
Icha melihat lagi, memastikan penglihatannya, apakah salah atau bukan.
Apakah benar jika orang yang ada di pandangannya saat ini adalah Arka. Dirinya berjalan semakin mendekat dan benar saja. Seketika itu Icha berlari kencan dan memeluk lelaki itu.
"Kakaaaak...,"
Arka sempat terdiam sebentar sebelum dirinya tersadar siapa yang memeluknya saat ini, ternyata si bocah nakal yang selama ini ia rindukan.
"Kakak melupakanku?" Tanya Icha, wajahnya mendongak menatap Arka masih dengan pelukannya.
Arka reflek mencubit hidungnya, sedangkan teman-temannya bengong melihat adegan romantis ini. Berani-beraninya Icha memeluk bos perusahaan yang akan mengontrak jasa mereka. Bagaimana jika tak suka dengan perlakuan Icha, lalu membatalkan kontraknya.
Yuju yang mengetahui jika Arka lah bos perusahaan itu, karena memang Yuju mengetahui info ini dari agensi mereka. Baiklah sepertinya Icha harus di briefing terlebih dahulu sebelum melanjutkan kontrak ini.
"Kamu yang meninggalkan kakak," Wajah Arka cuek saja walaupun mereka saat ini sedang menjadi pusat perhatian.
"Hei maksud kakak apaan." Bentaknya tak terima, Icha melepas pelukannya dan berbicara lantang pada Arka, padahal Yuju sudah was-was saat ini, takut bos perusahaan ini murka pada Icha dan berimbas pada yang lainnya.
Tapi Yuju, Hana, dan Hyun bertanya-tanya, awas saja nanti akan meminta penjelasan dari Icha.
"Benar bukan apa yang aku katakan, aku bahkan sempat mencarimu." Arka tak mengakui jika dirinya sempat meminta detektif untuk mencari Icha, dirinya akan sangat malu jika ketahuan Icha.
"Benarkah, lalu kenapa kakak tak menghubungi aku?"
"Mana bisa aku menghubungi kamu, sementara ponselmu saja nomornya ganti." Kata Arka santai.
Icha baru tersadar jika nomornya ganti, dirinya menggaruk kepalannya yang tak gatal dan nyengir tanpa rasa salah. Berbeda dengan Arka, perasaannya saat ini seperti sedang fi hinggapi kupu-kupu di seluruh tubuhnya, rasanya berbunga-bunga menemukan wanita yang selama ini ia rindukan.
"Iya itu karena kakak." Ucapnya menggantung tak jadi di teruskan. Padahal Arka sudah menunggu apa yang akan di ucapkan Icha.
"Apa?" Tanya Arka yang sudah penasaran.
"Tidak ada, lupakan."
"Sekarang aku mau tanya, kenapa kakak berada di sini?" Tanya Icha, dirinya memang tak tahu menahu soal hubungan bos perusahaan dan jasa yang akan di kontraknya.
"Aku mendapatkan perintah bos perusahaan, untuk menyambut tamu-tamunya." Arka melirik pada ke empat temannya seolah meminta dukungan atas kebohongannya kali ini.
Yuju yang mengerti isyarat itu tak jadi meluruskan kebohongan Arka ini, padahal tadi dirinya sudah hampir meluruskan kebohongan Arka.
Baiklah jika begitu Yuju tak akan ikut-ikutan. Sampai lupa bagaimana cara menyambut tamu, gegara Icha yang heboh itu.
"Baiklah nona-nona silahkan duduk, mohon maaf membuat kalian menunggu lama dan berdiri." Ucap Arka ramah pada mereka.
"Terimakasih tuan." Ucap mereka bersamaan.
Icha masih menyimpan banyak pertanyaan setelah ini, awas saja nanti dirinya akan menanyakan banyak hal terkait ini. Tetapi karena dirinya baru menyadari jika datang ke sini bersama teman-teman satu agensinya membuat dirinya menyimpan banyak pertanyaannya dulu.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih atas kehadirannya kalian di sini,"
"Apa bisa saya mulai sekarang?"
Mereka berbicara banyak hal, terkait hidangan, hanya ada minuman yang tersaji di depan mereka, untuk makanannya sendiri tersaji dimeja lain yang di hidangkan dalam bentuk prasmanan sejumlah mereka, setelah meeting kecil ini mereka akan melanjutkan makan malamnya di sana.
"Bisa tuan, silahkan anda memulai dari sekarang." Kata Yuju mewakili mereka.
Arka di sana tidak sendirian, melainkan bersama dengan Alex. Alex sedari tadi menyimak pembicaraan mereka, namun kali ini Arka seolah meminta pendapat Alex, jika seolah-olah Alex lah di sini bosnya, padahal dalam hati Alex sudah protes.
"Apa-apaan si bos ini, melanjutkan sandiwaranya demi kelinci kecilnya." Begitulah batin Alex bermonolog. Tetapi tak urung juga dirinya tetap saja mengikuti permainan Arka untuk cari aman saja.
"Baiklah sebelumnya saya mohon maaf jika menganggu waktu kalian beristirahat, padahal saya tahu jika kalian baru saja tiba tadi pagi, tetapi sudah ada acara malam ini, yang kami adakan secara mendadak."
Mereka mengangguk dan mendengarkan dengan seksama tanpa menyela ucapan Arka.
"Kalian pasti sudah mendengar jika pengambilan gambar nanti untuk produk kita akan di adakan di beberapa tempat,"
"Kami meminta pada kalian untuk menyiapkan kesehatan kalian saja, supaya tak ada kendala apa-apa saat pengambilan gambar nanti."
"Sampai di sini mungkin ada yang di tanyakan?"
"Ehmmm iya saya rasa saya perlu menanyakan hal apa saja yang perlu kami bawa atau kami siapkan selain menjaga kesehatan kita?" Hana bertanya.
"Mungkin keperluan kalian pribadi seperti obat-obatan pribadi dan kebutuhan pribadi kalian,"
"Intinya hal apa saja yang membuat kalian nyaman." Kata Arka menjelaskan panjang lebar.
"Ehmm iya boleh, tapi setelah proses syutingnya selesai, kalian boleh jalan-jalan."
Diskusi itu membicarakan banyak hal dari mulai yang terkecil hingga yang besar, hingga perkenalan satu persatu pada mereka. Arka di sana berkenalan sebagai asisten dan Alex sebagai bosnya, sungguh konyol bukan sandiwara ini.
"Baiklah nona semua, kalian sekarang bisa menikmati hidangan ala kadarnya dari kami, semoga kalian suka."
"Baik tuan terimakasih," Yuju.
Saat ini mereka sedang sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri yang di hidangkan dalam bentuk prasmanan.
Icha menghampiri Arka, di sana ia ingin menanyakan banyak hal, bukan Icha namanya jika belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Kak sejak kapan kakak berpindah profesi?"
Arka menoleh pada Icha, menautkan salah satu alisnya, dirinya baru menyadari jika Icha tak tahu menahu soal dirinya.
"Sejak dulu." Jawab Arka santai.
"Dulu kapan, apa kakak sudah berhenti menjadi dosen pengajar di Oxford?"
__ADS_1
"Tidak, kenapa?"
"Lalu bagaiamana kakak membagi waktunya, menjadi dosen dan juga karyawan seperti ini, apa bos Alex tak marah."
Seketika itu Alex yang sedang minum mendengar Icha langsung tersedak minumannya sendiri. Ingin ketawa namun juga ia tahan.
Arka mencibir dalam hati kelakuan Alex itu yang ingin menertawai dirinya. "Kak jawab dulu pertanyaan aku, kakak ini lihat apaan sih?"
"Pertanyaan yang mana."
"Ihhh kakak ini selalu saja membuatku kesal, bagaimana kakak membagi waktu menjadi dosen dan karyawan." Ucapannya di tekan supaya Arka memahami kata yang keluar dari mulutnya.
"Itu karena bos kakak sangat baik." Arka sambil menoleh ke arah Alex. Icha mengikuti arah pandangan mata Arka menoleh kemana.
"Benarkah bos Alex sangat baik?" Ucapnya kali ini sedikit berbisik, takut di dengarkan oleh Alex yang jaraknya hanya beberapa meter saja.
"Ehmm iya, ayo kamu makanlah, jika ingin bertanya banyak hal nanti saja,"
Tanpa sadar Arka mengambil piring, dan mengisi beberapa lauk di sana, dirinya baru menyadari kalau menu yang rata-rata ia pesan ini adalah kesukaan Icha.
Setelah piring terisi penuh, Arka menyodorkan pada Icha.
"Ini makanlah, kamu akan kelaparan jika tak makan sekarang."
Icha yang terdiam di tempat mengambil piring dari tangan Arka, lalu mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah itu Arka mengambil untuk dirinya, teman-temannya setelah mengambil makanan mencari posisi tempat duduk di dekat meja prasmanan.
"Aku penasaran, ada hubungan apa sebenarnya Icha sama tuan Arka itu." Hyun, Megan yang sudah tahu belum berani menjawab, takut lancang saja.
"Megan, kamu pasti tahu sesuatu." Hana mencecar Megan.
"Mana aku tahu, aku sendiri juga tidak tahu." Elaknya berbohong.
"Hei kamu kan teman Icha waktu di Oxford, tetapi masak iya kamu tak tahu apa-apa yang terjadi selama di sana?" Hyun.
"Kalau aku lihat dari tatapan tuan Arka, sepertinya bukan tatapan kakak beradik, tetapi seperti tatapan seorang kekasih yang sedang merindukan pacarnya." Hyun berpendapat.
"Mana ada kayak gitu, kamu jangan asal deh." Megan.
"Ehmm iya betul, aku juga merasa seperti itu." Hana membenarkan ucapan Hyun.
Lalu mereka terdiam sesaat, larut dalam pikirannya masing-masing.
Megan berfikir apa iya yang di katakan oleh teman-teman satu girl gruop ini jika dosen Arka menyukai Icha.
Ahh kenapa dirinya tadi tak begitu memperhatikan dosen Arka sih sesal Megan. Sambil mengunyah makanannya Megan melihat ke arah mereka, dan pada saat ia menoleh, saat itu pula dosen Arka mengambilkan makanan dan menyodorkan pada Icha.
__ADS_1
Seketika itu Megan seperti membenarkan ucapan teman-teman Icha, ahh nanti lebih baik Megan menanyakan saja langsung pada Icha.
Megan mengunyah makanannya sambil sesekali melirik ke arah Icha dan dosen Arka, sungguh seperti pasangan kekasih jika seperti ini, saling memperhatikan satu sama lain.