Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Rapat part2


__ADS_3

Rapat kali ini terlihat lebih serius, Icha yang bertugas sebagai penerjemah bahasa sekaligus mencatat hal-hal apa saja yang penting membuatnya terlihat lebih serius dan berkonsentrasi.


"Baiklah berdasarkan ringkasan rapat yang saya catat baru saja ada beberapa hal yang harus saya bacakan ulang."


"Saya disini sebagai penerjemah bahasa dan sebagai pemandu acara rapat akan membacakan kembali hasilnya, yang pertama adalah penandatangan MOU kesepakan kerjasama antar pihak pertama dan pihak kedua, selanjutnya kita akan mengunjungi tempat proyek pertambangan yang ada di lokasinya, yang ketiga perekrutan tenaga baru yang berkompeten yang lima puluh persen berasal dari penduduk lokal dan lima puluh persen lagi dari berbagai daerah, selanjutnya proyek pertambangan akan segera dimulai, yang meliputi tambang batu bara, emas dan berlian."


"Mungkin ada yang mau menambahi." Icha begitu terlihat bersinar jika berbicara serius seperti ini, yang mampu membuat Arka sangat takjub dibuatnya, tak ayal pula rekan kerja Devan juga tak berkedip melihat dan mendengarkan penjelasan Icha dengan sangat serius. Yang mana hal ini malah membuat Arka sangat tidak suka, ingin sekali dirinya menarik istrinya dari hadapan mereka saat ini dan mengurungnya saja di kamar.


"Ada lagi, saya akan menambahkan." Raka yang sebagai partner bisnis kali ini mengangkat tangannya.


"Silahkan tuan Raka." Icha mempersilahkan dengan sopan.


Tetapi membuat Arka sangat panas hatinya, namun dirinya berusaha menguasai diri dan menyimak hingga selesai. "Selain semua yang sudah nona Icha katakan tadi kita masih perlu membangun infrastruktur untuk akses menuju kelokasi, karena berdasarkan tinjauan kemaren, lokasi masih alami dan belum terjamah siapa pun, hanya warga setempat saja, itu pun sangat jarang."


Icha kembali mencatat usulan dari Raka,"Baiklah sudah saya catat usulan anda tuan Raka, terimakasih, barangkali ada yang lain yang mau menambahkan atau pun mengomentari."


Jenifer yang sejak tadi duduk di samping Arka berusaha membuat Arka terkesan, padahal Arka sejak tadi fokusnya teralihkan pada istrinya itu.


"Saya juga akan menambahkan." Akhirnya Jenifer angkat tangan, yang mana membuat seluruh ruangan itu perhatiannya kembali tertuju padanya, yang mana malah membuat Arka begitu terkejut, ternyata sejak tadi duduknya berdampingan dengan Jenifer.


"Silahkan nona Jenifer."


"Baiklah terimakasih nona Icha, siapa yang akan menyeleksi perekrutan tenaga baru nanti?"


"Karena semuanya akan mempengaruhi kinerja dan hasil dari proyek itu sendiri, jadi saya rasa harus ditentukan mulai dari sekarang." ungkap Jenifer.


Namun kini seluruh ruangan malah melihat ke arah Arka. "Kenapa kalian semua melihatku?" tanya Arka bingung.


"Saya rasa tuan Arka mampu menyeleksi satu persatu tenaga baru untuk pekerja proyek." celetuk Raka tiba-tiba mewakili seluruh isi hati semua orang yang ada di ruangan itu.


"Tidak, saya bagian yang lain saja." Arka berusaha menolak dengan cara halus.


"Dalam hal ini tidak boleh menolak, semua anggota harus solid." Devan bersuara.


"Hemm iya, aku menyetujui kamu Dev." Rey mengiyakan usulan Devan.


"Baiklah berarti sudah ditetapkan, Arka yang akan ditempatkan di lokasi untuk menyeleksi tenaga baru." ucap Devan datar tanpa mau dibantah sekali pun.


"Ehmm iya, tapi saya rasa juga harus ditemani, atau dia akan sangat kewalahan." celetuk rekan lainnya.

__ADS_1


"Ehmm iya, rasa Jenifer akan bersedia jika menemani Arka." usul Raka lagi, yang mana membuat Arka memicingkan matanya ke arah Raka, ingin sekali dirinya melayangkan protes lagi, tapi akan sangat sia-sia saja jika dirinya protes, karena dianggap tidak mementingkan pekerjaan, dan lebih mementingkan urusan pribadi.


"Bagaimana yang lainnya, apakah setuju mengenai hal ini." suara Icha menginterupsi.


"Baiklah saya setuju," Rey dan di ikuti yang lainnya.


Sepanjang rapat telah terjadi perdebatan yang terkadang berlangsung sangat alot, kadang berlangsung lunak. Tergantung situasi yang sedang dibahas.


Dalam bekerjasama tidak bisa condong pada satu arah saja, Arka dan kawan-kawannya bahkan harus siap memikul beban bersama dan dan melewatinya bersama.


"Baiklah rapat kami akhiri sampai disini dulu, semuanya sudah mendapatkan tugasnya masing-masing, dan bisa mulai dikerjakan setelah rapat ini ditutup." Icha.


Mereka keluar dari ruangan satu persatu, Icha keluar lebih dulu tanpa menghiraukan suaminya, namun ketika di depan dirinya malah kembali bertemu Arka.


"Nona Icha anda sangat berbakat sekali nona mengenai perusahaan dan seisinya." puji Raka.


Yang mana malah menghentikan langkah kaki Icha. "Anda berlebihan tuan, saya hanya masih banyak belajar dari semuanya."


"Tapi saya rasa anda cepat sekali belajarnya, bahkan sepertinya tidak memerlukan waktu yang lama belajar mengenai struktur dan seluruh perangkatnya."


"Ehmm iya, saya mempelajarinya satu persatu tuan, semuanya tidak ada yang instan."


"Ehmm iya anda benar nona."


"Tidak tahu, makan mungkin." jawab Icha santai.


"Jam segini?" tanya Raka melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Iya."


"Baiklah saya juga akan ikut."


"Ayo...," jawab Icha cuek.


Tanpa tahu dan memikirkan sejak tadi percakapannya dengan Raka telah ada sepasang mata yang siap memangsanya, namun karena pembahasan suatu hal dengan Devan dan yang lainnya membuatnya tidak bisa menyapa mereka langsung.


Icha dan juga Raka berjalan ke raha restauran yang buka dua puluh empat jam yang berada di dekat kebun teh.


Icha memilih makanan berat dan minuman manis, "Anda semua makan semua ini nona?"

__ADS_1


"Iya lah, saya sudah sangat lapar tuan, menggunakan otak saya untuk berfikir membuat saya ingin makan banyak dan minum yang manis."


"Apa anda tidak taku gemuk?"


"Kalau gemuk iya urusan belakang lah tuan, hidup ini kan cuman sekali jadi iy harus dinikmati."


"Bukankah begitu?" Icha mulai melahap makanannya dengan mulut penuh tanpa basa basi sok jaim atau pun sok menjaga image.


"Anda jangan kaget tuan jika melihat makan saya yang banyak."


"Hah saya biasa saja nona, hanya saja biasanya perempuan akan sangat takut berat badannya nambah jika makan di jam malam."


"Tidak semuanya saya tidak." Icha menjawab dengan mulut penuh.


Hal ini malah terlihat menarik perhatian Raka dan sangat gemas melihatnya, "Anda tidak pesan tuan?"


"Kopi saja sudah cukup."


"Sayang sekali padahal makanan disini enak-enak, sangat cocok dengan lidahku."


"Ehmm iya anda benar nona, apa anda sudah punya kekasih nona?" tanya Raka tiba-tiba.


Icha tak langsung menjawab pertanyaan Raka,"Kekasih akan menghambat karir kita, dan membuat kita kehilangan banyak waktu berharga, iya kalau sampai menikah, kalau tidak kan, akan banyak waktu yang terbuang sia-sia, hati juga."


"Ahh pernyataan anda membuat saya sangat takjub nona."


"Lalu kekasih seperti apa impian anda nona?" tanya Raka lagi, lalu mengangkat cangkir dihadapannya dan menyesapnya.


Tiba-tiba saja membuat Icha teringat wajah tampan suaminya, dan rasanya membuatnya bersemangat dan berbunga-bunga.


"Dia yang bisa memasak, karena aku tidak bisa memasak dan tidak mau belajar memasak."


Icha jadi teringat masa-masa indah saat tinggal berdampingan dengan Arka waktu dirinya kuliah di London.


"Ahh anda perempuan yang sangat unik nona."


Bahkan Raka sendiri juga anti untuk memasuki dapur sekalipun. "Tapi saya menyukai laki-laki yang demikian."


Icha kembali melanjutkan kegiatan makan malamnya, ini hampir tengah malam, tapi Icha makan sebanyak yang dia mau.

__ADS_1


Entahlah jika Megan tahu. Pasalnya dirinya harus menjaga aset tubuhnya.


Dan sepasang mata sejak tadi telah mengawasinya


__ADS_2