
"Apa tak sebaiknya kita tanya saja pada orang?" usul Megan.
"Baiklah, aku akan berhenti jika bertemu orang."
Icha kembali meneruskan perjalanannya, dalam hatinya ia sangat panik, takut salah jalan dan juga orang rumah pasti mengkhawatirkannya.
Orang suruhan Devan telah melihat pergerakan Icha melalui Gps, bukannya kembali ke villa tetapi mereka malah semakin naik, karena seharusnya jalan yang lurus ia belok kiri menuju jalan naik.
Dua orang suruhan Devan itu mengejar mereka dengan sangat cepat, agar bisa mendahului Icha. Tepat di belakang Icha mereka memotong jalannya.
"Matilah kita jika terkenal begal ditengah hutan begini." Megan sudah gemetaran.
"Kau diamlah, jangan menunjukkan ketakutanmu."
"Hei minggirlah kalian siapa? mau apa?" tanya Icha dilanda rasa panik, namun masih bisa menyimpan rasa paniknya dengan baik.
"Nona, anda dicari tuan Devan nona."
"Iya nona, kami orang suruhan tuan Devan."
"Benarkah, berarti kalian orang suruhan kakak aku?" tanya Icha tak percaya.
"Iya nona, mari ikuti kami, anda berdua sepertinya tersesat."
🌷🌷🌷
.
.
"Kalian dari mana saja?" tanya Devan melihat Megan dan Icha bergantian, setelah mereka datang mandi dan berganti pakaian, kini sedang mendapatkan sidak dari kuasa hukum bagi Icha.
"Itu kak, bermain ditelaga." jawab Icha merasa takut melihat mata tajam kakaknya.
"Sampai lupa waktu."
"Sebenarnya kami tadi sudah mau pulang, tapi Icha tak mau kak." Megan ikutan menimpali.
"Sstttt... kau diamlah, biar aku saja yang menjawab." Icha memelototi Megan.
"Jawab dengan baik, tak usah bisik-bisik seperti itu, aku masih bisa mendengarnya." Devan mengamati pergerakan mereka berdua.
"Kau tahu kan kalau malam ini adalah malam pernikahanmu, semuanya menjadi kacau karena kau tak ada di villa."
"...."
Tak ada jawaban dari Icha, dirinya terdiam, apa lagi Megan dirinya tak bisa membela Icha lebih banyak lagi.
"Sudahlah kalian bersiaplah kerumah kakek, pernikahanmu sebentar lagi."
"Kak... tapi.."
"Tak ada tapi-tapian, dalam lima belas menit harus sudah kembali." Devan.
Icha dan Megan bangkit dari duduknya, berganti pakaian dan bersiap, dalam waktu lima belas menit mereka harus sudah siap.
"Icha apa aku ikut denganmu?" tanya Megan, saat ini mereka berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Tentu saja ikut, tapi ingat kau harus bisa menjaga rahasia ini."
"Baiklah aku juga akan berganti pakaian."
"Masuklah ke dalam heli dulu, aku ada perlu dengan teman kakak sebentar." setelah Icha selesai dengan dandannya.
"Tidak lucu sekali, sebentar lagi aku akan menjadi istri orang."
"Tak apa, asalkan dia tampan dan kaya saja." Megan.
"Menikah bukan soal tampan atau kaya saja, tetapi juga kecocokan dalam banyak hal, bagaimana kita menyatukan itu dalam sebuah ikatan rumah tangga."
"Ck, kau pintar sekali kali ini, otakmu menjadi dewasa." puji Megan pada Icha.
"Tentu saja, sebelumnya aku telah membaca buku pranikah."
"Ternyata kau sudah persiapan jauh-jauh hari." cibir Megan.
"Aku hanya iseng saja, ketika membeli buku pranikah."
"Jangan lupa setelah ini kau beli buku yang banyak tentang pernikahan, karena sebentar lagi kan kau harus melayani suamimu."
"Kau tak usah meledekku seperti itu," ketus Icha.
"Kalian itu dari tadi kelihatan ribut saja, apa yang kalian ributkan?" suara Devan memecahkan perdebatan diantara mereka.
"Tidak ada kak, kami kan hanya berdebat kecil. Iya kan Megan." meminta persetujuan Megan.
"Iya kak, tak ada hal penting yang kita bicarakan kok." Megan membenarkan ucapan Icha.
Perjalanan kali ini memakan waktu kurang lebih dua puluh menitan, menaiki helikopter dari villa Magetan menuju kota Malang.
"Mom kalian disini juga." tanya Icha bingung.
"Iya sayang maafkan Mom."
Icha dan Megan menyalami kerabat Icha satu persatu, lalu pernikahan dilangsungkan dengan kidmat.
"Sah..."
"Sah..."
Kata yang keluar dari mulut para saksi. "Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri, baik buruknya suami kamu, kamu harus bisa menerimanya." petuah Devan.
Megan yang sedari tadi menyimak mereka hanya terdiam dan menyimak keadaan saja.
"Kak bolehkah aku ke kamar dulu ?" tanya Icha pada Devan.
"Pergilah beristirahat, kau jangan banyak membangkang." Icha tak menjawab omongan Devan yang terakhir.
"Katakan..., sekarang katakan, sejak kapan kau akan dijodohkan dengan dosen Arka?" ucap Megan berapi-api.
"Aku sendiri juga tak tahu mengenai hal itu."
"Atau jangan-jangan, kau masih mencintai dosen Arka?" tatapan Megan memicingkan matanya ke arah Icha.
"Aku tak bisa menyimpulkan semuanya lebih cepat."
__ADS_1
"Sudahlah, lagian sekarang dosen Arka sudah menjadi suami kamu, kau harus patuh padanya, walaupun kau tak menyukainya."
"Kau tak udah memberikan nasihat padaku, aku malas mendengarnya." Icha mendudukkan tubuhnya, memejamkan matanya malas.
"Malas tapi masih mencintainya." cibir Megan.
"Kau jangan banyak marah-marah, nanti wajahmu akan menjadi boros."
"Boros apanya, memangnya sedang belanja dan membawa uang banyak, pakai boros segala."
"Iya kau tahu, orang yang sering marah-marah wajahnya akan sangat boros, dan.., kelihatan lebih tua dari usianya."
Megan terdiam, meninggalkan Icha yang sedang santai, dirinya keluar dari kamar.
"Dimana Icha?" tanya dosen Arka ketika Megan berpapasan dengannya.
"Eh kak dia ada dikamar diujung sana." tunjuk Megan menggunakan jari telunjuknya.
Tanpa menjawab Megan lagi, dosen Arka berjalan ke arah kamar yang ditunjuk Megan tadi.
"Ada apa kau kembali lagi, apa kau tak bisa berpisah denganku sebentar saja?" tanya Icha masih memejamkan matanya.
Icha mengira jika Megan yang kembali lagi, tapi ternyata Arka. "Tentu saja jodoh sangat tahu siapa pemiliknya." jawab Arka.
Seketika itu Icha membuka matanya, dan berdiri dari duduknya. "Ka...kamu..., kenapa kakak ada disini."
"Kenapa memangnya, kau sekarang sudah menjadi milikku, tak ada yang bisa melarangku."
"Bahkan kau berteriak pun akan ditertawakan oleh mereka."
Icha menjadi salah tingkah sendiri, dirinya melengos melihat kearah yang lain.
"Kalau kakak mau beristirahat, istirahatlah, aku akan keluar sebentar." Icha mengambil langkah seribu, siap berlari dari hadapan Arka.
"Kau mau kemana?" namun lengannya lebih dulu dicekal Arka.
"Kak lepaskan aku, aku sudah bilang akan menemui mereka dulu."
"Aku tak bisa beristirahat jika sendirian, kau temani aku dulu."
"Tapi kak.." tangan Icha sudah ditarik Arka lebih dulu.
Arka membawa Icha ke tempat tidur king size yang ada didalam ruangan itu.
"Kak kau jangan macam-macam iya." pinta Icha memelaskan wajahnya.
"Tidak macam-macam, mungkin hanya satu macam saja."
Cup...satu kecupan mendarat dibibir manis Icha.
"Aku belum siap kak, kau kan sudah janji." elaknya pada Arka.
"Kapan aku janji, aku rasa kau hanya mengarang cerita saja."
"Sudah diamlah, aku sangat lelah." Arka mulai memejamkan matanya lelah, kemudian menjadikan dirinya sebagai guling.
dan
__ADS_1
Bersambung