
"Ini untukmu." Megan menyodorkan sekantong es krim yang berisi coklat dan juga es krim.
"Mana ponselmu?" Megan menengadahkan tangannya meminta ponselnya.
"Mau apa?" Tanya Icha yang duduk sendiri di balkon kamarnya. Teman-temannya tadi sedang jalan-jalan keluar. Dirinya tak mau ikut karena sedang merasa tak enak badan.
Icha merogoh ponsel yang adan disaku celananya. "Ini, mau buat apa kau tanya ponselku?"
"Kamu sendiri kan juga memilikinya." Protes Icha.
"Sudahlah jangan banyak tanya."
Megan menyita ponsel Icha lantaran tak mau Icha melihat berita-berita media yang nanti malah membuatnya down dan selera makannya turun. Karena Megan saat ini melihat air muka sahabatnya saja sudah tak bersemangat.
"Percayalah pada Tuhan, jika semuanya akan indah pada waktunya."
Icha hanya diam saja tak menanggapi ucapan Megan. "Minggu depan aku akan pulang ke rumah kakak aku."
"Kenapa mendadak sekali?" Tanya Megan.
"Aku kangen motoran, berkuda dan keliling kota Moscow,"
"Kau tahu, itu semua adalah hobiku."
Megan yang melihat raut semangat di wajah Icha ikut senang. "Aku senang melihatmu bisa bangkit seperti ini." Megan.
"Kau jangan meremehkan aku, aku tak selemah yang kau kira."
"Hanya gagal dalam percintaan saja akan rugi jika itu membuatku stres."
"Bahkan aku pernah mengalami lebih parah dari ini jika kau lupa."
"Ehmm iya aku tahu, mentalmu sudah terlatih soal ini, aku rasa tak perlu begitu mengkhawatirkanmu, tapi tetap saja tak baik jika kau melihat berita itu di sana sini."
"Ck lebay kau ini." Icha melirik Megan sebal.
"Biarkan saja, buktikan padaku jika kau baik-baik saja."
"Baiklah, ayo kita jalan ke sana dan mencari udara segar."Ajak Icha yang langsung bangkit dari duduknya dan menunjuk ke arah taman umum dekat dengan tempat tinggalnya.
Icha dan Megan berjalan kaki menuju taman tadi, di sana banyak berlalu lalang orang.
Terdapat beberapa kedai di sepanjang jalan taman umum itu, "Aku haus ayo aku traktir kamu beli makanan dan minuman yang kamu suka." Icha.
"Baiklah nona, apa pun kan, kalau begitu aku akan membeli semua yang aku mau."
"Terserah kau saja."
Megan membeli banyak makanan dan minuman jajanan korea, ada juga minuman boba dan masih banyak lagi.
"Kau membeli sebanyak ini memangnya bisa menghabiskan?"
"Tentu saja kenapa tidak."
"Baiklah terserah kau saja, jika nanti kamu menjadi gendut seperti bola jangan salahkan aku." Icha berkata judes.
__ADS_1
"Jangan khawatir nona."
Jajanan di sana memang banyak yang Megan sukai, sehingga dirinya yang mendengarkan kata traktiran tidak bisa jika dia tak membelinya semua.
"Aku akan membeli manisan disana, kau tunggu saja disini jangan kemana-mana."
Megan mengangguk mengerti dengan mulut yang penuh makanan, sampai ia tak bisa menjawab ucapan Icha.
Icha ternyata membeli manisan tanghulu, dan jeli beraneka rasa dan bentuknya. Karena ramai dirinya harus mengantri.
"Hah nona yang kemaren, kau membeli manisan juga nona."
"Kau tak lihat apa yang aku bawa." Ketua Icha.
Lelaki tampan itu mengangguk, "Padahal aku tunggu anda dari kemaren nona untuk menghubungiku."
Icha tetap diam saja tak menghiraukan ucapan Andre. Mereka sama-sama lupa jika mereka ini adalah teman masa kecilnya.
"Baiklah nona cantik aku duluan."
Ketika Icha akan membayar manisan dan jeli yang ia bawa, ternyata sudah dibayar Andre lebih dulu.
"Hah lelaki itu, lagi-lagi dia membuatku berhutang budi padanya."
"Baiklah, suatu hari aku akan membalas semua kebaikanmu." Lirihnya sambil berjalan ke arah dimana tadi Megan berada.
"Kau tadi mengataiku membeli banyak makanan, sekarang lihatlah, dirimu sendiri yang belanja makanan banyak begini."
"Mana manis-manis semua lagi." Megan mencibir.
"Hello nona, kau tau jika hidup ini sudah banyak kepahitan, oleh karena itu kita perlu yang manis-manis, supaya tak pahit seperti yang aku alami ini."
"Memang kenyataan kan."
"Ehmm iya aku percaya, boleh aku mencicipi manisan yang kau bawa itu."
"Ambil saja mana yang kau mau." Icha menyodorkan manisan dam jeli ke arah Megan.
"Kau tahu, jika aku beberapa kali bertemu lelaki tampan."
Megan menoleh ke arah Icha mendengarkan dengan seksama tanpa menyela.
"Lalu kenapa kalau kau bertemu lelaki tampan?"
"Sudah tiga kali aku bertemu dengannya, dan yang pasti disaat aku sedang tidak enak hati."
"Tiga kali pula dia selalu membayar makanan yang aku beli."
"Gila tidak bertemu lelaki seperti itu."
"Aku rasa itu adalah sebuah berkah untukmu." Megan.
"Ehmm kau benar juga sih, bisa dikatakan berkah, karena dia datang disaat hatiku sedang badmood." Icha mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Andre tadi dan beberapa waktu lalu.
"Tetapi aku merasa berhutang budi padanya." Icha.
__ADS_1
"Dia bahkan meninggalkan kartu namanya."
"Benarkah, mungkin saja dia memang laki-laki baik."
Icha mengangguk setuju, mereka bercerita hingga beberapa jam disana, dan melanjutkan kembali untuk pulang.
"Kira-kira dia setampan apa, dam usianya sekitar berapa?" Megan jadi ikutan penasaran dengan sosok lelaki misterius yang dibicarakan oleh sahabatnya ini.
"Nanti saja aku kasih tahu ke kamu kartu namanya."
Langkahnya dipercepat agar segera sampai ke rumah dan Icha ingin menunjukkan sesuatu pada Megan. Ketika sampai di rumah Icha mencari tasnya dan membuka isinya dimana letak kartunya berada.
"Ini kartu namanya."
Megan mengambil kartu nama Andre dan membolak balikkan."Sepertinya pria yang mentraktirmu ini tidak pria sembarangan."
"Kenapa kamu menebak seperti itu?"
"Lihatlah kartu ini?"
"Coba kau amati baik-baik."
"Kenapa dengan kartu ini?" Icha masih saja tak paham dengan apa yang dimaksud Megan.
"Ck kau ini, tumben sekali berpikirmi jadi lambat sih."
"Ini adalah kartunya para orang-orang elit, tidak sembarang orang memiliki kartu nama bentuknya seperti ini."
Icha diam saja mendengarkan penjelasan Megan, barulah dirinya paham. "Baiklah akan aku buktikan." Icha yang penasaran meminta ponselnya yang tadi disita Megan dan menghubungi nomor lelaki tampan yang beberapa kali ia temui.
"Hallo ini dengan siapa." Suara seseorang seberang sana.
Icha segera mematikan panggilannya, "Oh Tuhan suaranya sangat sexy." Icha.
"Kau jangan mesum,"Megan.
"Cobalah dengarkan jika kau tak percaya."
Icha melakukan panggilan sekali lagi dan ponselnya ia serahkan pada Megan. Lalu sama dengan apa yang dilakukan Icha tadi.
"Oh Tuhan, benar dengan apa yang kau katakan tadi, jika suaranya saja terdengar sexy apa lagi orangnya." Megan.
"Heh sekarang kenapa jadi kamu yang mesum."
Megan menoleh pada Icha, "Iya itu karena otakku sudah terkontaminasi dengan otak mesummu." Megan.
"Mana ada seperti itu." Icha.
"Emang dasar kamu saja yang mesum,"
"Wlekk." Icha mengambil ancang-ancang dan berlari kencang keluar kamarnya hingga menabrak Hana yang sedang jalan.
"Kalian ini kenapa?"
"Aduh sungguh kalian ini keterlaluan." Teriak Hana yang jatuh terduduk.
__ADS_1
Dan
Bersambung