
"Icha... Kenapa kau turun tak bilang-bilang padaku." teriak Hana dari kejauhan, ia melambaikan tangannya pada Icha.
Cafe yang malam itu rumah lumayan ramai pengunjungnya. Beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah sumber teriakan yang mereka dengar. Begitu pula ke-empat orang yang sedang duduk bersantai, mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Kau turun juga, tadinya aku berpikir. Kalau dirimu tidak akan turun." tutur Icha pada Hana.
Tanpa mereka minta, Hana langsung mendudukkan tubuhnya di sana, lalu berbicara banyak hal. Devan hanya meliriknya sekilas, dalam hatinya ia mengira jika tingkah Hana lebih mirip seperti adiknya Icha.
"Apa semuanya temanmu itu se frekuensi denganmu?" tanya Devan, matanya beralih memandang manik hitam adiknya.
"Apa maksud kakak?"
"Apakah Kakak mau berbicara kalau kami semua itu memiliki tingkah yang barbar." tanya Icha pada Devan.
"Hemmmm." jawab Devan hanya gumaman saja
Icha begitu tak terima kalau kakaknya menyebutnya demikian. Ia membantah dan memiliki statemennya tersendiri, kalau temannya itu semuanya baik. Walaupun terkadang barbar. Tapi tidak setiap hari barbar menurutnya, hal itu Icha jelaskan pada Devan.
Tadinya Hana masih belum menyadari jika di sana ada kedua lelaki yang duduk bersama mereka. Dirinya masih asik berbicara kepada Megan dan juga Icha. Mendengar suara lelaki, barulah Hana menyadari, jika di sana juga ada lelaki yang duduk tepat berhadapan dengannya. Hana menoleh ke arah sumber suara. Ia begitu takjub kala melihat ketampanan Devan, parasnya yang rupawan. Jambang tipis hidung mancung, bibir yang menurutnya sangat seksi. Aura pandangan matanya sangat tajam.
Apalagi ditambah perut sixpacknya yang rata, dan sepertinya memiliki tinggi badan yang ideal.
" Waaow, dia sangat tampan." batin Hana dalam hati tak henti-hentinya mengagumi sosok Devan.
Namun beberapa detik kemudian, dirinya mampu menguasai emosinya, Hana memesan kopi dan meminta pada pelayan agar tidak terlalu lama dirinya menunggu.
"Kalau hanya mau meminum kopi saja, di kamar kau kan bisa." tanya Icha beralih pada Hana.
__ADS_1
"Aku hanya sedang suntuk saja, dan juga butuh refreshing. Supaya rasa lelahku cepat menghilang." kata Hana.
Mata Hana beralih menatap ke arah Arka, karena sejak tadi pandangannya begitu fokus ke arah Devan Icha dan juga Megan.
"Tuan Arka, Anda di sini juga?" tanya Hana pada Arka.
Devan beralih menatap Arka, pandangan matanya kali ini sangat tajam. Seolah-olah ingin meminta penjelasan. Kenapa teman Icha satu ini mengenal dirinya. Arka yang tahu maksud dari pandangan Devan, iya tidak begitu menghiraukannya, lalu Arka menjawab Hana dengan santai.
"Ah iya nona, kami hanya kebetulan saja berada di sini. Sehingga menyapa nona Megan dan nona Icha." kata Arka.
"Ahh Ia, dari tadi saya belum mengetahui siapa Tuan ini? kalau saya Hana." Hana lebih dulu memperkenalkan dirinya dengan renyah.
"Dia kakakku yang bernama Devan, Kakak pertamaku." Icha yang menjawab.
"Kakak kenalkan, ini temanku Hana. Teman satu member ku. Aku rasa Kakak sudah pernah melihatnya, ketika kami sedang konser."kata Icha menerangkan.
Icha begitu bangga menceritakan perjalanannya bersama teman-temannya. Sedangkan reaksi Devan, hanya melihatnya sekilas. Lalu menyesap kopinya perlahan. Pandangannya beralih menatap MackBook yang ada di tangannya.
Berbeda dengan Hana. Ia sangat menyukai gaya elegan Devan. Menurutnya lelaki seperti Devan inilah tipenya.
"Nona Hana. Anda teman Adik saya Icha, adik saya ini memang sangat barbar. Saya harap anda betah bersamanya, dan tidak jenuh mendengar celotehannya."
Lagi-lagi Hana begitu takjub dengan cara bicara Devan. bicara sekata dua kata saja menurutnya sangat elegan, dan sangat berwibawa. Sepertinya sebelas dua belas dengan Tuhan Arka batin Hana.
"Anda berlebihan Tuan Devan. Icha sangat humoris orangnya, kami semua menyukainya." ucap Hana membesarkan hati Icha.
Megan sesekali menyimak pembicaraan mereka, tidak ada niatan untuk memotong ataupun menimpali. Lebih menjadi pendengar saja.
__ADS_1
"Ya kali, Siapa tahu Hana bisa menjadi kakak iparku."celetuk Icha tiba-tiba, lalu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Icha menahan tawa. Ia juga sedikit takut jika setelah pertemuan ini, kakaknya akan memberikan pelajaran padanya.
Arka menahan mulutnya, agar tak keceplosan untuk menghentikan istrinya berbicara ngawur pada Devan, karena nanti jika Devan memarahinya ia sangat tidak rela.
Sejak tadi Arka mulutnya sudah gatal. Ia sangat ingin menghentikan aksi istrinya, yang terus menjadi provokasi biro perjodohan.
"Benarkan Niken apa kataku tadi."
"Kata yang mana?" tanya Megan. Ia tidak begitu menyimak dikala akhir kalimat Icha baru saja.
Icha berdecak kesal. pada hal niatnya, dirinya hanya mencari pembelaan. Hanya itu salah satunya cara Icha memiliki pembela. Namun Megan malah tidak tahu apa yang ia maksud. Tidak mungkin juga dirinya meminta pendapat pada Arka. Karena yang mereka tahu Arka adalah orang lain. Bukan suaminya, jangan sampai dirinya kebablasan dalam berbicara. Sehingga hal yang paling aman menurut Icha. Dirinya tidak meminta pendapat pada Arka, tentang hal apapun seperti saat ini contohnya.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan barusan. Kenapa kau tidak meminta pendapat juga pada Tuan Arka." tanya Megan basa-basi.
"Kau tidak seru."
"Tapi dari dulu aku memang memiliki cita-cita, kalau istrinya kakakku nanti, aku yang menyeleksi."
"Hubungan percintaan itu tentang dua orang yang saling mencintai. Bukan orang lain selain dua orang itu, jadi aku rasa kau tidak usah melakukannya." kata Megan pada Icha, memberikan pengertian.
"Tapi ada bagusnya juga loh jika Icha memiliki pandangan pada calon istri kakaknya nanti. Memang menikah itu bukan hanya saling mencintai antara dua orang itu saja. Tetapi juga melibatkan dua keluarga." kata Hana menimpali.
Icha begitu takjub mendengar kata-kata Hana baru saja, di suatu kala temannya ini bisa menjadi bijak, dan memiliki kata-kata yang indah untuk sebuah nasehat, namun di sisi lain juga bisa menjadi teman yang sefrekuensi menjadi barbar seperti dirinya. Menurutnya sangat susah mencari teman sefrekuensi, saling support dan menyenangkan.
Sepertinya setelah pertemuan kali ini. Icha harus memiliki strategi untuk mendekatkan Hana kepada kakaknya. "Kenapa kau malah diam saja? Apa kau sedang melamun?" tanyakan pada Icha.
Icha menggelengkan kepalanya, ia merasa lucu membayangkan jika kakaknya menikah dengan Hana suatu hari nanti. Maka ia bisa curcol dengan satu sahabat sekresinya. Mengunjungi suatu tempat, double date dan memiliki acara bersama. Itulah yang Icha pikirkan dalam lamunannya.
__ADS_1
"Kau jangan banyak melamun, nanti kamu bisa kesambet." bisik Hana pelan ditelinga Icha. Walaupun masih bisa didengar oleh yang lainnya.
"Oh jadi kalian semua ternyata di sini? aku tadi sampai cari kemana-mana. Kenapa kalian semua turun ke bawah tanpa mengajakku? tanya Yuju tiba-tiba saja muncul.