Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Hukuman Akan dimulai


__ADS_3

"Itu karena kakak tadi mengabaikan aku tahu."


Arka mengerutkan sebelah alisnya hingga keningnya membentuk sebuah kerutan.


"Bukankah tadi aktingku sangat bagus, berpura-pura tidak begitu akrab denganmu."


"Terserah." Jawab Icha mulai malas.


Arka malah memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi mulus Icha. Serangan itu tidak ia hentikan hingga sang empunya merasa kegelian karena kumis halus yang mulai tumbuh.


"Bukankah itu kemaunmu, baiklah kalau begitu aku akan mengumumkan pada semua orang jika kamu adalah kekasihku."


"Eh tidak tidak, jangan." Icha.


"Lalu harus dengan cara apa lagi supaya dirimu tak marah padaku."


"Tidak ada, hanya saja jangan cueki aku, dan berperilaku seperti biasa saja."


"Baiklah nona, apa sekarang kamu tak marah lagi."


Icha mengangguk pelan, dan bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Mau balik ke kamar lah."


Tetapi Arka malah menarik tangan Icha dan mendudukkan di pangkuannya lagi.


"Kakak jangan seperti ini, bagaimana jika ada orang."


"Tidak akan,"


"Kak ini hotel nanti ada cctv yang mengintai kita." Icha menoleh kesana kemari.


"Aku sudah memastikannya untuk mematikan seluruh cctv yang ada di dalam sini."


Seketika Icha merasa sebal dengan perlakuan Arka, bagaimana tidak dirinya menjadi merasa was-was tidak tenang dan takut cctv menyala.


"Baiklah aku rasa sudah terlalu lama berada di sini, aku akan balik sekarang."


"Mana salam perpisahanya?"


"Apa, tadi sudah." Icha yang menoleh pada Arka dan menunjuk tangannya ke arah pipinya.


"Tak di ijinkan pergi sebelum ada salam perpisahannya."


Sementara lengan tangan Icha masih di cekal Arka, dengan terpaksa Icha mendekat ke arah pipinya Arka dan mencium sekilas. Perlahan cekalan tangan Arka ia lepaskan dan detik berikutnya lari keluar ruangan.


Arka yang melihatnya menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya dirinya kecolongan.


Setelah keluar ruangan itu Icha memegang dadanya dengan salah satu tangannya, nafasnya terengah-engah karena berlari tadi.


"Huh...bisa spot jantung aku bila seperti ini terus." Gumamnya pelan. Pipinya jadi merah merona kala mengingat ciuman mesra dengan dosennya sendiri. Dosen yang dulu sok dingin bila berhadapan dengannya dan sekarang menjadi kekasihnya. Oh sungguh dunia ini berbalik begitu cepat.


Sebelum memasuki ruangan kamarnya ia netralkan dulu detak jantungnya, jika tidak ia bisa kena interogasi oleh teman-temannya di dalam sana.


"Dari mana saja kamu?" Cecar Megan kala Icha baru saja memasuki ruangan kamar penginapannya.


"Aku tadi ada perlu sebentar, makanya aku balik lagi."


"Tadi kita semua sempat bingung karena mencarimu kemana-mana." Hyun.


"Iya betul, bagaimana tidak, kita jalannya aja bareng-bareng, tiba-tiba saja kamu malah menghilang." Hana.


"Yuju sampai panik, telpon kamu bolak balik mana tak aktif lagi ponselmu." Hana berucap lagi.


"Benarkah?" Kata Icha tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Coba mana ponselmu, sini." Hana menengadahkan tangannya meminta ponsel Icha.


"Ehh eh ngomong-ngomong kenapa kalian berkumpul seperti ini?"


"Udahlah tak usah mengalihkan perhatian orang, sini cepetan mana ponselmu." Hana tak akan mau tertipu oleh alasan Icha.


"Baiklah baik, ini." Merogoh saku celananya dan mengambil benda kotak itu di dalam sana dan menyerahkan di tangan Hana.


"Betul jangan banyak ngeles deh." Hyun malah ikut-ikutan.


Kemudian dirinya mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal di dalam ruangan kamar hotel yang sangat luas itu, Icha melirik Hana yang memegang ponselnya dan siap mengoperasi apa yang ada di dalam sana. Tetapi sialnya ponsel Icha malah mati kehabisan daya.


"Ck..kamu ini, pantas saja tak bisa dihubungi."


"Mana ponselmu mati gini lagi." Hana berdecak malas.


"Iya mana aku tahu kalau ponselku kehabisan daya,"


Tersangkanya malah santai saja seperti tak terjadi apa pun, lalu mencomot keripik talas yang ada di meja di depannya dan memasukkan ke dalam mulutnya. Baru saja akan mengunyah satu suapan malah mendengarkan teriakan.


"Hei itu keripik talasku, bawa sini enak saja. Jika ingin makan keripik talas beli sendiri sana." Kata Megan mengambil lagi dari meja.


"Ck..kamu ini pelit sekali." Icha.


"Iya lah karena ini sangat enak, dan susah di dapatkan tahu."


"Iya nanti kalau ketemu yang seperti itu q belikan yang banyak, kalau perlu satu tokonya " Icha meladeni kekonyolan Megan.


"Mana percaya aku, kamu akan sibuk membeli buah-buahan yang segar-segar." Megan.


"Sudah sudah kalian ini malah berdebat, cepat katakan apa terjadi sesuatu dengan dirimu tadi." Yuju yang sejak tadi diam saja kini mulai membuka suaranya.


"Tidak ada." Icha tak berani memandang manik mata Yuju, takut dirinya ketahuan berbohong.


"Benarkah?" Tanya Yuju seperti sedang mengintimidasi seorang musuh.


"Tatap mataku kalau begitu." Yuju.


Detik berikutnya Icha malah ketawa terbahak-bahak tak bisa Akting lebih lama lagi.


"Aku tahu sepertinya dia sedang membohongi kami." Megan malah mengompori Yuju.


Mungkin kali ini Icha bisa selamat dari kebohongannya, dan setelah ini dirinya harus waspada jika ingin bertemu kekasihnya harus mencari alasan yang pas.


Malam harinya setelah mereka makan malam teman-teman Icha sudah di sibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Yuju dan Hana sudah kembali ke kamarnya sendiri. Hyun sedang rebahan melihat-lihat sosial medianya, Megan membaca buku novel favoritnya di aplikasi online. Sedangkan Icha sendiri sibuk berbalas chat Arka.


Di tengah keheningan malam ini terdengar suara ketukan pintu, mereka saling memandang antara satu sama yang lainnya.


"Siapa?" Tanya Hyun.


Icha mengangkat bahunya tak tahu. Lalu bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamar hotelnya.


Betapa terkejutnya dirinya jika yang datang adalah asisten pribadi kakaknya itu.


"Kamu, ada apa kemari." Tanya Icha tak suka dan bersedekap dada.


"Siapa Cha?" Tanya Hyun berteriak dari dalam.


"Bukan siapa-siapa harimau tanduk." Julukan Icha pada asisten kakaknya ini.


"Maaf nona saya diminta memeriksa tas anda."


"Enak saja, siapa yang menyuruhmu." Dengan nada membentak, dan melengos kearah yang lain. Padahal Icha juga tahu jika yang meminta melakukan hal ini adalah kakaknya.


"Saya hanya menjalankan perintah nona, jika saya tidak di ijinkan memeriksa tas anda sekarang, maka ..." Belum sempat asisten kakaknya itu meneruskan ucapannya. Dirinya sudah berjalan masuk mengambil tasnya.


"Ini, jangan lama-lama."

__ADS_1


Megan yang sangat kepo mengintip, tetapi tidak terlihat begitu jelas karena terhalang oleh punggung Icha yang berdiri tepat di hadapannya orang itu.


Asisten kakaknya itu merogoh dan mengambil dompet Icha, mengambil kartu identitas Icha dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.


"Ini nona."


Icha tidak menyadari jika yang diambil oleh asisten kakaknya ino adalah dompetnya, karena dirinya tak sudi melihat wajahnya saja. Sepertinya dirinya memiliki dendam pribadi.


"Baiklah nona saya permisi dulu."


Icha menyahut tasnya kasar dan menutup pintunya kembali dan membantingnya. Hingga Megan dan Hyun kaget dibuatnya.


"Hei sepertinya kamu sedang kesal."


"Siapa orang tadi?" Hyun.


"Bukan siapa-siapa, dia itu Harimau tanduk." Mengucapkan seperti itu tetapi giginya terdengar gemelutuk.


"Ada apa dengan Harimau tanduk?"


"Apa kamu di terkam?" Megan.


"Dia itu selalu saja membuatku kesal."


"Tak usah membicarakannya lah, membuat moodku memburuk saja." Icha merebahkan tubuhnya di samping Megan lalu memejamkan matanya.


Megan dan Hyun saling memandang satu sama lain. Lalu Megan menggedikkan bahunya tidak tahu.


"Sungguh penuh misteri kehidupan dia ini." Megan.


"Baiklah biarkan saja dia, nanti juga cerita sendiri."


"Iya kamu benar." Megan.


"Kadang seseorang itu memiliki privasinya sendiri, sekalipun itu dengan sahabat sendiri."


"Ehmm iya kamu benar." Hyun.


"Mungkin saat ini Icha belum saatnya mempublish masalahnya, tidak tahu jika besuk atau lusa." Megan.


"Aku saja yang setiap hari melayaninya tidak tahu menahu dengan pasti mengenai masalahnya."


"Ehmm iya aku mengerti perasaanmu." Hyun.


"Tetapi dia adalah wanita kuat aku rasa."


"Dia memiliki cerita perjalanan hidupnya yang begitu miris." Megan.


"Benarkah." Hyun.


Megan menganggukkan kepalanya, dan menjelaskan sekilas mengenai kehidupan Icha yang penuh perjuangan hingga berada di titik ini.


"Di balik sikap cerianya saat ini, siapa sangka jika dia memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan."


"Iya, aku juga awalnya mengira demikian."


"Dia memiliki kehidupan yang sempurna, berasal dari keluarga kaya, ingin apa saja tinggal meminta." Megan.


"Tetapi kenyataannya tak seperti itu." Hyun setelah mengetahui lika liku perjalanan hidup Icha.


"Setiap orang memang memiliki masalahnya sendiri-sendiri."


"Kamu benar."


Lalu terdengar seseorang membuka pintu sebelah, dan..


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2