai.


"Kau lupa, jika sebentar lagi jadwal meeting, dan kau sebagai penerjemah bahasa." ucap Devan datar tanpa ekspresi diwajahnya.


"Baiklah kakak,aku akan mandi dulu."


"Hemm iya, dalam lima belas menit harus sudah berada di meja makan."


"Ehhh mana bisa seperti itu." protesnya.


"Tak ada bantahan."


Seketika Icha berjalan menuju lantai dua kamarnya dan menghentakkan kakinya kasar, pasalnya ia sedang kesal bertubi-tubi pagi ini, melihat Arka yang sedang bermesraan dengan perempuan lain dan di tambah tekanan dari kakaknya.


"Kau dari mana saja?" tanya Megan yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Sepertinya Megan baru saja selesai mandi.


"Aku habis berkeliling tau." sambil berjalan kearah kamar mandi, membuka pintunya kasar dan menutup dengan suara kencang.


"Itu bocah kesurupan kali iya,"


"Tiba-tiba saja berubah aneh begitu." Megan menggelengkan kepalanya pelan.


Tring...


Sebuah notifikasi di ponsel Icha sedang berbunyi,"Nanti selesai rapat temui aku di gazebo." pesan singkat yang bisa dibaca lewat notifikasi itu.


"Dosen Arka ingin mengajaknya bertemu?" gumam Megan pelan. Memegangi ponsel Icha yang tadi diletakkan di meja nakas sebelum anak itu memasuki pintu kamar mandi.


"Apakah mereka akan balikan lagi, oh Tuhan sangat disayangkan jika mereka beneran berpisah."


Megan menggelengkan kepalanya sendiri membayangkan yang tidak-tidak.


"Kau kenapa?" tanya Icha yang keluar dari mandi kilatnya.


"Aku, kenapa?" Megan membeo.


"Tentu saja kamu, siapa lagi yang aku tanya?" ketusnya sambil mengambil pakaian dari dalam lemari kecil itu.


dan

__ADS_1


bersambung


__ADS_2