Menikahi Adik Sahabatku

Menikahi Adik Sahabatku
Awal dari Perjodohan


__ADS_3

"Ini minuman ter enak yang pernah aku minum nona." ulang Jenifer lagi.


Icha hanya tersenyum tipis mendapatkan pujian berulang dari Jenifer. "Silahkan di nikmati, aku akan ijin ke belakamg dulu." Icha mengangguk sopan pada tamu kakaknya.


Kemudian berjalan menuju pantry belakang, dan kembali lagi melewati arah jalan yang lain, samar-samar terdengar suara seseorang sedang berbincang.


"Seperti ada orang mengobrol." lirihnya, berjalan mencari sumber suara.


Ketika langkah kakinya hampir dekat dengan asal sumber suara,"Aku seperti mengenali suara mereka."


"Itu suara kakek,tapi yang satunya siapa?" Icha mengintip dari dalam ruangan, melihat lewat kaca yang gelap. Jika dilihat dari luar, tetapi kaca itu terbuka, sehingga ia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.


"Ahhh iya, bagaimana kabar putramu?" tanya kakeknya pada ayah Arka.


"Dia ada di sini sekarang,"


"Aku rasa anda juga mengetahui tuan." di selingi tawa renyah dari mulut ayah Arka.


"Ehmm iya, kau benar, dia pemuda yang sangat pekerja keras, padahal aku sejak dulu berniat untuk menjodohkannya dengan cucuku."


"Hahh anda berlebihan tuan, anak nakal itu sangat susah di atur."


"Tapi apa kamu setuju jika dia ku jadikan cucu menantuku?"


"Aku tak masalah dengan hal itu, tapi coba anda dekati sendiri saja dia, selebihnya aku yang akan membantunya."


"Anak nakal itu sangat susah di tebak maunya." ulang tuan Felix lagi.


"Baiklah, berarti tandanya kau sudah setuju kan?" tanya kakek Icha sekali lagi.


"Aku menyetujuinya, jadi silahkan saja, aku akan berdoa semoga dia tidak menolaknya."


"Ehmmm baiklah kalau begitu."


"Tapi yang aku dengar dia akan gagal menikah kemaren?"


"Anda benar tuan, saya tak akan menutupinya."


"Apa anda tak masalah dengan itu semua?" tanya tuan Felix memandang ke arah kakek Icha.


"Aku tak akan mempermasalahkan masa lalu dia, tapi aku melihat dia yang sekarang,"


"Memiliki semangat kerja keras yang tinggi."


"Baiklah, semoga cucuku juga tidak menolaknya, tapi aku bingung bicara dengan cucuku sendiri."


"Bingung kenapa tuan?" tanya tuan Felix.


"Dia masih sekolah, dan berkarir di dunia musik."


"Apakah dia akan menyetujui permintaanku ini." kakeknya Icha.


"Benarkah, berarti anda harus bersabar tuan, anak muda jaman sekarang sangat anti yang namanya perjodohan."


"Ehmm iya anda benar ruan Felix."


Icha yang tidak sengaja mencuri dengar itu langsung mengambil spekulasinya sendiri. "Oh jadi aku akan di jodohkan dengan anaknya tuan Felix."


"Hah... tidak..., tidak... ini tidak bisa di biarkan, nanti saja aku akan berbicara pada kakek." Icha.

__ADS_1


Kemudian Icha meneruskan langkah kakinya, berjalan menuju taman belakang untuk mencari keberadaan Megan.


"Dimana sih itu anak." sungut Icha.


Brukkk...


"Kalau jalan itu pakai matanya." ketus Icha.


"Jelas saja pakai mata, bukan pakai tanduk."


Mendengar suara itu seketika Icha mendongak, Arka menengadahkan tangannya untuk membantu Icha, tapi di tepis olehnya.


"Tak usah berpura-pura baik."


"Aku hanya mau menolongmu nona."


"Aku tak butuh bantuanmu." berdiri dengan susah payah, masih memasang wajah angkuhnya.


"Apa lagi?" tanya Icha kala dirinya berhasil bangun dari jatuhnya tanpa bantuan Arka.


"Tidak, kau sepertinya sedang kesal."


"Tidak sepertinya, aku memang sedang kesal." sungutnya.


"Benarkah, tapi tak seharusnya kamu melibatkan orang yang tak bersalah."


Icha yang malas mendengarkan ocehan Arka, meneruskan niatnya untuk mencari Megan.


"Hei... tunggu dulu, kau mau kemana?" tanya Arka mencekal lengan Icha.


"Bukan urusanmu." menatap berani mata Arka.


"Ada apa dengan dadaku?" Arka memegang dadanya sendiri yang bekerja dua kali lipat, pasalnya detak jantungnya berdetak lebih cepat, serasa akan melompat.


Arka melihat kepergian Icha hingga tidak terlihat lagi punggungnya.


🌷🌷🌷


.


.


.


"Kenapa dengan muka kamu?" tanya Megan, saat ini mereka sudah berada di gazebo. Duduk santai berdua menikmati indahnya udara dengan semilir angin sepoi-sepoi menyapu wajah mereka.


"Aku sedang kesal saja." mengerucutkan bibirnya, dan tangannya bersedekap dada.


"Kesal..., hal apa yang membuatmu kesal?" tanya Megan, menyesap float tea yang ada di depannya.


"Kau tau, kakek akan menjodohkan aku."


"Hahaha...., kau akan di jodohkan, aku rasa itu lebih baik, dan akan merubah sifat tomboy kamu."


"Kau menertawakanku?" Icha memicingkan matanya menatap Megan.


"Tidak, aku hanya akan menyadarkanmu."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Iya kau terima saja perjodohan dari kakek kamu."menyesap minumannya sekali lagi.


"Aku tak mau."


"Kamu saja sana yang menikah."


"Masalahnya bukan aku yang dijodohkan, jika aku, maka aku akan menerimanya dengan senang hati."


"Kau jangan mengacau." Icha memelototkan matanya pada Megan.


"Megan bagaimana? aku kan hanya memberi masukan."


"Tak tau ah, pokoknya aku sedang kesal." pergi meninggalkan Megan sendirian di sana. Dirinya yang berniat akan kembali ke kamar, melewati jalan yang tadi ia lewati, kali ini Icha pura-pura cuek tak mau mendengarkan apa kata kakeknya.


"Sungguh miris hidupku." namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya, membuat langkahnya terhenti.


"Kak Arka, ngapain mereka bersama tuan Felix dan juga kakek?" ketika dirinya menoleh ke arah samping, memaksanya untuk berhenti.


"Atau jangan-jangan yang mau dijodohkan denganku?" tanya nya pada dirinya sendiri.


"Oh tidak mungkin." menggelengkan kepalanya sendiri.


"Icha, kemarilah..."


"Oh Tuhan, malu sekali aku ketahuan mengintip mereka."


"Kamu ngapain berdiri di situ, ayo sini kemarilah." panggil kakeknya.


"Ah tidak kek, tadi aku sedang melupakan sesuatu." tersenyum canggung pada tiga orang tersebut.


"Sebentar saja, ayo sini..." tangan tuan Kusuma melambai, menandakan jika dirinya memberikan perintah untuk kemari.


Dengan langkah beratnya Icha berjalan ke tempat mereka bertiga. "Nah ini cucuku."


"Benarkah ini cucu anda tuan Kusuma?" tanya tuan Felix sedikit terkejut.


"Ehmm iya, ini cucuku perempuan satu-satunya." membanggakan Icha di depan mereka berdua.


"Wahh tidak menyangka nona, jika dunia itu selebar daun kelor."


"Ehh anda tuan Felix." Icha menyapa tuan Felix.


Sedangkan Arka yang berada di sana menyimak pembicaraan mereka.


"Apa kalian berdua sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya tuan Kusuma melihat mereka bergantian.


"Ehmmm iya kakek benar, bahkan tuan Felix ini yang memberikan hadiah padaku kebun bunga yang sangat luas."


"Anda tahu tuan, berkat kebun bunga hadiah dari anda, saya bisa menciptakan lapangan kerja untuk orang banyak." Icha.


"Benarkah nona?"


"Iya tuan, bahkan omsetnya bisa mencapai ratusan botol perhari produksinya." Icha menjelaskan dengan bangga.


"Wahh anda memang berbakat sekali nona." puji tuan Felix.


"Tidak tuan, saya masih belajar, itu semua masih dalam tahap merangkak, karena belum mencapai produksi ribuan." Icha sambil mendudukkan tubuhnya, di kursi sebelah kakek tuan Kusuma.


Arka bingung dengan apa yang dibicarakan dua orang ini.

__ADS_1


dan bersambung


__ADS_2